ID Blog Kamu: gua

Tampilkan postingan dengan label gua. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label gua. Tampilkan semua postingan

Rabu, 23 Mei 2012

Jejak Purba di Gua Indonesia

Anda ingin menelusuri atau melihat jejak-jejak purba yang tertinggal dalam sebuah Gua di Nusantara, Yup, pantas kalau anda cek gua-gua seperti Gua Tiangko, Gua Leang-Leang, dan Gua Liang Bua.Yang pertama ada Goa Tiangko yang berada di kecamatan Sungai Manau, Jambi.  Lantas kenapa dinamakan Gua Tiangko, ya tak lain karena gua itu terletak di  Desa Tiangko.  
sumber foto: www.jambitourism.co.id
Apa saja yang purba di dalam Goa dengan luasnya yang hanya 206 meter persegi dan lebar mulut bagian depan setinggi 4 meter serta mulut bagian belakang setinggi 11,5 meter ini? Gua ini merupakan rekam jejak zaman prasejarah diperlihatkan. Berdasarkan hasil penelitian Bennet Bronson dan Teguh Amat pada tahun 1974, di tempat ini ditemukan lapisan tembikar yang dibawahnya terdapat alat-alat obsidian. Penemuan itu pun lantas menyimpulkan bahwa Goa Tiangko menjadi permukiman tertua di Jambi.
           Gua ini dindingnya berupa ceruk-ceruk bebatuan yang ditumbuhi lumut,  langit-langitnya pun dipenuhi sarang burung walet dan kelelawar yang bergelantungan. Di goa ini juga bisa ditemui batu kapiler yang membentuk stalktit dan stalakmit dengan berbagai ornamen yang menakjubkan. Udara sejuk menyeruak ketika memasuki goa dan terdengar suara tetesan air yang jatuh ke bebatuan.
Kedua adalah kawasan Gua Leang-Leang, gua ini merupakan  satu dari ratusan gua yang tersebar di perbukitan cadas Maros, kecamatan Bantimurung, Sulawesi Selatan. Leang yang dalam bahasa makasar artinya Gua, dalam bahasa indonesia adalah liang yang berarti lubang.
Di kawasan Gua Leang Leang itu, ada dua gua yaitu Gua Leang Burung dan Gua Petta Kere. Gua Leang Burung dulunya adalah tempat dimana burung walet dan kelelawar bersarang dengan populasinya yang semakian berkurang.
Nah, kalau Gua Petta Kere ini dikenal sebagai gua yang ada lukisan gambar-gambar prasejarah pada dinding goanya. Pada jalanan menuju Gua Petta Kere terdapat batu-batuan besar berwarna hitam yang tersusun rapi, konon dulunya tempat ini merupakan lautan, dan batu-batu tersebut merupakan batu yang berada di dasar lautan, namun seiring berjalannya lautan itu bergeser akhirnya menjadi daratan.
sumber foto: www.travel.detik.com
Dari cerita masyarakat lokal menyebutkan keberadaan dari gambar tangan dengan jari lengkap itu bermakna sebagai penolak bala, sementara gambar dengan 4 jari telapak tangan diperkirakan sebagai cap telapak tangan milik salah satu anggota suku yang telah mengikuti ritual potong jari.
Ritual yang dilakukan sebagai tanda berduka atas kematian orang terdekatnya. Gambar babi rusa gemuk yang terpanah jantungnya merupakan gambaran sejarah manusia purbakala yang dulunya hidup berburu.
Jejak purba itu ditemukan dua arkeolog asal Belanda yaitu Van Heekeren dan Mrs. HeerenPalm. Di tahun 1950-an  mereka menemukan gambar-gambar pada dinding Gua Leang-leang. Soal usia lukisan purba di Gua itu diperkirakan berumur 5.000 tahun. Beberapa arkeolog bahkan berpendapat bahwa goa tersebut telah didiami sejak 3.000 SM (Sebelum Masehi).
Gua Liang Bua, NTT, Gua Liang Bua merupakan peninggalan pra sejarah di Indonesia. Gua ini adalah salah satu dari banyak gua karst di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur di Indonesia. Gua ini terletak di Dusun Rampasasa, Desa Liangbua, Kecamatan Ruteng, Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur.
sumber foto:www.kaskus.com
Fosil Homo Floresiensis atau Manusia Flores yang memiliki tinggi badan hanya sekitar 100 cm dan beratnya 25 kg ditemukan di gua ini. Tengkorak manusia itu diperkirakan hidup 13.000 tahun lalu, yang hidup bersama dengan gajah-gajah pigmi dan komodo. Pada 2001 telah dilakukan eskavasi arkeologi yang merupakan kerja sama antara Pusat Penelitian Arkeologi Nasional bersama University of New England, Australia.(berbagai sumber)

