ID Blog Kamu: NTT

Tampilkan postingan dengan label NTT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label NTT. Tampilkan semua postingan

Senin, 11 Juni 2012

Melongok Vila Terapung di Lombok

Vila yang berada di pegunungan, perbukitan, atau di dekat pantai mungkin sudah biasa bagi anda. Namun bagaimana dengan villa yang adanya di tengah-tengah permukaan laut, nah ini yang berbeda dengan villa  lain kebanyakan.
Adalah Floating Vila atau Nirvana Rumah Air yang berada di pulau Lombok bagian selatan tepatnya di Teluk Medang, Kecamatan Sekotong, Lombok Barat.Bukan sembarang vila karena konon katanya  vila ini merupakan satu-satunya vila yang menggunakan konsep seperti ini. 

foto: www.andinewsonline.blogspot.com
Menurut pengurusnya, ide yang dibuatnya ini terbilang cukup sederhana yaitu  ingin membangun rumah di tengah laut. Bukan konsep baru karena sebenarnya sudah banyak  di Thailand. Namun di negara gajah putih itu, bukanlah villa atau tempat peninapan yang mengapung melainkan lebih mendekati rumah perahu.
Nah, di Lombok ini berbeda karena lebih merupakan rumah terapung di tengah laut, bukan perahu yang dijadikan rumah. Rumah terapung Lombok, konsep dasarnya meniru bagan --tenda dari bambu di tengah laut yang dijadikan tempat menangkap ikan oleh nelayan. Bagan bertebaran di perairan Sekotong.
Di atas bagan, ada rumah kecil dari gedek untuk berteduh. Bila malam tiba, nelayan pemilik bagan naik ke atas bagan untuk menangkap ikan. Jika matahari terbit, nelayan pun turun untuk menjual hasil tangkapannya.
Lantas bagaimana awal membangun vila terapung ini? pertama kalinya vila dibangun  dari kayu raju mas dengan ukuran 8 x 8 meter. Bangunan kayu dengan atap alang-alang, dibangun di atas rakit berukuran 12 x 12 meter. Rakit terbuat dari bambu. Di bawah rakit terpasang 15 drum. Ke-15 drum tidak terlihat karena berada di bawah air, menyangga rakit.
Seperti layaknya perahu, vila pun terasa mengambang. Posisinya kira-kira 200 meter dari pantai dan Vila sengaja ditaruh menghadap ke barat agar dapat menikmati indahnya matahari tenggelam. Agar vila tidak kemana-mana alias terbawa arus laut, maka dipasangi jangkar yang berjumlah  tiga buah, satu di depan, dua di belakang. Di samping itu, tak merusak terumbu karang dan lingkungan laut yang ada di sana,
Dengan ukuran 8 x 8 meter, praktis ada satu kamar tidur, satu ruang tamu dan satu kamar mandi. Di luar juga ada tempat -- sejenis teras -- untuk berjemur. Sebagaimana layaknya vila atau hotel, di sana juga telah disediakan kulkas kecil lengkap dengan minumannya, TV dan tape recorder.
Tapi tanpa AC, nah kenapa bisa? karena apa perlunya ac apabila angin laut bisa masuk dengan leluasa ke dalam vila yang dilengkapi listrik dan air tawar ini. Hanya alat masak-memasak yang tidak ada karena semuanya terbuat dari kayu, maka sengaja disini tidak disediakan akan alat masak-memasak untuk menghindari terjadinya kebakaran..
 Dilihat secara geografis, Nirvana Rumah Air ini berada di teluk yang nyaris tidak bergelombang. Kondisi laut yang seperti itu, memungkinkan vila itu aman dari gelombang pasang sepanjang tahun. Kalau pun bergelombang, hanyalah ngalu --mengempas ke sana-ke mari, tetapi tidak ganas. Amannya daerah itu karena Teluk Medang ''dilindungi'' tiga gili yaitu Gili Nanggu, Tangkong dan Gili Sudak.
Jikalau terjadi sesuatu, konstruksi vila memungkinkan vila itu digeser ataupun ditarik sebagaimana rakit atau bagan milik nelayan. Maksudnya agar mudah dipindah-pindah sesuai tempat yang diinginkan. Tinggal lepas jangkarnya, lalu ditarik ke tempat yang diinginkan
Selain tiga gili tersebut ''melindungi'' villa dari gelombang, gili itu juga bisa dijadikan tempat rekreasi bagi wisatawan yang menginap di vila terapung. Selain itu, satu di antara tiga gili itu yaitu Gili Nanggu, telah memiliki restoran dan penginapan. Yang juga menguntungkan, ada banyak taket di sekitar Teluk Medang. Ada yang namanya Taket Kembar dan taket-taket lainnya. Bila air laut surut, taket itu akan kelihatan putih bersih,  biota lautnya pun akan terlihat indah.
Nah, bagi anda yang ingin berbulan madu atau menikmati liburan berduaan dengan pasangan hidup anda. Vila yang berada diatas air ini sangat cocok bagi anda yang ingin terus berduaan sepanjang hari.  Belum lagi ditambah suasana yang sepi dan bangunan vila yang menarik akan menimbulkan suasana romantis. (berbagai sumber)

