ID Blog Kamu: museum

Tampilkan postingan dengan label museum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label museum. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 Juli 2012

Museum Marketing Pertama ada di Bali

Museum ini berbeda dengan museum lainnya di Indonesia, bahkan di dunia. Ya, sebuah museum marketing pertama yang pernah ada. Pertama untuk museum dengan konsep dan koleksi-koleksi yang berbeda ,sama halnya dengan Museum Pegadaian yang ada di Sukabumi.

         Adalah Museum Marketing 3.0 di Jl Raya Ubud, Bali yang merupakan museum perwujudan dari buku Hermawan Kertajaya bersama Philip Kotler "Marketing 3.0: From Products to Customers to the Human Spirit".

“Marketing 3.0” adalah wujud dari marketing yang mencoba menyeimbangkan hubungan antara manusia, lingkungan, dan tuhan. Ini adalah perkembangan mutakhir dari “Marketing 1.0” yang mementingkan penjualan dan “Marketing 2.0” yang menekankan kepuasan konsumen selain penjualan. Ya, museum yang merupakan proyek kerjasama antara yayasan Kotler, Kerajaan Gianyar dan tokoh marketing Indonesia Hermawan Kertajaya ini diharapkan dapat memberikan pencerahan pada dunia marketing Indonesia yang tidak hanya berorientasi pada jual, jual dan jual.

        Anda ingin lebih akrab dengan dunia marketing? Layak untuk datang ke museum yang diresmikan oleh bapak marketing modern Philip Kotler pada 27 Mei 2011 ini. Museum ini memiliki dua lantai dengan atmosfer modern terasa kental mengemuka di berbagai sudut museum baik lewat interior ruangan yang minimalis maupun penggunaan peranti elektronik canggihnya.

Di lantai pertama berisikan suguhan materi marketing modern 3.0 dengan teknologi modern berikut dengan  TV layar sentuh yang menampilkan perusahaan-perusahaan yang dianggap telah mempraktekkan teori “Marketing 3.0”, misalnya perusahaan Grameen Bank milik peraih nobel Muhammad Yunus dan Mayo Clinic di Amerika Serikat.

Museum ini pun memuat contoh pemasaran berbasis spirit kemanusiaan dari belasan perusahaan mendunia, seperti Walt Disney, The Body Shop, termasuk Puri Saren Ubud yang mampu mengelola Ubud sehingga menjadi tujuan wisata mendunia.

Selain itu khusus di lantai 1, disediakan juga sofa empuk nan nyaman untuk istirahat pengunjung. Ada pula ruang bioskop yang memutar film-film mengenai tehnik pemasaran yang telah berhasil mengubah dunia. Lalu di lantai 2 di isi oleh berbagai lukisan, patung dan benda seni lainnya dari Ubud.(berbagai sumber)

Rabu, 18 Juli 2012

Belajar Ilmu Kesehatan di Museum Santet

Museum ini jelas berbeda dengan Museum Ratusan Naskah seperti Museum Sri Baduga dan Museum Bengkulu.  Ya, melihat namanya saja sudah cukup membuat bulu kuduk merinding, museum santet sebutannya. Unik memang, jarang-jarang ada museum seperti ini di Indonesia. Santet seperti yang kita ketahui itu merupakan semacam istilah yang berkonotasi negatif. 

Misalkan ada seseorang yang terkena suatu penyakit yan tidak jelas apa penyakit yang menyebabkan, lantas dikatakan orang itu terkena santet atau guna-guna.Terlebih lagi apabila orang itu setelah dicek atau di rongent, eh didalamnya ada semacam benda yang tak jelas bagaimana benda itu bisa sampai di dalam tubuhnya. Pastilah orang itu terkena santet.
sumber: www.hifatlobrain.net
 Nah terkait dengan itu,  apa yang ada di Museum ini mungkin dapat memberikan Anda sedikit pencerahan apa itu santet sebenarnya. Pasalnya di Museum ini ada beberapa benda tradisional seperti boneka jelangkung, jengglot, hingga boneka Nini Towok, kemudian foto rontgen orang yang di badannya terdapat banyak jarum karena santet. 