Selasa, 15 Mei 2012

Dari Sabang sampai Merauke Terbentang Gua Jepang bag III

Sekilas mengenai gua di wilayah NTT, tanpa dinyana ternyata Kupang memiliki banyak sekali gua dan salah satunya adalah Gua Jepang. Setidaknya ada lima gua perlindungan yang dibuat pada masa kependudukan Jepang yang berada di Kelurahan Nun Baun Delha. 

Gua ini terletak di dalam pekarangan milik warga ini  letaknya berdekatan dan saling berhubungan melalui suatu terowongan. Ada tiga gua yang di bagian depannya masih terdapat besi tempat meriam. Gua tersebut dibuat dibawah batu karang dan di bagian tertentu seperti ada tempat duduk yang dibuat dari campuran semen.

Selain itu juga ada Gua Panaf Bibiatau biasa disebut masyarakat setempat sebagai gua jepang. Di namakan gua jepang karena gua ini dibuat oleh tentara jepang pada masa perjuangan tahun 1942 untuk pertahanan dan pengintaian oleh tentara jepang. Gua ini terletak sekitar 40 Km arah selatan kota Kupang ini terletak di desa Tasikona.
     
Sedikit kearah Sulawesi tepatnya di Sulawesi Utara, berlokasi di Kecamatan Kawangkoan, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara terdapat goa-goa peninggalan tentara Jepang bahkan sebagian peninggalan kolonial Belanda. Gua ini terdapat di Desa Kiawa (tepi jalan raya ke Kawangkoan) dan Desa Tondegesan, sekitar 1,5 kilometer dari pusat Kecamatan Kawangkoan.

Lantaran Sulawesi Utara adalah wilayah pendaratan Sekutu untuk masuk ke Indonesia dari arah Pasifik. Karena itu, daerah ini menjadi front pertempuran yang sengit. Gua Jepang tersebar di beberapa lokasi. Di Minahasa sendiri setidaknya ada dua buah gua yang berada di Kawangkoan dan satu gua lagi berada di daerah Tondano Utara. Di Manado sendiri ada cukup banyak gua yang tersebar di beberapa tempat, seperti di Tikala Ares, Tanjung Batu, Singkil Satu, Kairagi, Titiwungen Selatan dan Pakowa.

Nah, sekarang beranjak ke ke Papua tepatnya di Biak, disana sudah menanti Gua Jepang. Di sini selain bisa melihat guanya itu sendiri tentu saja, anda akan melihat museum yang berisi benda - benda bersejarah, peralatan dan perlengkapan perang tentara Jepang yang konon ditemukan di dalam Gua Jepang dan sekitarnya seperti peneng ( kalung dengan liontin yang terbuat dari logam biasanya berfungsi sebagai tanda pengenal ), helm, granat, pistol, dan yang lainnya.

Di dalam Gua Jepang ini terdapat sejumlah bilik kecil sebagai tempat untuk beristirahat. Dalam Gua itu terdapat tiga ruang besar yang dibentuk tentara Jepang untuk sejumlah kepentingan, masing-masing ruang dengan fungsinya dan terhubung satu dengan lainnya. Ruang I dijadikan gudang, tempat menyimpan bahan makanan, obat-obatan, peralatan perang, dan alat-alat komunikasi. Ruang II, dijadikan tempat merawat orang sakit, dan ruang III merupakan tempat yang dikhususkan bagi para perwira untuk melakukan rapat-rapat berkaitan dengan kepentingan perang. (berbagai sumber)

Dari Sabang sampai Merauke Terbentang Gua Jepang bag II

Sambungan tulisan di bawah, sekarang beranjak ke tengah pulau Jawa tepatnya di daerah Yogyakarta di sana bersemayamlah Gua Jepang. Namanya masih tetap yaitu gua Jepang yang terletak Kaliurang, Sleman. Gua ini berada di ketinggian bukit jadi apabila ingin kesana harus siapkan stamina dan tenaga yang cukup untuk mendaki sejauh 1 kilometer untuk menemukan gua-gua itu. Untuk ke Gua Jepang Kaliurang, kita membutuhkan waktu sekitar 30 menit dari kota Jogja

sumber foto:www.fhetanblog.wordpress.com
Menanjaknya rute tak jadi soal karena udara yang dingin membuat rasa lelah menjadi sedikit berkurang, apalagi ditambah dengan  pemandangan alam Gunung Merapi, Gunung Merbabu, Gardu Pandang, suasana kota Yogyakarta dan yang lainnya.

