ID Blog Kamu: yogyakarta

Tampilkan postingan dengan label yogyakarta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label yogyakarta. Tampilkan semua postingan

Senin, 29 Oktober 2012

Saat Andong di tarik Kambing


Mendengar kata andong, dokar atau pun delman jadi teringat dengan masa kecil dulu. Walau tinggal tidak di daerah perkampungan maupun di pinggiran kota, terkadang di waktu sore moda transportasi tua itu melintas di depan rumah .Dengan bunyinya yang khas, sepatu kuda bercampur suara semacam klentengan klakson kuda, kombinasi itu sebagai pertanda dokar akan melintas. 

Anak-anak yang sedang bermain-main pun terperanjat, bukan takut melainkan ingin sekali naik. Biasanya anak-anak itu akan naik beserta dengan pembantu atau orang tuanya. Mereka berkeliling dengan pak kusir sebagai juru mudinya. Jaraknya tak terlalu jauh hanya sekedar mengitari kompleks perumahan saja. 

Setelah mengitari kompleks beberapa kali, dokar pun  akan kembali mengantar kan ke tempat pertama semuanya naik. Soal tarif, itu tak seberapa dulu hanya membutuhkan beberapa uang logam yang mungkin jumlahnya tak lebih dari seribu rupiah.
Dokar, delman ataun pun andong kini keberadaan cukup sepi, terlebih lagi di kota-kota besar seperti jakarta Hampir dipastikan moda ini tak banyak yang beroperasi  sebagai wadah mencari nafkah dari sang kusir. Entah karena zaman semakin mahal atau  modern, dokar pun akhirnya jarang ditemukan. Belum lagi dengan persoalan biaya perawatan dan makan untuk kudanya, keadaan memang sudah berubah. 

Kendati demikian, itu hanya berlaku di Jakarta saja dan tidak di kota-kota lainnya semisal Solo, Yogyakarta ataupun kota lainnya karena di kota-kota itu moda transportasi itu masih kerap hilir mudik di jalan-jalan kota. Moda itu masih dimanfaatkan seperti sedia kalanya, perbedaanya hanya jumlahnya yang mungkin tidak sebanyak dulu saat mesin belum mengambil alih mobilitas trasnportasi.

Andong merupakan salah satu alat transportasi tradisional di Solo dan Yogyakarta dan daerah-daerah di sekitarnya, seperti Klaten, Karanganyar, Boyolali, Sragen, dan Sukoharjo. Keberadaan Andong sebagai salah satu warisan budaya Jawa memberikan ciri khas kebudayaan tersendiri yang hingga kini masih terus dilestarikan.

Berbicara soal dokar, ataupun delman dan andong, ada satu yang cukup unik ternyata tak selamanya moda itu ditarik oleh kuda. Di beberapa kota di Indonesia, misalnya Yogyakarta dan cilacap. Di Yogyakarta, menurut keterangan yang di dapatkan jika Anda berminat untuk naik andong kambing dapat melakukannya di alun-alun selatan. Secara hewan penariknya bukanlah kuda dan andongnya juga tidak sebesar andong yang ditarik kuda, maka andong kambing hanya bisa dinaiki oleh anak kecil saja. Dan untuk menaikinya tak perlu merogoh kantong terlalu dalam karena biayanya sangat terjangkau untuk sekali putarannya

Andong kambing, selain dapat ditemukan di Yogyakarta, juga terdapat di Cilacap. Kereta andong ini berada di depan Kantor Bupati Cilacap, tepatnya di Alun-alun Cilacap saat sore,. Penampilan kambing sedikit berbeda karena sudah di "dandani" sedemikian rupa sehingga tampak begitu menarik. Sama seperti andong kambing di Yogyakarta, andong kambing di Cilacap  hanya boleh dinaiki oleh anak kecil. 
sumber foto: www.warungbarangantik.blogspot.com
Nah, selain itu ada pula menarik dari andong kambing ini, ternyata keberadaannya sudah ada sejak lama di bumi pertiwi ini, mungkin sudah ada sejak zaman pemerintahan Hindia Belanda. Itu terbukti dari foto tua di atas yang memperlihatkan  jongos atau katakanlah pesuruh tengah memandu sinyo bermain andong mini yang ditarik oleh seekor kambing yang ditumpangi oleh anak kecil. (berbagai sumber)

Senin, 22 Oktober 2012

3 Gong Perdamaian Dunia di 3 Kota Indonesia


Seperti halnya Monumen Jenderal Sudirman yang ada di beberapa kota di Indonesia, gong perdamaian  pun demikian. Gong perdamaian tidak hanya ada di kota Ambon saja, tetapi juga ditemukan di dua kota di Indonesia yang mempunyai gong yang serupa. Dengan bentuknya yang tentu saja bundar dan berwarna keemasan, di sekeliling gong dihiasi oleh bendera dari negara-negara di seluruh dunia. Gong perdamaian itu dapat dijumpai di Ambon, Ciamis dan Yogyakarta.


1.Gong Perdamaian di Ambon
Gong ini merupakan Gong Perdamaian ke-35 di dunia yang berada di Taman Pelita, dekat di pusat kota Ambon. Gong megah dan besar ini dibangun di kota Ambon tujuannya ingin memperbaiki citra Ambon yang dulu pernah identik dengan kerusuhan dan kekerasan. 