Rabu, 23 Mei 2012

Jejak Purba di Gua Indonesia

Anda ingin menelusuri atau melihat jejak-jejak purba yang tertinggal dalam sebuah Gua di Nusantara, Yup, pantas kalau anda cek gua-gua seperti Gua Tiangko, Gua Leang-Leang, dan Gua Liang Bua.Yang pertama ada Goa Tiangko yang berada di kecamatan Sungai Manau, Jambi.  Lantas kenapa dinamakan Gua Tiangko, ya tak lain karena gua itu terletak di  Desa Tiangko.  
sumber foto: www.jambitourism.co.id
Apa saja yang purba di dalam Goa dengan luasnya yang hanya 206 meter persegi dan lebar mulut bagian depan setinggi 4 meter serta mulut bagian belakang setinggi 11,5 meter ini? Gua ini merupakan rekam jejak zaman prasejarah diperlihatkan. Berdasarkan hasil penelitian Bennet Bronson dan Teguh Amat pada tahun 1974, di tempat ini ditemukan lapisan tembikar yang dibawahnya terdapat alat-alat obsidian. Penemuan itu pun lantas menyimpulkan bahwa Goa Tiangko menjadi permukiman tertua di Jambi.
           Gua ini dindingnya berupa ceruk-ceruk bebatuan yang ditumbuhi lumut,  langit-langitnya pun dipenuhi sarang burung walet dan kelelawar yang bergelantungan. Di goa ini juga bisa ditemui batu kapiler yang membentuk stalktit dan stalakmit dengan berbagai ornamen yang menakjubkan. Udara sejuk menyeruak ketika memasuki goa dan terdengar suara tetesan air yang jatuh ke bebatuan.
Kedua adalah kawasan Gua Leang-Leang, gua ini merupakan  satu dari ratusan gua yang tersebar di perbukitan cadas Maros, kecamatan Bantimurung, Sulawesi Selatan. Leang yang dalam bahasa makasar artinya Gua, dalam bahasa indonesia adalah liang yang berarti lubang.
Di kawasan Gua Leang Leang itu, ada dua gua yaitu Gua Leang Burung dan Gua Petta Kere. Gua Leang Burung dulunya adalah tempat dimana burung walet dan kelelawar bersarang dengan populasinya yang semakian berkurang.
Nah, kalau Gua Petta Kere ini dikenal sebagai gua yang ada lukisan gambar-gambar prasejarah pada dinding goanya. Pada jalanan menuju Gua Petta Kere terdapat batu-batuan besar berwarna hitam yang tersusun rapi, konon dulunya tempat ini merupakan lautan, dan batu-batu tersebut merupakan batu yang berada di dasar lautan, namun seiring berjalannya lautan itu bergeser akhirnya menjadi daratan.
sumber foto: www.travel.detik.com
Dari cerita masyarakat lokal menyebutkan keberadaan dari gambar tangan dengan jari lengkap itu bermakna sebagai penolak bala, sementara gambar dengan 4 jari telapak tangan diperkirakan sebagai cap telapak tangan milik salah satu anggota suku yang telah mengikuti ritual potong jari.
Ritual yang dilakukan sebagai tanda berduka atas kematian orang terdekatnya. Gambar babi rusa gemuk yang terpanah jantungnya merupakan gambaran sejarah manusia purbakala yang dulunya hidup berburu.
Jejak purba itu ditemukan dua arkeolog asal Belanda yaitu Van Heekeren dan Mrs. HeerenPalm. Di tahun 1950-an  mereka menemukan gambar-gambar pada dinding Gua Leang-leang. Soal usia lukisan purba di Gua itu diperkirakan berumur 5.000 tahun. Beberapa arkeolog bahkan berpendapat bahwa goa tersebut telah didiami sejak 3.000 SM (Sebelum Masehi).
Gua Liang Bua, NTT, Gua Liang Bua merupakan peninggalan pra sejarah di Indonesia. Gua ini adalah salah satu dari banyak gua karst di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur di Indonesia. Gua ini terletak di Dusun Rampasasa, Desa Liangbua, Kecamatan Ruteng, Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur.
sumber foto:www.kaskus.com
Fosil Homo Floresiensis atau Manusia Flores yang memiliki tinggi badan hanya sekitar 100 cm dan beratnya 25 kg ditemukan di gua ini. Tengkorak manusia itu diperkirakan hidup 13.000 tahun lalu, yang hidup bersama dengan gajah-gajah pigmi dan komodo. Pada 2001 telah dilakukan eskavasi arkeologi yang merupakan kerja sama antara Pusat Penelitian Arkeologi Nasional bersama University of New England, Australia.(berbagai sumber)