Gua ini sama seperti Gua Jepang lainnya yang merupakan sisa-sisa dari masa penjajahan Jepang yang dibangun dengan menggunakan tenaga rakyat Indonesia yang dipekerjakan paksa oleh Jepang. Ceritanya pada zaman dahulu selain digunakan oleh Jepang, tentara Belanda pernah juga memakai goa ini sebagai tempat tinggal mereka.

Sekarang tinggalkan Jawa Tengah dan menuju Jawa Timur, disana ada sebuah Gua yang bernama Gua Jepang Bandealit yang terletak di ketinggian 200 m. Jarak nya sih cukup jauh yaitu sekitar 60 km arah selatan kota Jember. Gua Jepang ini merupakan ini salah satu saksi sejarah di tempat ini ( Taman Nasional Baluran ) pernah terjadi pertempuran sengit antara tentara republik Indonesia dengan tentara republik Jepang.

Lantaran tak seimbang kekuatannya banyak tentara republik Indonesia yang gugur sehingga tempat ini disebut Batangan. Gua Jepang ini memiliki luas sekitar 12 m2 ini terbagi atas 2 ruangan. Ruangan bagian utara yang dipergunakan sebagai tempat menyimpan amunisi, sedangkan ruangan bagian selatan berfungsi sebagai celah pengintai musuh

Nah, di depan gua ini juga terdapat tumpukan batu yang merupakan perlindungan saat penyerangan musuh, jikalau musuh mau memasuki Teluk Bandealit. Keadaannya masih tersusun rapi. dari Goa Jepang Teluk Bandealit dapat terlihat secara keseluruhan.

Masih di timur Indonesia, Goa Jepang juga ada di Bali tepatnya di daerah Klungkung. Mau kesana cukup berkendara  lebih kurang 6 km dari arah barat Kota Semarapura dan memerlukan waktu kurang lebih 80 menit perjalanan dari Bandara Ngurah Rai. Bagaimana kalau dari arah Denpasar? Ya berkendara lah kira-kira 43 km jarak tempuh perjalanan dari kota itu

sumber foto:www.paketbalimurah.files.wordpress.com
 Goa ini sendiri terdiri atas 16 buah lubang dengan kedalaman 4 meter, dua diantaranya tidak berhubungan satu dengan yang lainnya, yaitu satu buah terletak di ujung selatan dan satu lagi diujung sebelah utara, sedangkan yang lainnya berhubung-hubungan dan dihubungkan oleh sebuah gang memanjang arah Utara Selatan.

Setali tiga keping dengan gua-gua di atas, gua ini juga dibangun oleh tentara Jepang untuk mempertahankan diri dari serangan tentara sekutu pada masa pendudukan Jepang. Goa semacam ini, tetapi hanya terdiri atas sebuah lubang yang besar juga terdapat di Desa Suana Kecamatan Nusa Penida yang dimaksudkan untuk tempat pengintaian lalu lintas laut di Selat lombok. (berbagai sumber)

Dari Sabang sampai Merauke Terbentang Gua Jepang Bag I

Seperti  gajah mati meninggalkan gadingnya, penjajah Jepang pun pergi meninggalkan jejak sejarahnya. Namun bukan cerita kelam, peninggalan senjata atau yang lainnya, tetapi berupa gua. Yup, seperti yang kita ketahui Jepang pernah menjajah nusantara ini kurang lebih tiga setengah  tahun lamanya. Nah, dalam masa kependudukannya yang seumuran jagung itu Jepang banyak mendirikan basis-basis pertahanannya, dan gua di Indonesia banyak dimanfaatkan oleh bala tentara sakura untuk melindungi dirinya dari serangan musuh. Tanpa panjang lebar, mari kita tengok gua-gua mana saja pernah digunakan oleh tentara jepang

Pertama adalah Gua Jepang di Bukitinggi, Sumatera Barat yang letaknya persis disamping Ngarai Sianok, atau di bawah Taman Panorama. Gua ini lumayan panjang yaitu satu setengah kilometer, namun sekarang hanya sekitar 750 meter. Lorong masuknya sangat dalam dan panjang. Ada sekitar 128 anak tangga untuk turun ke bawah sebelum akhirnya para pengunjung melewati ruang demi ruang Gua Jepang itu.
         