Selain itu di museum ini juga biisa anda temui benda-benda seperti bambu bertuah atau ranting bambu yang bercabang untuk menolak segala penyakit yang ditemukan di Lamongan, alat pemotong tali pusat dari bambu yang berasal dari Papua, kayu santen dari Banyuwangi untuk menolak santet atau tenung, kumparan penangkal untuk menetralkan pengaruh gelombang elektromagnetik dari Surabaya, serta tumor yang berhasil diangkat melalui operasi tanpa luka dari Banyuwangi.

Museum yang berada di Jalan Indrapura, Surabaya, Jawa Timur atau sekitar satu kilometer arah utara Tugu Pahlawan ini sebenarnya adalah Museum Kesehatan Dr Adhyatma-Depkes RI. Namanya juga museum kesehatan jadi pastilah wajar jika mengoleksi sejumlah benda-benda kesehatan baik secara tradisional maupun modern.

Di Museum ini terdapat tiga ruangan yang berbeda. Dua ruangan pertama diberinama Museum Sejarah Dan Museum Kesehatan IPTEK  Sedangkan satu ruangan terpisah diberinama Museum Kesehatan Budaya Di ruangan inilah koleksi sejumlah benda-benda Magis dikumpulkan. Mulai dari keris, alat santet, alat Aborsi, hingga batu berkhasiat dan Jimat

Pengetahuan tentang santet sebenarnya cuma sebagian koleksi Museum Kesehatan ini. Banyak juga informasi tentang budaya, dan sejarah perkembangan dunia medis yang bisa dipelajari. Lengkap mulai dari praktik pengobatan dari daratan Eropa dan Mesir kuno, hingga teknologi-teknologi modern dunia medis dan proses daur ulang sejumlah peralatannya. Selain itu  museum ini juga memamerkan berbagai peralatan bedah yang digunakan pada zaman penjajahan dulu lengkap dengan pisau bedah mata.(berbagai sumber)


Kamis, 12 Juli 2012

Dari Taman sampai Museum, Kupu-kupu itu Berada

Siapa yang tidak tahu kupu-kupu, dari anak kecil sampai orang dewasa pastilah tahu binatang terbang yang satu ini. Indah penampilannya ketika sayapnya terkepak, keanggunannya terkadang membuat mata kita ingin terus menatapnya tanpa henti, terlebih lagi apabila kupu-kupu itu dihiasi oleh banyak warana

           Nah, di dunia ini memiliki kurang lebih 20.000 species kupu-kupu dan Indonesia sendiri adalah negara kedua  yang mempunyai koleksi kupu-kupu terbanyak dengan sekitar 2500 jenis kupu-kupu setelah Brasil. Maka tak heranlah apabila di beberapa kota di negeri ini mempunyai museum atau taman yang isinya hanya kupu-kupu saja.

Sumber: www.museumindonesia.com
            Ingin bermain-main sekaligus menambah pengetahuan dengan berbagai jenis kupu-kupu , ada baiknya jika Anda singgah ke beberapa tempat di bawah ini. 

1. Museum Serangga dan Kupu-kupu
 Kupu-kupu dapat dijumpai di Museum Serangga dan Kupu-kupu di Taman Mini Indonesia Indah atau TMII di Jakarta. Memang tidak hanya koleksi kupu-kupu saja dapat kita jumpai melainkan juga ada koleksi serangganya. 

Namun, di Museum yang berdiri bertepatan  dengan ulang tahun TMII ke-18 yang jatuh pada tanggal 20 April 1993 ini, kita dapat melihat sekitar 250 spesies kupu-kupu yang dipamerkan dalam kotak kaca.

Ke-250 koleksi kupu-kupu ini dikategorisasikan menjadi dua macam, yaitu berdasarkan daerah asaln dan taksonominya. Dari daerah asalnya, mulai kupu-kupu dari  Pulau Alor (NTT), Bacan (Maluku Utara), Bali, Obi (Maluku Utara), Lombok (NTB), Mangole (Sulawesi Utara), Nias (Sumatera Utara), Seram (Maluku), Simeulue (Aceh), Siau (Sulawesi Utara), Sumba (NTT), sampai Timor (NTT) ada di sini. Dari taksonominya, ada Kupu Papilionid, Kupu Pierid, Kupu Nymphalid. Bangsa kupu masih memiliki suku Rionidae, Lycaenid, Hesperid.

