ID Blog Kamu: peristiwa

Tampilkan postingan dengan label peristiwa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label peristiwa. Tampilkan semua postingan

Rabu, 02 Januari 2013

2 Januari dan Kita

Tentangmu: 2 Januari 2011

Tentangmu: 2 Januari 2012
Halo, Tuan. Kita bertemu lagi di 2 Januari. Tanggal yang cukup penting bagiku, namun belum tentu penting bagimu. Ini sudah menjadi tradisi, sejak tiga tahun yang lalu. Tradisi semacam apa? Ya, seperti ini, aku senang menulis tentangmu berulang-ulang setiap tanggal 2 Januari. Sebagai pengingat bahwa dulu kita pernah berkenalan dan sempat dekat.

Cin... cino! Matamu yang sipit dan wajah orientalmu adalah potret yang tidak pernah aku lupakan. Bukan menjadi sesal, tapi sangat disayangkan jika selama tiga tahun ini, kita tak pernah begitu saling tahu, apalagi bertemu. Beberapa kali aku sempat mampir di kotamu, menikmati udara yang berembus manis di sana, berjalan-jalan ke daerah Malioboro— dekat dengan rumahmu.

Sungguh, kita sangat nyaman dengan ketidakjelasan seperti ini. Dulu, dulu sekali, beberapa tahun yang lalu, kedekatan kita adalah hal yang tak ingin aku sia-siakan. Bisakah manusia kecil seperti aku melawan kehendak Tuhan? Aku tidak sekuat itu. Perpisahan kita, yang terjadi tanpa dugaanku sebelumnya, tiba-tiba saja hadir. Kita, yang dulu adalah kutub selatan juga utara, yang saling tarik-menarik dan berdekatan, tak lagi punya alasan untuk berjalan sama-sama.

Tuan, aku sungguh tak percaya, hubungan kita yang berjalan singkat ternyata masih begitu melekat dalam ingatanku. Aku juga tak paham, mengapa sosokmu yang sempat begitu akrab di otakku telah berubah menjadi sosok yang tak lagi kukenal. Memang tidak ada kata pisah. Tidak juga ada ajakan untuk menyatukan aku dan kamu menjadi kita. Tapi, segalanya yang telah kulakukan bersamamu membawa kejutan dan kenangan tersendiri bagiku, entah bagimu.

Bolehkah aku bercerita tentang awal pertemuan kita? Mungkin, jika kamu menyempatkan diri untuk membaca, kamu akan bosan mendengar ceritaku. Pertemuan kita diawali dari sapaan terpendek di dunia, “Hai.” Cukup tiga huruf, dan itulah awal sederhana yang mengubah hidupku dan hidupmu. Sapa yang kulayangkan dari chat facebook itu berbuah balasan darimu. Sapaan iseng itu mengantarkan kita pada satu titik, titik ternyaman saat kita saling berkenalan. Aku mengetahuimu. Kamu juga mengetahuiku. Meskipun semua hanya maya, meskipun tak nyata, meskipun hanya lewat tulisan; kamu berbeda dan aku suka.

Kamu adalah veteran dari SMP Stella Duce dan juga veteran di SMA Kolese De Britto. Aku tahu kamu tidak nakal, Tuan. Kamu gigih dan selalu berjuang untuk yang ingin kauperjuangkan, tapi entah mengapa kautidak memperjuangkanku? Apa aku tak layak untuk diperjuangkan? Sudahlah, lupakan! Semua sudah lewat dan pertemuan kita harusnya bukan menjadi hal yang harus kusesali. Aku masih mengingat tentangmu. Tentang dedikasimu untuk PSS Sleman, kamu membuat kaos sebagai wujud kepedulianmu terhadap tim kesayanganmu. Kamulah yang berteriak lantang di depan para supporter Macan Demangan ketika DBL dimulai.

Waktu kita berkenalan, kamu masih SMA. Masih bersama kekasihmu yang dulu, yang seringkali kauceritakan padaku. Kamu... pria yang selalu lupa makanan apa saja yang masuk ke dalam mulutnya. Anak IPA berjiwa IPS. Pecinta Arsenal, penyuka PSS Sleman, penggemar Macan Demangan. Pria yang tak pernah mengeluh sakit dan selalu menggunakan infus untuk meredam nyeri. Keeper yang tak pernah sekalipun penampilanmu ditonton oleh wanita yang kaucintai. Kocak. Humoris. Supel. Dan, katanya, kamu seringkali membawa wanita berbeda ketika ada suatu acara di sekolahmu. Ah, Tuan, mengenai ini hanya soal gosip saja, tapi aku percaya kautidak seperti kata orang. Aku memercayaimu. Dan, apakah yang tidak kuketahui mengenai kamu?

Tuan, sudah tiga tahun, 2 Januari 2010 memang sudah terlewat. Aku juga sudah berubah, kamu juga sudah pasti berubah. Kenangan kita, hari-hari kita, segala yang terjadi di antara kita pasti sudah berubah. Kamu mungkin sudah melupakanku, melupakan setiap detail diriku yang pernah kuperlihatkan padamu. Segalanya pasti sudah berubah, Tuan. Tapi, kenangan tetap sama, meskipun orang-orang yang mengingatnya tak lagi sama.

Dulu, kita masih SMA. Sekarang aku dan kamu sudah merasakan bangku kuliah. Dulu, kita begitu dekat. Sekarang, kita bahkan tak saling kenal. Logiskah jika kamu yang tak pernah kutemui secara nyata bisa menyita perhatianku hingga sejauh ini?