        Di dalam guanya sendiri terbagi dalam beberapa kamar, mulai dari lorong untuk rapat para serdadu, tempat makan hingga kamar para tahanan yang orang Indonesia.  Kalau dijumlah ada  12 barak militer, 12 tempat tidur, 6 buah ruang amunisi, dua ruang makan romusha dan satu ruang sidang. 

sumber foto: www.yopium.wordpress.com
       Yang unik adalah gua ini mempunyai beberapa lorong saluran untuk ke atas tanah, dan beberapa lorongnya dipakai sebagai lorong penyergapan dan pengintaian bagi para penduduk Indonesia yang kebetulan melintasi daerah itu. Jelas kegunaan utama dari Gua Jepang ini untuk basis pertahanan militer penjajah Jepang dari serangan Sekutu, tapi tak seorangpun yang mengetahui secara pasti kapan gua-gua jepang  ini mulai dibangun.

Kedua ada Gua Jepang di Pengandaran, Jawa Barat, letak persisnya berada di dusun Ngreco, dan Poyahan, Desa Seloharjo, Kecamatan Pundong. Gua Jepang ini merupakan peninggalan Perang Dunia II yang digunakan juga pastinya untuk sarana pertahanan militer di zaman Jepang pada tahun 1942-1945. Yah namanya juga Jepang pasti mengandalkan tenaga romusha untuk membangun sesuatu, begitu juga dengan gua ini yang banyak mengandalkan  para pekerja paksa (Romusa) selama ± 1 tahun.

sumber foto: www.disparbud.jabarprov.go.id

Di gua ini di temukan setidaknya 18 bangunan bunker yang sebagian besar masih dalam keadaan utuh. Bentuknya pun beranekaragam serta mempunyai fungsi yang berlainan pula, misalnya sebagai tempat pengintaian, ruang tembak, ruang pertemuan, gudang dan dapur. 

Ketebalan dinding rata-rata 50-70 cm , dari bahan beton bertulang, semen dan batu padas yang sudah tersedia di sekitarnya. Bunker-bunker tersebut dibangun saling berdekatan (30 m), serta dihubungkan dengan parit perlindungan yang berada di luar setinggi (1 m).

Dan yang ketiga masih berada di Jawa Barat ada Gua Jepang di Garut. Gua Jepang berada di sebuah lembah di antara dua bukit yang bernama Puncak Munasim. Goa di lembah ini ada 4, salah satunya menjadi sarang kelelawar dan sumber mata air bagi penduduk Cikopo.

sumber foto: www.fhetanblog.wordpress.com

Gua Jepang di Garut ini tidaklah terlalu dalam dan hanya sekitar 10 meter. Gua ini adalah tempat persembunyian tentara Jepang dari serbuan udara pasukan Belanda. Goa ini lagi-lagi dibangun dengan menggunakan tenaga romusha dengan sistem kerja paksa. Lokasinya memang jauh dari Kota Kabupaten Garut, sekitar 99 Km ke arah selatan dan dapat ditempuh dengan perjalanan sekitar 2-3 jam. (berbagai sumber)

Selasa, 01 Mei 2012

Gua Indonesia Punya Cerita

Alkisah, di selatan Yogyakarta tempo dulu ada seorang yang bernama Ki Juru Mertani dan Ki Ageng Pemanahan yang diutus  oleh Panembatan Senopati di Mataram. Misi mereka berdua sedikit membuat bulu kuduk berdiri karena ingin menghabisi nyawa bayi laki-laki buah cinta putri Panembatan Senopati yaitu Mangir Wonoboyo dari Mangiran (Bantul).
sumber foto:www.apriyoga.blogspot.com
Namun dalam perjalanannya entah mungkin merasa kasihan dengan bayi itu kedua abdi itu berjanji untuk tidak membunuh sang bayi. Keduanya lalu pergi lalu pergi kearah timur (arah Gunungkidul) hingga tiba di  dusun didaerah Karangmojo.

