ID Blog Kamu: balikpapan

Tampilkan postingan dengan label balikpapan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label balikpapan. Tampilkan semua postingan

Senin, 17 September 2012

Ekowisata di Penangkaran Buaya

Merangsang  adrenalin agar memuncak tidak harus selamanya menguras keringat dengan berbagai macam aktivitas, seperti panjat tebing,  diving atau yang lainnya. Ada kalanya adrenalin juga dapat dibangkitkan di saat kita melihat sesuatu yang liar, seram sekaligus buas atau pun yang merangsang bulu kuduk untuk berdiri, ya contohnya melihat buaya-buaya yang ditangkarkan.

Mungkin di benak anda bertanya, apa menarik dan asiknya melihat buaya-buaya, bukankah itu cukup membosankan, adrenalin? bagaimana bisa dibangkitkan? memang binatang karnivora yang sebagian besarnya hidup di rawa-rawa dan sungai ini sekilas pasif dan hanya berdiam diri saja di dalam air atau pinggiran kolam penangkaran. Namun siapa sangka, dibalik sikapnya yang cenderung “pendiam” itu mereka dapat bergerak agresif jika perutnya sedang keroncongan alias lapar.
sumber foto: www.desibucket.com
Di beberapa tempat wisata penangkaran buaya tak jarang menawarkan fasilitas memberi makan  para buaya-buaya itu kepada anda dan anda pun dapat melihat buaya-buaya itu saling bergulingan atau berebut dengan liarnya demi sebongkah daging atau seekor ayam untuk memuaskan rasa laparnya.   
Selain itu buaya di tempat penangkaran berbeda dengan buaya yang biasa anda temukan di kebun binatang. Perbedaan itu jelas terlihat dari banyaknya jumlah buaya-buaya itu ada karena biasauya di tempat penangkaran jumlah buayanya terbilang lebih banyak bahkan sampai ada yang ribuan. Bayangkan jika anda dapat melihat jumlah buaya yang sedemikian banyaknya, suatu hal yang berbeda bukan? Nah, sekarang dimana sajakah kita dapat melihat buaya-buaya itu ditangkarkan dengan cara yang aman pastinya.

1.Penangkaran Buaya Teritip Balikpapan
Menempati lahan seluas 5 hektar di desa Tritip, Balikpapan, di tempat penangkaran ini anda dapat menemukan berbagai ribuan buaya dari yang ukuran paling kecil sampai yang paling besar. Buaya-buaya itu berada di puluhan kandang yang diklasifikasikan dalam empat jenis, yaitu kandang anak buaya, kandang untuk buaya muda, kandang dewasa, dan kandang untuk menimbang berat badan buaya.

sumber foto: www.surgaparawisata.blogspot.com
Rata-rata buaya yang ada di tempat penangkarang ini adalah buaya berjenis buaya muara. Selain itu terdapat pula Buaya Air Tawar (Crocodylus Siamensis) dan Buaya Supit (Tomistoma segelly). Ingin mengetahui seluk beluk kehidupan atau jenis buaya-buaya disini, tingal tanyakan saja ke pemandu setempat yang akan menjelaskan kepada anda tentang kehidupan buaya mulai telur sampai berkembang menjadi buaya dewasa.

Fasilitas dan Atraksi
Atraksi yang ditawarkan oleh penangkaran yang telah beroperasi tahun 1991 ini adalah atraksi memberi makan buaya-buaya. Cukup merogoh kantong Rp 10.000 untuk membeli seekor ayam hidup dan anda akan memberi makan langsung kepada buaya-buaya itu.  Tak cukup memberi satu, anda pun dapat membeli lagi ayam-ayam hidup tersebut.
Tak hanya itu, sajian bercita rasa buaya juga di sajikan di restoran-restoran yang banyak berdiri di sekitar areal tersebut. Anda dapat mencicipi sate rasa buaya, abon, dan kerupuk yang terbuat dari daging buaya. Ada juga obat kuat yang terbuat dari tangkur dan pil empedu. Selain itu, Anda bisa menemukan banyak kerajinan dan aksesoris dari kulit buaya, seperti tas, dompet, ikat pinggang, dan lain-lain.

