ID Blog Kamu: surat cinta ♥

Tampilkan postingan dengan label surat cinta ♥. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label surat cinta ♥. Tampilkan semua postingan

Rabu, 02 Januari 2013

2 Januari dan Kita

Tentangmu: 2 Januari 2011

Tentangmu: 2 Januari 2012
Halo, Tuan. Kita bertemu lagi di 2 Januari. Tanggal yang cukup penting bagiku, namun belum tentu penting bagimu. Ini sudah menjadi tradisi, sejak tiga tahun yang lalu. Tradisi semacam apa? Ya, seperti ini, aku senang menulis tentangmu berulang-ulang setiap tanggal 2 Januari. Sebagai pengingat bahwa dulu kita pernah berkenalan dan sempat dekat.

Cin... cino! Matamu yang sipit dan wajah orientalmu adalah potret yang tidak pernah aku lupakan. Bukan menjadi sesal, tapi sangat disayangkan jika selama tiga tahun ini, kita tak pernah begitu saling tahu, apalagi bertemu. Beberapa kali aku sempat mampir di kotamu, menikmati udara yang berembus manis di sana, berjalan-jalan ke daerah Malioboro— dekat dengan rumahmu.

Sungguh, kita sangat nyaman dengan ketidakjelasan seperti ini. Dulu, dulu sekali, beberapa tahun yang lalu, kedekatan kita adalah hal yang tak ingin aku sia-siakan. Bisakah manusia kecil seperti aku melawan kehendak Tuhan? Aku tidak sekuat itu. Perpisahan kita, yang terjadi tanpa dugaanku sebelumnya, tiba-tiba saja hadir. Kita, yang dulu adalah kutub selatan juga utara, yang saling tarik-menarik dan berdekatan, tak lagi punya alasan untuk berjalan sama-sama.

Tuan, aku sungguh tak percaya, hubungan kita yang berjalan singkat ternyata masih begitu melekat dalam ingatanku. Aku juga tak paham, mengapa sosokmu yang sempat begitu akrab di otakku telah berubah menjadi sosok yang tak lagi kukenal. Memang tidak ada kata pisah. Tidak juga ada ajakan untuk menyatukan aku dan kamu menjadi kita. Tapi, segalanya yang telah kulakukan bersamamu membawa kejutan dan kenangan tersendiri bagiku, entah bagimu.

Bolehkah aku bercerita tentang awal pertemuan kita? Mungkin, jika kamu menyempatkan diri untuk membaca, kamu akan bosan mendengar ceritaku. Pertemuan kita diawali dari sapaan terpendek di dunia, “Hai.” Cukup tiga huruf, dan itulah awal sederhana yang mengubah hidupku dan hidupmu. Sapa yang kulayangkan dari chat facebook itu berbuah balasan darimu. Sapaan iseng itu mengantarkan kita pada satu titik, titik ternyaman saat kita saling berkenalan. Aku mengetahuimu. Kamu juga mengetahuiku. Meskipun semua hanya maya, meskipun tak nyata, meskipun hanya lewat tulisan; kamu berbeda dan aku suka.

Kamu adalah veteran dari SMP Stella Duce dan juga veteran di SMA Kolese De Britto. Aku tahu kamu tidak nakal, Tuan. Kamu gigih dan selalu berjuang untuk yang ingin kauperjuangkan, tapi entah mengapa kautidak memperjuangkanku? Apa aku tak layak untuk diperjuangkan? Sudahlah, lupakan! Semua sudah lewat dan pertemuan kita harusnya bukan menjadi hal yang harus kusesali. Aku masih mengingat tentangmu. Tentang dedikasimu untuk PSS Sleman, kamu membuat kaos sebagai wujud kepedulianmu terhadap tim kesayanganmu. Kamulah yang berteriak lantang di depan para supporter Macan Demangan ketika DBL dimulai.

Waktu kita berkenalan, kamu masih SMA. Masih bersama kekasihmu yang dulu, yang seringkali kauceritakan padaku. Kamu... pria yang selalu lupa makanan apa saja yang masuk ke dalam mulutnya. Anak IPA berjiwa IPS. Pecinta Arsenal, penyuka PSS Sleman, penggemar Macan Demangan. Pria yang tak pernah mengeluh sakit dan selalu menggunakan infus untuk meredam nyeri. Keeper yang tak pernah sekalipun penampilanmu ditonton oleh wanita yang kaucintai. Kocak. Humoris. Supel. Dan, katanya, kamu seringkali membawa wanita berbeda ketika ada suatu acara di sekolahmu. Ah, Tuan, mengenai ini hanya soal gosip saja, tapi aku percaya kautidak seperti kata orang. Aku memercayaimu. Dan, apakah yang tidak kuketahui mengenai kamu?

Tuan, sudah tiga tahun, 2 Januari 2010 memang sudah terlewat. Aku juga sudah berubah, kamu juga sudah pasti berubah. Kenangan kita, hari-hari kita, segala yang terjadi di antara kita pasti sudah berubah. Kamu mungkin sudah melupakanku, melupakan setiap detail diriku yang pernah kuperlihatkan padamu. Segalanya pasti sudah berubah, Tuan. Tapi, kenangan tetap sama, meskipun orang-orang yang mengingatnya tak lagi sama.

Dulu, kita masih SMA. Sekarang aku dan kamu sudah merasakan bangku kuliah. Dulu, kita begitu dekat. Sekarang, kita bahkan tak saling kenal. Logiskah jika kamu yang tak pernah kutemui secara nyata bisa menyita perhatianku hingga sejauh ini?

Tuan, maafkan aku jika aku masih mengingatmu, masih ingin bercerita tentangmu, dan masih mengingat yang terjadi sewaktu kita masih bersama. Aku tahu ini semua salah, tapi menurutku bercerita tentangmu bukanlah hal yang salah.

Sekali lagi, selamat 2 Januari, Tuan.

Bersemangatlah di jurusan Hukum Universitas Gajah Mada yang sedang kautekuni. 

Tiba-tiba, aku merindukanmu.

Minggu, 14 Oktober 2012

Dalam Jarak Sejauh Ini

Apa yang menyenangkan dalam jarak sejauh ini? Aku tak bisa menatapmu dan jemariku tak bisa menyentuh lekukan wajahmu. Apa yang bisa kita harapkan dari jarak ratusan kilometer yang memisahkan kita? Ketika rasa rindu menggebu, dan kutahu kautak ada di sisiku. Sejauh ini kita masih bertahan, entah mempertahankan apa. Karena yang kurasa sekarang, cintamu tak lagi nyata; selebihnya bayang-bayang.

