ID Blog Kamu: cerita

Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan

Jumat, 27 Juli 2012

Mantan Bermulut Besar

Mari bermain di #MantanBermulutBesar :)



Sudahlah, jangan jelaskan alasan yang tak bisa lagi kupercaya. Jangan berikan jawaban yang tak akan mampu membuatku yakin. Berhentilah membuatku merasa mengasihanimu. Aku sudah kehilangan rasa, terhadapmu, juga terhadap kita yang dulu. Ceritamu hanyalah rekaan fiksi yang berantakan dalam setiap alurnya. Segala alasanmu hanyalah berita infotainment yang tidak aktual. Plotmu saat berbohong sangat berantakan, Sayang. Cacat di sana sini, berlubang di bagian kanan kiri, kurang sempurna di semua sisi. Bagaimana aku bisa memercayai? Pembohong kelas teri.

Haruskah aku bercerita lagi, terntang kebohonganmu yang berusaha kutolerir setengah mati? Tentang janji manismu yang tak pernah kautepati? Tentang mimpi-mimpi yang kauhancurkan sendiri? Bercerminlah wahai kamu yang merasa paling sempurna, siapakah dirimu yang berani berkata dan berucap dengan sok bijaksana? Berjanji seenak jidat, lalu mengikari dengan mudah. Lucu, kamu ini pembohong yang tak punya ingatan yang tajam. Pembual bermulut besar, berhentilah membuat jengah, kamu semakin membuatku lelah.

Tadi, kamu menghubungi, lagi. Seperti biasa, seakan-akan kau tak punya kesalahan. Kemudian, kamu bercerita. Iya, tentang hal yang sama, K-E-B-O-H-O-N-G-A-N-M-U. Kali ini bahkan lebih parah, lebih tak tentu arah, anehnya aku masih ingin menyediakan telinga. Kenapa? Aku kasihan padamu. Ternyata, selama kutinggalkan dan kuberi kesempatan, kau masih saja sama, tak berubah sedikitpun. Bahkan, aku cukup terbelalak, mengetahui hobimu yang tetap saja sama, berbohong untuk menarik perhatianku. Mungkin, kau berpikir aku masih orang yang sama, orang yang bebas kau dongengkan setiap hari, dengan dongeng seribu satu malammu yang terdengar sempurna tapi bohong semua.

Kamu tak berbeda, Sayang. Tak ada yang berbeda. Seberapa frustasikah kamu hingga kehilangan cara untuk mendapatkan perhatian dan kasih sayang lagi? Dengan waktu singkat, dengan berlari tak pasti, kamu sibuk mencari pengganti. Dekati si ini, lalu dekati si itu. Berkenalan dengan si ini, lalu berkenalan dengan si itu. Kamu semakin membabi buta, hingga pada akhirnya, dengan sangat terpaksa dan terdesak, kamu memilih dia. Pacar barumu yang sama mengenaskannya denganmu.

Iya, aku tahu, tanpa kaujelaskan pun aku mengerti. Dia adalah pilihanmu yang terbaru, dan yang paling buruk setelah terlalu tersakiti oleh pengabaianku. Kamu seperti kehilangan cara untuk menemukan seseorang yang pas, bagaimana mungkin kaubisa menemukan yang pantas, ketika sikapmu selalu saja keras? Aku mengasihani dia, juga mengasihanimu, dan mengasihani kalian. Tentu saja, kamu dan dia seperti keledai yang tak pernah hapal jalan pulang. Berbelok, berputar arah, berlari, berjalan, terhenti, saling berbenturan dalam kebingungan. Bahkan dalam kebobrokan, kamu dan dia masih berusaha terlihat baik-baik saja. Pasangan sempurna, pandai bermain sandiwara.

Ceritakan padaku, apa yang sudah kaudapatkan dari dia? Biarkan aku tertawa untuk beberapa lama. Tak penting, yang kutahu, kamu sudah mendapatkan penggantiku dan seharusnya kamu tak lagi mengejarku. Nyatanya? Kamu masih terlalu lemah untuk menghancurkan kenangan kita. Iya, Sayang. Berhentilah menggelitik telingaku dengan gombalanmu. Aku paham, jika saat kita berpisah namun kamu masih sering berlari ke arahku, berarti kamu belum benar-benar mengikhlaskan kepergianku.

Kapankah kau mengikhlaskanku, Sayang? Tidakkah kamu muak dengan amarah yang selalu membuncah? Tidakkah kau bosan dengan nasehat-nasehat yang selalu kulontarkan ketika berbicara panjang lebar denganmu? Mengapa kau masih saja kembali dan mengejar bayanganku? Aku lelah diikuti oleh seseorang yang bermulut besar sepertimu. Aku tak berani membayangkan, sebodoh apakah diriku ketika dulu bisa begitu mudah menerimamu?

Jadi, Sayang, dengarkan. Aku sudah mulai pusing dan lelah dengan gangguan yang kauciptakan. Berhentilah menghubungiku dan membohongiku, ingatlah statusmu, juga kekasih barumu. Tak mengertikah kamu, si bodoh itu, pacar barumu begitu mudah memercayai kebohonganmu? Tak pahamkah kamu rasa sakit yang akan ia rasakan ketika tahu mulutmu hanya penuh dengan racun yang manis sesaat? Berhentilah menyakiti siapapun yang ada di sekelilingmu, mereka memberi kesempatanmu untuk berubah, jika kau tak kunjung berbeda, jangan salahkah dunia saat kau kesepian dan selalu merasa sendirian.

Berbahagialah dengan pilihanmu, Sayang. Bersukacitalah dengan kekasih barumu yang tak berbeda jauh denganmu. Mungkin saja, dia juga bermulut besar sepertimu. Mungkin juga, dia senang bercerita tentang janji dan khayalan yang terlampau membosankan. Iya, dia pasti tak berbeda jauh denganmu, karena kalian terlihat begitu serasi, sempurna. Dan, sekarang kamu tahu, soal kalian terlihat sempurna itu, aku hanya bercanda.

Tenanglah, aku tidak akan membuka kedok topengmu. Aku tidak akan bercerita pada banyak orang tentang kamu yang selalu mengaku sakit ini itu agar minta diperhatikan. Aku tidak akan mencibir sikap burukmu yang selalu membanggakan prestasi yang sebenarnya tak pernah kamu capai. Percayalah padaku, aku pandai menyimpan rahasia, bukan seperti kamu yang bermulut besar. Si pengubah cerita yang membuat cerita lebih  berbeda. Si pengarang cerita yang benar-benar mengarang kejadian dan peristiwa fakta. Padahal, kalau dipikir-pikir, apa untungnya menceritakan hal-hal bodoh yang hanya membuat seseorang tertawa terpingkal-pingkal? Orang-orang di sekitarmu sudah sangat muak, Sayang. Mereka mulai menjauhimu namun kau masih tak sadar juga. Hey, lihatlah! Siapa yang ada di sampingmu? Pacar barumu? Yang mungkin saja, suatu hari, akan menikammu, lebih berdarah dan juga lebih menghasilkan luka.