Tuan, maafkan aku jika aku masih mengingatmu, masih ingin bercerita tentangmu, dan masih mengingat yang terjadi sewaktu kita masih bersama. Aku tahu ini semua salah, tapi menurutku bercerita tentangmu bukanlah hal yang salah.

Sekali lagi, selamat 2 Januari, Tuan.

Bersemangatlah di jurusan Hukum Universitas Gajah Mada yang sedang kautekuni. 

Tiba-tiba, aku merindukanmu.

Senin, 22 Oktober 2012

Perbedaan dan Air Mata






Matanya mengawasi saya sejak tadi, sejak saya mengetik dan menyeruput kopi. Dia terus bercerita, minta didengarkan, melihat sikap saya yang terus mengutak-atik laptop, Diana jadi kesal sendiri. Upss, saya mulai berani sebutkan namanya. Atas izin Diana, saya boleh menulis namanya. Wanita ini memang selalu diluar dugaan saya.  Wanita ini, dengan kerlingan matanya yang tajam sudah menyoroti saya. Dia juga tertawa terbahak-bahak ketika kisahnya tentang #CintaTapiBeda dilihat oleh puluhan ribu pasang mata. Aneh, mengapa dia begitu senang ketika kisah nyatanya saya tulis di blog pribadi saya? Saya kira dia akan marah, malu, kemudian membenci saya karena saya menulis posting-an blog berdasarkan kisah nyatanya.

Diana malah berterimakasih dengan mata berbinar, melihat komentar di bawah tulisan tersebut. Ia terharu karena kisahnya menginspirasi banyak orang agar menghargai dan menghormati perbedaan. Karena di luar sana, kadang kita tak tahu; bahwa perbedaan mampu menyakitkan bagi seseorang. Begitu juga bagi Diana, begitu juga bagi kekasihnya, Cahyo.

Mereka, seperti yang saya tuliskan kemarin, adalah pasangan beda agama. Diana, teman saya, seorang Khatolik sejati. Cahyo, kekasihnya, seorang Muslim. Berbeda dan berbenturan. Tapi, apakah karena perbedaan mereka dilarang jatuh cinta? Iya. Pasti. Tentu saja. Juga oleh kedua orangtua mereka.

Norma dan pandangan masyarakat tak mau tahu apa itu cinta, perasaan, juga pertemuan yang terjadi atas izin Tuhan. Diana dan Cahyo tak pernah bersungut-sungut pada Tuhan agar mereka dipertemukan lalu jatuh cinta. Tapi, mereka benar-benar bertemu, merasa nyaman, dan akhirnya bisa mendefinisikan arti cinta yang sesungguhnya; walaupun segalanya jadi tak mudah. Jujur, kisah mereka adalah kisah yang indah, bukan kisah-kisah manja, murahan, dan cinta-cintaan yang buang-buang waktu. Betapa indahnya pertemuan antara manusia dengan manusia, tanpa memikirkan segala atribut sosial yang mengekang kemanusiannya; agama.

Dalam kebahagiaan, kadang terselip tangisan. Dalam doa panjang untuk Tuhan, kadang terselip permintaan yang mungkin saja enggan Tuhan dengarkan. Tuhan yang mana yang sedang mendengarkan doamu? Tuhan yang menciptakan hujan? Tuhan yang menciptakan tulang rusuk untuk seorang pria? Tuhan yang menciptakan agama? Tuhan mencipta agama? Lucu.

Agama. Agama. Agama. Cinta. Cinta. Cinta. Tuhan. Hantu. Tuhan. Saya sedang sedikit emosional dan terbawa oleh ceritanya. Ketika semua orang, yang tahu kisah Diana dan Cahyo menganggap mereka pasangan “kutukan”. Begini, mereka hanya jatuh cinta, dan memperjuangkan yang bagi mereka harus diperjuangkan; apa salah mereka hingga banyak orang menilai mereka seperti sampah?

Apalagi, kedua orangtua. Memang, orangtua selalu inginkan yang terbaik bagi anaknya, bagi keturunannya, tapi terlalu menyakitkan bagi Diana dan Cahyo jika mereka harus berpisah hanya karena berbeda. Apakah tak ada jalan lain untuk menyatukan? Apakah orang-orang sekitar tak lagi peduli dengan perasaan dan perbedaan?

Memang, Diana dan Cahyo berbeda, tapi... APA SALAHNYA? Tidak dapat dipungkiri memang, orangtua juga ingin memiliki keluarga baru yang memiliki kesamaan dengan beliau-beliau. Manusia selalu takut dengan perbedaan, mereka selalu nyaman dengan hal yang terlihat sama di mata mereka. Padahal, berbeda belum tentu salah, dan punya kesamaan belum tentu benar. Seharusnya perbedaan ada bukan untuk disalahkan, dihakimi, lalu dianggap seakan-akan ada. Bukankah perbedaan harusnya jadi “sarana” untuk mengenal dan saling melengkapi?

Cinta milik Diana dan Cahyo memang terjadi begitu saja, tanpa sutradara, karena bukan drama. Diana mencintai Tuhan, begitu juga dengan Cahyo; walaupun mereka beribadah di tempat yang berbeda. Salahkah mereka?

Apakah perbedaan yang Tuhan ciptakan hanya akan jadi penghalang?