Sesampainya disana  lantas keduanya menggelar tikar dan alas tempat tidur bekas persalinan sang bayi,  kemudian menguburnya. Sementara itu di saat bersamaan sang bayi terus saja menangis, mungkin sekedar untuk menenangkan sang bayi agar tidak terus menangis kedua utusan itu pun kemudian memutuskan untuk memandikan sang bayi,  Ki Juru Mertani lalu naik kesalah satu bukit dan menginjak tanah di puncak bukit, dirinya memang bukan main saktinya lantaran tanah yang diinjaknya itu runtuh dan membuat sebuah lubang besar dengan aliran air dibawahnya.
           Sang bayi kemudian dibawa lah turun oleh Ki Juru dan dimandikan di dalam goa di lubang tadi. Nah, sewaktu dimandikan tanpa sengaja pipi sang bayi terbentur (bahasa jawanya yaitu kebendhul) batu yang ada didalam, nah karena kejadian itu akhirnya goa itu dinamakan Gua Pindul.

       Yup, seperti halnya nama-nama dari beberapa air terjun di Indonesia yang banyak mengambil dari cerita-cerita atau legenda yang terjadi pada zaman dahulu. Setali tiga keping dengannya,  nama-nama Gua di Indonesia juga banyak yang terinspirasi dari cerita atau legenda seperti Gua Pindul di atas. Nama gua ada yang terinspirasi dari kejadian-kejadian aneh yang tak masuk dinalar sampai mengambil dari nama sebuah kerajaan antah berantah. 

Selain Gua  indul itu, di Sulawesi Selatan ada sebuah gua yang bernama Gua Mampu. Gua yang terletak di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan ini tidak hanya sekedar gua karena mempunyai cerita Legenda. Gua ini bagi masyarakat di sekitar Gua Mampu sarat dengan cerita legenda yang begitu dipercaya. 

Adalah Legenda Alleborenge Ri Mampu yang berkembang di seputar gua dan diyakini secara turun-temurun sebagai suatu kebenaran oleh masyarakat. Konon, di Gua Mampu ini dulunya pernah berdiri Kerajaan Mampu. Namun karena kena kutukan dari dewa, penghuni kerajaan termasuk semua mahkluk hidup yang di dalamnya tak terkecuali binatang dan benda-benda lainnya berubah menjadi batu. Bongkahan batu yang mirip manusia, binatang, dan lainnya  memang banyak ditemui di dalam gua ini. Bak diorama di museum gambaran yang ada di dalam gua tersebut

Tidak hanya berdasarkan cerita-cerita masyarakat saja legenda ini berasal, melainkan juga dapat ditemui dalam tulisan lontas Bugis kuno yang berkisah tentang perkampungan yang terkena kutukan sang dewata. Gua Mampu ini luasnya sekitar 2000 meter persegi, terletakdi Desa Cabbeng, Kecamatan Dua Boccoe yang berjarak 34 Kilometer dari Watampone, Kabupaten Bone, 140 Km dari kota Makassar. Di dalam Gua Mampu dapat ditemui stalagnit dan stalagmit yang menambah keindahan interior gua

Beralih ke tanah Jawa, tepatnya di Pengandaran terdapat pula gua yang bernama Gua Lanang. Bagi anda yang besal dari Jawa pasti sudah tahu arti dari kata itu bukan? ya lanang yang berarti adalah seorang laki-laki. Nah, Kenapa sampai gua ini dinamakan Gua Lanang? jawabannya kita kembalikan pada  sebuah cerita lokal yang menjelaskan bahwa Gua Lanang ini merupakan keraton Kerajaan Pananjung dengan Rajanya bernama Prabu Anggalarang dan Permasurinya Dewi Siti Samboja yang dikenal dengan nama Dewi Rengganis dengan dibantu oleh Patih Aria KIdang Pananjung.
sumber foto: www.disparbud.jabarprov.go.id
Raden Anggalarang adalah putra Prabu Haur Kuning seorang raja kerajaan Galuh Pangauban yang berpusat di Putrapinggang kemudian mendirikan kerajaan Pananjung atas kemauannya sendiri, walaupun ayahnya telah memperingatkan dengan alasan tidak akan berjaya karena rawan dari  gangguan bajak laut. 