2. Taman Kupu-Kupu Bandung
Objek wisata terbilang baru di kota kembang lantaran usinya masih beberapa tahun saja berdiri. Namun, taman ini bisa menjadi alternafif liburan Anda bersama keluarga untuk sekedar bersenang-senang dan melepas kepenatan sambil belajar melihat proses metamorfosis kupu-kupu dari larva sampai dewasa secara sempura.
sumber:www.tamankupukupucihanjuang.blogspot.com
Luas taman yang berada di Cihanjuang Km 3,3 No.58, Desa Cibaligo, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat  ini mencapai 1,7 hektar yang di dalamnya dihuni oleh sekitar 300 kupu-kupu dari 35 jenis yang ditangkarkan dalam setiap harinya. Mereka beterbangan  dalam sebuah taman khusus seluas 1.800 meter persegi yang dipagari dengan jaring supaya kupu-kupu tersebut tak terbang sampai keluar dari taman ini.

Nah, bagi Anda yang  masuk ke taman yang tiketnya lumayan murah ini akan ditemani dengan pemandu yang akan memberikan penjelasan berbagai hal seputar kupu-kupu dan tamannya sendiri. ika ingin mendapatkan souvenir, disini juga ada toko aksesoris yang menjual berbagai pernak-pernik yang serba kupu-kupu. 

3. Museum Kupu-kupu Bantimurung
Kita tinggalkan tanah jawa dan menuju Sulawesi tepatnya Museum Kupu-kupu Bantimurung di Taman Wisata Alam Bantimurung, Maros. Di sini  Anda akan merasa seperti berada di kerajaan Kupu-kupu karena beragam koleksi yang mencapai 360 ekor kupu-kupu dengan 133 spesies kupu-kupu dapat Anda jumpai.

sumber foto:www.iftfishing.com
         Kupu-kupu spesies khas Maros, di antaranya yang termasuk dalam kelompok papilionidae yang hidup di kawasan Taman Wisata Alam Bantimurung dan jenis atacus atlas yang selama ini hidup di Desa Laiya, Kecamatan Cendrana, Maros.

        Selain menikmati kupu-kupu yang ada, Anda juga dapat membel;i buah tangan dari banyak penjual cendera mata yang menjual aneka macam hiasan kupu-kupu yag diawetkan. Mulai bentuk gantungan kunci, lukisan, bros, anting, sampai pigura yang berisi bermacam-macam kupu-kupu aneka warna dan jenis.

4.Taman Kupu-kupu Tabanan
Nah, yang ke empat kupu-kupu banyak kita jumpai juga di Taman Kupu-kupu yang berlokasi di Jl.Batukaru, Br.Sandan lebah, Wanasari, Tabanan, Bali tepatnya 6 Km ke arah utara dari pusat kota.

sumber foto: www.listiaji.wordpress.com
Dengan Taman dengan luas 1 Ha netting area (ruangan yang tertutup Jaring) 3700 M3. Di taman ini setiap hari dilepas ratusan ekor kupu-kupu yang beraneka warna dan salah satu diantaranya yang paling terkenal di dunia ialah kupu-kupu Sayap Burung Sorga (Omithoptera Paradisea),  Priamus dan berbagai jenis dari seluruh nusantara.

Seperti Museum di Bantimurung, taman Kupu-kupu ini juga memproduksi aneka kerajinan yang terbuat dari bermacam-macam serangga seperti  Framing Butterfly ( Bingkai isi Kupu-2) , Framing Beetle ( Bingkai isi kumbang), Gantungan kunci yang terbuat dari serangga, selipan pembatas buku, Paper Weight ( penindih kertas) terbuat dari fiber bening berisi kupu-kupu, lukisan dari sayap kupu-kupu.


5. Museum Kupu-kupu Rokan Hulu Riau
Museum ini merupakan pusat penangkaran kupu-kupu yang berada di objek wisata air panas bumi Hapanasan, Kecamatan Rambah. Di tempat ini Anda dapat melihat 150 species kupu-kupu yang ada di Rokan Hulu. Nah, selain bisa melihat kupu-kupu, Anda pun dapat menikmati hangatnya air di pemandina air panas tidak jauh dari sana.

Jumat, 22 Juni 2012

Kunjungi Museum Pegadaian Pertama di Indonesia!

Banyak dari kita mungkin pernah pergi ke kantor pegadaian di dekat tempat kita tinggal. Yup, pergi kesana untuk sekedar menukarkan barang-barag berharga kita dengan sejumlah uang tentunya, entah itu cincin emas pernikahan, peralatan elektronik, atau yang lainnya .
Nah, pernahkah anda berpikir ternyata sistem gadai itu ada rekam jejak yang lumayan panjang. Anda ingin mengetahui sejarahnya?, kalau ingin  rasanya kurang lengkap apabila tidak mampir ke Sukabumi dan mengunjungi Museum Pegadaian di kota itu.