Dalam jarak sejauh ini, mungkinkah kita masih saling mendoakan? Seperti saat kita dulu masih berdekatan. Aku tak lagi paham saat-saat dingin mencekam, kamu tak duduk di sampingku, juga tak mendekapmu dengan hangat. Aku tak lagi mengerti, saat air mataku terjatuh, hanya ada tanganku (bukan tanganku) yang menghapus basah di pipiku. Jelaskan padaku, apa yang selama ini membuatku masih ingin bertahan?

Aku hanya bisa menatap fotomu. Diam-diam merapal namamu dalam doa. Mendengar suaramu dari ujung telepon. Kulakukan semua seakan baik-baik saja, seakan aku tak terluka, seakan tak ada air mata; aku begitu meyakinkanmu, bahwa tak ada yang salah di antara kita. Dan, apakah di sana kaumemang baik-baik saja? Apakah rindu yang kita simpan dalam-dalam akan menemukan titik temu?

Sayang, aku lelah.

Pulanglah.

Selasa, 10 Juli 2012

Surat Cinta Untuk Jokowi

Untukmu, yang beberapa kali muncul di layar televisi.

Apa kabar, kamu? Apakah kamu kelelahan ketika melewati rentetan peristiwa yang terjadi beberapa minggu ini? Aku bisa menebak rasa lelahmu, karena kantung matamu terlihat jelas dan raut wajahmu yang tersenyum berusaha menyembunyikan lelahmu. Minggu-minggu ini memang sangat melelahkan, kamu berjuang mati-matian. Tapi, aku tahu kamu adalah pria yang kuat dan hebat, kamu sosok berkharisma yang merenggut perhatianku tanpa sisa.

Kampanye sudah selesai, euforia kota Jakarta masih terdengar riuh dan mengamit resah. Mereka bertanya-tanya, begitu juga aku yang terus bertanya. Bagaimana perasaanmu saat ini? Mungkinkah, kamu sedang mondar-mandir mengelilingi ruangan sambil mengunyah permen karet? Apakah tanganmu terasa dingin ketika hari pencoblosan sudah tiba? Kalau aku di situ, aku akan mengenggam tanganmu erat-erat, rapat-rapat, tanpa ucap.

Kamu, yang tak pernah terlewati dari sorotan mataku.

Apakah kamu mengenalku? Berkali-kali kita bertemu, namun dibatasi oleh layar kaca. Aku melihatmu, tapi kamu tak melihatku. Aku merasakan perasaan aneh yang bergelayut di otakku, entahlah mungkin aku mulai mengagumimu,  atau bahkan menggilai gerak-gerikmu. Aku seringkali menjerit dalam hati, ketika sosokmu kembali muncul di berita pagi, lalu menggebu-gebu di kabar siang, dan tersenyum penuh wibawa di guratan berita malam.

Sungguh, aku memikirkanmu. Dan berharap bisa menyalami tanganmu seperti orang-orang beruntung yang bisa menyentuh jemarimu. Aku ingin melihat wajahmu seperti orang-orang bernasib baik yang bisa menatap dalam-dalam wajahmu. Aku ingin banyak hal, tentangmu, tapi tak mungkin.

Aku terdiam dan tak melanjutkan obsesiku. Aku tak minta banyak hal, aku hanya ingin merasakan kehadiranmu dalam semestaku. Berubahlah menjadi apapun, asal kamu mengorbit dalam galaksi milikku.

Pria dengan tatapan sendu yang mengacaukan sel-sel impuls di otakku.

Kali ini, aku tak peduli, kau mau menganggapku wanita bodoh dengan banyak obsesi atau gadis setengah gila yang mengharapkan banyak hal. Aku hanya mengagumimu, bukan ingin merusak hari-harimu. Kamu orang besar, tenar, banyak orang yang menggantungkan nasib dan harapannya pada padamu. Aku hanya sebagian kecil dari mereka yang membutuhkan kamu dalam barisan hari-hariku.

Kamu bukan udara, oksigen, atau air. Tapi, sehari tanpa melihat senyummu, rasanya ada yang kurang. Minggu-minggu ini, aku mulai terbiasa menatapmu setiap hari dan terus-menerus, berganti-ganti channeltelevisi hanya untuk mendapati dirimu yang antusias membangun Jakarta menjadi lebih baik.

Aku ingin bersinggungan dengan tatapan matamu yang lembut, dan merasakan petasan Pekan Raya Jakarta meledak-ledak di jantungku.

Untukmu, pria pemilik senyum melankolik.

Sudahlah, kini kausudah paham tentang perasaanku, atau masih tak paham? Atau masih bingung? Atau masih geleng-geleng kepala? Percayalah, aku pun sama denganmu, kebingungan dan pusing tujuh keliling. Aku juga tak mengerti perasaanku. Aku hanya tahu rasa ini bertumbuh lebih cepat daripada yang kuduga. Tiba-tiba aku melihatmu, lalu kamu ada di kepalaku, lalu senyummu terus memenuhi labirin-labirin kosong di hatiku.

Apa yang harus kulakukan, Pak? Haruskah aku menyeret bayangmu hingga benar-benar keluar dari otakku? Aku tak bisa, dan tak akan pernah kucoba, karena aku menikmati saat-saat ini, saat kamu mengalir dalam jengkal napas dan setiap tetes darah.

Masa kampanye sudah usai, dan pilkada Jakarta hampir usai. Apakah aku masih bisa bertemu denganmu di layar kaca? Apakah aku bisa merasakan sinar matamu dari balik televisi? Apakah aku masih pantas mengagumimu?

Sudahlah, kamu orang hebat. Jalani tugasmu dan aku akan diam-diam mendoakanmu.

Kalau boleh sedikit lancang, aku mau minta fotomu yang pakai baju kotak-kotak itu. Mau kusimpan di kamar, untuk mengalihkan perasaan rinduku. Boleh ya, Pak?

Dari pengagummu yang sangat pengecut.
Yang juga tak mengerti
perasaannya sendiri

Rabu, 01 Februari 2012

Agamamu. Agamaku. Satukan Kita?

Kelas Biologi, 2 Februari 2012

Semalam suaramu mengalir begitu lembut melalui sambungan telephone. Entah sudah berapa minggu kita tak bertemu. Entah sudah berapa hari aku dan kamu (terpaksa) tak saling memandang dan menatap. Karena takdir sedang mainkan perannya, karena nasib teguhkan langkah kakinya. Aku dan kamu tak bisa apa-apa, terutama saat semua orang menganggap kita salah. Terutama saat aku dan kamu dianggap sebagai pelanggar norma agama, saat kita layaknya tahanan cinta yang menyerah pada hukum agama. Terang tak dapat bersatu dengan gelap.