Taman yang diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 25 November 2009 ini selalu dikunjungi para pelancong atau masyarakat Ambon pada akhir pekan. Untuk bisa masuk ke wilayah gong ini, Anda cukup merogoh kocek sekitar Rp 5.000.

Gong Perdamaian Dunia memiliki diameter seluas dua meter dan berwarna keemasan. Selain dipenuhi dengan gambar bendera dari tiap negara, yang berjumlah sekitar 200 bendera, juga terdapat simbol tiap agama di dalam lingkarannya. Di tengahnya juga terdapat miniatur bumi dan bertuliskan 'Gong Perdamaian Dunia' pada bagian bawah, serta 'World Peace Gong' pada bagian atas lingkarannya.

Dengan disangga dua pilar raksasa, di atas gong ini juga terdapat lambang Pancasila sebagai ideologi bangsa Indonesia. Tak sedikit traveler berkunjung ke tempat ini untuk berfoto dan melihat kemegahan Gong Perdamaian Dunia dari dekat.

2. Gong Perdamaian di Ciamis
 Tidak hanya di Ambon saja, Jawa Barat juga mempunyai Gong Perdamaian Dunia. Gong Perdamaian Dunia tersebut berdiri megah di Ciamis dan dekat dengan objek wisata Karangkamulyan.

Seperti Gong Perdamaian Dunia di Ambon, gong di Ciamis ini juga menjadi simbol tentang perdamaian di alam semesta ini. Bentuknya pun sama dan dihiasi oleh gambar-gambar bendera dari tiap negara menghiasi gong tersebut dan simbol-simbol dari setiap kepercayaan dan agama manusia.

Persisnya letak gong perdamaian dunia ini tepat berada di belakang musala di depan pintu masuk objek wisata Karangkamulyan. Di belakang gong yang berdiri sejak 9 Spetember 2009 ini terdapat pepohonan yang lebat dan rindang. Di depan gong terdapat kolam yang cukup panjang. 

Gong di tempat ini memiliki diameter 3,33 meter yang terbuat dari bahan perunggu dan plat besi. Memang, gong ini menjadi simbol perdamaian bagi setiap bangsa yang ada di dunia ini. Kurang lebih, terdapat 200 gambar bendera dari tiap negara ada di gong tersebut.

Untuk melihat Gong Perdamaian Dunia tersebut, Anda tidak dikenakan biaya apa pun. Anda bebas berfoto dan bergaya sepuasnya di dekat gongnya. Tentu, gong ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung.

3. Gong Perdamaian di Yogyakarta
Selain di Ciamis dan Ambon, Gong perdamaian Nusantara juga ada di kota pelajar Yogyakarta. Malahan gong perdamaian di kota ini adalah yang kali pertamanya dipasang  pada saat satu abad kebangkitan nasional tanggal 20 Mei 2008 dan diresmikan oleh Sultan Hamengkubuwono X beserta Presiden Komite Perdamaian Dunia, Djuyoto Suntani.

Gong perdamaian di Yogyakarta, mempunyai bentuk lingkaran luar gong ini menampilkan logo kabupaten atau kota seluruh Indonesia. Lingkaran Tengah menampilkan logo 33 provinsi dan pada lingkaran dalam terdapat tulisan "Gong Perdamaian Nusantara" sebagai identitas dari komunitas gerakan damai. Ada sepasang bunga di kiri-kanan sebagai simbol keseimbangan kehidupan yang indah dan damai, lengkap dengan tulisan "Sarana Persaudaraan dan Pemersatu Bangsa".

Lingkaran inti menampilkan simbol lima agama, yaitu Islam, Kristen & Protestan, Katolik, Hindu, Budha dan Khonghuchu, yang secara resmi diakui dan dianut masyarakat di Indonesia. Pada lingkaran puncak terdapat Peta NKRI sebagai simbol bentangan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berada di puncak peradaban bangsa tertinggi. (berbagai sumber)

Senin, 10 September 2012

Monumen Jenderal Sudirman di Beberapa Kota Indonesia

Siapa yang tidak mengenal pahlawan nasional yang satu ini, ya Jenderal Sudirman. Serpak terjangnya di era perang kemerdekaan tak mungkin disangsikan lagi. Panglima dan Jenderal Republik Indonesia yang pertama sekaligus termuda ini, berhasil melawan pasukan Inggris dan NICA dalam perang besarnya, Palagan Ambarawa. Belum lagi saat Agresi Militer ke-2, Jenderal Sudirman dalam keadan sakitnya masih terus melangsungkan perang dengan cara bergerilya, pindah dari satu hutan ke hutan lainnya.