Aku tidak akan bercerita keburukanmu pada pacar barumu. Aku berbeda denganmu yang suka menyeret seseorang untuk membenci orang yang kaubenci. Aku tidak sama sepertimu yang suka menghasut seseorang dengan cerita palsu agar ia ikut terbodohi oleh omong kosongmu. Aku bukan orang yang senang menjelek-jelekan kamu, Sayang. Aku berbeda denganmu, sungguh.

Maka, biarkanlah pacar barumu tahu seberapa mengenaskannya kamu setelah dia menjalani yang dulu ia yakini. Maka, biarkanlah kekasih barumu memahami sendiri, bahwa kamu bukan sosok yang pantas dicintai. Akan ada waktunya dia tahu, kau hanya seseorang yang pandai merayu juga pandai membuat cerita lugu. Akan tiba waktunya dia tersakiti oleh sikapmu, dan menangis terpojok, menyesali pilihan yang sempat ia percayai. Akan ada saatnya dia mengerti,  kamu hanyalah si mulut besar yang tak pernah paham arti dicintai dan mencintai.

Berhenti hubungi aku, atau kubunuh semua harapanmu!


Sabtu, 30 Juni 2012

Mungkin, aku terlalu berharap banyak

Rasanya semua terjadi begitu cepat, kita berkenalan lalu tiba-tiba merasakan perasaan yang aneh. Setiap hari rasanya berbeda dan tak lagi sama. Kamu hadir membawa banyak perubahan dalam hari-hariku. Hitam dan putih menjadi lebih berwarna ketika sosokmu hadir mengisi ruang-ruang kosong di hatiku. Tak ada percakapan yang biasa, seakan-akan semua terasa begitu ajaib dan luar biasa. Entahlah, perasaan ini bertumbuh melebihi batas yang kutahu.

Aku menjadi takut kehilangan kamu. Siksaan datang bertubi-tubi ketika tubuhmu tidak berada di sampingku. Kamu seperti mengendalikan otak dan hatiku, ada sebab yang tak kumengerti sedikitpun. Aku sulit jauh darimu, aku membutuhkanmu seperti aku butuh udara. Napasku akan tercekat jika sosokmu hilang dari pandangan mata. Salahkah jika kamu selalu kunomorsatukan?

Tapi... entah mengapa sikapmu tidak seperti sikapku. Perhatianmu tak sedalam perhatianku. Tatapan matamu tak setajam tatapan mataku. Adakah kesalahan di antara aku dan kamu? Apakah kamu tak merasakan yang juga aku rasakan?

Kamu mungkin belum terlalu paham dengan perasaanku, karena kamu memang tak pernah sibuk memikirkanku. Berdosakah jika aku seringkali menjatuhkan air mata untukmu? Aku selalu kehilangan kamu, dan kamu juga selalu pergi tanpa meminta izin. Meminta izin? Memangnya aku siapa? Kekasihmu? Bodoh! Tolol! Hadir dalam mimpimu pun aku sudah bersyukur, apalagi bisa jadi milikmu seutuhnya. Mungkinkah? Bisakah?

Janjimu terlalu banyak, hingga aku lupa menghitung mana saja yang belum kamu tepati. Begitu sering kamu menyakiti, tapi kumaafkan lagi berkali-kali. Lihatlah aku yang hanya bisa terdiam dan membisu. Pandanglah aku yang mencintaimu dengan tulus namun kau hempaskan dengan begitu bulus. Seberapa tidak pentingkah aku? Apakah aku hanyalah persimpangan jalan yang selalu kau abaikan – juga kau tinggalkan?

Apakah aku tak berharga di matamu? Apakah aku hanyalah boneka yang selalu ikut aturanmu? Di mana letak hatimu?! Aku tak bosa bicara banyak, juga tak ingin mengutarakan semua yang terlanjur terjadi. Aku tak berhak berbicara tentang cinta, jika kau terus tulikan telinga. Aku tak mungkin bisa berkata rindu, jika berkali-kali kauciptakan jarak yang semakin jauh. Aku tak bisa apa-apa selain memandangimu dan membawa namamu dalam percakapan panjangku dengan Tuhan.

Sadarkah jemarimu selalu lukai hatimu? Ingatkah perkataanmu selalu menghancurleburkan mimpi-mimpiku? Apakah aku tak pantas bahagia bersamamu? Terlau banyak pertanyaan. Aku muak sendiri. Aku mencintaimu yang belum tentu mencintaiku. Aku mengagumimu yang belum tentu paham dengan rasa kagumku.


Aku bukan siapa-siapa di matamu, dan tak akan pernah menjadi siapa-siapa. Sebenarnya, aku juga ingin tahu, di manakah kau letakkan hatiku yang selama ini kuberikan padamu. Tapi, kamu pasti enggan menjawab dan tak mau tahu soal rasa penasaranku. Siapakah seseorang yang telah beruntung karena memiliki hatimu?


Mungkin... semua memang salahku. Yang menganggap semuanya berubah sesuai keinginanku. Yang bermimpi bisa menjadikanmu lebih dari teman. Salahkah jika perasaanku bertumbuh melebihi batas kewajaran? Aku mencintaimu tidak hanya sebagi teman, tapi juga sebagai seseorang yang bergitu bernilai dalam hidupku.

Namun, semua jauh dari harapku selama ini. mungkin, memang aku yang terlalu berharap terlalu banyak. Akulah yang tak menyadari posisiku dan tak menyadari letakmu yang sengguh jauh dari genggaman tangan. Akulah yang bodoh. Akulah yang bersalah!

Tenanglah, tak perlu memerhatikanku lagi. Aku terbiasa tersakiti kok, terutama jika sebabnya kamu. Tidak perlu basa-basi, aku bisa sendiri. Dan, kamu pasti tak sadar, aku berbohong jika aku bisa begitu mudah melupakanmu.

Menjauhlah. Aku ingin dekat-dekat dengan kesepian saja, di sana lukaku terobati, di sana tak kutemui orang sepertimu, yang berganti-ganti topeng dengan mudahnya, yang berkata sayang dengan gampangnya.

dari seseorang yang kehabisan cara
membuktikan rasa cintanya

Senin, 18 Juni 2012

Inikah Rasanya Jarak?


Jarak sejauh ini tak mampu membuat kita berbuat dan bergerak lebih banyak. Seakan-akan aku dan kamu tak punya ruang untuk saling  bersentuhan juga saling menatap. Rasanya menyakitkan jika keterbatasanku dan keterbatasanmu menjadi penyebab kita tak banyak tahu dan tak banyak bertemu. Setiap hari, kita menahan rindu yang semakin menggebu dan tak mereda. Inikah cara cinta menyiksa? Melalui jarak ratusan kilometer?

Aku menghela napas, membayangkan jika kamu bisa terus berada di sampingku dan merasakan yang juga kurasakan. Maka mungkin tak akan ada air mata ketika hanya tulisan dan suara yang bisa menguatkan kita. Maka tentu saja tak akan ada ucapan rindu berkali-kali yang terlontar dari bibir kita, ketika perasaan itu semakin membabibuta.

Apakah yang kita pertahankan selama ini? Apakah yang kita andalkan sejauh ini? Sekuat apakah perasaan cinta kita? Menahan dan mempertahankan, dan kadangkala memicu pertengkaran. Tapi... itulah manisnya jarak, ia membuat kita saling menyadari, tak ada cinta tanpa luka, tak ada cinta tanpa rindu.