Kauingin tahu satu hal tentangku? Aku sangat merindukan kamu. Aku rindu saat kamu menungguku di depan gereja seusai misa pagi. Aku rindu saat kita makan mie ayam kesukaan kita. Aku rindu saat menunggumu selesai salat Jumat. Kamu semakin terlihat tampan ketika air wudhu membasuh lembut wajahmu, aku sangat suka senyummu yang tersimpul malu di balik bibirmu. Sungguh, aku sangat rindu pertemuan kita, aku rindu menghabiskan waktu bersamamu. Dan... Entah mengapa kebahagiaan itu menjadi tampak semakin pudar akibat orang-orang yang bahkan tak mengenal dan mengerti kondisi kita. Maukah kaukatakan pada mereka yang membenci kita? Bahwa sebenarnya kita bukanlah seorang pendosa. Maukah kauyakinkan mereka? Bahwa aku dan kamu tak sehina yang mereka pikirkan. Haruskah kita mengakhiri semua ketika nyatanya bahagia selalu menghiasi kebersamaan kita? Haruskah kita menyerah pada persepsi yang mengatakan bahwa kita bersalah? Haruskah kita berpisah karena berbeda agama? Apa salahku dan salahmu?

Aku mengenalmu sebagai sosok yang sangat gigih. Kamu juga mengenalku sebagai sosok yang tegar. Selama kita bersama, tidak pernah terlihat air mata kita jatuh setitikpun. Tapi... Ternyata pada akhirnya kita menyerah, menyerah pada takdir yang awalnya mempertemukan kita juga yang memisahkan kita. Apakah hatimu patah? Apakah sayap-sayapmu yang dulu sempat memelukku juga patah? Apakah ada tangis yang luruh dari matamu yang indah? Aku tak tahu mengapa norma agama harus membedakan kita, sehingga aku dan kamu memiliki sekat dan jarak, membuat kita terlihat tak lagi sama, membuat kita (terpaksa) berpisah. Sebenarnya, apa salahku dan salahmu? Kita tidak pamer kemesraan seperti pasangan-pasangan tolol lainnya, kita juga tak membuat video mesum sebagai sebab terjadinya zinah, kita tak melanggar norma asusila, tapi mengapa di mata semua orang kita terlihat seperti sampah?

Sayang, sungguh aku tak ingin terus tersiksa seperti ini, sungguh aku tak ingin perpisahan kita menjadi sebab tangismu dan tangisku. Aku ingin semua kembali seperti dulu. Aku ingin tawa renyahmu dan senyum manismu menghiasi mozaik hari-hariku. Kebahagiaan kita terenggut oleh sesuatu yang kita sebut norma, sesuatu yang seharusnya mengatur tapi malah menyakiti kita. Sebenarnya, mereka yang menyalahkan kita adalah mereka yang tak benar-benar mengenal kita. Tugas cinta adalah menyatukan, lalu salahkah cinta jika dia menyatukan kita yang berbeda? Bukankah kita hanya saling jatuh cinta? Bukankah kita hanya mahluk kecintaan Tuhan yang belajar untuk menyentuh cinta? Apa yang salah, Sayang?! Katakan apa yang salah!

Aku menulis surat ini sesaat sebelum pengakuan dosa. Pastor sudah berada di dalam ruangan, aku masih di luar, sedang menormalkan frekuensi detak jantungku yang kian menit kian tak berirama. Dengan menulis ini, mungkin aku bisa merasa sedikit tenang. Aku mungkin akan bercerita banyak pada pastor, air mataku mungkin akan kembali menetes, dan berkali-kali mungkin aku akan mengulang cerita yang sama, cerita tentangmu. Di dalam ruang pengakuan dosa, aku pasti mengakui banyak dosa yang telah kulakukan. Dan... Mungkin dosa yang kuakui pertama kali adalah mencintaimu. Mencintaimu... Dosa termanis bagiku.

Dari masa lalumu
Rumah untuk tawa dan tangismu

Selasa, 31 Januari 2012

Jalan Pulang Untuk Rindu

Langit Kelabu di sinar mataku, 1 Februari 2012

Untukmu, yang mungkin telah melupakan aku

Surat ini khusus kualamatkan ke rumah hatimu, tempat yang pernah kukunjungi tapi tak pernah kutahu alamat detail dan daerah spesifiknya. Entah mengapa, saat menulis ini, aku ingat kali pertama pertemuan itu terjadi. Aku ingat betul detail kalimat yang kauucapkan sehangat desah angin di Stadion Mandala Krida, Yogyakarta. Aku tak melupakan peristiwa-peristiwa yang terjadi diantara kita. Dan... Aku selalu ingat bagaimana caramu dan caraku untuk menikmati detik yang berganti menjadi menit. Bagaimana usahaku dan usahamu untuk menghargai menit yang berganti menjadi jam. Nyatanya, aku belum benar-benar membuang semua tentangmu dari otakku.

Kepada kamu, pria berambut panjang... sepanjang pinggang

Es kelapa muda yang kausesap perlahan tak memunculkan tanda-tanda adanya percakapan. Tatapanmu mengarah ke depan, tatapanku mengarah jauh menelusuri Stadion Mandala Krida. Hanya bisik angin yang memainkan dedaunan kering, menerbangkan daun-daun itu menuju tempat ternyaman bagi mereka. Deru bus TransJogja mengisi kesepian gendang telingamu dan gendang telingaku. Kita sama-sama terdiam tanpa ungkapan yang mengalir melalui pita suara, tapi sebenarnya ada banyak kecamuk dalam diriku, untuk mengajakmu setidaknya bicara dan menyapa. Entah mengapa bibirmu dan bibirku kelu, bisu! Seakan-akan kita hanya butuh tatapan mata dan membiarkan angin menyampaikan pesan hati kita. Beberapa menit berlalu, waktu kembali berlari pada lintasannya, di ujung terik bagaskara yang menusuk kulit, kauucapakan kata-kata rindu, tumpah begitu saja dari bibirmu. Lalu... Sepi itu berubah menjadi tawa. Deru TransJogja berubah menjadi kebisingan yang menyenangkan. Sesuatu yang kita sebut jarak telah menyatukan kita pada satu titik, di mana aku dan kamu saling mengunci tatapan mata, keajaiban kecil yang kita sebut pertemuan.