Kini untuk mengenang jasa-jasanya banyak di kota-kota di Indonesia, selain mempunyai jalan raya yang dinamakan Jalan Jenderal Sudirman,  juga berdiri monumen Jenderal Sudirman. Nah dimana sajakah itu? mari kita melongok satu persatu
sumber foto: www.dwi-x.blogspot.com
1. Monumen Jenderal Soedirman, Surabaya
Monumen Jenderal Sudirman di Surabaya terletak di  Jalan satu utama yang selalu sibuk setiap harinya, yaitu jalan Yos Sudarso. Monumen ini didedikasikan untuk semua masyarakat Jawa Timur yang di gagas oleh Letnan Jenderal M. Yasin sebagai Komandan VII Brawijaya pada saat itu. Di bawah patung juga ada pahatan dari beberapa kata dari Panglima Jenderal Soedirman yang menunjukan semangat untuk terus berjuang, mempertahankan tanah air, tidak pernah menyerah dan selalu berjuang bagi bangsa dan negara.
sumber foto: www.vaquitabandpurwokertopamijen.blogspot.com
2. Monumen Jenderal Soedirman, Purwokerto
Monumen Jenderal Soedirman di Purwokerto berada di pintu masuk kota ini dari arah barat tepatnya di sebelah timur Sungai Logawa di Jalan Dr. Soeparno 24 Purwokerto. Monumen ini terdiri dari dua lantai. Pada lantai bawah berisi foto-foto perjuangan Panglima Besar yang berasal dari Cilacap (tetangga Banyumas) ini dalam merebut Yogyakarta kembali sebagai ibukota Indonesia (pada saat itu) dari kolonial Belanda. Sedangkan pada lantai dua berisi relief sejarah bangsa Indonesia dalam Perang Kemerdekaan 19.  Patung Jenderal Soedirman sedang duduk di atas punggung kuda yang terbuat dari perunggu seberat 5,5 ton dengan tinggi 4,5 meter.
sumber foto: www.kotaperwira.com
3. Monumen Jenderal Soedirman, Purbalingga
Panglima Besar Jendral Soedirman ini berada di dukuh Rembang desa Bantarbarang, Kecamatan Rembang Kabupaten Purbalingga. Monumen dibangun pada tanggal 6 Februari 1976, oleh Pemerintah Kabupaten Purbalingga pada masa Bupati Goentoer Darjono,sebagai “tetenger” sekaligus sebagai penghargaan atas jasa-jasa perjuangan beliau menegakkan kemerdekaan NKRI.
sumber foto: www.eril-extrada.blogspot.com
4. Monumen Jenderal Soedirman, Nganjuk
Monumen terletak di desa Bajulan, kec. Loceret arah selatan kota Nganjuk, Monumen  didirikan sebagai tanda bahwa di desa Bajulan pernah disinggahi Panglima Besar Jendral Soedirman selama 9 hari dalam rute perjalanannya memimpin perang gerilya melawan Belanda pada tahun 1949. 3 km dari monumen ke arah selatan terdapat padepokan yang sekarang dijadikan museum, juga tempat wudlu, tempat perundingan, serta tempat shalat yang pernah dipakai Jenderal Sudirman selama tinggal di desa Bajulan.

5. Monumen Jenderal Sudirman, Gunung Kidul, Yogyakarta
Monumen ini berlokasi di kawasan Gua Pindul, Bejiharjo, Gunung Kidul, Yogyakarta dan menyimpan sejarah perlawanan Jenderal Sudirman dalam perang kemerdekaan. Asal muasal pembangunan monumen itu. 'Peringatan 10 Maret 1949, Markas Komando Pemerintahan Militer Kabupaten Gunungkidul, Yang terletak di Desa Gelaran diserbu dan dibakar oleh tentara Kolonial Belanda. Lokasi monumen ini dekat sekali dengan objek wisata Gua Pindul.  Objek wisata Gua Pindul merupakan salah satu gua yang dialiri sungai bawah tanah. Keajaiban alam di Gua Pindul ini memang banyak memikat wisatawan. (berbagai sumber)