Dalam dingin yang menusuk-nusuk tulang
Saya tak lagi paham
Apakah cinta dan agama tak layak disatukan?

Selasa, 16 Oktober 2012

Beda Cinta, Setipis Keyakinan

Saya mengingat lagi cerita teman saya. Baru beberapa hari saya temui dia di cafe, di bilangan Depok, Jawa Barat. Jujur, pikiran saya masih terbebani oleh cerita yang ia ungkapan. Tentang hubungannya, tentang kekasihnya, yang jauh dari kata normal. Iya, mereka berbeda, tidak sama seperti orang lainnya.

Ketika dia bercerita dengan menggunakan air mata, saya tahu bahwa beban yang ia pikul sangatlah berat. Air mata yang saya lihat hari Rabu kemarin adalah luapan emosinya yang sempat tertahan. Saya bisa rasakan sakit yang memukul-mukul perasaannya. Tapi, dalam duk, masih terselip kebahagiaan yang mampu ia ceritakan pada saya, walau dengan suara tertatih, walau dalam halaan napas lirih.

Jatuh cinta adalah dua kata yang sulit dijelaskan. Tidak terdefinisikan. Soal hati, kata-kata seakan tak ahli untuk memaparkan juga mendeskripsikan. Saya tidak akan berbicara tentang cinta, juga tentang mimpi omong kosong yang diciptakan saat hadirnya cinta. Ini semua soal kenyataan, soal dunia yang begitu klise. Agama.

Air mata memang sia-sia,  karena yang dibutuhkan di sini adalah kedewasaan. Semua berawal manis dan indah. Teman saya, awalnya memang bercerita dengan senyum sumringah. Ia berkenalan dengan seorang pria, secara tidak sengaja. Tentu saja, kita seringkali menganggap banyak hal terjadi karena kebetulan. Kebetulan mungkin adalah rencana Tuhan yang belum benar-benar kita pahami.

Tatapan mereka saling beradu, hanya senyum dan tawa yang tercipta kala itu. Teman saya, wanita beragama Khatolik tersebut, baru selesai pentas tari. Lalu, dunia berkonspirasi, mempertemukan dia dengan seorang pria, yang membuat hatinya merasa nyaman. Pria yang tiba-tiba merangsuk masuk dalam ingatan dan jengkal napasnya.

Indah memang, cinta mengubah segala yang hitam putih menjadi warna-warni. Tumpukan kebahagiaan semakin sempurna, ketika perkenalan teman saya dan pria itu berlangsung ke tahap yang lebih dalam, lebih dekat.

Segalanya terasa manis, walaupun juga terasa asing. Rasa nyaman itu kini berangsur berubah menjadi rasa takut kehilangan. Mereka berusaha untuk saling melindungi satu sama lain. Mungkin, ketika salib berada dalam genggaman tangan teman saya, dan ketika tasbih berada dalam genggaman pria itu; dengan air mata, mereka saling mendoakan.

Saya bisa rasakan kehangatan mereka. Sangat hangat. Sangat dekat. Saya iri, mengingat hubungan saya yang lebih dulu kandas termakan perpisahan. Saya dan pria di masa lalu tersebut tidak sekuat dan setegar teman saya. Oh, jadi curhat. Sungguh, saya benci membahas masa yang tak ingin saya ingat lagi. Teman saya dan kekasihnya masih terus mempertahankan walau mereka berbeda. Perbedaan keyakinan bukan alasan untuk tidak saling jatuh cinta.

Inilah yang membuat saya semakin terharu, teman saya menunggu kekasihnya shalat di masjid. Ia menunggu dengan sangat sabar meskipun lirikan mata yang tajam tertuju padanya.

Dalam perbedaan, mereka saling menguatkan. Keindahan mereka sampai pada kelopak mata saya. Saya tak tahu harus berkomentar apa. Terharu? Prihatin? Sinis?

Hey, mereka berbeda dari pasangan yang lainnya. Mereka bukan pasangan bermanja-manja yang mabuk kepayang akan cinta, saling bergelayut mesra dalam pelukan. Sampah. Pacaran model cinta monyet. Teman saya dan kekasihnya sungguh berbeda, mereka punya kebahagiaan yang tak dimengerti banyak orang. Kebahagiaan yang belum tentu bisa dirasakan oleh banyak orang yang sibuk menghakimi hubungan mereka.

Apa yang membuat dua orang saling memperjuangkan jika bukan karena cinta?

Rabu, 10 Oktober 2012

Salahkah jika Melipat Tangan dan Menengadahkan Tangan Bersatu?

Setiap bertemu dengan saya, dia banyak diam. Dia hanya bercerita tentang karier menarinya yang cukup mengagumkan. Hal yang selama ini ia perjuangkan terlihat mulai membuahkan hasil. Kelurga, waktu, usaha, dan tenaga telah ia korbankan untuk mimpinya; menari di atas panggung.

Ini pertemuan saya yang terjadi secara kebetulan, kami bertemu di Margocity, Depok, Jawa Barat. Dia tidak bersama kekasihnya, saya bertanya-tanya. Adakah sesuatu yang salah? Melihat kejanggalan tersebut, saya banyak diam. Namun, ia mengajak saya sekadar ngopi dan ngobrol, saya tak mampu menolak, kami sudah tidak saling bertukar kabar beberapa minggu ini.