Tertulis dengan sederhana untukmu, calon arsitek yang masih semester 4

Kamu adalah yang pertama. Pertama kali mengajariku rasanya duduk di sepada motor bersama dengan seorang pria, dan aku mematung kala itu. Kamu adalah yang pertama. Pria yang pertama kali menjadi sebab rasa grogi dan canggungku, saat mata kita saling bertatapan di Mister Burger kala itu. Kamu adalah yang pertama. Seorang Adam yang menyebabkan pipiku memerah karena tersipu malu menerima tangkai bunga darimu. Kamu adalah yang pertama. Pria bermata indah yang mengenalkan aku pada kekasih hati pertamanya, ibumu. Kamu adalah yang pertama. Seseorang yang pertama kali mengajarkanku untuk mengepakan sayap, juga seseorang yang mematahkan sayap-sayapku.

Untukmu, pria yang saat ini terpisah ratusan kilometer denganku

Kamu ingat sekarang tanggal berapa? 1 Februari 2012, apakah tanggal 1 masih menjadi tanggal yang begitu spesial untuk kita? Setelah tangan perpisahan menyebabkan kita saling menjauh. Setelah kata putus menjadi kesepakatan terbaik untuk kita berdua. Benarkah semua yang kita sepakati adalah yang terbaik? Apakah kaumerasakan bahwa hidupmu jauh lebih baik ketika perpisahan kita terjadi? Apakah hari-harimu masih berjalan normal? Ketika aku tak lagi mengisi hari-harimu? Aku tak menuntutmu untuk manjawab jika pertanyaanku malah membuatmu seakan-akan terlempar ke masa lalu. Seperti perkataanku dulu, bahwa aku tak akan menyakitimu dengan tanganku, dan aku tidak akan menyia-nyiakan kamu, walaupun perpisahan tetap saja jadi pilihanku dan pilihanmu.

Beberapa minggu ini, aku memang tak tahu kabarmu, bagaimana keseharianmu dan kuliahmu. Tapi, pentingkah hal itu kulakukan? Aku sudah melindungimu dalam kenangan, cukupkah? Aku selalu merindukanmu dalam pikiran, pantaskah? Aku selalu mengaliri hari-harimu dengan doa, masih bolehkah?

Aku kangen kamu begitu juga dengan ibu. Aku rindu bertemu dengan gecko peliharaanmu, ikan kecintaanmu, landak kesukaanmu, dan ayam kesenanganmu. Aku rindu rumahmu dan sepeda motormu. Aku rindu saat di mana kita bicara dan duduk di ruang tamu. Aku menyisir rambutmu sambil tertawa lepas, lalu kita menghitung jumlah rambutmu yang rontok. Kamu pria dan berambut panjang, aku wanita dan berambut pendek. Dulu, kita memang pasangan yang langka dan aneh. Hal-hal yang kita lakukan selalu berbeda dengan pasangan-pasangan lainnya. Tapi, kalau boleh jujur, justru keanehan itulah yang membuatku percaya bahwa rindu selalu punya jalan pulang. Jalan itu ada di hatimu, meletup dalam napasmu, merasuk masuk melalui nadimu. Jujurku menenggelamkan kemunafikanku. Nyatanya, aku (masih) merindukanmu.

Ada banyak hal yang membuatku tak bisa melupakan Yogyakarta. Ada banyak hal yang dimiliki Yogyakarta tapi tak dimiliki kota-kota lainnya. Ada beberapa hal yang selalu kurindukan dari kotaku, salah satunya adalah... senyummu.

Dari mantan kekasihmu
Yang sedang menyelamatkan mimpi-mimpinya
Yang masih mencium aroma tubuhmu di tubuhnya
Kalau kita masih bersama
tepat hari ini hubungan kita berusia lima bulan

Kamis, 26 Januari 2012

Kekasih 18 Jam

Kelas Fisika, 27 Januari 2012

Untuk, pemilik mata bening di balik kacamata itu

Aku bingung harus mengalamatkan surat ini kemana, ke rumahmu atau cukup ke hatimu? Aku juga takut kalau saat membaca surat ini kamu malah menaikkan alismu dan berkali-kali membenarkan kacamatamu. Ah, aku tak pernah lupa gerakan reflek yang kauciptakan saat sedang memperbaiki kacamatamu. Aku tak pernah lupa bentuk wajahmu saat seringkali mencuri pandang ke arahmu, kamu yang tepat berada di samping kananku, kamu yang tergesa-gesa mencuri hatiku.

27 Desember 2011, itulah tanggal pertemuan awal kita, apakah kamu heran mengapa aku begitu mengingat setiap detail pertemuan kita? Aku ingat saat tubuhmu basah oleh hujan senja dan rambutmu menjadi lepek karena rintik-rintiknya. Hujan memamerkan pesonanya, aku terpukau menatap butir-butir air hujan yang luruh membasahi kaca jendela bus. Kamu menduduki bangku di sebelahku, bangku bernomor 32. Kaumenghela nafas sembari menata kembali rambutmu, diam-diam aku memerhatikanmu, diam-diam aku mencuri pandang pada sudut senyummu. Tahukah kamu, sejak saat itu aku selalu memerhatikan setiap inci pergerakanmu? Tahukah kamu, sejak saat itu mataku hanya ingin menatapmu?

Kepada kamu, yang meminjakan bahunya untukku

Sejak sore hingga malam hari, kita memang tak saling bicara, tak ada kontak mata, hanya sikut kita yang sesekali bersentuhan. Malam pun tiba, penumpang tertidur pulas termasuk aku dan kamu. Kita tak tahu apa yang terjadi kala itu, sampai pada saat aku terbangun dan tahu-tahu kepalaku sudah berada di bahumu. Aku yang belum tersadar dari kantuk tak langsung menyadari kesalahan yang kulakukan. Aku malah menggerakan tanganku agar bisa melihat jam tanganku, pukul 02.00 pagi. Aku lalu menatap kamu yang berada di sampingku, aku tersentak! Ternyata sejak tadi kamu telah bangun dari rasa kantukmu dan kamu sangat sadar; sejak tadi aku tak sengaja menyandarkan kepalamu di bahuku, tapi entah mengapa kautak menyingkirkan kepalaku dari bahumu.

Sungguh, rasanya aku ingin membawa lari wajahku ke negeri antah berantah yang tidak kauketahui sama sekali, aku sangat ingin memindahkan wajah maluku ke wajah orang lain yang tak kaukenal. Melihat wajahku yang sedikit asam, kaumalah menyimpulkan senyum saat berkali-kali aku meminta maaf. Entah mengapa, aku suka sekali pada peristiwa yang terjadi tanpa kesengajaan itu. Aku merasa takdir benar-benar harus disalahkan karena peristiwa yang mengejutkan ini.