Minggu, 20 Mei 2012

Rekreasi bersama Monyet

Tak jarang apabila kita bermain-main ke sebuah tempat wisata, terlebih lagi apabila tempat wisata itu berada di tengah-tengah hutan atau di dekat dengan hutan, kita banyak menjumpai monyet-monyet yang berkeliaran. Entah monyet-monyet itu liar atau pun jinak, tetapi yang jelas jikalau kita memberinya kacang atau pisang pastilah monyet itu datang dengan rasa laparnya yang tak pernah kenyang.

Tak heran pula di beberapa tempat wisata yang ada monyet di dalamnya, bertebaran warung-waung kecil yang menjajakan makanan untuk sang monyet. Namun tak ada salahnya mengeluarkan sedikit kocek di dalam kantong untuk membeli dan merupakan keasyikan tersendiri juga melihat tingkah laku monyet itu jika dilemparkan makanan.  Yup, di tempat wisata mana saja kita bisa menjumpai monyet-monyet,  dibawah ini ada beberapa pilihannya

1. Gua Monyet Alak
Gua Monyet Alak di NTT dilihat dari namanya saja itu sudah mengisyaratkan bahwa akan ada banyak monyet di tempat wisata itu. Benar saja justru itu merupakan keunikan dari tempat wisata yang satu ini lantaran monyet-monyet yang ada disana cukup jinak dan merupakan pemandangan keseharian bagi pengguna jalan menuju Pelabuhan Tenau-Kupang.
sumber foto: www.ronald-balweel.blogspot.com
Namanya juga monyet, perilaku tentu saling berkejaran layaknya seoarang anak kecil, bergelantungan dan melompat dari dahan ke dahan, saling bercengkrama dan bergulingan sesekali berkelahi memperebutkan sesuatu adalah hal normatif bagi seekor monyet.

Terlebih lagi dengan jumlah monyet yang ada dalam kawasan ini sebanyak 327 ekor yang terbagi dalam empat kelompok, hal itu tentu menjadi keasikan tersendiri. Kelompok terbanyak berjumlah sekitar 180 ekor, sementara kelompok terkecil hanya sekitar 40 ekor saja. Lantaran dipelihara dan dikelola sejak tahun 1998 oleh pemerintah kabupaten disana, setiap harinya monyet-monyet ini diberi makanan berupa jagung.

2.Gua Kreo
Nah, sedikit ke tengah pulau Jawa Tepatnya di Semarang ada kawasan wisata yang bernama Gua Kreo yang berada di Dukuh Talun Kacang, Desa Kandri, Gunung Pati. Andalan objek wisata ini jelas merupakan Gua yang menurut legenda menjadi tempat petilasan dari Sunan Kalijaga. 
sumber foto:www.putra-semarang.blogspot.com
Namun di sekitar gua tersebut banyak dihuni oleh monyet-monyet ekor panjang (Macaca fascicularis). Sebelas dua belas dengan monyet di Gua Monyet Alak, monyet disini pun terrmasuk monyet yang cukup jinak  dan bisa bergaul dengan warga di sekitar Goa Kreo. Tetapi ada baiknya juga apabila anda menyiapkan “sangu” untuk sang monyet, salah-salah monyet itu sedang lapar dan kebetulan anda sedang memagng makanan, mereka bisa s mengganggu atau bahkan menggambil makanan, terutama jika Anda sedang berada dekat dengan air terjun