Topik utama masih tentang kuliah saya sebagai mahasiswa baru dan ia bercerita tentang kariernya yang mulai bersinar. Saya ikut bangga punya teman yang memperjuangkan mimpinya dengan sangat berani dan nekat. Namun, air wajahnya berubah ketika ia bercerita tentang kekasihnya, yang memanggil nama Tuhan dengan sebutan berbeda. 

Mungkin, inilah definisi menyakitkan yang sesungguhnya. Saya sendiri tak mampu mendeskripsikan rasa sakit dalam rangkaian kata, karena perasaan itu benar-benar dirasakan oleh hati, sedangkan apa yang dirasakan hati begitu sulit disentuh oleh logika kata dan kalimat. Dan, kata menyakitkan itu berasal dari kesulitan untuk menyatukan dua orang yang beribadah di tempat yang berbeda. Menangkap maksud saya? Absurd, abnormal, sulit dipecahkan, inilah yang muncul dalam benak saya ketika ia kembali bercerita tentang hubungannya yang berbeda, yang penuh perjuangan dan peluh.

Saya paham, ketika dia harus berkali-kali menghela napas ketika bercerita tentang beban yang memberatkan langkahnya selama ini. Saya juga mengerti ketika matanya mulai berkaca-kaca setiap kali nama pria itu disebutkan olehnya. Saya juga memaklumi jika ia harus mengangkat wajahnya berkali-kali, menahan matanya yang berair agar tetap terlihat kuat dan tegar. Kedewasaannya sungguh diuji, ia berusaha terlihat sangat tegar dan sangat kuat di hadapan saya. Mungkin, dia sangat memercayai saya, karena saya pernah mengalami hal serupa, walaupun pada akhirnya saya juga terluka.

Dia terus bercerita, semakin banyak ia bercerita semakin saya memahami isi hatinya. Ada sesuatu yang ia perjuangkan di sini, agak ironis dan klise jika saya katakan, dan sangat munafik jika saya menyembunyikan apa yang saya tangkap. Iya, dia memperjuangkan; cinta.

Kamu tertawa, jelas. Cinta, di mata beberapa orang hanyalah omong kosong yang jauh dari kata nyata. Beberapa orang beranggapan bahwa cinta bukanlah hal yang harus benar-benar diperjuangkan. Makanya, cinta bisa terpisah karena perbedaan. Suku, ras, status sosial, dan lebih menyakitkan lagi jika berpisah karena agama. Hanya karena teman saya melipat tangan dan kekasihnya menengadahkan tangan, berarti mereka dilarang untuk saling jatuh cinta?

Hal ini sungguh menganggu pikiran saya. Mungkin, saya terlalu perasa, hingga saya tak pernah tahan melihat seseorang terluka bukan karena sakit yang ia buat sendiri. Iya, saya begitu yakin, sakit dan air mata yang ia rasakan bukanlah sakit yang ia buat sendiri. Saya percaya dia dan kekasihnya saling jatuh cinta, mereka saling menjaga dan tidak mungkin saling menyakiti. Tapi, keadaan, orang-orang sekitar, juga orang lain yang bahkan tak terlalu mengenal mereka telah menciptakan pandangan yang salah. Pandangan yang memojokan teman saya dan kekasihnya. Mereka memang berbeda, salib dan tasbih, tapi bisakah dunia berhenti menyakiti mereka? 

Ketika pembicaraan berakhir, saya tidak memberi solusi apa-apa. Apa yang bisa saya berikan? Saya hanya mampu menyediakan telinga, juga hanya mampu menepuk pundaknya berkali-kali, berkata "sabar" tanpa henti. Saya sendiri benci dengan tindakan saya selama ini, saya banyak diam dan membiarkan teman saya dalam kesedihannya sendiri. 

Tuhan, agama, dan norma, begitu klise dalam kacamata saya. Segalanya begitu kompleks, sampai-sampai saya tak paham lagi, apakah Tuhan yang begitu suci dan agung pantas diterka-terka isi hatiNya oleh manusia?

Selasa, 11 September 2012

Cintaku, Cintamu, Beda!


Saya hanya mampu menepuk bahunya berkali-kali dan hanya mampu mengucapkan kata “sabar”. Matanya sudah bengkak, wajahnya tak lagi bersinar seperti saat ia baru datang untuk menceritakan segalanya pada saya. Raut wajah itu menggambarkan luka yang tidak dapat lagi dibahasakan melalui frasa-frasa kata. Dan, melalui ceritanya; baru kali ini saya bisa merasakan, sakitnya mencintai hanya karena dibatasi oleh perbedaan.

Padahal, wanita ini punya alasan untuk selalu tersenyum dan bahagia. Wajahnya bagaikan pahatan sempurna jemari Tuhan, percampuran darah Jawa dan Padang. Zodiaknya Leo, saya percaya dia wanita yang tangguh. Boleh dibilang selain tangguh, dia juga nekad, begitu saja meninggalkan kota Padang demi mengejar cita-citanya untuk menjadi penari. Dia sangat jatuh cinta pada dunia tari. Tari layaknya napas yang mendenyutkan peredaran darahnya hingga saat ini. Ia berasal dari keluarga yang sangat menyayanginya, menjadi anak ketiga dari empat bersaudara adalah cara Tuhan mengajarinya banyak hal, salah satunya- CINTA!