Sayang, apalah arti ratusan kilometer jika kita masih mengeja nama yang sama? Apakah arti jauhnya jarak jika aku dan kamu masih sangat mungkin mempertahankan semuanya? Kita jarang saling bergenggaman tangan, jarang sekali berpelukan, dan sangat jarang saling berpandangan. Namun, percayalah sayang, tak saling bersentuhan bukan berarti cinta kita punya banyak kekurangan.

Apa yang kucari dan apa yang kamu cari? Tak ada, kita masih meraba-raba apa itu cinta dan bagaimana kekuatan itu bisa membuat kita bertahan. Rasa cemburu, rasa ragu, dan rasa rindu sebenarnya adalah pemanis. Tidak ada hal yang sangat berat, jika kita melalui berdua melewatinya bersama.

Selama bulan yang kita lihat masih sama, selama sinar matahari yang menyengat kulit kita masih sama hangatnya, maka pertemuanku dan kamu masih akan tetap terjadi.

Jarak hanyalah sekadar angka, jika kita masih memperjuangkan cinta yang sama.

with love :)
Dwitasari

Rabu, 16 Mei 2012

Aku Tak Minta Banyak Hal, Tuhan

Tuhan... selamat pagi, atau selamat siang, dan selamat malam. Aku tak tahu di surga sedang musim apa, penghujan atau kemaraukah? Ataukah mungkin sekarang sedang turun salju? Pasti indah. Kalau boleh berbincang sedikit, aku belum pernah melihat salju. Mungkin, kalau aku sudah cukup dewasa dan sudah bisa menghasilkan uang sendiri, aku akan bisa menyaksikan salju, dengan mata kepalaku sendiri.

Aku tahu Kamu tak pernah sibuk. Aku tahu Kamu selalu mendengar isi hatiku meskipun Kamu tak segera memberi pukpuk di bahuku. Aku tak perlu curiga padaMu, soal Kamu mendengar doaku atau tidak. Aku percaya telingaMu selalu tersedia untuk siapapun yang percaya padaMu. Aku yakin pelukanMu selalu terbuka bagi siapapun yang lelah pada dunia yang membuatnya menggigil. Aku mengerti tanganMu selalu siap menyatukan kembali kepingan-kepingan hati yang patah.

Masih tentang hal yang sama, Tuhan. Aku belum ingin ganti topik. Tentang dia. Seseorang yang selalu kuperbicangkan sangat lama bersamaMu. Seseorang yang selalu kusebut dalam setiap frasa kata ketika aku bercakap panjang denganMu.

Aku sudah tahu, perpisahan yang Kau ciptakan adalah sesuatu yang terbaik untukku. Aku mengerti kalau Kamu sudah mempersiapkan seseorang yang jauh lebih baik darinya. Tapi... bukan berarti aku harus absen menyebut namanya dalam doaku bukan?

Nah... kalau yang ini, aku juga sudah tahu. Dia sudah menemukan penggantiku, entah lebih baik atau lebih buruk dariku. Atas alasan apapun, aku harus turut bahagia mendengar berita itu, karena ia tak perlu merayakan kesedihannya seperti yang aku lakukan beberapa hari terakhiri ini. Seiring mendapatkan penggantiku, ia tak perlu merasa galau ataupun merasa kehilangan. Sungguh... aku tak pernah ingin dia merasakan sakit seperti yang kurasakan, Tuhan. Aku tak pernah tega melihat kecintaanku terluka seperti luka yang belum juga kering di dadaku. Aku hanya ingin kebahagiaannya terjamin olehMu, dengan atau tanpaku.

Tolong kali ini jangan tertawa, Tuhan. Aku tentu saja menangis, dadaku sesak ketika tahu semua berlalu begitu cepat. Apalagi ketika dia menemukan penggantiku hanya dalam hitung jam. Aku memang tak habis pikir. Padahal, aku sedang menikmati perasaan bahagia yang meletup pelan-pelan itu. Bukannya ingin berpikiran negatif, tapi ternyata setiap manusia punya topengnya masing-masing. Ia berganti-ganti peran sesukanya. Sementara aku belum cukup cerdas untuk mengerti wajah dan kenampakan aslinya. Aku hanya melihat segala hal yang ia tunjukkan padaku, tanpa pernah tahu apa yang sebenarnya ada dalam hatinya.
Aku tidak tahu bagaimana kabarnya sekarang. Bagaimana hubungannya dengan kekasih barunya. Aku tak terlalu ingin mengurusi hal itu. Aku yakin dia pasti bahagia, karena begitu mudah mendapatkan penggantiku. 

Aku percaya dia sedang dalam titik jatuh cinta setengah mati pada kekasih barunya, dan tidak lagi membutuhkan aku dalam helaan napasnya. Permintaan yang sama seperti kemarin, Tuhan. Jagalah kebahagiaannya untukku. Bahagiakan dia untukku. Senyumnya adalah segalanya yang kuharapkan. Bahkan, aku rela menangis untuknya agar ada lengkungan senyum di bibirnya. Aku ingin lakukan apapun untuknya, tanpa melupakan rasa cintaku padaMu. Aku memang tak menyentuhnya. Tapi... dalam jarak sejauh ini, aku bisa terus memeluknya dalam doa.

Pernah terpikir agar aku bisa terkena amnesia dan melupakan segala sakit yang pernah kurasa. Agar aku tak pernah merasa kehilangan dan tak perlu menangisi sebuah perpisahan. Rasanya hidup tak akan terlalu rumit jika setiap orang mudah melupakan rasa sakit dan hanya mengingat rasa bahagia. Namun... aku tahu hidup tak bisa seperti itu, Tuhan. Harus ada rasa sakit agar kita tahu rasa bahagia. Tapi, bagiku rasa sakit yang terlalu sering bisa membuat seseorang menikmati yang telah terjadi. Itu dalam persepsiku lho, Tuhan. Kalau pendapatMu berbeda juga tak apa-apa.

Aku memang tak perlu meratap, karena sepertinya ia bahagia bersama kekasih barunya. Ia pasti telah menemukan dunia baru yang indah dan menyenangkan. Aku turut senang jika hal itu benar, kembali pada bagian awal, Tuhan. Aku tak pernah ingin dia merasakan sakitnya perpisahan, seperti yang aku rasakan.

Akhir percakapan, aku tidak minta agar dia segera putus dari kekasihnya, atau hubungan mereka segera kandas di tengah jalan. Aku hanya minta agar ia sembuh dari maag akutnya. Agar ia terhindar dari vertigo parahnya. Agar muntah darahnya berhenti ketika tubuhnya kelelahan. Semoga kekasihnya mengerti betul penyakitnya seperti aku mengerti rasa sakitnya.

Kembali pada bagian awal. Aku hanya ingin ia bahagia. Cukup.

with love :)
Dwitasari

Rabu, 09 Mei 2012

Seminggu Setelah Kepergianmu

Tak ada lagi kamu yang memenuhi kotak inbox di handphone-ku. Tak ada lagi sapamu sebelum tidur yang membuncah riuh di telingaku. Tak ada lagi genggaman tanganmu yang menguatkan setiap langkahku. Tak ada lagi pelukanmu yang meredam segala kecemasan. Tanpamu... semua berbeda dan tak lagi sama.

