ID Blog Kamu: jember

Tampilkan postingan dengan label jember. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jember. Tampilkan semua postingan

Selasa, 15 Mei 2012

Dari Sabang sampai Merauke Terbentang Gua Jepang bag II

Sambungan tulisan di bawah, sekarang beranjak ke tengah pulau Jawa tepatnya di daerah Yogyakarta di sana bersemayamlah Gua Jepang. Namanya masih tetap yaitu gua Jepang yang terletak Kaliurang, Sleman. Gua ini berada di ketinggian bukit jadi apabila ingin kesana harus siapkan stamina dan tenaga yang cukup untuk mendaki sejauh 1 kilometer untuk menemukan gua-gua itu. Untuk ke Gua Jepang Kaliurang, kita membutuhkan waktu sekitar 30 menit dari kota Jogja

sumber foto:www.fhetanblog.wordpress.com
Menanjaknya rute tak jadi soal karena udara yang dingin membuat rasa lelah menjadi sedikit berkurang, apalagi ditambah dengan  pemandangan alam Gunung Merapi, Gunung Merbabu, Gardu Pandang, suasana kota Yogyakarta dan yang lainnya.

Gua ini sama seperti Gua Jepang lainnya yang merupakan sisa-sisa dari masa penjajahan Jepang yang dibangun dengan menggunakan tenaga rakyat Indonesia yang dipekerjakan paksa oleh Jepang. Ceritanya pada zaman dahulu selain digunakan oleh Jepang, tentara Belanda pernah juga memakai goa ini sebagai tempat tinggal mereka.

Sekarang tinggalkan Jawa Tengah dan menuju Jawa Timur, disana ada sebuah Gua yang bernama Gua Jepang Bandealit yang terletak di ketinggian 200 m. Jarak nya sih cukup jauh yaitu sekitar 60 km arah selatan kota Jember. Gua Jepang ini merupakan ini salah satu saksi sejarah di tempat ini ( Taman Nasional Baluran ) pernah terjadi pertempuran sengit antara tentara republik Indonesia dengan tentara republik Jepang.

Lantaran tak seimbang kekuatannya banyak tentara republik Indonesia yang gugur sehingga tempat ini disebut Batangan. Gua Jepang ini memiliki luas sekitar 12 m2 ini terbagi atas 2 ruangan. Ruangan bagian utara yang dipergunakan sebagai tempat menyimpan amunisi, sedangkan ruangan bagian selatan berfungsi sebagai celah pengintai musuh

Nah, di depan gua ini juga terdapat tumpukan batu yang merupakan perlindungan saat penyerangan musuh, jikalau musuh mau memasuki Teluk Bandealit. Keadaannya masih tersusun rapi. dari Goa Jepang Teluk Bandealit dapat terlihat secara keseluruhan.

Masih di timur Indonesia, Goa Jepang juga ada di Bali tepatnya di daerah Klungkung. Mau kesana cukup berkendara  lebih kurang 6 km dari arah barat Kota Semarapura dan memerlukan waktu kurang lebih 80 menit perjalanan dari Bandara Ngurah Rai. Bagaimana kalau dari arah Denpasar? Ya berkendara lah kira-kira 43 km jarak tempuh perjalanan dari kota itu

sumber foto:www.paketbalimurah.files.wordpress.com
 Goa ini sendiri terdiri atas 16 buah lubang dengan kedalaman 4 meter, dua diantaranya tidak berhubungan satu dengan yang lainnya, yaitu satu buah terletak di ujung selatan dan satu lagi diujung sebelah utara, sedangkan yang lainnya berhubung-hubungan dan dihubungkan oleh sebuah gang memanjang arah Utara Selatan.

Setali tiga keping dengan gua-gua di atas, gua ini juga dibangun oleh tentara Jepang untuk mempertahankan diri dari serangan tentara sekutu pada masa pendudukan Jepang. Goa semacam ini, tetapi hanya terdiri atas sebuah lubang yang besar juga terdapat di Desa Suana Kecamatan Nusa Penida yang dimaksudkan untuk tempat pengintaian lalu lintas laut di Selat lombok. (berbagai sumber)

Rabu, 09 Mei 2012

Cerita di Pantai Batu Ular Jember

Pernah berkunjung ke pantai Watu Ulo di  Jember,  Jawa Timur, nah kalau anda pernah kesana coba amati di sekitar pantai ada banyak batu-batu yang berserakan di seputar pantai itu. Ehhh ternyata, batu-batu di pantai Watu Ulo itu memiliki kisahnya sendiri seperti banyak objek wisata pantai di Indonesia. Kali in bukan kisah percintaan atau yang sejenisnya melainkan kisah pertarungan antara manusia dengan seekor ular besar.