Berbagai peristiwa membuka matanya, sampai pada akhirnya ia bertemu seorang pria; pria yang mengajarinya banyak hal dengan cara yang tak biasa. Mereka saling bertatapan ketika wanita ini sedang berusaha meredam rasa demam panggungnya sebelum pentas tari. Pertemuan mereka tidak terencana, seakan-akan dunia sengaja berkonspirasi untuk menjebak mereka dalam sebuah ilusi nyata, lalu terciptalah pertemuan absurd. Sulit dijelaskan, bagaimana pertemuan nyata bisa mengubah cara pandang seseorang. Dan, ternyata tanpa mereka minta, jemari hangat cinta telah meremas hati mereka yang beku. Cinta datang dengan tiba-tiba, senyata-nyatanya, seada-adanya... begitu saja.

Pria ini adalah seorang juru masak, dan wanita yang kudengarkan ceritanya tadi sangat jatuh cinta pada setiap masakan yang dihasilkan jemari sang pria. Cinta semakin mengambil alih, mereka sama-sama larut dalam kebahagiaan yang tak lagi terhitung. Hanya ada senyuman tulus yang mengalir dalam setiap detik kebersamaan mereka. Cinta telah membuat jiwa mereka seakan-akan berada di Taman Firdaus, tapi kenyataan hanya bisa membuat mereka seakan terusir dari keindahan dan kemegahan Taman Firdaus. Lagi dan lagi, karena perbedaan. Perbedaan macam apa yang bisa merenggut semua kebahagiaan seseorang?

Wanita ini sedang memanggil Tuhan, menyebut nama Tuhan seperti biasa, sambil melipat tangan dan salib Yesus yang melingkar di lehernya seakan turut meremas segala kecemasan yang bergumul dalam hatinya. Pria ini sedang bersujud, mengajak Tuhan berbicara dengan bahasa yang berbeda, terjadi percakapan sederhana dengan bulir air mata. Segalanya berbeda, tapi cinta membuatnya menyatu. Segalanya tak mungkin disatukan, tapi cinta membuat dua orang berjuang bahkan untuk hal yang mustahil sekalipun.

Awalnya, mereka memang masih berproses untuk menerima dan menormalkan segalanya agar tak terlihat seperti masalah besar. Perbedaan di antara mereka seringkali dijadikan bahan candaan, juga kadang dijadikan sebagai bahan perenungan.

“Menurut kamu, hubungan kita ini akan berakhir manis apa enggak?” tanya wanita ini, dengan wajah penasaran dan tatapan minta diberi penjelasan.

Lama sekali pria ini berpikir.  Ia tak mau terlihat rapuh di depan orang yang ia cintai. “Yakinlah berhasil. Karena pikiran kita akan menuntun pada keberhasilan itu,” ucap pria ini mantap.

“Tapi dalam sejarah, karena keyakinan kita berbeda membuat hubungan ini tidak mudah.” terdengar nada keraguan dari bibir sang wanita. “Pasti ada yang terluka. Padahal cinta harusnya membahagiakan.”

Bagi saya, mereka terlalu manis juga terlalu romantis. Di mata saya, mereka adalah sosok pasangan yang sangat kuat. Mereka berusaha membuktikan pada dunia bahwa mereka hanya jatuh cinta, bukan berzinah layaknya ungkapan orang-orang yang sok ahli dalam bidang agama. Perjuangan mereka menemukan banyak kerikil dan tikungan tajam, air mata dan tawa bergantian menggores bibir. Dan, cinta... membuat mereka percaya, tak ada yang sia-sia jika mereka masih ingin berusaha.
                                                                                                                   
Dalam canda, wanita ini sering menggoda sang pria. “Kamu harus bisa masakin keluargaku babi rica. Enak lho! Kamu harus mencoba”.

“Kalau kamu makan babi rica aku akan temani, tapi nggak akan aku memakan makanan itu”.
Seloroh pria itu dengan candaan yang tak kalah lucu. Dan, mereka tertawa lepas. Masih bisa tertawa bahkan dalam kekhawatiran mereka.

Semua masih bercerita tentang bahagia, bahagia, dan bahagia. Mereka masih bisa menertawakan perbedaan yang terjadi di antara mereka. Mereka tak ingin mengungkit luka yang sebenarnya perlahan-lahan sudah tergores; sejak mereka tahu perbedaan tak mudah untuk diperjuangkan.

Dan, apakah hanya untuk bahagia, mereka perlu meninggalkan Tuhan dan menutup telinga terhadap perkataan orang?

Untuk teman saya yang belum berani saya sebutkan namanya
Kuatlah, Teman...
Mereka yang di luar sana tak pernah tahu apa yang kaurasakan
Mereka mencibirmu, memakimu, dan menghakimimu
Karena mereka tak pernah tahu... siapa dirimu sebenarnya.

Minggu, 05 Agustus 2012

Selamat Ulangtahun Cinta Pertama

Tulisan setahun yang lalu: 5 Agustus 2011 :)

Sudah satu tahun sejak tulisanku yang lalu, mungkin saja kamu yang hari ini berbeda dengan kamu yang setahun yang lalu. Kamu telah bertumbuh menjadi seorang pria dewasa yang memilih luar kota sebagai tempatmu meraih dan menimba ilmu. Sungguh, sepertinya kita semakin jauh. Dan, kita telah lupa untuk saling mengingat, juga merasakan yang pernah terjadi dulu.

Waktu bergerak dengan begitu cepat, pertemuan dan perpisahan berganti-ganti seperti pakaian yang melekat di tubuh kita. Dulu, kamu masih laki-laki dengan rambut keriting yang senang mengerjakan soal matematika. Dulu, aku hanyalah perempuan lugu yang senang dengan pelajaran bahasa Indonesia. Kita berproses dalam waktu, bertambah dewasa dalam takdir yang kita tekuni, semua sudah berbeda dan tak lagi sama.