Aku membuka mata dan berharap hari-hariku berjalan seperti biasanya, walau tanpamu, walau tak ada kamu yang memenuhi hari-hariku. Seringkali aku terbiasa melirik ke layar handphone, namun tak ada lagi ucapan selamat pagi darimu dengan beberapa emote kiss yang memasok energiku. Pagi yang berbeda. Ada sesuatu yang hilang.

Lalu, aku menjalani semua aktivitasku, seperti biasa, kamu tentu tahu itu. Dulu, kamu memang selalu mengerti kegiatan dan rutinitasku. Namun, sekarang tak ada lagi kamu yang berperan aktif dalam siang dan malamku. Tak ada lagi pesan singkat yang mengingatkan untuk menjaga pola makan ataupun menjaga kesehatan. Bukan masalah besar memang, aku mandiri dan sangat tahu hal-hal yang harusnya aku lakukan. Tapi... entah mengapa aku seperti merasa kehilangan, tanpa pernah tahu apa yang telah hilang. Aku seperti mencari, tanpa tahu apa yang telah kutemukan.

Rasa ini begitu absurd dan sulit untuk dideskripsikan. Kamu membawa jiwaku melayang ke negeri antah-berantah, dan mengasingkan aku ke dunia yang bahkan tak kuketahui. Aku bercermin, memerhatikan setiap lekuk wajahku dan tubuhku. Aku tak mengenal sosok di dalam cermin itu. Tak ada aku dalam cermin yang kuperhatikan sejak tadi. Aku berbeda dan tidak lagi mengenal siapa diriku. Seseorang yang kukenal di dalam tubuhku kini menghilang secara magis setelah kepergian kamu. Kamu merampas habis cinta yang kupunya, melarikannya ke suatu tempat yang sulit kujangkau. Entah di mana aku bisa menemukan diriku yang telah hilang itu. Entah bagaimana caranya mengembalikan sosok yang kukenal itu ke dalam tubuhku. Aku kebingungan dan kehilangan arah.

Ingin rasanya aku melempari segala macam benda agar bisa memecahkan cermin itu. Agar aku tak bisa lagi melihat diriku yang tak lagi kukenal. Agar aku tak perlu menyadari perubahan yang begitu besar terjadi setelah kehilangan kamu. Aku bisa berhenti memercayai cinta jika terlalu sering tenggelam dalam rasa frustasi seperti ini. Aku mungkin akan berhenti memercayai lawan jenis dan segala janji-janji tololnya. Siksaanmu terlalu besar untukku, aku terlalu lemah untuk merasakan semua rasa sakit yang telah kau sebabkan.

Bagaimana mungkin aku bisa menemukan yang lebih baik jika aku pernah memiliki yang terbaik? Bagaimana mungkin aku bisa menemukan seseorang yang lebih sempurna jika aku pernah memiliki yang paling sempurna?

Aku benci pada perpisahan. Entah mengapa dalam peristiwa itu harus ada yang terluka, sementara yang lainnya bisa saja bahagia ataupun tertawa. Kamu tertawa dan aku terluka. Kita seperti saling menyakiti, tanpa tahu apa yang patut dibenci. Kita seperti saling memendam dendam, tanpa tahu apa yang harus dipermasalahkan.

Aku menangis sejadi-jadinya, sedalam-dalamnya, atas dasar cinta. Kamu tertawa sekeras-kerasnya, sekencang-kencangnya, atas dasar... entah harus kusebut apa. Aku tak pernah mengerti jalan pikiranmu yang terlampau rumit itu. Aku merasa sangat kehilangan, sementara kamu dalam hitungan jam telah menemukan yang baru. Bagaimana mungkin aku harus menyebut semua adalah wujud kesetiaan? Begitu sulitnya aku melupakanmu, dan begitu mudahnya kamu melupakanku. Inikah caramu menyakiti seseorang yang tak pantas kau lukai?

Jam berganti hari, dan semua berputar... tetap berotasi. Aku jalani hidupku, tentu saja tanpa kamu. Kamu lanjutkan hidupmu, tentu saja dengan dia. Aku tak menyangka, begitu mudahnya kamu menemukan penganti. Begitu gampangnya kamu melupakan semua yang telah terjadi. Aku hanya ingin tahu isi otakmu saja, apa kamu tak pernah memikirkan mendung yang semakin menghitam di hatiku? Atau... mungkin saja kamu tak punya otak? Atau tak punya hati?

Tak banyak hal yang bisa kulakukan, selain mengikhlaskan. Tak ada hal yang mampu kuperjuangkan, selain membiarkanmu pergi dan tak berharap kamu menorehkan luka lagi. Aku hanya berusaha menikmati luka, hingga aku terbiasa dan akan menganggapnya tak ada. Kepergianmu yang tak beralasan, kehilangan yang begitu menyakitkan, telah menjadi candu yang kunikmati sakitnya.

Aku mulai suka air mata yang seringkali jatuh untukmu. Aku mulai menikmati saat-saat napasku sesak ketika mengingatmu. Aku mulai jatuh cinta pada rasa sakit yang kau ciptakan selama ini.

Terimakasih.

Dengan luka seperti ini.

Dengan rasa sakit sedalam ini.

Aku jadi tambah sering menulis.

Lebih banyak dari biasanya.

Aku semakin percaya, bahwa Kahlil Gibran butuh rasa sakit agar ia bisa menulis banyak hal.

Sama seperti aku, butuh rasa sakit agar bisa lancar menulis... terutama yang bercerita tentangmu. 

with love :)
Dwitasari

Senin, 16 April 2012

Kamu penuh magis

Aku tidak bermaksud untuk mengusikmu ataupun menganggu rutinitasmu. Seperti hal-hal sederhana yang selalu kamu ceritakan padaku. Kamu selau sibuk mengurus putera altar di gerejamu, lalu membagi waktumu untuk belajar di kampus, kemudian dalam langkah gontai kamu memasuki rumah, senyummu yang tersisa masih kautunjukkan untuk keluarga tercinta. Padahal, aku yakin otakmu masih terbagi untuk teater dan liturgi misa. Aku kagum padamu. Si sulung yang berusaha jadi segalanya untuk keluarganya. Pria dengan senyum memukau yang menyediakan waktunya untuk orang yang ia cintai. Satu hal yang selalu membuatku terharu, bahkan dalam kesibukanmu, kamu selalu merapal namaku dalam doa.

Jadi, apa kabarmu hari ini? Setelah sekian lama kita tak saling berkabar, nampaknya ada banyak yang berubah, dan mungkin saja ada banyak hal baru yang tidak kuketahui. Tapi, aku berharap agar dirimu tak pernah berubah, meskipun kita memang tak terlalu sering bertatapan mata. Kalau mengingat pertemuan awal kita, aku jadi ingat shelter De Britto. Ternyata, butuh perjuangan keras hanya untuk menatap matamu. Sekaligus merayakan lebaran di sana, kita menyempatkan diri untuk bertemu, ingat berapa menit? Sekitar 10 menit, dan selama rentan waktu itu, debaran jantungku mengamit resah. Semua perasaan tolol itu terjadi hanya karena aku menatap matamu. Dan... sepertinya ada pergolakan berbeda dalam tubuhmu, kamu seperti patung es yang enggan meleleh, dingin tapi kokoh. Kamu fantastis! Sepuluh menit penuh magis!