Akan tetapi, Raden Anggalarang bersikeras tetap pada pendiriannya karena daerah Pananjung merupakan tempat yang cocok bagi dirinya untuk mendirikan pusat pemerintahan. Prabu Anggalarang adalah seorang laki - laki yang gagah dan sakti sehingga dijuluki " Sang Lanang " dan gua ini merupakan tempat tinggalnya, maka disebutlah gua itu sebagai " Gua Lanang ". (berbagai sumber)

Minggu, 29 April 2012

Gua dan Para Pejuang Indonesia

Menelisik keberadaan dari sebuah gua di Indonesia ternyata cukup krusil juga, pasalnya gua-gua di Indonesia pada zaman negeri belum merdeka banyak digunakan oleh para pejuang kemerdekaan kita untuk melawan kaum penjasjah. Banyak yang mereka lakukan di dalam sana, dari mulai mengatur strategi perang melawan kaum penjajah sampai dijadikan tempat untuk sekedar singgah sementara setelah berjibaku dengan banyak peluru. Dimana sajakah gua-gua itu berada, nah dibawah ini ada beberapa gua-gua di Indonesia yang dekat dengan sejarah perjuangan bangsa Indonesia:
          Yang pertama adalah Gua Kamang yang terletak di Jorong Durian, Kanagarian Kamang Mudik, Kecamatan Kamang Magek. Gua ini pernah dipergunakan oleh para pejuang Agam dalam perrang perjuangan kemerdekaan. Gua ini dijadikan sebagai tempat untuk mengatur strategi dalam Perang Kamang, diantara tokoh yang pernah menggunakannya adalah Haji Abdul Manan.
sumber foto: www.agamkab.go.id
Selain itu di tahun 1831, gua ini juga pernah digunakan sebagai benteng bagi Tuanku Nan Renceh dan pengikut-pengikutnya. Beliau adalah salah seorang perwira dan pejuang nan masyhur pengikut Tuanku Imam Bonjol pejuang kemerdekaan melawan penjajah dalam Perang Padri 1821-1837. Nan Rencch dikenal pula sebagai satu di antara Harimau Nan Salapan (Harimau Yang Delapan) di Luhak Agam. Dalam gua Ngalau Kamang ini ada ruangan seluas 70 meter persegi tempat Tuanku Nan Renceh mengatur siasat dan mempertahankan diri.  Ngalau Kamang yang mempunyai panjang sekitar 5 km sering dikunjungi oleh masyarakat dalam kegiatan wisata.
Gua yang berjarak 15 kilometer dari Bukittinggi, Padang, Sumatera Barat ini sangat mudah dicapai dengan berbagai jenis kendaraan. Jalan ke sana cukup baik datar sekalipun ada yang belum diaspal. Pintu-pintu gua pun dihiasi dengan gerbang model rumah gadang.
Kedua ada Gua Grobogan yang panjangnya lebih pendek dibanding dengan gua diatas yaitu tujuh kilometer yang berada di pegunungan Kendeng Selatan di Desa Sumberjosari Kecamatan Karang Rayung, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Gua ini konon katanya sudah ada beratus-reatus tahun yang lalu dan diduga menjadi tempat persinggahan para pejuang pada masa penjajahan Belanda. Gua tersebut adanya di pinggiran sawah warga Sumberjosari Karang Rayung dan sekeliling gua dipenuhi rerumputan yang tinggi layaknya areal pegunungan.
Yang ketiga Gua Borallah, Goa ini disebut masyarakat dengan nama Goa Borallah tepatnya berada di Hutapungkut Julu, Kecamatan Kotanopan, Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara. Gua ini mempunyai arti penting dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia lantaran pernah digunakan oleh para pejuang kemerdekaan RI sebagai temppat persembunyian dan rapat dalam menyusun strategi dalam mengusir penjajajah dari bumi pertiwi ini. Di antara para tokoh kemerdekaan yang pernah menggunakan gua ini tercatat ada  H. Adam Malik, Tan Malaka, H. Sujak dan pejuang kemerdekaan lainnya.
 Keempat, letaknya di Kediri, ada Gua yang bernama Gua Surowono, nah pada masa perang kemerdekan Gua itu digunakan sebagai tempat persembunyian para pemuda dan para pejuang laki-laki Indonesia yang ingin mempertahankan daerah tersebut. (bersambung)

Copyright © ID Blog Kamu

Canvas By: Fauzi Blog, Responsive By: Muslim Blog, Seo By: Habib Blog