3.Hutan Monyet Ubud dan Hutan Wisata Sangeh
Kita tinggalkan Jawa Tengah, sekarang menuju di Bali. Di daerah Gianyar tepatnya di sekitar 26 km dari Ibukota Denpasar, terdapat sebuah hutan kecil Wenara Wana yang dihuni oleh ratusan kera yang meninggali hutan kecil tersebut. Kera-kera itu pun lumayan jinak dan bisa diajak bermain secara aktif oleh pengunjung yang datang ke kawasan wisata ini. 
sumber foto:www.beritadaerah.com

Disini anda dapat menyaksikan kera-kera yang lucu nan jenaka namun juga sedikit nakal. Selain melihat monyet anda juga bisa melihat pekuburan para leluhur masyarakat Bali beserta bangunan pura yang kental akan arsitektur Balinya. Dan bila tepat waktu, anda dapat sesekali menyaksikan lengkap dengan upacara di pura (odalan) maupun upacara pembakaran mayat (ngaben).

Wenara Wana juga disebut Hutan Monyet Ubud yang juga merupakan sebuah cagar alam dan kompleks candi yang di dalamnya terdapat lebih kurang 340 kera berekor panjang. Kera –kera itu terdiri dari 32 jantan dewasa, 19 jantan muda, 77 betina dewasa, 122 remaja, dan 54 ekor bayi kera. Disana juga ada sedikitnya empat kelompok monyet yang menempati lokasi berbeda di taman tersebut.

Masih di Bali, selain di Wenara Wana ada juga Hutan Wisata Sangeh yang terletak kurang lebih 20 Km ke arah kota Denpasar, desa Sangeh, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung. Di sana anda akan menemui hutan seluas kurang lebih 6 hektar dengan pohon-pohonnya yang tinggi menjulang di tepi jalan raya. Pohon-pohon yang tumbuh di hutan ini bisa mencapai ketinggian 40 meter dan telah berusian ratusan tahun. Hutan ini juga sebagai tempat habitat alami monyet-monyet yang mendiami wilayah ini.

Monyet-monyet bebas berkeliaran di sana tanpa takut terganggu oleh aktivitas manusia di sekitarnya. Suasana ini bener-bener memberikan pengalaman serasa berada di alam liar, sekaligus melupakan sebenarnya anda berada di suatu objek wisata. Di dalam hutan hijau yang sejuk ini anda juga dapat menemukan komplek pura kecil yang diselimuti lumut hijau, tersembunyi di sela-sela pepohonan yang tumbuh tinggi menjulang yang disebut Pura Bukit Sari. Pura yang terletak di tengah-tengah kawasan Hutan Sangeh ini dan sangat dikeramatkan oleh masyarakat Desa Adat Sangeh. (berbagai sumber)

Kamis, 17 Mei 2012

Pantai Pink Pulau Komodo

Pulau Komodo di NTT ternyata tidak dikenal karena banyaknya komodo-komodo yang berkeliaran di sana saja. Pasalnya, coba anda tengok pantainya, ada sesuatu yang berbeda dengan pantai-pantai lainnya di Indonesia. Yup, warnanya bukanlah berwarna putih, melainkan pink atau merah jambu!

Ajaib bukan, lantas bagaimana ceritanya pantai itu berwarna Pink? Pasir warna pink di pantai ini tidak ujug-ujug langsung berwarna pink, tetapi  terbentuk secara alami lantaran berasal dari perpaduan antara serpihan karang, cangkang kerang, kalsium karbonat invertebrata laut kecil, juga porifera atau spons laut yang berwarna merah.
sumber foto: www.berbagifun.blogspot.com
Selain keunikan pasirnya, Pantai Pink juga kaya akan ikan dan terumbu karang. Sekitar 1.000 jenis ikan, ratusan jenis karang, dan 70 jenis spons hidup di pantai ini. Bagi wisatawan yang ingin, harus berhati-hati dengan makhluk hidup di sekitar pantai tersebut.

         Pantai pasir berasal dari pasir merah kecil tersebar di daerah pantai yang seperti pantai ini terkenal disebut dengan pantai merah muda atau Pantai Merah di mana masyarakat setempat menyebutkan hal itu. Pantai yang indah ini terletak di tanah yang kecil dengan bukit kering di belakang pantai itu. Hal ini memiliki karang yang indah dengan air laut yang jelas bahwa menjadikannya sebagai tempat yang ideal untuk snorkeling di taman ini.