Aku dan kamu selalu menyakinkan diri kita masing-masing, bahwa ini bukan cinta. Kita selalu yakin kalau ini bukan cinta, bukankah kita hanya teman yang saling menguatkan satu sama lain? Bukankah semua kebersamaan nyata dan maya ini adalah wujud perhatian sederhana? Tapi... ternyata ada pergerakan di hati yang lajunya tak kita sadari. Memang tak ada candu, tapi kita tak mampu saling menyangkal diri kalau ada sosok nyata yang disebut rindu. Tak ada panggilan sayang ataupun sepotong percakapan yang dilakukan secara intensif, tapi hal itu tak menghalangi kita untuk saling mendoakan. Mungkin, inilah definisi perhatian yang sebenarnya. Tak perlu dilebih-lebihkan, tak perlu terlalu ditunjukan. Perhatian menunjukkan tubuhnya sendiri, walau tak terikat status, walau terpisah jarak ratusan kilometer.

Ceritakan padaku tentang rencana masa depanmu. Kita terlalu jarang berbicara tentang itu. Ceritakan padaku tentang apa yang selama ini kamu rasakan. Aku dan kamu selalu takut untuk mengetahui kenyataan.  Di sinilah batas keteguhan hati kita diuji, seberapa besar kekuatan doamu dan doaku saling menyentuh dan menghangatkan satu sama lain. Inilah kerterbatasan kita sebagai manusia yang tidak utuh. Walau tak ada tatapan mata, tapi hati terus berkata-kata. Selama ini kita terlalu rela dibunuh oleh jarak. Selama ini kita terlalu rapuh dipermainkan oleh waktu. Akankah ini saatnya untuk menyadarkan diri? Bahwa tak ada apa-apa di antara kita. Bahwa tak ada kembang api atau kupu-kupu yang menari indah di dalam perut kita.

Namun... semakin aku memaksakan diri untuk mengetahui, semakin aku merasa tak mengerti. Ada semesta rumit yang mengorbit dalam peredaran napas kita. Tercipta semacam negeri antah berantah yang menjadikan kita sebagai penduduk yang hidup di dalamnya. Aku kebingungan, mungkin juga kamu. Apakah setiap kali seorang pria menyentuh tatapan mata seorang wanita, selalu tercipta negeri berbeda di dalamnya? Seperti kita...

Ah... bagaimanapun rumitnya permasalah kita, aku dan kamu tetap saja senang menyangkal diri. Kita belum siap direpotkan oleh perasaan aneh yang meletup-letup walau dalam kebisuannya itu. Aku dan kamu masih menikmati masa-masa ini. Kita masih ingin Tuhan merahasikan rencanaNya. Bukankah aku dan kamu senang pada hal-hal yang tak pasti? Iya... seperti apa yang kita jalani selama ini, karena sesuatu yang tak pasti menyembunyikan banyak tantangan tersendiri.

Masih banyak perasaan yang bergenderang namun tak terdengar oleh telinga kita. Masih banyak mimpi yang belum kita capai. Salah satunya, seperti yang dulu kita bicarakan.

Suatu saat aku dan kamu akan bertemu lagi. Rembulan di langit Yogyakarta, di bawah sinaran lampu templok dan lilin yang meredup. Di sebuah angkringan yang tak terlalu ramai, hanya terdengar deru kendaraan bermotor yang sesekali melintas, lalu desah napasku dan desah napasmu memburu dalam kesunyian. Mata minusmu terlihat bening di balik kacamata yang kamu pakai. Kala itu... kamu begitu memesona.

dari...
 entah harus disebut siapa
yang jelas
aku selalu mendoakan kebahagiaanmu

with love :)
Dwitasari

Rabu, 11 April 2012

Jika Kebohonganmu Membayangi Langkahku

Aku takut untuk mengetahui kenyataan yang ada, walau tatapan mata itu, seruan kelu bibirmu, dan janji manismu hanyalah dongeng yang enggan menyentuh cerita akhir. Aku tahu hari-hari bergulir begitu jahat, hingga sentuhanmu yang sebenarnya lembut terasa begitu kasar oleh indraku. Tak ada kebahagiaan yang mengamit relungku, ketika kulitmu bersentuhan dengan kulitku. Tak ada senyuman, hanya ada tatapan heran.

Kenapa harus aku?

Sungguh, aku sempat memercayai retorika yang melekat dalam pertemuan kita. Jiwaku mengalir bersama kehadiranmu yang perlahan-lahan mengisi lalu meluap. Ada decak bahagia kala itu. Ketika kepolosan wajahmu memunculkan perhatianku. Ada kejujuran yang mengatur setiap pertemuan kita. Sungguh tak ada rekayasa. Sungguh tak ada kebohongan.

Tapi, mengapa sekarang semua terasa berbeda?

Namun, seiring berjalannya waktu, entah mengapa kau telah mengubah diriku menjadi seseorang yang bahkan tidak kukenal. Bahkan perasaanku seakan kau pasangi sensor pengatur, agar aku bisa kau sakiti, agar aku bisa kau lukai. Kejujuran itu berubah menjadi rasa sakit yang lukanya tak terjamah olehmu. Kebahagiaan awal pertemuan kita seakan-akan telah hilang dan takkan pernah terulang.

Mengapa harus aku? Lagi dan lagi.

Rasanya aku tak berdaya ketika tanganmu membekas merah di pipiku. Seperti lidahku di gondol kucing, ketika amarahmu memecahkan beberapa piring. Aku terdiam saat kebencianmu menghambur lewat bibirmu. Aku seperti patung yang bahkan tak mampu menggerakan tubuhnya. Aku hanya merindukan kamu yang dulu. Dan... kenyataan pahit yang harus kuterima, bahwa dirimu yang dulu tak akan pernah kembali.

Kebohonganmu, terlihat biasa di mataku. Arogansimu adalah makanan sehari-hariku. Kau latih aku menjadi wanita buta rasa, yang bahkan tak bisa membandingkan mana luka dan mana bahagia. Tak ada bahagia dalam semestamu, tapi entah mengapa aku tak dapat lepas dari jerat itu. Aku terlampau lumrah dengan arogansimu. Aku terlalu menganggap sederhana tamparan dan makianmu itu.

Aku terlalu sering disakiti, mungkin itulah sebabnya perasaanku mati. Bahkan aku hanya mampu berdiam diri, ketika kutahu kau telah membagi hati, untuk seseorang (yang menurutmu) lebih baik dariku. 

Betapapun kamu tak mengerti, bahwa aku membunuh diriku sendiri hanya untuk membuatmu hidup dan bernapas.

with love :)
Dwitasari

Sabtu, 24 September 2011

Agama dan Cinta..