Hanya ada di Sukabumi
Anda  mencari museum dengan tema seperti ini mungkin tidak akan menemukannya di tempat lain. Pasalnya, museum dengan tema atau konsep pegadaian adanya hanya di Sukabumi, tepatnya di  Gedung Pegadaian Sukabumi, Jalan Pelabuhan II, Kecamatan Citamianga, Kota Sukabumi
Diresmikan bertepatan dengan pendirian pertama kantor pegadaian di Indonesia yaoitu tanggal 1  April di kota yang sama, museum ini berisikan benda-benda peninggalan sejarah Hindia Belanda. Sebut saja dari cap pegadaian kuno, alat kerja pegadaian, berbagai timbangan dari timbangan emas, dan timbangan tembaga ada disini.
Tak ketinggalan brankas,buku catatan pegadaian,  lemari penyimpanan emas, dan peralatan gadai lainnya. Umur benda-benda yang tersimpan ada yang hampir satu abad, contohnya sebuah brankas besi yang dipakai sejak tahun 1926. Brankas itu digunakan untuk menyimpan uang buatan tahun 1891.
Lantaran Museum Pegadaian Sukabumi  merupakan satu-satunya Museum Pegadaian di Indonesia, jadi barang-barang yang dikoleksi ini tidak hanya berasal dari Sukabumi. Banyak benda kolksi didatangkan dari berbagai tempat misalnya dari  Bantul, Purwokerto, Purworejo, Temanggung, Yogyakarta, dan daerah lainnya. Jadi semua barang bersejarah yang dimiliki oleh Pegadaian di seluruh Indonesia dikirim ke museum yang Museum yang mengambil tempat di  bangunan asli rumah dinas Kepala Pegadaian Sukabumi.

Sedikit Sejarah Pegadaian
Sekedar catatan sedikit, sejarah Pegadaian ini dimulai pada saat Pemerintah Penjajahan Belanda mendirikan Bank Van Leening yaitu lembaga keuangan yang memberikan kredit dengan sistem gadai yang didirikan di Batavia pada tanggal 20 Agustus 1746.
         Ketika Inggris mengambil alih kekuasaan Indonesia dari tangan Belanda (1811-1816), Bank Van Leening milik pemerintah dibubarkan, dan masyarakat diberi keleluasaan untuk mendirikan usaha pegadaian asal mendapat lisensi dari Pemerintah Daerah setempat (liecentie stelsel).
Namun metode tersebut berdampak buruk karena pemegang lisensi menjalankan praktek rentenir atau lintah darat yang dirasakan kurang menguntungkan pemerintah Inggris yang berkuasa saat itu. Oleh karena itu, metode liecentie stelsel diganti menjadi pacth stelsel yaitu pendirian pegadaian diberikan kepada umum yang mampu membayarkan pajak yang tinggi kepada pemerintah.
Pada saat Belanda berkuasa kembali, pola atau metode pacth stelsel tetap dipertahankan dan menimbulkan dampak yang sama dimana pemegang hak ternyata banyak melakukan penyelewengan dalam menjalankan bisnisnya. Selanjutnya pemerintah Hindia Belanda menerapkan  sistem gadai dimana dalam kajian tentang pegadaian, saran yang dikemukakan adalah sebaiknya kegiatan pegadaian ditangani sendiri oleh pemerintah agar dapat memberikan perlindungan dan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat..
Berdasarkan hasil penelitian tersebut, pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan Staatsblad (Stbl) No. 131 tanggal 12 Maret 1901 yang mengatur bahwa usaha Pegadaian merupakan monopoli Pemerintah dan tanggal 1 April 1901 didirikan Pegadaian Negara pertama di Sukabumi (Jawa Barat), selanjutnya setiap tanggal 1 April diperingati sebagai hari ulang tahun Pegadaian. (berbagai sumber)