Rabu, 20 Juni 2012

Bergembira Bersama di Museum Kolong Tangga

“Di mata saya anak kecil itu murni dan masih alami, dan selalu membuat saya tertawa, sangat kasihan sekali mereka tidak mendapatkan pendidikan yang baik. Banyak anak-anak kecil yang pergi ke mall dan bermain permainann game modern dimana permainannya jarang mendidik mereka”
            Yup, penggalan kalimat itulah yang membuat Rudi Corens, pria kebangsaan Belgia menggagas museum anak pertama di Yogyakarta. Cukup mulia idenya, lantas dengan menggandeng stakeholder setempat semisal Kepala Taman Budaya, Yogyakarta, museum anak pertama di Indonesia yang bernama Museum Kolong Tangga pun berdiri dan resmi dibuka 4 tahun yang lalau, tepatnya tanggal 2 Februari 2008. Tak tanggung-tanggung untuk memperkaya koleksi museum, ia menyumbangkan seluruh koleksi pribadinya yang berjumlah lebih dari 900 item yang terdiri atas beragam macam mainan anak-anak.
         Nah, bagi anda yang sedang berkunjung ke kota pelajar beserta sanak famili, jelas tidak ada salahnya membawa  anak anda untuk sekedar singgah dan bermain di museum yang terletak di  Jl Sri Wedani No. 1, Taman Budaya Yogyakarta. Mungkin tidak hanya anak anda saja yang bisa asik bermain-main, tapi mungkin anda pun bisa bernostalgia dengan masa lalu dengan ditemani aneka rupa permainan tradisonal yang ada di sana.
Di musem ini ada lebih dari 400 koleksi mainan tradisional dari berbagai daerah dan negara. Beberapa di antaranya diletakkan di luar ruangan, beberapa lagi disimpan baik-baik dalam etalase kaca. Koleksi museum meliputi mainan anak dari era Majapahit. Berbagai mainan anak tradisional  disajikan di sini.
Tepat di luar ruangan museum anda akan akan mendapati beragam macam permainan , Ada enggrang, congklak, gasing, sepeda roda tiga (trike), dan puluhan permainan lain. Ajaklah anak anak untuk menjajal satu-peratu permainan itu. Tak ketinggalan, Anda pun masih bisa ikut merasakan keseruan ini.
foto: www.yogyakarta.panduanwisata.com
Setelah puas di luar ruangan, cobalah untuk masuk ke ruangan museum. Disana anda akan disambut dengan  jajaran etalase kaca berisi mainan anak dari seluruh dunia. Jumlahnya banyak mencapai  ratusan. Tetapi untungnya, anda tak perlu bingung yang ada anda lihat itu permainan apa, karena masing-masing permainan telah diberi label dengan keterangan nama, negara asal, dan sejarah yang melatarbelakangi kehadirannya. Banyak fakta- fakta menarik seputar mainan dan permainan anak- anak dari seluruh penjuru dunia yang ternyata saling bersinggungan satu sama lain.
Misalnya saja, sebuah potret lukisan di dinding vila di Pompei, Italia Selatan, menunjukkan para dewa Yunani sedang bermain ‘bikkels’, permainan tradisional menggunakan bola karet yang dikenal dengan nama ‘bekel’ di Indonesia.
Selain aspek pameran, museum ini aktif melakukan workshop (story telling, kerajinan tangan, dan lain-lain) serta program The Museum Comes to Visit You ditujukan untuk mengunjungi pasien anak di rumah sakit. Kegiatan-kegiatan digelar pada akhir pekan membuat museum dipadati anak-anak.
Sungguh mengasikkan menemukan oase kegembiraan di tengah serangan permainan modern, anak-anak bisa menikmati dunia permainan yang aktif sembari menyelami kekayaan warisan budaya bangsa mereka sendiri; serta mengenal pula kekayaan permainan tradisional bangsa-bangsa di dunia. (berbagai sumber)

Selasa, 22 Mei 2012

Ada Masjid di bawah tanah

Jika anda pernah membaca atau melihat secara langsung Masjid Pintu Seribu di Tangerang, pastilah anda akan berpikir masjid itu bukanlah seperti masjid pada umumnya bukan?. Nah, seperti halnya dengan tempat beribadah umat muslim yang satu ini. 

Adalah masjid bawah tanah, yang merupakan sebuah masjid yang  tidak dibangun di atas permukaan tanah seperti lazimnya sebuah masjid dibangun, melainkan didirikan di dalam tanah alias di bawah tanah. Sedikit memang yang berani menggunakan konsep mesjid dibawah tanah, nah dibawah ini ada beberapa mesjid di bawah tanah yang bisa ditemukan di wilayah Indonesia.

1.Masjid Bawah Tanah Taman Sari
Masjid Bawah Tanah ini berada  di Komplek Situs Taman Sari, Yogyakarta. Sesuai dengan namanya mesjid ini memang letaknya berada di bawah tanah dan berbentuk melingkar  yang terdiri atas dua lantai, dimana lantai bawah digunakan oleh jemaah wanita dan lantai atas untuk jemaah pria. Di setiap lantai dapat ditemui lubang tempat imam memimpin ibadah.
sumberfoto: www.n1nt1.blogspot.com
 Lantai atas dan lantai bawah terhubung oleh lima buah tangga yang saling terhubung dan di bawahnya terdapat kolam yang konon digunakan untuk berwudhu oleh para jemaah. Mesjid  bawah tanah ini dibangun pada masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwono ke I.

2.Masjid Gua Muhammad
Selain itu juga ada Masjid Gua Muhammad, Masjid jelas tidak bisa dilihat dari luar karena lokasinya berada tepat di bawah Masjid Agung Wisnu Manunggal, di Dusun Losari, Desa pekukuhan, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto. Kenapa dinamakan masjid ini dengan Go Muhammad? Para jamaah disana memberinya nama itu lantaran sebagai bentuk penghormatan terhadap Nabi Muhammad SAW.

Untuk sampai di masjid ini, perjalanan harus ditempuh sekitar 14 kilometer dari arah Kota Mojokerto. Sesampai di Masjid Agung Wisnu Manunggal, setiap peziarah akan mendapati bangunan masjid biasa. Untuk sampai ke Masjid Goa Muhammad, setiap peziarah harus melewati gapura di sebelahtimur bangunan induk masjid. Gapura itu merupakan pintu menuju masjid bawah tanah.

Di samping timur bangunan induk terdapat sebuah lorong sempit. Dengan kedalaman sekitar 5 meter hingga 7 meter, setiap peziarah yang datang harus masuk secara berjajar ke belakang. Sebab lorong itu hanya bisa dilewati seorang saja. Di sepanjang dinding lorong yang terbuat dari tanah dan pasir, tertempel tulisan nama-nama Allah atau pujian terhadap Rasulullah Muhammad SAW, seperti beberapa penggalan bacaan Maulid-Diba dan Barzanji.