+       Jadi, bagaimana hubunganmu dengan kekasihmu?
-            Si Khatolik? Semua baik.
+       Iya, Si Khatolik fanatik!
-            Dia tidak fanatik, dia religius.
+       Lalu, kau mencintainya? Kau ‘kan Protestan, santai dan rentan.
-            Saya mencintai dia. Sebaik dan seburuk apapun tingkah laku dan keadaannya.
+       Uh, mengharukan sekali! Coba berpikir kritis sedikit! Khatolik dan Protestan itu kembar tapi berbeda bukan?
-            Memang yang terlihat sama selalu tak benar-benar sama. Aku mencintainya, begitu saja, mengalir.
+       Kau serius dengannya?
-            Berusaha serius, walaupun dia begitu cuek, begitu sibuk, dan begitu menyebalkan. Pengabaiannya begitu menjengkelkan!
+       Kalau kalian ingin dipersatukan di altar suci, kau harus ikut agamanya?
-            Dia yang harus ikut agamaku.
+       Egois!
-            Aku berpegang teguh pada dogma agamaku, apa itu salah?
+       Entahlah.
-            Kau sendiri bagaimana? Dengan Si Arab itu?
+       Aku mencintainya, seperti kau mencintai Si Khatolik itu.
-            Cinta memang tak memandang agama, tapi kadang cinta gagal menyatukan agama walau mereka saling jatuh cinta.
+       Serumit itukah?
-            Memangnya kapan cinta pernah sederhana?
+       Terang tidak dapat bersatu dengan gelap, seperti air dan api, mereka tak dapat saling menggantikan dan melengkapi.
-            Padahal kau hanya jatuh cinta, memangnya agama salah apa?
+       Setahuku, dalam cinta tak ada yang salah, hanya soal waktu dan keadaan.
-            Kalau kau tak bisa mencintai Tuhan-nya maka kau tak bisa mencintai dia.
+       Tidak ada istilah Tuhan-ku dan Tuhan-nya. Tuhan ya Tuhan. Dia esa. Dia satu.
-            Tuhan memang satu, hanya manusia ciptaanNya saja yang berbeda.
+       Selama ini, kupikir dia yang terbaik.
-            Kau hanya berpikir, belum mengetahui bagaimana realitasnya.
+       Kau serius dengannya?
-            Sejauh ini, iya.
+       Untuk dipersatukan dalam ikatan suci dihadap Tuhan?
-            Entahlah.
+       Sebenarnya, apa yang salah dari mencintai seseorang yang tempat ibadahnya berbeda dengan kita?
-            Entahlah. Aku belum pernah berpikir sejauh itu.

Minggu, 04 September 2011

Cinta Dalam Rumitnya Dunia Maya

"Apakah cinta selalu membutuhkan PERJUMPAAN NYATA? Bisakah cinta hadir tanpa adanya PERJUMPAAN NYATA?"


Pernahkan kaliah jatuh cinta pada seseorang yang bahkan baru kalian kenal? Seseorang yang bahkan belum kalian ketahui wujud aslinya? Seseorang yang hanya bisa kalian nikmati senyumnya melalui benda dua dimensi bernama foto? Seseorang yang hanya kalian ketahui melalui tempat absurd yang bahkan selalu dianggap sebagai tempat berkumpulnya orang yang tak punya kerjaan... Jejaring sosial.


Jejaring sosial saat-saat ini berubah menjadi "dunia" yang bahkan terkesan sangat nyata. Seseorang bisa saling bertukar pendapat, bertukar pikiran, dan bersahabat, alasan tiga hal itu bisa dilakukan adalah karena mereka cocok, walaupun kecocokan itu hanya tercipta melalui dunia maya. Kecocokan dan perhatian kecil itulah yang bisa membuat seseorang jatuh cinta dengan teman dunia mayanya, jatuh cinta pada seseorang yang bahkan belum pernah mereka temui.


Siapa yang sangka? Siapa yang bisa menerka? Ketika cinta diam-diam merasuki perasaan seseorang, dengan cara yang berbeda-beda, dengan cara-cara aneh yang bahkan tak bisa dilogiskan oleh akal sehat. Memang, kadang cinta itu bersifat abnormal, menjauhi garis normal, dan mendekati garis yang tak logis. Tapi, ketidaknormalan itulah yang membuat cinta menjadi indah, kebodohan itulah yang membuat cinta terasa mengesankan.


Hanya karena status beberapa baris di facebook, hanya karena beberapa karakter tweet di twitter, dan hanya karena mahluk cerdas bernama handphone itu, seseorang bisa jatuh cinta? JELAS! Cinta bisa datang dengan cara yang unik, bahkan hanya melalui tulisan sekalipun, bahkan hanya melalui foto sekalipun. Jatuh cinta memang selalu indah bukan? Walaupun cinta dalam konteks ini adalah cinta yang tercipta melalui tekhnologi, cinta yang terbentuk melalui tulisan-tulisan lugu yang menghasilkan rindu.


Cinta tak selalu datang melalui tatapan mata, cinta tak selalu datang bahkan ketika kita mengetahui wujud asli seseorang. Cinta punya cara tersendiri untuk menyatukan seseorang, dengan cara yang logis atau bakan tak logis sekalipun, dengan dunia nyata atau bahkan dunia maya serumit apapun. Dengan adanya teknologi, dengan semakin cerdasnya seseorang mengungkapkan perasaannya melalui tulisan, maka cinta bisa mudah datang.


Dan, inilah satu pertanyaan simple bagi mereka yang jatuh cinta karena jejaring sosial: apakah mereka membutuhkan perjumpaan nyata?

Jumat, 05 Agustus 2011

Selamat Ulang Tahun, Cinta Pertama! :)

"Kenangan cinta pertama itu tak akan pernah bisa disembunyikan."

Selamat Ulang Tahun, Cinta Pertama! Seorang pria dengan wajah sayu, berhidung mancung, bermata sendu, serta seorang pria dengan pita suara yang dihiasi oleh suara lembut. Di mataku, kautanpa cela. Di hatiku, kaumemiliki peran yang luar biasa.

Mungkin, kautak akan pernah membaca ini, melihat sekejap matapun tidak mungkin, apalagi membaca hingga paragraf akhir. Mungkin, kautidak mengetahui usahaku untuk menulis ini, usahaku untuk mengundangmu kembali berotasi diotakku, mengelilingi poros otak tengah, menjalar ke otak kiri, lalu membias ke otak kanan. Tak ada dasar apapun dan tak ada alasan apapun yang menjelaskan mengapa aku harus membiarkan jemariku menari dan kembali menuliskan semua hal tentangmu. Seseorang yang sempat mengendap dalam sel otakku, seseorang yang pernah terlupakan oleh jemariku yang dulu sering menuliskan tentangmu.

Jika aku bercerita bagaimana pertemuan awal kita hingga perpisahan kita, mungkin tulisan itu akan terakum sempurna menjadi sebuah roman, yang di dalamnya terdapat tokoh sentral. Hanya aku dan kamu, bertemu, berkenalan, berteman, bercanda, bergembira, jatuh cinta, indah, dan berpisah. Jadi, aku tidak akan bercerita tentang itu. Tunggu dulu! Bukannya aku melupakan kenangan itu, aku hanya ingin membuat semua paragraf menjadi sangat berisi dan efektif, walaupun sekali lagi mungkin kautak akan membacanya.

Aku bahkan tidak lagi tahu kabarmu. Di mana tempat tinggalmu? Siapa wanita yang menjadi pilihanmu saat ini? Bagaimana keadaanmu? Tak perlu lagi aku  membiarkan air mataku terbujur kaku, menyerah setelah beberapa saat bertahan dipelupuk mata. Aku yang sekarang adalah wanita kuat yang dulu belum kaukenal. Jika kau melihatku saat ini, kaupasti berkata,"Kamu berbeda!" Ungkapmu dengan rambut menyeringai santai, dengan jambul yang menjuntai.