Aku menyandarkan kepalaku di jendela, menatap suasana kota dan lampu-lampu remang yang menghiasi jalan. Ada bisikan lembut yang menggelitik gendang telingaku, "Siapa namamu?"

Tak kuberitahukan namaku, aku menjawab dengan senyum singkat.... menahan diri.

"It's okay, kalau kamu merasa aku orang asing," ucapmu sambil menghelas napas, "Aku, Mikrobiologi Pertanian UGM 2005/2006, kamu bisa cari wajah seperti aku di sana. Tak perlu nama bukan?"

Iya. Tak perlu nama. Dan, malam itu berlalu seperti mimpi.

Perkenalan itu terjadi begitu sederhana. Perkenalan itulah yang hingga saat ini masih menggelitik malam-malamku, masa di mana aku sering mereka-reka kembali wajahmu. Kita saling bicara dan bercerita, tatapan mata kita saling mengikat lekat, sikut kita saling bersentuhan. Aku tak bisa lupa pada raut wajahmu yang menatapku kala itu. Kacamatamu memantulkan cahaya lampu-lampu jalan, mata sipitmu mengayun penuh rahasia dalam benakku, sungguh aku sangat ingin mengenalmu lebih dari itu. Seakan-akan hanya suaraku dan suaramu yang saling mengalun merdu, layaknya gravitasi tak mau tahu pada rasa yang tiba-tiba saja menarikku. Dinginnya AC dan suara mengorok para penumpang tak menjadi pengganggu, bisikan-bisikan kecil dari pita suaramu benar-benar mencairkan suasana yang tadinya sempat beku. Sungguh, aku ingin malam tetaplah menjadi malam, agar peristiwa itu terjadi berulang-ulang, tanpa akhir dan tanpa gangguan takdir.

Bersamamu, matahari ada disudut bibirmu, disetiap lekukan senyummu

Ingatkah kamu apa yang terjadi saat pukul setengah enam pagi di daerah Magelang? Kamu sesekali mengintip melalui gordyn yang menyelimuti jendela, senyummu mengalir penuh arti dari bibirmu. "Tutup matamu!" bisikmu lirih tanpa gaduh, sepertinya kamu tak ingin penumpang lain memerhatikan kita.

"Kenapa?" tanyaku lugu, aku mengikuti perintahmu.

"Kalau aku suruh buka baru dibuka ya matanya." jelasmu singkat, terdengar suara gordyn jendela dibuka perlahan. "Buka!"

Aku membuka mata dan tersenyum malu-malu melihat pemandangan yang kausediakan untukku. "Suka?" tanyamu singkat.

"Sangat! Makasih ya, Tuan."

Ah, saat itu kita seperti sepasang kekasih yang rela terbakar oleh hangatnya cinta. Sadarkah kamu bahwa caramu menunjukkan kejutan itu begitu romantis? Walau kita hanya mampu menikmatinya lewat kaca jendela, walau saat itu suasana tak terlalu lirih dan tak ada semilir angin yang menggelitik manja tubuh kita. Bagiku, romantis sebenarnya tak diciptakan dan direncanakan, romantis yang sebenarnya adalah saat semua terjadi begitu saja, tanpa topeng dan penuh kejujuran, seperti yang kaulakukan untukku.

Terminal bayangan Jombor sudah semakin dekat, kamu begegas menyiapkan barang-barangmu. Rasanya begitu cepat kalau semuanya harus berakhir karena kita berbeda arah tujuan. Hanya dengan lambaian tangan, ucapan selamat tinggal terlontar begitu berat dari bibirmu. Aku tak bisa apa-apa saat melihat punggungmu mulai bergerak menjauhiku. Aku sadar bahwa aku bukanlah siapa-siapa dimatamu. Aku hanya teman 18 jam yang tak mungkin bisa menunda kepergianmu, aku memang bukan siapa-siapa buatmu. Mungkin, aku hanyalah wanita yang kautemui di persimpangan, lalu kautinggalkan saat kauingin lanjutkan perjalanan. Kita hanya dua orang bodoh yang tergoda oleh manisnya jebakan situasi.

Walau begitu aneh, entah mengapa peristiwa itu masih melekat di otakku. Pertemuan kita memang tak sederhana, sehingga otakku pun tak ingin melupakan setiap peristiwa indah saat bersamamu. Kamu... kekasih 18 jam yang kutemui tanpa rencana lalu berpisah tanpa praduga.

Hari ini tanggal 27 Januari 2012, sudah satu bulan peristiwa itu terlampau. Semua memang telah berlalu, hanya kenangan yang membisu di sudut ragu. Setiap mengenangmu, aku merasa berada kembali di masa itu. Masa pertemuan awal kita. Absurd dan aku terkejut.

Untukmu, kekasih 18 jam yang sekarang entah berada di mana, titip salam untuk wanita yang ada di wallpaper handphone-mu. Maaf karena dalam 18 jam aku telah meminjam kekasihnya untuk menjadi kekasihku. Maaf karena telah meletakkan hatiku belasan jam pada bening matamu.

Dari wanita yang belum berhasil menemukan sosokmu
Diam-diam dia menunggu pertemuan baru denganmu
Diam-diam dia mencari sosokmu

Senin, 23 Januari 2012

Negeri Antah Berantah Bernama Azurine

Ketika bumi tertusuk separuh matahari, 24 Januari 2012

Bulan kelima setelah kehilangan kamu, semua terasa begitu berbeda, semua terasa tak lagi sama, begitu abnormal, tak ada yang kuketahui selain aku masih mencari-cari cara untuk melupakan kamu. Aku bertingkah seakan-akan semua telah kembali seperti semula, aku tanpamu, kamu tanpaku, kita tak lagi berjalan pada arah yang sama. Begitu hebatnya perpisahan, sehingga ia selalu memaksa seseorang mengikhlaskan suatu ketiadaan... suatu kepergian. Surat ini kutulis dengan sangat hati-hati, agar bayangmu tak lagi menyebabkan tangis dan agar kenanganmu tak lagi menyisakan luka. Kauboleh baca hingga selesai atau bahkan membuangnya ke tempat sampah setelah kaumembaca paragraf pertama. Seperti yang kuketahui sebelumnya, kauselalu berusaha keras untuk melupakan aku, sementara aku tak pernah berusaha keras untuk melupakanmu. Bagiku, memaksa otak untuk lupa hanya akan membuat otak semakin memutar kembali memori yang ia simpan secara sengaja. Sementara aku tak mau melupakanmu dengan cara yang menyakitkan, waktu punya tugas untuk menghapus jejak dan aku percaya waktu akan melakukan tugasnya untukku.