Apakah kamu masih menjadi laki-laki dengan senyum manis yang seringkali kucuri keindahannya, dengan diam-diam menatapmu? Apakah kamu masih orang yang sama, pria dengan sikap sederhana yang mampu melayangkan setiap bayang-bayang menjadi kebahagiaan yang mengalir pelan? Ceritakan padaku, apa yang kau alami selama setahun kemarin? Kebahagiaan yang berlipat-lipatkah? Aku yakin, kamu selalu bahagia, karena kebahagiaanmu masih sering kurapal dalam doa.

Kita sudah lama tak saling bertatap mata, tapi aku tak pernah lupa sinar matamu ketika menatapku dengan lugu. Aku tak bisa melupakan senyummu yang seringkali membuatku bertanya-tanya, tak ada diksi yang pas untuk mengungkapkan perasaanku dulu. Mungkin, kamu masih ingat, kita dulu masih sangat kecil untuk berbicara dan berbincang tentang cinta. Karena hatimu dan hatiku belum siap memahami yang telah terjadi saat itu, kita menajalani banyak perasaan yang terkesan maya tapi terasa begitu nyata. Setiap pertemuan adalah goresan baru dalam kertas putih, aku berharap tak ada penghapus yang mampu menghilangkan hari-hari menyenangkan yang pernah kita lalui dulu.

Kamu mengajarkanku banyak rasa. Dari rasa canggung, malu, bingung, berbohong pada perasaan sendiri, memendam, dan enggan banyak berkomentar. Sosokmulah yang telah memacu aku bercerita lewat puisi, puisi pertamaku bercerita tentang hal sederhana yang kita lewati. Pemilihan katanya masih begitu berantakan, mungkin jika saat itu kutunjukkan padamu, kamu pasti tertawa mengejekku. Lalu, mengetuk mejaku dengan jemarimu yang kecil dan gendut-gendut. Betapa manisnya kita dulu, sayang semua hanya kenangan yang tak bisa terulang. Semua seperti mimpi yang sulit diputar ulang kembali. Seandainya hidup adalah kaset rusak, aku ingin terus kembali memainkan lagu yang sama, lagu yang terdengar indah dan mesra... saat-saat keluguaan kita membiarkan cinta ada dan bertumbuh.

Diumurmu yang semakin bertambah, delapanbelastahun rupanya, tahun lahir kita sama namun tanggal dan bulannya berbeda. Aku hanya ingin mendoakan cita-cita dan harapanmu yang dulu sempat kauceritakan. Kamu bilang, kamu mau jadi pilot, lalu aku jadi teknik sipil. Ingat? Lucu ya, melihat kenyataan yang ada. Kamu sekarang jurusan Teknik Elektro, dan aku sekarang jurusan Sastra Indonesia. Rindukah kamu dengan percakapan-percakapan kita yang mengundang tawa itu? Dengan riuhnya kelas yang tak terlalu menganggu pembicaraan kita, kamu mengubah posisi dudukmu, memutar bangkumu hingga menyentuh mejaku. Kita memangku dagu, lalu bercerita, berkhayal, bermimpi, seperti anak SD lainnya.

Dulu, aku tak pernah berpikir untuk memperjuangkan kamu. Aku hanya tahu, kalau perasaanku begitu unik dan menyenangkan. Kamulah yang pertama kali membuat hatiku tergoncang. Aku masih ingat betul, saat kita berjalan di lorong-lorong kelas, mencuci tangan di wastafel dekat ruang guru. Mencari-cari tempat yang tak terlalu panas saat senam pagi di hari Jumat. Membeli makanan di sebelah kantin kelas kita dulu. Nampaknya, tempa-tempat yang kita kunjungi bersama sekarang sudah banyak berubah. Begitu juga aku dan kamu yang banyak berubah. Perasaanku memang tak lagi sama, tapi entah mengapa aku tak bisa melupakan kenangan yang sudah lebih dulu terjadi. Di balik ingatan yang ada, menyakitkan memang jika aku selalu mengingat banyak hal yang tak pernah sepenuhnya kamu ingat.

Kita sudah sangat lama tak bertemu, bagaimanakah wajahmu? Masihkah tatapanmu lembut seperti dulu? Apakah suaramu masih hangat dan tawa renyahmu masih begitu menyejukkan? Berbahagialah diumurmu yang baru, semoga kebahagiaan dan sepaket cita-citamu selalu terwujud bersama dengan kuatnya usahamu.

Tadi kamu cerita

Natal adalah salah satu hari yang paling kautunggu
Kelas empat, lima, dan enam membentuk regu
Paduan suara yang dilatih guru

Di aula sekolah kita
hiasan warna-warni bergantungan
Pak Padi, Pak Siregar, Ibu Lasni, dan Ibu Anita
Kita semua gembira

Tapi, aku kaget
waktu kamu bilang
ada lagi hal yang paling kautunggu
Menghias kelas bersamaku
seperti saat kita menghias telur
pada perayaan Paskah

Aku bingung
kenapa harus aku?
memangnya kalau sama ketua kelas kita kenapa?
Kamu diam
Tidak jawab?
Kalau boleh aku menjawab
Aku juga suka Natal
apalagi jika aku duduk si sampingmu
saat ibadah

Tugasku membuka Perjanjian Lama
Tugasmu membuka Perjanjian Baru
Satu Alkitab ada di tangan kita
Kamu menyentuh tanganku

Aku mau waktu berhenti.