Kausemakin tua. Aku sedang membayangkanmu saat ini, mungkin hidungmu semakin mancung, mungkin bulu matamu semakin lentik, mungkin pipimu semakin memerah ketika panas menyengat hangat pipimu, mungkin kausibuk dengan kegiatanmu, dan mungkin kautelah melupakanku. Dari jarak sejauh ini, mustahil jika aku bisa lagi menyorot erat bola matamu dan menyerap sinarnya.

Bukankah, kenangan cinta pertama itu tak akan pernah bisa disembunyikan? Bukankah, kekuatan cinta pertama jauh lebih kuat daripada cinta-cinta lainnya? Tapi, apa yang kurasakan saat ini, hanya aku yang tahu, hanya aku yang bisa manafsirkan. Kaumiliki jalanmu, aku mengikuti jalanku, sekarang bukan dulu, kaudan aku bukan lagi bocah ingusan yang suka permainan.

Jadi, untuk segala kemungkinan yang terjadi, biarlah Tuhan menyimpan kemungkinan itu rapat-rapat dalam sela-sela jemariNYA yang penuh kuasa. Diumurmu yang semakin bertambah ini, semoga Tuhan memberkati semua rencana pembahagiaanmu, semoga kautetap dicintai oleh sesamamu, dan semoga aku masih tersimpan aman dalam laci lemari otakmu.

Satu hal yang perlu kauketahui, aku tak pernah mengabaikan kekuatan cinta pertama.

ditulis saat: hidung tersumbat, kegalauan menghambat, nafas tercekat. seorang hipotensi butuh pertolongan pertama tapi dia lebih memilih untuk menulis tentang seseorang yang hidup dimasa lalunya. hebat!

Senin, 23 Mei 2011

untitled

Menurut gue, Cina itu menarik - anisa pada cina dalam cin(T)a :D

Setiap mendengar lagu Mocca, aku selalu mengingatmu. Entah mengapa setiap mendengar suara Arina hilir-mudik ditelingaku, aku selalu mengingat hadirmu. Kamu yang sebenarnya tak pernah tersentuh, kamu yang sebenarnya tak pernah kutemui.

Sapa lembutmu mengalir maya dalam jejaring sosial itu. Aku tidak mengerti, dengan hal yang sederhana, kaubisa membuatku begitu menyukai kehadiranmu. Aku suka saat-saat kita bisa meluangkan waktu sekadar untuk bercerita. Bercerita tentang aku dan kamu yang mungkin tidak akan pernah menjadi KITA.

Bagaimana mungkin dengan cara sederhana itu ka pernah membuatku jatuh cinta? Cinta yang saat ini kuanggap hanya kenangan yang mungkin akan kaulupakan dan aku lupakan. Anggaplah tidak pernah ada cinta diantara aku dan kamu, hanya perasaan suka tak berdasar logika, hanya perasaan tertarik pada perkenalan pertama.

Aku tahu, kausudah memiliki seseorang, tentu saja lebih dari teman. Aku juga menyukai wanita itu. Sapa lembutnya tak kalah menghangatkan darimu. Aku suka cara sederhana yang dia lakukan saat dia bercerita semua hal tentangmu, aku beranggapan bahwa kalian adalah dua orang beruntung yang telah digariskan Tuhan untuk saling mencintai. Aku menyukai kalian berdua, wanita cantik berwajah lembut dan kamu pria manis yang menyukai audio romantis.

Dan, cinta itu hanya masa lalu. Kauhidup dalam kenanganku dan aku tak perlu memaksamu untuk mengendap-endap masuk dalam dunia nyataku. Cinta kita hanya butir-butir salju yang akan mencair saat musim berganti. Ini hanya cinta musiman, yang datang dengan cepat dan berlalu dalam waktu yang tepat.

Perlukah ada rasa rindu jika aku tak lagi mencintaimu? Perlukah ada rasa khawatir jika aku tak lagi membiarkanmu mengendalikan perasaanku? Kamu dengannya dan aku bahagia. Itulah cinta.

Sabtu, 23 April 2011

Perpisahan itu ...

"Aku masih merasakan udara yang sama. Masih berdiam ditempat yang sama. Tapi yang kurasakan tak lagi sama, kesunyiaan ini bernama tanpamu."

Sebenarnya, aku tidak pernah ingin semuanya berakhir. Saat semua terancang dengan hebat dan sempurna, saat perhatian-perhatian kecil itu menjelma menjadi candu rindu yang menancapkan getar-getar bahagia. Tapi, bukankah prediksi manusia selalu terbatas? Aku tidak bisa terus menahan dan mengubah sesuatu yang mungkin memang harus terjadi. Perpisahan harus terjadi, untuk pertemuan awal yang pasti akan memunculkan perasaan bahagia itu lagi.

Tidak dipungkiri dan aku tak harus menyangkal diri, bahwa selama rentan waktu tanpamu, aku merasa ada sesuatu yang hilang. Ketika pagi, kamu menyapaku dengan lembutnya. Saat siang, kamu sekedar mengingatkan untuk tidak terlambat makan. Saat sore, kamu menyapaku lagi, bercerita tentang hari-harimu, lelahmu dan bahagiamu pada hari itu. Saat malam, kamu menjerat pikiranku untuk berfokus pada suaramu yang mengalun lembut melewati lempengan-lempengan dingin handphoneku. Dan aku rindu, rindu semua hal yang bisa kita lalui hingga terasa waktu terlalu cepat berlalu saat kita melaluinya bersama.

Dan, akhirnya perpisahan itu tiba. Sesuatu yang selalu kita benci kedatangannya tapi harus selalu kita lewati tanpa kita tahu kapan itu akan terjadi. Dengan segala ketidaksiapan yang menggerogotiku, aku tetap harus melepaskanmu. Kau temukan jalanmu, aku temukan jalanku. Kita bahagia dalam jalan kita masing-masing. Kamu berpegang pada prinsipmu, aku berpegang pada perasaanku. Kita berbeda dan memang tak harus berjalan beriringan.

Semua berjalan dengan cepat. Sapa manjamu, tawa renyahmu, cerita lugumu, dan segala hal yang membuat otakku penuh karenamu. Dan, aku harus membuang dan menghapus itu semua dari memori otakku agar kamu  tak lagi mengendap-endap masuk ke dalam hatiku, lalu membuat kenangan itu menjadi nyata dan kembali menjadi realita. Mari mengikhlaskan, setelah ini akan ada pertemuan yang lebih menggetarkan hatimu dan hatiku, akan ada seseorang yang masuk ke dalam hidupmu dan hidupku, dia akan menjadi alasan terbesar saat doa terucap lalu aku dan kamu menyisipkan namanya. Selamat menemukan jalanmu. 