Saat aku kembali mengundangmu masuk ke dalam memori otakku, ada bayang yang seketika merampok perhatianku. Dulu, kita adalah pasangan yang seringkali berkhayal tentang banyak hal. Ingat waktu kamu membuat dengan runtut nama panjang anak-anak kita kelak? Bagaimana pekerjaan dan cita-cita mereka nantinya? Dan akan seperti apa wajah mereka? Kita juga merencanakan rumah tinggal kita kelak, di suatu negara maju yang manusianya memiliki harapan hidup tinggi, di suatu kota yang aman dan tentram. Daerah tersebut sangat nyaman untuk keluarga kita, sawah-sawah hijau menyapa tiap pagi, awan yang setia meneduhkan kita dari teriknya matahari, dan danau-danau bisu yang setia memancarkan sinar rembulan setiap malam. Kota itu memang tak se-romantis Paris yang terletak di Prancis, juga tak se-unik Bali yang terletak di Indonesia, tapi setidaknya kota ini milik kita, kota penuh cinta yang ideologinya kita ciptakan sendiri, kota yang tak terdapat di peta tapi terdapat di hati kita masing-masing, kaudan aku memberi nama kota itu Azurine.

Siapa yang peduli pada Azurine? Hanya aku dan kamu yang mempedulikan indahnya Azurine. Azurine milik kita juga punya taman kota, dengan pepohonan yang rindang dan setia memeluk siapapun yang berteduh dirindangnya. Taman kota Azurine dihiasi tawa anak-anak kita yang berlari-lari dan bersembunyi di balik pohon, kamu yang mengejar-ngejar mereka tak ubahnya serigala nakal yang mengejar-ngejar mangsanya. Azurine, kota milik kita, adalah kota yang kita sebut bayi mungil yang lahir tanpa tangis. Azurine milik kita, milik aku, kamu, juga anak-anak kita.

Ingatkah kamu bagaimana kamu menggambarkan langit di kota Azurine? Selalu biru muda dan lembut menyapa, tapi kadang mendung seringkali menggoda langit biru di kota Azurine. Hujan di kota Azurine tak pernah menyebabkan tangis, justru hujan itulah yang ditunggu-tunggu anak-anak kita. Setelah hujan selalu ada pelangi, saat pelangi muncul, kamu segera menggendong si bungsu lalu berlari-lari ke ujung pelangi, begitu juga si sulung dan anak kedua kita, mereka ikut berlari mengikuti jejak langkahmu. Aku yang memandang kalian hanya tersenyum bahagia, menunggu di beranda rumah ditemani angin yang sesekali menggelitik tubuhku. Bukankah Azurine sangat indah? Tak pernah ada tangis di kota ini, karena aku dan kamu saling mencintai, maka kita tak mungkin saling menyakiti dan saling menyebabkan tangis. Azurine adalah milikku, juga milikmu.

Tapi sekarang... Azurine milik kita hanyalah kenangan, Azurine milik kita telah hancur termakan air mata, Azurine telah runtuh bersama dengan perpisahan kita, Azurine telah hilang bersama dengan canda tawa yang kini berubah menjadi tangis dan sesal. Azurine yang hidup dalam khayalanmu dan khayalanku tak akan berwujud nyata. Azurine hanyalah dongeng sebelum tidur yang meninabobokan tangis semalaman. Azurine hanyalah sejarah yang membisu sehingga ia tak kunjung menjadi buku. Azurine bukan lagi milikku, juga bukan lagi milikmu. Kini, Azurine hanyalah milik kenangan, hal-hal indah di kota itu tetap menjadi khayalan. Azurine yang kauanggap bayi kita yang lahir tanpa tangis, kini memperdengarkan tangisnya. Kauyang menyebabkan Azurine menangis! Kauyang telah membuat semuanya menjadi bermasalah! Mengapa kaurenggut masa-masa itu, ketika justru aku mulai merasa bahagia denganmu?

Ini hanya surat kecil, yang mungkin membuatmu semakin membenci sosokku, yang mungkin membuatmu termotivasi untuk semakin melupakanku, atau mungkin sebaliknya? Mungkin juga surat ini membuat senyummu mengembang, karena ternyata sebelum kita berpisah ada banyak kenangan indah yang kita ciptakan dengan cara kita sendiri, dan sekarang hal-hal indah itu tak akan pernah kembali. Masihkah kamu mencintai Azurine seperti dulu? Bagaimana kabar kota itu setelah lima bulan kita meninggalkannya? Mungkin hujan terus-menerus turun, mungkin langitnya tak lagi biru, mungkin pohon-pohon di taman kota tak lagi rindang, mungkin Azurine merasa kehilangan kamu, juga kehilangan aku. Azurine mungkin marah karena orang-orang yang membangun dan melahirkannya malah dengan sengaja meninggalkannya. Sungguh, aku sangat ingin kembali pada kota khayalan yang kita bangun bersama itu. Aku ingin menjelaskan banyak hal padanya, agar ia juga mengerti bahwa aku dan kamu berpisah karena suatu hal, dan sebenarnya aku dan kamu tak pernah berhenti mencintai Azurine. Aku tak ingin kau membuat Azurine menangis seperti kaumembuatku menangis. Aku ingin Azurine seperti dulu.

Melalui surat ini, aku tak ingin berbicara banyak hal, karena kamu bukan sosok yang senang dicereweti oleh perempuan. Aku hanya ingin menanyakan kabarmu dan kabar kekasihmu, apakah kalian juga membuat Azurine-Azurine yang lain, kota khayalan yang justru lebih indah daripada kota khayalan kita dulu? Ah... sudahlah, bukan urusanku, cuma ingin titip satu hal, tolong jangan gunakan nama anak-anak kita yang telah kaurencanakan bersamaku, sebagai nama untuk anak-anakmu, kelak bersama dengan wanita lain pilihanmu; kecuali jika wanita pilihan itu adalah aku :p 

Sebenarnya, diam-diam aku masih menyimpan harapan untuk kembali membangun Azurine bersamamu, kota itu belum memiliki balai kota dan pusat perbelanjaan. Maukah kaukembali membangun Azurine bersamaku? Maukah kaumeninggalkan ceritamu bersama wanita itu lalu kembali pada masa lalu? Masa di mana kebahagiaan kita masih terlihat begitu nyata, masa di mana aku dan kamu sempat menjadi kita. Maukah? Demi aku, demi Azurine, dan demi kita.

Dari wanita yang seringkali bernyanyi untukmu
lewat sambungan telephone
wanita yang seringkali merindukanmu
dan diam-diam  masih menginginkan kamu...
kembali

Lagi, Lagi, Untukmu Cina.