Puisi bodoh dengan diksi yang berantakan ini masih kusimpan, terlalu jujur, tak ada rasa malu. Dan, tiba-tiba saja, rasa itu menyembul lagi, ingatan itu muncul lagi.

Aku merindukanmu.

Senin, 02 Januari 2012

2 Januari dan Kamu

13255079651046653122


Silahkan, lihat tulisan sebelumnya yang saya posting 2 Januari 2011 lalu: “2 Januari Begitulah Kita yang Berbeda“

Aku hanya memerhatikanmu dari sudut dunia maya yang tak tersentuh. Aktivitas sehari-harimu kupantau lewat tulisan bisu yang bernama status Facebook. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, sudah sebulan sejak aku pertama kali menambahkanmu sebagai teman di Facebook, sudah sebulan aku memerhatikanmu diam-diam, tanpa berani menyapamu lebih dulu, tanpa mau mengusik aktivitasmu. Itulah aku, yang diam-diam memerhatikan sosokmu.

Kala itu, 2 Januari 2010, masih ingatkah dengan sepotong kata itu? Satu kata yang mampu mengubah semuanya, satu kata yang mampu mengisi tahun itu dengan kebahagian-kebahagiaan kecil, satu kata yang mampu menjadikan hari-hariku begitu berwarna. Kata "hey" yang mampir dalam chatbox-mu benar-benar membawa kebahagiaan kecil buatku, kaujawab dengan santai dan ringan, lalu kita tertawa, lalu kita bercanda, lalu kita saling berbicara, walau hanya sekadar lewat tulisan, walau hanya melalui jentikan jemari di atas keyboard laptop.

Sementara aku dan kamu membiarkan semuanya mengalir, entah mengapa selalu ada senyum kecil tiap kali sms-mu nongol di inbox handphone-ku. Entah mengapa selalu ada kupu-kupu yang menari di perutku setiap kali perhatian sederhana yang kauberikan menghangatkan hari-hariku. Kamu sempat menjadi sebab senyum dan tawaku setiap harinya.

Kamu, pria cerdas yang begitu mencintai PSS Sleman dan Arsenal. Pria dengan pola pikir yang berbeda dari orang-orang lainnya. Menurutku, cara pikir seperti kamulah yang akan mengubah sepakbola Indonesia! Ingat waktu kita pernah becanda banyak hal tentang sepakbola Indonesia? Kamu ketua PSSI, aku ketua PSS Sleman. Kamu memajukan sepakbola Indonesia, aku memajukan sepakbola Yogyakarta. Alangkah indahnya masa-masa itu, masa dimana masih ada kamu. Masa di mana aku masih begitu mudah untuk menghubungimu.

Kamu, si wajah oriental dengan mata sipit. Si kulit putih yang juga jago motret. Si cerdas mantan anggota presidium. Siswa salah satu sekolah homogen pria di Yogyakarta. Si cangkeman yang jadi pentolan yel-yel DBL. Penderita buta warna parsial yang mendesain replika kaos latihan PSS Sleman untuk dijual sebagai salah satu usaha untuk penambahan dana. Anak IPA dengan jiwa sosial yang tinggi. Pecinta group musik Mocca. Penyuka musik jazz. Cino jowo dengan wajah boyband korea. Pria yang punya pendapat berbeda tentang tempat prostutusi di Yogya a.k.a Sarkem. Ah, apa yang tidak kuketahui tentangmu? Semua hal tentangmu tak pernah kecil di mataku.

Dua tahun sudah peristiwa itu berlalu, kini aku lanjutkan hidupku, dan kaulanjutkan hidupmu. Kini kautemui wanita pilihanmu, dan aku temui pria pilihanku. Kita punya jalan masing-masing, kita punya ruang dan waktu masing-masing. Kamu di Yogya, aku di Bogor. Jarak tak pernah adil; tak mampu menyatukan kita yang begitu berbeda.

Setidaknya, kaupernah datang dalam hidupku dan mengajariku banyak hal. Dalam waktu singkat aku mengenalmu, dalam waktu yang lama, aku masih mengingatmu. Masih ingatkah kamu dengan lagu pertama yang kamu berikan padaku? "This Conversation" yang dinyanyikan oleh Mocca. Ada syair yang sama-sama kita suka, "Oh, I can't tell, cause you make me feel so loved." yayaya! Kamu memang membuatku jatuh cinta! Entah bagaimana perasaanmu?

Aku menulis ini ketika "This Conversation" menyentuh lembut gendang telingaku. Tiba-tiba wajahmu muncul, perhatianmu hadir kembali, sungguh aku tak mau peduli, lagu ini benar-benar menyudutkanku setengah mati! Sebuah lagu memang mampu menjebloskan seseorang kembali mengingat masa lalunya. Lagu kedua yang kudengar, ya lagu yang dulu aku dan kamu juga suka. Bulan yang Sama! Bait yang paling kita suka, "Lihatlah bulan yang sama agar kita merasa dekat!" yayaya! Tiba-tiba saja aku merindukanmu! Sial! Padahal sudah lewat dua tahun! Padahal kita sudah benar-benar tak saling komunikasi. Tapi, itulah sebabmu hadir dalam hidupku, menghasilkan rindu meski pertemuan tak pernah terjadi hingga saat ini. 2 tahun kisah itu ada, 2 tahun pula kita tak pernah saling bertatap mata.