Rabu, 20 Juni 2012

Bergembira Bersama di Museum Kolong Tangga

“Di mata saya anak kecil itu murni dan masih alami, dan selalu membuat saya tertawa, sangat kasihan sekali mereka tidak mendapatkan pendidikan yang baik. Banyak anak-anak kecil yang pergi ke mall dan bermain permainann game modern dimana permainannya jarang mendidik mereka”
            Yup, penggalan kalimat itulah yang membuat Rudi Corens, pria kebangsaan Belgia menggagas museum anak pertama di Yogyakarta. Cukup mulia idenya, lantas dengan menggandeng stakeholder setempat semisal Kepala Taman Budaya, Yogyakarta, museum anak pertama di Indonesia yang bernama Museum Kolong Tangga pun berdiri dan resmi dibuka 4 tahun yang lalau, tepatnya tanggal 2 Februari 2008. Tak tanggung-tanggung untuk memperkaya koleksi museum, ia menyumbangkan seluruh koleksi pribadinya yang berjumlah lebih dari 900 item yang terdiri atas beragam macam mainan anak-anak.
         Nah, bagi anda yang sedang berkunjung ke kota pelajar beserta sanak famili, jelas tidak ada salahnya membawa  anak anda untuk sekedar singgah dan bermain di museum yang terletak di  Jl Sri Wedani No. 1, Taman Budaya Yogyakarta. Mungkin tidak hanya anak anda saja yang bisa asik bermain-main, tapi mungkin anda pun bisa bernostalgia dengan masa lalu dengan ditemani aneka rupa permainan tradisonal yang ada di sana.
Di musem ini ada lebih dari 400 koleksi mainan tradisional dari berbagai daerah dan negara. Beberapa di antaranya diletakkan di luar ruangan, beberapa lagi disimpan baik-baik dalam etalase kaca. Koleksi museum meliputi mainan anak dari era Majapahit. Berbagai mainan anak tradisional  disajikan di sini.
Tepat di luar ruangan museum anda akan akan mendapati beragam macam permainan , Ada enggrang, congklak, gasing, sepeda roda tiga (trike), dan puluhan permainan lain. Ajaklah anak anak untuk menjajal satu-peratu permainan itu. Tak ketinggalan, Anda pun masih bisa ikut merasakan keseruan ini.
foto: www.yogyakarta.panduanwisata.com
Setelah puas di luar ruangan, cobalah untuk masuk ke ruangan museum. Disana anda akan disambut dengan  jajaran etalase kaca berisi mainan anak dari seluruh dunia. Jumlahnya banyak mencapai  ratusan. Tetapi untungnya, anda tak perlu bingung yang ada anda lihat itu permainan apa, karena masing-masing permainan telah diberi label dengan keterangan nama, negara asal, dan sejarah yang melatarbelakangi kehadirannya. Banyak fakta- fakta menarik seputar mainan dan permainan anak- anak dari seluruh penjuru dunia yang ternyata saling bersinggungan satu sama lain.
Misalnya saja, sebuah potret lukisan di dinding vila di Pompei, Italia Selatan, menunjukkan para dewa Yunani sedang bermain ‘bikkels’, permainan tradisional menggunakan bola karet yang dikenal dengan nama ‘bekel’ di Indonesia.
Selain aspek pameran, museum ini aktif melakukan workshop (story telling, kerajinan tangan, dan lain-lain) serta program The Museum Comes to Visit You ditujukan untuk mengunjungi pasien anak di rumah sakit. Kegiatan-kegiatan digelar pada akhir pekan membuat museum dipadati anak-anak.
Sungguh mengasikkan menemukan oase kegembiraan di tengah serangan permainan modern, anak-anak bisa menikmati dunia permainan yang aktif sembari menyelami kekayaan warisan budaya bangsa mereka sendiri; serta mengenal pula kekayaan permainan tradisional bangsa-bangsa di dunia. (berbagai sumber)