Anda gemar foto-foto atau fotografi, diving, snorkeling, atau sekedar bersantai-santai sambil bermain pasir disinilah tempat yang cocok. Khusus Anda yang ingin menyelam atau snorkeling sebaiknya selalu waspada karena arus laut Pantai Pink cukup kuat. Arus ini terjadi akibat pertemuan air laut tropis dari utara, dengan air laut dari selatan

Nah, setiap pengunjung yang datang ke pantai ini, akan ditemani oleh seorang petugas perlindungan Taman Nasional Komodo, ya untuk sekedar menjaga keselamatan anda karena komodo menjadi penghuni tetap pulau ini, senang berjemur di kawasan pantai. Patut pula diperhatikan jika anda ingin bermain air laut disana, lihatlah kanan kiri lebih dahulu salah-salah ada komodo lapar melintas, nyawa anda bisa jadi taruhannya.

Berbicara soal pantai unik, di Indonesia sendiri selain ada pantai yang berwarna pink juga ada Pantai Berpasir Hitam yang bisa dijumpai di beberapa objek wisata pantai.  Dan untuk  pantai yang berwarna pink ini tidak hanya dapat ditemui di Indonesia saja, melainkan juga ada di Pulau Harbour Bahamas, Pantai di kepulauan Bermuda, Balos Lagoon, Crete Yunani, Bonaire, Karibia Budelli Island, Sardinia Italia, dan Santa Cruz Island di Filipina (berbagai sumber)

Selasa, 15 Mei 2012

Dari Sabang sampai Merauke Terbentang Gua Jepang bag III

Sekilas mengenai gua di wilayah NTT, tanpa dinyana ternyata Kupang memiliki banyak sekali gua dan salah satunya adalah Gua Jepang. Setidaknya ada lima gua perlindungan yang dibuat pada masa kependudukan Jepang yang berada di Kelurahan Nun Baun Delha. 

Gua ini terletak di dalam pekarangan milik warga ini  letaknya berdekatan dan saling berhubungan melalui suatu terowongan. Ada tiga gua yang di bagian depannya masih terdapat besi tempat meriam. Gua tersebut dibuat dibawah batu karang dan di bagian tertentu seperti ada tempat duduk yang dibuat dari campuran semen.

Selain itu juga ada Gua Panaf Bibiatau biasa disebut masyarakat setempat sebagai gua jepang. Di namakan gua jepang karena gua ini dibuat oleh tentara jepang pada masa perjuangan tahun 1942 untuk pertahanan dan pengintaian oleh tentara jepang. Gua ini terletak sekitar 40 Km arah selatan kota Kupang ini terletak di desa Tasikona.
     
Sedikit kearah Sulawesi tepatnya di Sulawesi Utara, berlokasi di Kecamatan Kawangkoan, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara terdapat goa-goa peninggalan tentara Jepang bahkan sebagian peninggalan kolonial Belanda. Gua ini terdapat di Desa Kiawa (tepi jalan raya ke Kawangkoan) dan Desa Tondegesan, sekitar 1,5 kilometer dari pusat Kecamatan Kawangkoan.

Lantaran Sulawesi Utara adalah wilayah pendaratan Sekutu untuk masuk ke Indonesia dari arah Pasifik. Karena itu, daerah ini menjadi front pertempuran yang sengit. Gua Jepang tersebar di beberapa lokasi. Di Minahasa sendiri setidaknya ada dua buah gua yang berada di Kawangkoan dan satu gua lagi berada di daerah Tondano Utara. Di Manado sendiri ada cukup banyak gua yang tersebar di beberapa tempat, seperti di Tikala Ares, Tanjung Batu, Singkil Satu, Kairagi, Titiwungen Selatan dan Pakowa.

Nah, sekarang beranjak ke ke Papua tepatnya di Biak, disana sudah menanti Gua Jepang. Di sini selain bisa melihat guanya itu sendiri tentu saja, anda akan melihat museum yang berisi benda - benda bersejarah, peralatan dan perlengkapan perang tentara Jepang yang konon ditemukan di dalam Gua Jepang dan sekitarnya seperti peneng ( kalung dengan liontin yang terbuat dari logam biasanya berfungsi sebagai tanda pengenal ), helm, granat, pistol, dan yang lainnya.