Bogor, 23 Januari 2012

Hey, Sipit! Sudah lama aku tak mendengar suaramu, sudah lama juga pesanmu tidak mampir ke inbox handphone-ku. Apakah kaubegitu sibuk? Apakah sudah ada seseorang yang lain? Secepat itukah? Ah, maafkan aku, kini aku bukan siapa-siapamu lagi, segala keputusanmu bukan lagi hak aku untuk mengurusi, segala kepentinganmu bukan lagi kepentinganku. Kita sudah begitu berbeda dan dunia kita tak berotasi di poros yang sama.

Bagaimana kabar Lintang, Langit, Laut, dan Bagas? Nama yang telah kita rencanakan untuk anak-anak kita kelak. Aku titip salam untuk anakmu kelak yang bernama Bagas, Lintang, Langit, dan Laut ya. Titip salam juga untuk wanita pilihanmu. Dulu, Lintang, Langit, Laut, dan Bagas adalah sosok khayalan yang hanya hidup dalam anganmu dan anganku, angan kita, dulu. Bahagiakah mereka setelah kita berpisah? Apakah mereka tetap ada meskipun kita tak lagi bersama? Ya... Mereka tetap ada dalam pikiranku, menjadi kenangan yang membisu, menjadi pembisik rindu saat aku mengingatmu, mengingat aku dan kamu... yang sempat menjadi kita. 

Siapa wanita pilihanmu saat ini? Betapa beruntungnya dia bisa menjadi milikmu, betapa senangnya dia bisa menjadi penyebab tawamu, dan betapa serunya dia bisa masuk dalam hidupmu. Bukan seperti aku yang mengendap-endap keluar dari hatimu, lalu menyesal telah melakukan kebodohan itu.

Untukmu, seseorang yang sempat menjadi penambang rindu di hatiku

Pernah beberapa kali aku merindukanmu, merapal namamu dalam doa, dan memikirkan kamu saat Doa Bapa Kami mengalir melalui ucapan bibirku. Masih bolehkah aku melakukan hal-hal yang dulu aku lakukan saat masih bersamamu? Merindukanmu, mencintaimu, memerhatikanmu, dan mendoakanmu. Masih bolehkah aku menghubungimu secara berkala? Masih bolehkah aku memarahimu ketika kautak makan hingga malam menjelang? Masih bolehkah aku merindukanmu meskipun kini kautelah bersama dia?

Rasanya, semua kini berbeda. Wajahmu yang Cina dan wajahku yang Jawa, tapi dulu kita bisa saling jatuh cinta. Tak peduli bagaimana cinta itu datang dan tiba-tiba saja mengetuk pintu hatimu dan hatiku. Awal yang sederhana, melalui pesan singkat, berlanjut ke sambungan telephone, lalu kita saling bercerita dan berbagi. Betapa indahnya masa-masa itu, betapa indahnya masa lalu, masa dimana masih ada kamu.

Masih ingatkah kamu pada dua rekaman di-handphoneku yang berisi suara kita saat sedang berbicara melalui sambungan telephone? Aku tertawa cekikian ketika mendengarmu menyanyikan lagu berjudul C.I.N.T.A dan Mau Dibawa Kemana, aku iseng menyuruhmu untuk menyanyikan lagu itu berulang-ulang, berkali-kali juga kamu mengulang lagu yang sama. Lalu lagu itu di medley dengan Garuda Pancasila, sampai akhirnya kamu kelelahan dan berkata, “Udahlah, Yang. Ganti lagu la, Daniel Sahuleka? How? Don't sleep away this night my baby. Please stay with me at least 'till dawn. Atau I Adore You? You Make My World So Colourful? Atau Rossa aja deh! Kumenunggu. Cepetan!”

Akhirnya, aku pun mengikuti lagu yang kauinginkan, suaraku mengalun dan kauterdiam, sepertinya kamu begitu menikmati suaraku. Kamu memaklumi aku yang tak terlalu mengingat lirik lagu tersebut, pada akhir lirik, kamu memperdengarkan suara tepuk tangan. Jujur, aku sangat merindukan masa-masa itu. Aku sangat rindu malam-malam di mana kamu mau menemaniku begadang, aku rindu malam-malam di mana aku bisa terus mendengar suaramu untuk mengantarku dalam lelap, walaupun suaramu lembut mengalir hanya melalui sambungan telephone.

Untukmu, Cina. Si mata sipit yang belum pernah kurasakan sinar matanya

Cin... Kita memang belum pernah bertemu, kita memang belum pernah saling menggenggam tangan, kita belum pernah saling menatap, kita belum pernah saling berpeluk, tapi sadarkah kamu kalau cerita kita begitu nyata? Absurd tapi menyenangkan, maya tapi menyisakan kenangan. Aku benar-benar merasa kehilangan.

Cin... Bisakah kauberhenti menjual bayang-bayang?  Aku benci ketika harus terus mengingatmu ketika bahkan kutahu kau tak mengingatku! Bisakah kauberhenti merasuki malam-malamku? Aku takut ketika harus memikirkanmu ketika bahkan kusadar kautak memikirkanku. Tolonglah, Cin... Ini permintaan terakhirku. Bisakah kenangan tentangmu berhenti menganggu hari-hariku? Aku muak dipermainkan kenangan! Aku bosan dipermainkan otakku sendiri! Aku lelah, Cin... Aku sangat amat lelah.

Sempat terpikir untuk melupakan sosokmu, sempat terencana untuk menghapus semua tentangmu, pernah terbesit harap untuk tak lagi merindukanmu, tapi... ternyata aku belum cukup kuat untuk melakukan itu. Aku terlalu lemah... untuk melupakanmu.

Dari wanita yang berjarak 5 tahun denganmu
wanita yang masih saja rela
dipermainkan kenangan

Sabtu, 21 Januari 2012

Cinta Pertama Itu...

Perpustakaan, 18 Januari 2012

Untukmu, pria yang kubenci sejak 3 SD, namun begitu kucintai saat 6 SD.

Boleh basa-basi sedikit? Sudah berapa lama ya kita tidak bertemu? Tiga tahunkah? Bagaimana wujudmu saat ini? Masihkah pipimu merah ketika cahaya matahari  menciumi lembut pipimu? Masihkah rambutmu keriting dan klimis ketika keringat membasahi tempurung kepalamu? Masihkah kamu membawa saputangan untuk membasuh keringatmu? Apakah semua telah berbeda?

Untukmu, si unik dengan senyum fantasti.