Nah, ingin tahu kisahnya ini dia ceritanya, konon pada zaman dulu disana hidup  sepasang suami istri yang  bernama Aki dan Nini Sambi.  Lantaran keduanya memang pasangan lantas dikarunia oleh  seorang putra bernama Joko Samudera.  Layaknya keluarga yang butuh makan sehari-hari, mereka pun berbagi tugas, ayah ibu tugasnya mencari kayu bakar di  bukit-bukit sekitar pantai. Sedangkan anaknya yang bernama Joko Samudera  mencari ikan di laut. 
sumber foto:www.sauraputritan.blogspot.com
Nah, pada suatu hari Aki dan Nini Sambi yang  sedang mencari kayu bakar di hutan  mendengar suara tangis bayi.  Mereka pun mencari sumber suara tersebut dan  menemukan seorang bayi lelaki yang sendirian . Tak tega melihatnya,  Nini Sambi langsung jatuh hati dan merawatnya.

Pasangan itu pun kemudian memberi nama bayi tersebut dengan nama Marsudo.  Waktu berlalu   kedua bocah lelaki ini tumbuh dewasa. Untuk mencukupi kebutuhan hidupnya mereka secara  bergantian mencari  ikan di laut. Kali ini gilirannya Marsudo untuk mencari ikan, nah disaat sedang asiknya memancing, eh dirinya kaget lantaran pancingnya bergoyang.

Segeralah dia mengangkat pancingannya itu dan betapa terkejutnya dia saat mata pancingnya diangkat,terrnyata yang dia pancing adalah ikan besar yang bisa bicara. Ikan yang bernama Raja Mina itu ingin Marsudo melepaskan dirinya dan sebagai ganti Marsudo  akan  dikabulkan setiap keinginannya.

Merasa kasihan Marsudo pun melepaskannya. Dengan penuh  ucapan rasa terima kasih, Raja Mina langsung berenang dengan  bebas.  Namun apes bagi Marsudo, setibanya dirumah dia langsung dimarahi oleh kedua orang tuanya karena melepaskan ikan sangat besar.

Tak tega melihat saudaranya itu dimarahi seraya ingin menghilangkan kejengkelan sang ayah,  Joko Samudera pun pergi memancing ikan di laut kuntuk menggantikan adiknya. Nah, bukannya mendapati ikan dalam pancingannya, eh dia  malah memancing seekor  ular  besar. Ular ini mengamuk karena kait pancing  Joko Samudera melukai tubuhnya.

Dalam duel sengit keduanya tak mau menyerah, melihat sang  kakakberjibaku mati-matian melawan ular raksasa. Marsudo berinsiatif memanggil Raja Mina ikan yang dia selamatkan.  Dia meminta janji Raja Mina untuk memenangkan kakaknya melawan sang ular raksasa.  Mendengar permintaan Marsudo, Raja Mina pun memberinya sebatang cemeti.  Ikan yang bisa berbicara itu berpesan kepada untuyk memukul  dua kali, maka tubuhnya akan terbelah jadi tiga. Pisahkan ketiga bagian  tubuhnya ke tiga tempat, hingga dia tidak bisa bersatu. Kalau bersatu  dia akan  hidup kembali. Dan ular itu pun bisa ditaklukkannya.

 Begitulah legenda yang membuat pantai tersebut  bernama Watu Ulo. Di pinggir  pantai, memang ada gugusan batu yang jika  dilihat-lihat mirip dengan anatomi tubuh seekor ular. Panjang dan  berlekuk-lekuk serta model batuannya seperti sisik. (berbagai sumber)

Copyright © ID Blog Kamu

Canvas By: Fauzi Blog, Responsive By: Muslim Blog, Seo By: Habib Blog