Rabu, 13 Juni 2012

Museum Ratusan Naskah Kuno

Museum memang sejatinya menyimpan sekaligus melestarikan benda-benda peninggalan sejarah masa lalu bangsa. Tidak hanya itu museum juga mempunyai tugas dan kegiatan untuk memamerkan dan menerbitkan hasil-hasil penelitian dan pengetahuan tentang benda-benda yang penting bagi Kebudayaan dan llmu Pengetahuan.
Seperti yang kita tahu di museum itu terdapat berbagai macam benda kuno, dari patung, artefak, atau benda-benda bersejarah lainnya, termasuk juga naskah kuno. Nah, di beberapa museum di Indonesia ada museum yang menyimpan banyak koleksi-koleksi naskah yang umurnya rata-rata lebih tua dari museumnya itu sendiri, di museum mana sajakah yang banyak menyimpan koleksi-kolksi kuno itu
Museum pertama adalah Museum Sri Baduga di Jalan Peta, Bandung, di museum yang luasnya mencapai 8.415,5 m2 ini memiliki koleksi naskah kuno yang lumayan banyak, yaitu kurang lebih 147 naskah kuno. Yang berasal dari sejumlah daerah di Jawa Barat Naskah kuno yang dikoleksi seperti Cacarakan (Haracaraka-Jawa), Jawa kuno, Pegon (Arab Sunda), Sunda kuno, dan naskah yang lainnya. Naskah-naskah tersebut ditulis dengan menggunakan berbagai huruf kuno seperti huruf Sunda kuno, Jawa Kuno hingga bertuliskan huruf Palawa.
foto:www.toscaqueen-museumsribaduga.blogspot.com
Naskah-naskah itu berisi ajaran sastra, agama, pedoman hidup, kesehatan, adat istiadat, dan silsilah. Hampir sebagian besar naskah itu dipengaruhi oleh budaya India karena kebanyakan berasal dari zaman yang banyak dipengaruhi oleh kebudayaan Hindu.
Keberadan naskah-naskah itu memiliki arti dan nilai yang tinggi salah satunya karena mengungkapkan kondisi sosial budaya mayarakat Sunda tempo dulu yang dituliskan di daun lontar, kertas Eropa, logam dan kayu
Kedua, ada Museum Bengkulu yang mempunyai jumlah koleksi yang hampir sama dengan museum Sri Baduga, yaitu sekitar 120-an koleksi. Naskah koleksi dari museum ini sebagiannya adalah naskah kuno "ka ga nga. Ka ga nga ini merupakan tulisan asli masyarakat Melayu Bengkulu yang berasal dari aksara semit kuno, proto melayu, selain di Bengkulu ka ga nga juga terdapat di Jambi, dan Lampung tulisan ini berasal dari aksara Palawa. Huruf ka ga nga untuk masyarakat Suku Serawai di Bengkulu dikenal dengan tulisan ulu atau serat ulu, sedangkan untuk suku rejang dikenal dengan tulisan rencong.
foto:www.dennytipis.wordpress.com
Huruf ka ga nga sendiri  lahir menjelang abad ke 12, huruf ini merupakan bagian dari  tulisan aksara semit kuno atau lebih spesifik dari proto sumatra bahkan di Bandung ka ga nga juga dikenal lahir dari aksara Palawa atau naskah Melayu
Dari beberapa naskah yang dikoleksi di museum ini kebanyakannya adalah tulisan yang berisikan kitab pengobatan, penyakit, kisah atau kejadian alam semesta, cerita tentang sang kancil, hukum adat, pantun, tata cara hubungan kaum muda, tata cara bertani, pantun, serta jampi dan mantra. Tulisan ka ga nga untuk suku Rejang Lembak terdiri atas 23 kata sedangkan Serawai Pasemah terdiri atas 28 kata dan memiliki 13 tanda baca. (berbagai sumber)