Selamat 2 Januari :) Goalkeeper dengan jutaan prestasi, Goalkeeper calon ketua umum PSSI!

Masih ingin memajukan sepakbola Indonesia? :)

Rabu, 05 Oktober 2011

Untuk seseorang yang mungkin tidak akan pernah membaca tulisan ini

Aku bosan ketika bangun pagi hari hingga tidur malamku selalu diisi pertengkaran kecil dan bahkan pertengkaran yang cukup besar. Di mana dia selalu ingin menjadi pemenang, di mana dia selalu ingin menjadi aktor utama. Sementara aku, hanya pemain figuran yang tidak berhak melawan, posisiku hanya seseorang yang pasif yang mencoba mengerti semua perlakuannya walaupun ada banyak gejolak untuk melawan.

Ada saja hal-hal kecil yang dia jadikan sebagai acuan untuk berdebat panjang. Masalah komunikasi, masalah perhatian, masalah waktu, dan masalah-masalah lainnya yang selalu terlihat besar saat ia melebih-lebihkannya. Memangnya aku ini tempat sampah, "tempat" dimana ia menumpahkan segala kekesalan dan amarahnya saat ia merasa lelah dengan dunianya? Apa dia tak pernah berpikir bahwa aku sama seperti dia, yang juga punya perasaan? Apa dia tahu, bahwa menjadi aku bukanlah hal yang mudah?

Seringkali aku merasa risih dengan semua hal yang ia lakukan padaku. Rasanya sehari seperti sebulan lamanya. Seringkali aku terdiam melihat semua mengalir tanpa persetujuan dan keinginanku. Seringkali aku ingin lepas, tapi aku merasa jeratan itu masih terlalu kuat. Aku lelah menjalani hubungan yang hanya berjalan di tempat, di mana hanya ada satu orang yang berkorban demi satu orang lainnya. Di mana hanya ada aku yang berlelah sendirian hanya untuk menjaga yang seharusnya kulepaskan.

Dan, untuk kamu, ya kamu! Pria yang dulu pernah kucintai dan kukagumi sebelum aku bertemu dengannya. Jujur, aku merindukanmu. Merindukan sosok dewasa yang dulu pernah menopang dan menegakkan langkahku. Aku merindukan suaramu yang dulu menelusup lembut ke dalam telingaku. Aku merindukan sosok sederhanamu dengan tinggimu yang 196 sentimeter itu. Sekarang, aku tahu bagaimana rasanya bila tidak ada kamu yang mengisi hari-hariku. Sekarang, aku tahu rasanya jika saat bangun pagi tak ada sapamu di inbox handphoneku. Aku benar-benar kehilangan sosokmu. Aku benar-benar takut kehilangan sebagian dari diriku saat aku juga kehilangan kamu.

Ingin rasanya kembali ke masa lalu, ketika masih ada kamu, ketika aku masih bisa tersenyum saat bangun pagi hingga tidur malamku. Saat kamu masih menganggapku lebih dari teman, saat ungkapan rindumu masih sering kudengar dari bibir tipismu, saat kehadiranmu bagai aktor utama drama yang kutunggu-tunggu kemunculannya. Aku masih saja sering memerhatikan nomor handphonemu, menimbang-nimbang apakah aku harus mengirim pesan terlebih dahulu atau aku saja yang menunggumu? Ah... tapi kamu terlalu sibuk, bahkan hanya untuk sekadar sms apalagi menanyakan kabarku.

Setelah kuputar ulang lagi rekaman otakku yang berisi tentangmu, aku mencoba untuk kembali mengingat perlakuan lembutmu dan perlakuan kasarnya. Aku mencoba  mengingat kesabaranmu saat menghadapiku, aku mencoba mereka-reka kembali ucapanmu saat menenangkan amarahku, aku mencoba mengintip kembali usaha-usaha yang kaulakukan agar hubungan kita tidak berjalan di tempat. Bayanganmu berputar-putar di otakku, suaramu terdengar menusuk-nusuk telingaku. Aku benar-benar kecanduan kamu, aku benar-benar kecanduan masa lalu. Aku semakin sadar bahwa tidak ada seorangpun yang bisa membuatku merasa berarti dan luar biasa selain kamu. Aku semakin yakin bahwa kamu adalah seseorang yang berusaha memperbaiki kesalahanku agar aku menjadi seseorang yang baru. Kamu menerimaku lalu menjaga perasaanku, dia menerimaku tapi berusaha merusak perasaanku.

Kali ini, aku tak merasakan kantuk sama sekali, rasa kantuk itu tak benar-benar berarti sampai aku bisa menuliskan ini, sampai aku bisa menikmati hadirmu lewat tulisanku. Aku menyesal kenapa semua hal-hal yang indah seringkali tak bisa terulang? Aku frustasi. Aku kebingungan. Aku butuh hadirmu. Aku butuh kata rindumu. Di mana kamu? Kautahu? Sejak kemarin aku mencarimu! Hubunganku dengannya diujung tanduk saat ini! Selamatkan aku, bukan selamatkan hubunganku!

Untuk seseorang yang mungkin tidak akan pernah membaca tulisan ini
06102011 01:37
aku merindukan suara beratmu.

Copyright © ID Blog Kamu

Canvas By: Fauzi Blog, Responsive By: Muslim Blog, Seo By: Habib Blog