Di dalam Gua Jepang ini terdapat sejumlah bilik kecil sebagai tempat untuk beristirahat. Dalam Gua itu terdapat tiga ruang besar yang dibentuk tentara Jepang untuk sejumlah kepentingan, masing-masing ruang dengan fungsinya dan terhubung satu dengan lainnya. Ruang I dijadikan gudang, tempat menyimpan bahan makanan, obat-obatan, peralatan perang, dan alat-alat komunikasi. Ruang II, dijadikan tempat merawat orang sakit, dan ruang III merupakan tempat yang dikhususkan bagi para perwira untuk melakukan rapat-rapat berkaitan dengan kepentingan perang. (berbagai sumber)

Senin, 14 Mei 2012

Yuk, Lihat Teratai Raksasa di Manggarai Timur

Ukuran lingkaran dari tumbuhan air yang satu ini bukan main besarnya dan melebihi ukuran dari teratai yang biasa kita jumpai di danau-danau atau rawa. Ingin menjumpainya tidak perlu pergi jauh-jauh ke hutan Amazon karena cukup datang di Kabupaten Manggarai Timur (Matim), Flores, NTT anda bisa melihat teratai berukuran besar di danau teratai raksasa.
sumber foto: www.unik247.blogspot.com/
Bahkan, satwa langka buaya darat juga terdapat di Kabupaten Manggarai Timur, khususnya di Kecamatan Sambi Rampas. Teratai raksasa ini tepatnya ada di Danau Rana Tonjong yang terletak di Desa Nanga Mbeling, Kecamatan Sambi Rampas, sekitar 3 kilometer utara Pota. Luas danau ini  2.200 kilometer persegi dan berada di sebuah dataran rendah yang dikelilingi perbukitan.
         
          Teratai raksasa ini memang menggila di danau itu lantaran seluruh permukaan danau ditumbuhi bunga teratai raksasa atau giant lotus (Victoria amazonica)atau tonjong dalam bahasa setempat. Bunga teratai memang berbunga, sama seperti bunga teratai raksasanya yang satu ini, akan  tetapi tumbuhan ini hanya berbunga sekali setahun pada bulan April dan Mei.

 Di dalam bunga yang sudah mekar terdapat biji-bijian yang dapat dimakan mentah dan memiliki rasa seperti kacang tanah. Entah kenapa, bunga teratai ini tidak dapat tumbuh dan berbunga di tempat lain selain danau itu. Selain di tumbuhi oleh teratai raksasa itu, Danau Rana Tonjong juga  menjadi habitat bagi ikan air tawar, katak, dan tempat mencari makan bagi burung angsa putih.

Selain di Indonesia bunga teratai raksasa, seperti disinggung di atas juga bisa ditemui di  perairan dangkal sungai basin Amazon. Victoria Amazornica adalah genus teratai air terbesar yang ada didunia dan daunnya sendiri dapat tumbuh lebih dari 3 m diameternya dan memiliki berat bisa menyampaiu 70 pound atau 31 kg . Teratai raksasa ini disebut juga sebagai victoria regia setelah ratu victoria di Inggris, ketika di temukan oleh petualang yang bernama Robert Schomburgk pada tahun 1836.

 Teratai (Nymphaea sp.) adalah tanaman air yang banyak diminati para pecinta tanaman hias. Hal ini dikarenakan sosoknya yang anggun, indah, alami dan eksotis sekaligus  dapat menyejukkan pandangan. Selain karena indah, tumbuhan teratai  juga memiliki cara menyesuaikan diri terhadap tempat hidupnya dengan cara yang unik. Berkebalikan dengan kaktus yang hidup di daerah gersang, teratai justru hidup di daerah penuh air dan dapat mengapung di permukaan air. Teratai biasa ditemukan dipermukaan air yang tenang seperti kolam dan danau.

Daun teratai tipis dan lebar, berbentuk bundar atau oval. Bentuk daun ini sangat membantu mempercepat proses penguapan. Permukaan daun tidak mengandung lapisan lilin sehingga airnya jatuh kepermukaan daun tidak membentuk butiran air. (berbagai sumber)

Copyright © ID Blog Kamu

Canvas By: Fauzi Blog, Responsive By: Muslim Blog, Seo By: Habib Blog