Sejak ditemukan tahun 1995 dan usai dibangun tahun 1997 lalu, Masjid Goa Muhammad ini memiliki ruang utama bawah tanah yang terdiri atas tujuh pintu. Tujuh pintu lorong ini digunakan sebagai baris salat.Setiap lorong bisa ditempati sekitar 7 orang untuk salat. Sehingga saat salat jamaah, masjid bawah tanah ini cukup menampung sekitar 50 orang dengan seorang imam.  Masjid ini bisa menjadi salah satu alternatif bagi setiap orang untuk lebih khusyuk saat berdzikir atau salat. Sebab saat berada di dalam tanah, tiada yang terdengar kecuali keheningan dan kegelapan. (berbagai sumber)

Selasa, 15 Mei 2012

Dari Sabang sampai Merauke Terbentang Gua Jepang bag II

Sambungan tulisan di bawah, sekarang beranjak ke tengah pulau Jawa tepatnya di daerah Yogyakarta di sana bersemayamlah Gua Jepang. Namanya masih tetap yaitu gua Jepang yang terletak Kaliurang, Sleman. Gua ini berada di ketinggian bukit jadi apabila ingin kesana harus siapkan stamina dan tenaga yang cukup untuk mendaki sejauh 1 kilometer untuk menemukan gua-gua itu. Untuk ke Gua Jepang Kaliurang, kita membutuhkan waktu sekitar 30 menit dari kota Jogja

sumber foto:www.fhetanblog.wordpress.com
Menanjaknya rute tak jadi soal karena udara yang dingin membuat rasa lelah menjadi sedikit berkurang, apalagi ditambah dengan  pemandangan alam Gunung Merapi, Gunung Merbabu, Gardu Pandang, suasana kota Yogyakarta dan yang lainnya.

Gua ini sama seperti Gua Jepang lainnya yang merupakan sisa-sisa dari masa penjajahan Jepang yang dibangun dengan menggunakan tenaga rakyat Indonesia yang dipekerjakan paksa oleh Jepang. Ceritanya pada zaman dahulu selain digunakan oleh Jepang, tentara Belanda pernah juga memakai goa ini sebagai tempat tinggal mereka.

Sekarang tinggalkan Jawa Tengah dan menuju Jawa Timur, disana ada sebuah Gua yang bernama Gua Jepang Bandealit yang terletak di ketinggian 200 m. Jarak nya sih cukup jauh yaitu sekitar 60 km arah selatan kota Jember. Gua Jepang ini merupakan ini salah satu saksi sejarah di tempat ini ( Taman Nasional Baluran ) pernah terjadi pertempuran sengit antara tentara republik Indonesia dengan tentara republik Jepang.

Lantaran tak seimbang kekuatannya banyak tentara republik Indonesia yang gugur sehingga tempat ini disebut Batangan. Gua Jepang ini memiliki luas sekitar 12 m2 ini terbagi atas 2 ruangan. Ruangan bagian utara yang dipergunakan sebagai tempat menyimpan amunisi, sedangkan ruangan bagian selatan berfungsi sebagai celah pengintai musuh

Nah, di depan gua ini juga terdapat tumpukan batu yang merupakan perlindungan saat penyerangan musuh, jikalau musuh mau memasuki Teluk Bandealit. Keadaannya masih tersusun rapi. dari Goa Jepang Teluk Bandealit dapat terlihat secara keseluruhan.

Masih di timur Indonesia, Goa Jepang juga ada di Bali tepatnya di daerah Klungkung. Mau kesana cukup berkendara  lebih kurang 6 km dari arah barat Kota Semarapura dan memerlukan waktu kurang lebih 80 menit perjalanan dari Bandara Ngurah Rai. Bagaimana kalau dari arah Denpasar? Ya berkendara lah kira-kira 43 km jarak tempuh perjalanan dari kota itu

sumber foto:www.paketbalimurah.files.wordpress.com
 Goa ini sendiri terdiri atas 16 buah lubang dengan kedalaman 4 meter, dua diantaranya tidak berhubungan satu dengan yang lainnya, yaitu satu buah terletak di ujung selatan dan satu lagi diujung sebelah utara, sedangkan yang lainnya berhubung-hubungan dan dihubungkan oleh sebuah gang memanjang arah Utara Selatan.

Setali tiga keping dengan gua-gua di atas, gua ini juga dibangun oleh tentara Jepang untuk mempertahankan diri dari serangan tentara sekutu pada masa pendudukan Jepang. Goa semacam ini, tetapi hanya terdiri atas sebuah lubang yang besar juga terdapat di Desa Suana Kecamatan Nusa Penida yang dimaksudkan untuk tempat pengintaian lalu lintas laut di Selat lombok. (berbagai sumber)

Selasa, 08 Mei 2012

Asu VS Landak, jadilah Pantai Sundak!