Rabu, 06 Juni 2012

Temukan Kerang Jutaan Tahun di Museum Shell

Pastilah pernah anda bermain-main di pinggir pantai bukan? dan menemukan sebuah kerang yang ada disana. Seketika anda pasti ingin memungut dan melihatnya langsung. Nah, mungkin yang anda temukan itu kerang biasa yang masih muda usianya. Namun bagaimana jika anda ingin milihat secara langsung kerang yang usianya sudah mencapai ribuan bahkan jutaan tahun, dimana bisa menemukannya?.
Nah, destinasi yang cocok anda kunjungi adalah di suatu tempat di Bali yang bernama Museum Shell. Memang nama museumnya mengingatkan kita pada perusahaan minyak dan gas asal negeri paman sam, tapi jangan salah kira itu hanya nama saja. Pasalnya,  disana lah anda justru akan  menemukan koleksi kerang berjumlah lebih kurang 10 ribu aneka kerang dan fosil dari seluruh negara sementara jumlah spesies kerang di dunia mencapai 200 ribu lebih.
sumber foto: www.eskrim-vanilla.blogspot.com
Usia-usianya pun bukan terbilang muda melainkan masuk dalam kategori purba, yaitu berkisar antara 100 – 150 juta tahun. Museum yang letaknya  di Jalan Sunset Road, Kuta Bali sekitar 10 Km dari kota Denpasar ini bisa dibilang langka karena seperti museum nyamuk, museum ini adalah yang pertama menampilkan benda-benda koleksinya.
Sekarang, mari lah kita tengok apa-apa saja yang ada di museum tiga lantai ini. Di lantai satu museun ini ada berbagai macam aneka kerang yang sudah diolah menjadi hiasan rumah. Lantai dasar ini adalah tempat untuk membeli kerajinan bagi wisatawan yang telah menyaksikan berbagai kerang langka di museum
Naik lagi ke lantai dua, anda bisa melihat fosil kerang yang mirip cumi-cumi. Fosil kerang ini disebut Orthoceras ini diperkirakan berumur 395 juta tahun. Selain itu juga ada fosil kerang mirip tumbuhan bunga yang disebut Crinoid, yang berumur sekitar 440 juta tahun. Selain itu terdapat fosil kerang yang diklaim terbesar di Asia yang disebut Crinions. Fosil ini berdiameter 1,4 meter dengan berat 170 kilogram.
Puas di lantai dua, langkahkan kaki ke Lantai tiga museum ini. Di sini tersimpan  koleksi yang tak kalah serunya seperti Cypraea Moneta, yang konon dimasa dulu kerang jenis ini pernah dijadikan sebagai alat pembayaran yang sah.
Selain banyaknya koleksi yang ditampilkan, di museum yang dibangun dengan biaya Rp 6 miliar aada beberapa fasilitas lainnya, seperti home theater yang menayangkan film dokumenter tentang kehidupan kerang yang berisi mengenai proses pencarian dan penemuan fosil-fosil yang ada di tempat ini. Jadi selain bisa melihat bentuk dan wujud benda-benda purba itu, Anda juga berkesempatan untuk melihat dibalik kesusahan prosesi penemuan dan pencarian kerang-kerang ini.  
Nah, siapakah pemilik sekaligus kolektor kerang-kerang di museum ini? adalah  Oentoeng Sutanto, seoarang arsitek yang juga ikut merancang bangunan museum tersebut. Oentoeng yang alumnus jurusan arsitektur Universitas Petra Surabaya itu menuturkan awal dirinya membangun museum tersebut lantaran jatuh cinta dengan indahnya kerang dan terdorong untuk mengoleksinya. Sampai saat ini setidaknya dia sudah mengoleksi 10.000 spesies kerang. Banyaknya koleksi itulah yang lantas mendorong Oentoeng untuk membangun museum kerang ini pada September 2009.
Di antara ribuan kerang koleksinya, dia memiliki fosil kerang yang konon terbesar di Asia. Kerang tersebut termasuk jenis crinions. Diameternya mencapai 1,4 meter dengan berat 170 kilogram. Bahkan ia  memiliki fosil binatang laut yang sudah membatu sekilas mirip rayap yang usianya diperkiaran mencapai 500 juta tahun.  
Untuk mendapatkan koleksi itu, Oentoeng meminta bantuan seorang temannya di Italia yang juga peneliti. Jika ada yang bagus dia pun membeli. Harganya tidak tanggung-tanggung bahkan ada yang mencapai ratusan juta. (berbagai sumber)