Aku bertanya-tanya, bagaimana sinar matamu saat ini? Masihkah sejuk dan beningnya seperti dulu? Seperti kala kita membagi bekal bersama. Saat anak-anak yang lain sibuk bermain, aku dan kamu malah duduk di bangku kelas, hanya berdua. Sambil mengunyah nasi yang masih penuh di mulutmu, kaubercerita banyak hal padaku. Sewaktu itu, kaumasih bercita-cita ingin menjadi pilot, dan aku bercita-cita ingin menjadi insinyur teknik sipil, mengikuti papaku. Mengingat kenangan memang indah, mampu membuat seseorang tersenyum walaupun masa itu tak akan pernah kembali.

Untukmu, yang sekarang entah berada di mana

Dulu, saat pertama kali bertemu, aku sangat membencimu. Aku benci ketika tahu kauberada diranking tiga dan aku berada diranking dua. Kamu anak baru! Kenapa ingin mengejarku dan langsung melesat masuk ke peringkat tiga? Hey! Kaubuatku gila! Sampai duduk di bangku kelas 6 pun, kita masih saja sekelas. Astaga Tuhan, siksaan apalagi ini? Tapi, entah mengapa, ada titik dimana kita tak seperti musuh, ada saat di mana kita tiba-tiba menjadi dekat, dan aku tak pernah tahu mengapa rasa benci itu berubah menjadi begini. Entah mengapa rasa iri itu berevolusi menjadi cinta dalam usia dini.

Saat paduan suara Natal, aku tahu kamu sering melirikku diam-diam, karena berkali-kali aku menangkap basah kamu sedang menatapku. Saat aku jadi dirigen upacara setiap hari Senin, kauselalu berbaris di barisan depan, kauselalu menyanyi dengan suara lantang. Hey! Saat itu kita masih duduk di bangku sekolah dasar! Mengapa kauajarkan perasaan aneh itu padaku? Dulu... Kita masih terlalu dini untuk mengerti cinta, apalagi menafsirkannya.

Untukmu, yang mungkin tidak akan membaca tulisan ini

Sedang apa kamu di sana? Apakah kaumasih ingat sosokku dan bentuk wajahku? Apakah kaumasih ingat banyak hal yang terjadi saat kita SD sampai SMP belajar di sekolah yang sama? Ah... Mungkin kaulupa, aku masih mengingat kenangan-kenangan itu karena aku punya perasaan yang berbeda denganmu. Entahlah... mungkin perasaanmu tak sama dengan perasaanku.

Aku masih ingat perpisahan kita kala itu, saat legalisasi ijazah di SMP NEGERI 2 DEPOK, kaumengucapkan selamat, karena nilai UN-ku lebih tinggi dari nilai UN-mu. Yap! Aku selalu berhasil mengalahkanmu. :p Saat itu kita juga membicarakan rencana sekolah saat SMA nanti, kita berjalan bersama menuju gerbang sekolah. Langkahmu dan langkahku terhenti, kita saling menatap, jantungku bereaksi dengan hormon adrenalin, detaknya begitu kencang, kaumenggetarkan bibirmu, "Baik-baik ya, Dwita."

"Iya, kamu juga ya." jawabku singkat, dengan lengkungan senyum getir di bibir.

Tanpa pengungkapkan. Lalu kita terpisah, di persimpangan gerbang sekolah, karena berbeda arah.

dari seorang perempuan 
yang tak pernah lupa tanggal ulang tahunmu
yang masih saja sering merindukanmu


Selasa, 17 Januari 2012

Penyebab Tangisku? KAMU!

Kelas Bahasa Mandarin, 17 Januari 2012

Untuk Penyebab Tangisku,

Kupandangi lagi foto-foto itu, kuingat lagi kenangan-kenangan itu, kuingat lagi sosokmu, yang sempat menghancurkan aku.

Sudah beberapa hari sejak peristiwa itu, saat pertengkaran hebat kita memuncak pada kata putus, saat cekcok yang kita alami berujung pada kata pisah. Bukan karena kita, bukan karena aku ataupun kamu, tapi karena mantanmu. Dia begitu menggilaimu. Dia begitu mencintai kamu. Dia masih saja sulit melupakan kamu. Dia masih saja mengharapkan kamu, meskipun dia tahu bahwa kala itu kamu telah bersamaku.

Pesan singkatnya masih saja mengisi inbox handphone-mu, dan tahu bagaimana perasaanku saat itu? Rasanya aku ingin membentakmu dengan keras, rasanya aku ingin meronta pada ketidaktegasan yang kamu tunjukkan padanya. Ingin rasanya aku menyadarkanmu, menggoyang-goyangankan tubuhmu, "Dia mantanmu! Dia masa lalumu! Aku kekasihmu! Aku masa depanmu!"

Tapi, kautetaplah pria baik yang sama seperti pertama kali kukenal, kauselalu takut untuk menolak orang-orang yang ingin kembali masuk ke dalam hidupmu, meskipun dia telah mengiris-iris perasaanmu, meskipun dia telah merusak dan mematahkan hatimu. Dan, kebaikanmu yang terlalu berlebihan itu berimbas padaku, menyebabkan cemburu mengalir deras di darahku, dari vena sampai arteri, hanya ada emosi yang tiba-tiba merasuki. Apa salahku sehingga kamu berbuat begini?

Kautahu? Sebenarnya aku masih mencintaimu, sebenarnya tak ada yang lain yang bisa membuatku tersenyum, selain kamu. Tapi, semua telah terlanjur terjadi, kata putus yang kulontarkan dengan emosi kini menjadi sesal yang tak terganti.

Sempat kala itu kaumengajakku untuk kembali, seperti dulu, saat mantanmu tak lagi mengganggumu, saat kita bisa bahagia dengan jalan kita, aku dan kamu yang dulu satu. Tapi, entah mengapa, aku ragu untuk kembali bersatu denganmu. Entah mengapa masih ada yang mengganjal dalam hatiku. Entahlah... Semua terjadi di luar perkiraanku, kita seperti dipermainkan takdir, sedangkan aku dan kamu tak sempat membaca aturan main.

Aku tidak pernah berbohong kalau aku berkata rindu. Aku tak pernah menggunakan topeng ketika aku berkata tentang cinta padamu. Aku mencintaimu, setulus dan sesederhana itu.

Aku bukan seperti mantanmu, yang seringkali menyiksamu, yang seringkali membakar emosimu. Tapi, sekeras apapun perjuanganku, mengapa tetap saja sulit membuatmu, menatapku?

Dari mantanmu
yang kadangkala membasahi selimut tidurnya
dengan air mata
yang terjatuh untukmu 


with love :)
Dwitasari

Copyright © ID Blog Kamu

Canvas By: Fauzi Blog, Responsive By: Muslim Blog, Seo By: Habib Blog