Hmmmm, tanpa dinyana akibat pertarungan sengit antara dua binattang yang berbeda jenis itu melahirkan  nama bagi sebuah Pantai di Tepus, Gunungkidul, Yogyakarta.  Adalah Pantai Sundak yang diambil dari perpaduan antara nama binatang asu atau anjing dengan landak.
            Tadinya pantai itu namanya bukan pantai sundak, melainkan pantai Wedibedah atau pasir yang terbelah. Akan tetapi nama itu berubah lantaran ada suatau peristiwa yang terjadinya di sekitar tahun 1976. Menurut cerita yang ada ada seekor anjing sedang berlarian di daerah pantai dan memasuki gua karang di suatu siang.
sumber foto: www.mlancong.com
Di gua, asu itu bertemu dengan seekor landak laut, nah asu yang sedang keroncongan perutnya apa saja yang dianggapnya enak pasti ingin dilahapnya. Begitu juga dengan hadirnya landak laut di depan matanya, air liur asu itu pun ngeces. Diseranglah itu landak laut, tak pelak terjadi perkelahian sengit yang akhirnya dimenangkan oleh si anjing yang berhasil memakan setengah tubuh landak laut. Kasihan si landak yang meregang nyawa lantaran tubuhnya berhasil dimakan oleh asu itu.
 Selang tak beberapa lama  perbuatan si anjing itu diketahui oleh pemiliknya, bernama Arjasangku, yang melihat setengah tubuh landak laut di mulut anjing. Mengecek ke dalam gua, ternyata pemilik menemukan setengah tubuh landak laut yang tersisa. Nah, sejak itu nama Wedibedah berubah menjadi Sundak yang singkatan dari nama asu (anjing) dan landak.
Eh, tanpa dikira perkelahian itu ternyata membawa berkah tersendiri bagi penduduk setempat. Setelah selama puluhan tahun desa itu kekurangan air, akhirnya penduduk menemukan mata air. Bagaimana bisa? awalnya, si pemilik anjing heran karena anjingnya keluar gua dengan badan yang basah kuyup. Perkiraannya, di gua tersebut terdapat air dan anjingnya itu sempat tercebur ketika mengejar landak. Usut punya usut setelah beberapa warga mencoba menyelidikinya ternyata perkiraan tersebut benar.
Jadilah kini air dalam gua dimanfaatkan untuk keperluan hidup penduduk. Dari dalam gu sekarang dipasang pipa untuk menghubungkan dengan penduduk. Temuan mata air ini mengobati kekecewaan penduduk karena sumur yang dibangun sebelumnya tergenang air. (berbagai sumber)

Selasa, 01 Mei 2012

Gua Indonesia Punya Cerita

Alkisah, di selatan Yogyakarta tempo dulu ada seorang yang bernama Ki Juru Mertani dan Ki Ageng Pemanahan yang diutus  oleh Panembatan Senopati di Mataram. Misi mereka berdua sedikit membuat bulu kuduk berdiri karena ingin menghabisi nyawa bayi laki-laki buah cinta putri Panembatan Senopati yaitu Mangir Wonoboyo dari Mangiran (Bantul).
sumber foto:www.apriyoga.blogspot.com
Namun dalam perjalanannya entah mungkin merasa kasihan dengan bayi itu kedua abdi itu berjanji untuk tidak membunuh sang bayi. Keduanya lalu pergi lalu pergi kearah timur (arah Gunungkidul) hingga tiba di  dusun didaerah Karangmojo.

Sesampainya disana  lantas keduanya menggelar tikar dan alas tempat tidur bekas persalinan sang bayi,  kemudian menguburnya. Sementara itu di saat bersamaan sang bayi terus saja menangis, mungkin sekedar untuk menenangkan sang bayi agar tidak terus menangis kedua utusan itu pun kemudian memutuskan untuk memandikan sang bayi,  Ki Juru Mertani lalu naik kesalah satu bukit dan menginjak tanah di puncak bukit, dirinya memang bukan main saktinya lantaran tanah yang diinjaknya itu runtuh dan membuat sebuah lubang besar dengan aliran air dibawahnya.
           Sang bayi kemudian dibawa lah turun oleh Ki Juru dan dimandikan di dalam goa di lubang tadi. Nah, sewaktu dimandikan tanpa sengaja pipi sang bayi terbentur (bahasa jawanya yaitu kebendhul) batu yang ada didalam, nah karena kejadian itu akhirnya goa itu dinamakan Gua Pindul.

       Yup, seperti halnya nama-nama dari beberapa air terjun di Indonesia yang banyak mengambil dari cerita-cerita atau legenda yang terjadi pada zaman dahulu. Setali tiga keping dengannya,  nama-nama Gua di Indonesia juga banyak yang terinspirasi dari cerita atau legenda seperti Gua Pindul di atas. Nama gua ada yang terinspirasi dari kejadian-kejadian aneh yang tak masuk dinalar sampai mengambil dari nama sebuah kerajaan antah berantah. 

Selain Gua  indul itu, di Sulawesi Selatan ada sebuah gua yang bernama Gua Mampu. Gua yang terletak di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan ini tidak hanya sekedar gua karena mempunyai cerita Legenda. Gua ini bagi masyarakat di sekitar Gua Mampu sarat dengan cerita legenda yang begitu dipercaya. 