Jumat, 18 Mei 2012

Di Museum, Ikan Paus itu Bersemayam

Tidak selamanya ikan paus dapat kita jumpai di lautan lepas, mengapa? Karena kita tak perlu pergi jauh-jauh kesana, namun cukup pergi ke beberapa museum dibawah ini. Ya, memang ikan paus yang dapat dilihat museum tidak dalam kondisi dia masih hidup dan berenang di lautan, melainkan dalam bentuk kerangka-kerangkanya yang utuh.
Namun cukuplah kumpulan tulang belulang kerangka  itu memberikan kita gambaran bagaimana bentuk paus yang sebenarnya dari dalam, tidak dari layar kaca atau buku bacaan. Nah, dimana saja museum-museum yang menyimpan kerangka ikan paus yang telah diawetkan, mari kita cek satu persatu
sumber foto: www.alampriangan.wordpress.com
 1.Museum Zoologi
 Mungkin museum ini sudah tidak asing lagi apabila kita berada atau sering ke kota Bogor. Di Museum ini tersimpan kekayaan fauna Indonesia, tak kurang dari 3 juta spesiemen yang meliputi 17.500 jenis fauna asal Indonesia yang sudah diawetkan berada di museum ini.
 Kerangka pausnya sendiri terletak di pintu keluar Museum ini dan menjadi koleksi tertua dan terbesar dari Museum Zoologi Bogor. Kerangka asli Ikan Paus Biru sepanjang 27,2 meter dengan berat 64 ribu kilogram. Hewan penguasa laut ini ditemukan di pantai Pameungpeuk, Jawa Barat pada tahun 1816, hmmm sudah cukup lama juga.
Lantas bagaimana ceritanya paus itu dipindahkan ke museum ini? ceritanya saat itu Pameungpeuk tidak ada jalan maupun jembatan yang bisa dilalui kendaraan apapun. Lantaran itu pula tulang-tulang paus biru kemudian diangkut dengan tenaga manusia melalui dataran dengan ketinggian rata-rata 1.700 meter dpl. Beratnya medan yang dilalui dapat dilihat dari waktu tempuh selama 44 hari menuju Garut. Selanjutnya kerangka itu diangkut ke Bogor dengan kereta api dan memerlukan waktu dua tahun sebelum kerangka paus biru terangkai kembali.

                 2.Museum Negeri Kupang 
 Kerangka paus juga bisa ditemui juga di Museum Negeri Kupang,  Kupang NTT. Kerangka itu ada, pada awalnya pada tahun 1970 terdampar sebuah Ikan Paus Raksasa sepanjang 18 Meter di Perairan Pantai Oeba Kupang Pulau Timor. Namanya ada ikan paus terdampar tak berdaya, masyarakat pun bertindak.
sumber foto: www.kupangamazingtourismplace.blogspot.com
Ya, tapi bukan menolong melainkan membagi bagian-bagian dari daging Ikan Paus tersebut seperti kebiasaan di masyarakat setempat. Pembagian daging ikan paus tangkapan adalah kepada yang bertindak menikam saat penangkapan, yang mempunyai perahu, awak perahu, pemuka adat, dan anak yatim piatu. Hal ini juga dilakukan saat pembagian ikan paus raksasa tersebut.
Proses pemotongan daging paus dimulai dari sirip dada, dan terus berlanjut kebagian ekor seiring dengan dipisahkannya daging dan kulit dari kerangka paus. Kemudian dibagi 3 bagian yaitu Kepala, Badan dan Bagian Ekor.
Nah, giliran kerangka ikan paus raksasa itu yang selanjutnya disimpan di Kampus Universitas Nusa Cendana. Tahun 1980 kerangka Paus Raksasa dipindahkan ke Museum Negeri Kupang saat diresmikannya museum tersebut.

               3.Museum Siwa Lima
           Kerangka paus juga ada di Museum Siwa Lima di Ambon, Maluku. Tak tanggung-tanggung bukan hanya satu kerangka melainkan  tiga kerangka paus asal Samudera Atlantik di Kutub Utara disimpan di museum ini
Awalnya ketiga ikan paus ini terdampar di tiga tempat pada waktu yang berbeda, dua jenis dari tiga mamalia laut yang terdampar itu jenis paus biru, yang pertama berukuran panjang 23,5 meter dan berat 80 ton, terdampar di Pantai Namlea, desa Nametek, Pulau Buru, pada 1987. 
sumber foto:www.deedeecaniago.multiply.com
Spesies paus biru yang kedua terdampar di Pantai Suli, dekat obyek wisata Pantai Pasir Putih Natsepa. Berat mamalia laut ini mencapai 60 ton, panjangnya tidak kurang dari 18 meter. Syahdan, kedua kerangka ikan paus ini pun diawetkan dengan teknik berbeda. Yang pertama ditanam di dalam pasir selama satu tahun baru diangkat, sedangkan yang kedua dilakukan oleh tim dari LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) dengan cara dimasak.
Sedangkan paus ketiga merupakan jenis yang bergigi (pembunuh), ditemukan di daerah Latuhalat pada 1990, panjangnya 12 meter, beratnya sekitar delapan ton. Dari warnanya yang coklat, kerangka paus bergigi tersebut juga diawetkan dengan teknik dimasak. (berbagai sumber)

Copyright © ID Blog Kamu

Canvas By: Fauzi Blog, Responsive By: Muslim Blog, Seo By: Habib Blog