Percayalah, bahwa perpisahan ini untuk membaikan hidupmu dan hidupku, bahwa setelah perpisahan ini akan ada rasa bahagia bertubi-tubi yang mengecupmu dengan seringnya. Percayalah bahwa pertemuan kita tidak sia-sia. Aku banyak belajar darimu dan aku berharap kau juga mengambil pelajaran dari pertemuan singkat ini. Semua butuh proses dan waktu saat kamu harus kehilangan sesuatu yang terbiasa kau rasakan. Baik-baik ya :)

Senin, 04 April 2011

Romantis ? :D

Persepsi setiap orang dari kata "ROMANTIS" selalu berbeda. Tidak semua orang memiliki satu pikiran bahwa romantis adalah ini, bahwa romantis adalah itu. Romantis itu RELATIF :) Di bawah ini ada tempat tempat romantis menurut persepsi saya :) Berminat untuk membaca? Ayo ayo ke bawah ! :D
  • Stasiun Kereta
Saya sendiri juga sedikit bingung mengapa harus meletakan stasiun kereta sebagai tempat yang berpotensi terjadinya peristiwa Romantis. Mungkin, karena di stasiun kereta banyak tercipta emosi secara alami. Ada emosi perpisahan, ada doa dan harapan, ada bahagianya karena pertemuan, ada cinta pada pertemuan pertama, ada rindu yang membisik merdu, dan perasaan-perasaan lain yang tidak mungkin saya ungkapkan semua :) Yang jelas, stasiun kereta adalah tempat romantis, menurut saya, lho :)) Kadang, stasiun kereta menjadi saksi bisu semua hal yang mengisyaratkan kata cinta.

  • Teropong Bintang Boscha
Saya sama sekali belum pernah mengunjungi tempat ini, tempat yang tidak asing di telinga saya tapi sangat asing di mata saya. Saya bahkan hanya melihat Boscha dari film Petualangan Sherina, menyedihkan. Saya sangat ingin mengunjungi tempat unik tersebut, sayangnya jarak tidak memungkinkan saya untuk segera "berlari" menuju tempat yang sangat ingin saya kunjungi itu. Romantis? Apa hubungan romantis dengan Boscha? Ya! Boscha berhubungan dengan bintang, dengan mata telanjang pun, bintang adalah benda yang romantis, bagaimana jika dilihat dengan teropong? Anda dan orang yang begitu anda cintai melihat banyak bintang ditemani udara dingin Lembang yang secara tidak langsung "menyarankan" anda untuk memeluk seseorang, lebih menyenangkan lagi jika ditemani cahaya bulan yang meliuk-liuk sempurna melalui lensa teropong. escapade romantique à la couronne de la tête :")

  • Shelter
Ada yang berpikir bahwa Shelter adalah tempat yang sangat biasa. Tempat penumpang turun naik dan menunggu bus pada jam yang ditentukan. Tapi, mereka tak pernah menyadari kekuatan dari sebuah penantian yang disebut "menunggu", bagaimana ROMANTIS bisa teramu dengan baik dengan kuatnya perasaan untuk setia menunggu? Yah, at least, itulah ROMANTIS ! :D


  • Bukit Bintang
Tempat ini memang cukup terkenal dikalangan orang-orang yang menyukai sejuknya malam dan keindahan dari cahaya lampu kota. Beberapa kota besar di Indonesia memiliki tempat yang disebut "bukit bintang". Banyak tempat-tempat menyenangkan yang bernama Bukit Bintang. Beberapa tempat itu berada di Yogyakarta, Bogor, Bandung, Surabaya dan beberapa kota besar lainnya. Bukit bintang biasanya berada dalam ketinggian tertentu, sehingga dari titik tersebut dapat terlihat indahnya cahaya lampu kota yang memamerkan binar-binar cerianya :)


Itulah beberapa tempat yang dalam persepsi saya ROMANTIS :) Intinya, tempat romantis tidak harus tempat yang megah, jauh atau memerlukan banyak biaya. Romantis itu ada disekitar kita, tinggal bagaimana caramu menghidupkan suasana. Romantis itu RELATIF :D


with love :)
dwitasari

Minggu, 28 November 2010

lebih perasa, lebih PEKA

Halo sekali lagi :D Pertama, saya ingin mengucapkan selamat hari Minggu dan selamat beribadah bagi siapapun yang melaksanakannya pada hari ini. Tuhan memberkati :)

Pagi ini, saya bangun dengan mata benar-benar mengantuk. Seusai doa pagi dan saat teduh, saya membaca inbox handphone saya. Tidak ada message baru. Pheww.. saya harus membiasakan diri untuk mengahadapi sepinya handphone akhir-akhir ini :D

Tidak ada yang saya lakukan, menatap langit-langit kamar, dan suara arina ephipania memenuhi kamar saya, This Conversation. Saya mengingat suara mas GG yang kemarin saya dengar dari handphone 2 hari yang lalu. Mas GG, mas yang pernah saya ceritakan, pria yang tidak jenuh untuk mencintai ayahnya secara penuh.

Kami bercerita panjang lebar. Tentang keluarganya, perkembangan adiknya, dan beberapa poin yang sempat tidak dijelaskan tapi akhirnya dijelaskan juga. Tapi poin yang paling saya sukai adalah saat saya bertanya : "ada 2 individu, dulu saling mencintai dan saling memprotective-kan, setelahnya mereka memutuskan untuk berjalan masing-masing. Si wanita masih benar-benar mencintai pria tersebut tapi pria tersebut dengan cepat sudah naksir dengan wanita lain. Apa tampang benar-benar menjadi jaminan? Semua laki-laki itu sama ya! Heran!" Mas GG berpikir lama sekali. Rasakan! Skak mat! :D

Beberapa menit kemudian..
Dia berkata, "Gini lho dek".
Saya menjawab, "Apa?"
"Setelah semua berakhir, akan ada banyak orang yang keluar masuk dalam hidup kita, entah itu menyenangkan atau tidak, tapi orang-orang yang keluar masuk tersebut pasti meninggalkan kesan dan rasa. Jadi mungkin, kemampuan untuk melupakan yang lalu itu agak cepat walaupun harus perlahan-lahan. Rasa itu bisa macem-macem, termasuk perasaan naksir dengan yang lain." Kata-katanya sih ga pasti kayak gini, tapi intinya sama seperti yang dia katakan.
"Oh" Saya menjawab pendek. Jawabannya tidak sesuai dengan yang saya mau. Dia menjawab secara umum. Padahal yang saya mau, dia juga mejelaskan kenapa dia (mas GG) melakukan hal yang sama? Mengakhiri dan naksir pada yang lain dengan begitu cepat.

Tapi kalau boleh saya berpendapat. Pendapat mas GG ada benarnya, ada benarnya jika dirasakan oleh orang yang KURANG PEKA. Hidup seseorang itu ya memang begitu. Ada yang datang dan pergi, lari dan berhenti, dan memang akan ada banyak orang yang mengisi. Tapi bagi seorang wanita, melupakan sesuatu yang pernah "mengisi" hidupnya itu tidak semudah pria mengganti pakaian atau mungkin pasangan. Dan akan teramat sulit untuk melupakan seseorang jika wanita itu tidak hanya mencintai pria tersebut tapi juga mencintai keluarganya. Wanita ya memang seperti itu, sulit melupakan dan sulit moving on. Wanita bukannya bersikap lebay, tapi mereka memang lebih perasa dan peka.

Copyright © ID Blog Kamu

Canvas By: Fauzi Blog, Responsive By: Muslim Blog, Seo By: Habib Blog