Adalah Legenda Alleborenge Ri Mampu yang berkembang di seputar gua dan diyakini secara turun-temurun sebagai suatu kebenaran oleh masyarakat. Konon, di Gua Mampu ini dulunya pernah berdiri Kerajaan Mampu. Namun karena kena kutukan dari dewa, penghuni kerajaan termasuk semua mahkluk hidup yang di dalamnya tak terkecuali binatang dan benda-benda lainnya berubah menjadi batu. Bongkahan batu yang mirip manusia, binatang, dan lainnya  memang banyak ditemui di dalam gua ini. Bak diorama di museum gambaran yang ada di dalam gua tersebut

Tidak hanya berdasarkan cerita-cerita masyarakat saja legenda ini berasal, melainkan juga dapat ditemui dalam tulisan lontas Bugis kuno yang berkisah tentang perkampungan yang terkena kutukan sang dewata. Gua Mampu ini luasnya sekitar 2000 meter persegi, terletakdi Desa Cabbeng, Kecamatan Dua Boccoe yang berjarak 34 Kilometer dari Watampone, Kabupaten Bone, 140 Km dari kota Makassar. Di dalam Gua Mampu dapat ditemui stalagnit dan stalagmit yang menambah keindahan interior gua

Beralih ke tanah Jawa, tepatnya di Pengandaran terdapat pula gua yang bernama Gua Lanang. Bagi anda yang besal dari Jawa pasti sudah tahu arti dari kata itu bukan? ya lanang yang berarti adalah seorang laki-laki. Nah, Kenapa sampai gua ini dinamakan Gua Lanang? jawabannya kita kembalikan pada  sebuah cerita lokal yang menjelaskan bahwa Gua Lanang ini merupakan keraton Kerajaan Pananjung dengan Rajanya bernama Prabu Anggalarang dan Permasurinya Dewi Siti Samboja yang dikenal dengan nama Dewi Rengganis dengan dibantu oleh Patih Aria KIdang Pananjung.
sumber foto: www.disparbud.jabarprov.go.id
Raden Anggalarang adalah putra Prabu Haur Kuning seorang raja kerajaan Galuh Pangauban yang berpusat di Putrapinggang kemudian mendirikan kerajaan Pananjung atas kemauannya sendiri, walaupun ayahnya telah memperingatkan dengan alasan tidak akan berjaya karena rawan dari  gangguan bajak laut. 

Akan tetapi, Raden Anggalarang bersikeras tetap pada pendiriannya karena daerah Pananjung merupakan tempat yang cocok bagi dirinya untuk mendirikan pusat pemerintahan. Prabu Anggalarang adalah seorang laki - laki yang gagah dan sakti sehingga dijuluki " Sang Lanang " dan gua ini merupakan tempat tinggalnya, maka disebutlah gua itu sebagai " Gua Lanang ". (berbagai sumber)

Kamis, 26 April 2012

Di Gua Mereka Bertapa

Beberapa goa-goa di Indonesia, khususnya di Tanah Jawa menurut cerita-cerita masyrakat yang ada dipercaya dulunya menjadi semacam tempat bertapa atau semedinya para wali songo saat menyebarkan agama Islam. Entah benar atau  tidak kebenaran dari cerita-cerita rakyat itu?, tetapi akankah jua kebenarannya itu akan terkuak dalam tumpukan bukti-bukti sejarah yang terbatas adanya?, tiada yang tahu. Nah tanpa panjang lebar membicarakan benar tidaknya suatu cerita, berikut ini ada daftar goa-goa jyang diyakini dulunya menjadi tempat singgahnya para wali songo:
             
Nah, yang pertama ada Goa Kreo yang berada di Kota Atlas, Semarang. Gua ini menurut ceritanya dulunya adalah  tempat petilasan salah satu walisongo yang bernama Sunan Kalijaga. Beliau pergi kesana saat mencari kayu jati untuk membangun Masjid Agung Demak. Tadinya, kayu jati yang Sunan cari ada di lereng Bukit Gombel, Semarang, yang rencananya akan digunakan sebagai salah satu saka guru Masjid Agung Demak.  Tetapi ketika Sunan Kalijaga akan mengambil kayu jati di kawasan tersebut, eh pohon jati itu ternyata sudah tidak ada.

Nah, saat Sunan Kalijaga berhasil menemukan kayu jati yang berpindah itu, tetapi sayang kayu itu telah berada di tempat yang sulit untuk diambil. Lantas dia pun lalu bersemadi di dekat sebuah gua hingga datang lah empat ekor kera. Kayu jati berhasil diambil dari tempat yang sulit atas bantuan kera-kera tersebut. Sebagai balas jasa, kera-kera itu mendapat anugerah oleh sang Sunan. Mereka pun diberi kewenangan ngreho (bahasa Jawa) yang berarti "memelihara" atau "menjaga" dan dari kata ngreho itulah nama Gua Kreo berasal.

2.Gua Akbardi Tuban, Jawa Timur beberapa tempat di Gua Akbar dipercaya sebagai tempat Sunan Kalijogo dan Sunan Bonang bertapa.  Menurut cerita,  konon Sunan Bonang mengetahui goa ini karena diajak Sunan Kalijogo yang saat itu masih bernama RM Sahid. Beberapa tempat di Goa Akbar ini akhirnya dipercaya sebagai tempat perjalanan religius Sunan Kalijogo dan Sunan Bonang, di samping wali-wali yang lain. Seperti tempat yang terdapat di depan musholla dalam goa dimana terdapat ruang yang sangat luas. Tempat ini dikenal sebagai Paseban Wali yang dipercaya dulunya digunakan oleh para walisongo untuk berkumpul dan menyampaikan fatwa dan ajaran agama Islam.  
sumber foto:www.cahkulonx.blogspot.com

Ditambah dengan adanya batu-batu besar yang terletak di bagian depan ruang yang seakan menjadi podium bagi pembicara. Ada pula batu yang disebut Gamping Watu Nogo yang dipercaya sebagai tempat pertapaan Sunan Kalijogo. Menurut cerita, selain tapak Sunan Kalijogo dan Sunan Bonang, ada Sunan Bejagung yang juga pernah bertapa di goa ini.

3. Gua Rancang Kencono di Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta, gua ini merupakan satu dari 240 buah goa yang berada di wilayah itu. Konon kabarnya di lokasi ini dulu juga sebagai tempat persinggahan para Wali Songo yang juga sebagai tempat penyusunan strategi penyebaran agama Islam waktu itu.

sumber foto:ww.vforvoen.wordpress.com
4. Masih di wilayah kota Gudek ini, tepatnya diderah perbukitan Dusun Srunggo, Kecamatan Imogiri sekitar 20 Km dari kota Yogyakarta terdapat Gua Cerme. Gua ini konon katanya juga sering sisinggahi oleh para wali songo sewaktu menyebarkan ajaran agama islam di Jawa. Selain itu, Gua ini juga kerap digunakan para wali untuk membahas rencana pendirian Masjid Agung Demak. (berbagi sumber)
sumber foto:www.mylittlememento.files.wordpress.com
 

Selasa, 10 April 2012

Sri Gethuk, Air Terjun Pusatnya Para Jin

Mau pergi ke tempatnya para jin berkumpul sekaligus menikmati pemandangan alam. Ada satu destinasi yang menarik di daerah Gunung Kidul, Yogyakarta. Ya, nama destinasinya adalah Air Terjun Sri Gethuk, dilihat dari namanya sih seperti  percampuran antara nama wanita dengan makanan. Eh ternyata bukan,   nama air terjunnya itu ternyata terinspirasi dari cerita legenda yang berkembang di wilayah air terjun.

            Alkisah,  konon dari legenda yang berkambang di sekitaran wilayah air Terjun, daerah itu  merupakan tempat atau pusatnya para jin atau makhluk halus berkumpul yang dipimpin oleh Jin yang bernama Anggo Menduro.  Tentu kita manusia tidak bisa melihatnya kecuali mereka yang mempunyai keahlian khusus.
foto: www.travel.detik.com
         Nah,tanpa dinyana sang ketua jin ini  sangat menyukai segala macam kesenian, dari  dramben sampai  gamelan. Di saat tertentu di Air Terjun juga sering terdengar sura gamelan atau suara kerawitan atau disebut hanya merupakan pandulon yang menyuarakan gamelan atau dengan bahasa Jawa disebut pandulon yang suara tersebut kalau di dengarkan di lokasi Padukuhan Menggoran dan sekitarnya suara tersebut berasal dari lokasi air terjun. Wah jadi teringat dengan misteri di Curug Penganten Bandung ini yang juga terkadang mengeluarkan bunyi gamelan.

Tapi anehnya, kalau didekati suara itu akan hilang, suara tersebut adalah suara dramben dengan suara yang sangat dominan yaitu suara slompret,  maka tempat tersebut di kenal sebagai sebutan Slompret atau kemudian di sebut Slempret.  Air terjun Sri Gethuk juga dikenal dengan nama Air Terjun Slempret karena lokasi air terjun tersebut bertempat di lokasi Blok Slempret. 

Nah, dalam cerita legenda Gamelan ini anehnya  juga dapat dipinjam oleh manusia yang mempunyai kemampuan lebih dan juga dapat di manfaatkan untuk tabuan selayaknya gamelan biasa yang dapat kasat mata.

Masih dalam cerita yang sama, di lokasi Slempret ini raja jin Anggo Mendoro menyimpan alat musiknya di beberapa tempat di antaranya di lokasi Mergangsan dan juga Srikethuk. Mergangsan ini berada di sebelah bawah lokasi Sungai Oyo, tempat tersebut disebut Mergangsan karena dipergunakan sebagai tempat menyimpan gongso atau gamelan. 

Dan Sri Kethuk yang berada di lokasi air terjun,  di sebut Sri kethuk ini karena dipergunakan oleh Jin Anggo Menduro sebagai tempat penyimpanan salah satu instrumen gamelan dengan nama Kethuk. Hingga akhirnya menjelmalah nama air terjun itu menjadi Sri Gethuk. Anda mau kesana, coba cek saja ke wisata.kompasiana.com

Copyright © ID Blog Kamu

Canvas By: Fauzi Blog, Responsive By: Muslim Blog, Seo By: Habib Blog