Lokasi
Penangkaran Buaya Balikpapan berlokasi di Desa Teritip, Balikpapan, Kalimantan Timur. Jaraknya  sekitar 27 kilometer dari pusat kota  dan bisa ditempuh  30 menit menggunakan mobil, serta hanya 20 menit dari Bandara Sepinggan. Taksi bandara, maupun angkutan kota,  dapat mengantarkan ke sana setiap saat
Objek wisata ini di saat weekend maupun hari libur nasional banyak dikunjungi oleh pengunjung dari berbagai kota di sekitar Balikpapan. Tak hanya itu turis mancanegara pun tak segan mengunjungi objek wisata ini

2. Penangkaran Buaya Medan
Dengan jumlah buaya yang mencapai kurang lebih 2800 ekor, penangkaran buaya di Medan ini dikatakan sebagai penangkaran buaya salah satu yang paling besar di Asia. Luasnya mencapai satu hektar dengan 78 bak penangkaran yang  dihuni oleh beragam jenis buaya dengan umurnya masing-masing.
sumberf foto:www.efenerr.wordpress.com
Tempat penangkaran ini dikelola di dalam rumah penduduk biasa yang cukup sederhana sebagaimana sederhananya rumah tangga Lo Than Muk bersama isterinya Lim Hiu Cu dengan dua anaknya Robert Lo (30) dan Robin (28).
Lo Than Muk, sang pemilik tempat penangkaran ini tidak pernah menyangka  penangkaran buayanya berkembang menjadi 2.800 ekor. Awalnya dia hanya iseng memelihara buaya kecil 12 ekor yang didapat dari sungai-sungai yang ada di Kota Medan. Dari situ kemudian buayanya terus berkembang biak dan akhirnya dia buka penangkaran 1959 dan sempat tenar sebelum tahun 1998 sebagai objek wisata andalan Kota Medan.

Fasilitas dan Atraksi
Sama seperti penangkaran buaya di Balikpapan, di  tempat ini cukup hanya merogoh Rp.30.000 untuk membeli pakan yang telah disiapkan oleh pemilik dan anda bisa memberi makan langsung ke buaya-buaya tersebut. Selain itu Anda pun dapat menikmati suasana pemberian makan buaya yang dilakukan satu kali dalam sehari pada pukul 17.00 WIB. Nah, jika anda berminat, anda pun dapat menyaksikan seorang pawang yang akan melakukan atraksi buaya bersama seekor kera dengan hanya membayar Rp.50.000

Lokasi
Penangkaran Buaya ini terletak di  Asam Kumbang, Kecamatan Medan Selayang di Jalan Bunga Raya II Kota Medan, Sumatera Utara. Biaya masuknya cukup murah hanya Rp 5000 bagi orang dewasa dan Rp 3000 bagi anak-anak. (berbagai sumber)

Rabu, 30 Mei 2012

Jembatan Merah dan Pertumpahan Darah

Ada satu kesamaan kenapa jembatan-jembatan di bawah ini dikatakan sebagai jembatan merah, ya jembatan merah ini ternyata tidak hanya ada di kota pahlawan saja tetapi juga berada di wilayah lain Indonesia, misalnya di Bogor, Balikpapan, dan Kerinci walaupun tidak merah warnanya tapi masyrakat sekitar menyebutnya sebagai jembatan merah
            Merahnya sebutan bagi jembatan-jembatan itu karena sejarahnya yang kelam. Pasalnya, di jembatan itu dulunya pernah terjadi peristiwa pertumpahan darah antara pejuang Indonesia melawan penjajah di zaman revolusi fisik. Nah, dari saking banyaknya darah  para pejuang dan lawannya yang tumpah di jembatan itu, maka jembatan itu pun dinamakan Jembatan Merah.
            Yang pertama seperti yang kita ketahui adalah Jembatan Merah di Surabaya. Jembatan yang melintasi sungai Kalimas ini sungguh melegenda dan sepertinya tak ada satu pun orang Surabaya yang tidak mengenal jembatan ini.  Dibangun beratus-ratus tahun yang lalu, awalnya jembatan adalah jembatan kayu dan dibuat karena kesepakatan Pakubowono II dari Mataram dengan VOC tahun  11 November 1743. Dalam perjanjian disebutkan bahwa beberapa daerah pantai utara, termasuk Surabaya, diserahkan ke VOC, termasuk Surabaya yang berada di bawah kolonialisme Belanda.
sumber foto: www.akumassa.org
Sejak saat itu daerah Jembatan Merah menjadi kawasan komersial dan menjadi jalan vital yang menghubungkan Kalimas dan Gedung Residensi Surabaya. Dengan kata lain, Jembatan Merah merupakan fasilitator yang sangat penting pada era itu.  Tak heran jika gedung keresidenan Surabaya saat itu dibangun tepat di ujung barat jembatan, agar pemerintah bisa langsung mengawasi kebersihan, keamanan dan ketertiban di sekitarnya.
Dalam perkembangannya, Jembatan Merah ini berubah secara fisik sekitar tahun 1890-an, ketika pagar pembatas diubah dari kayu menjadi besi. Saat ini, kondisi jembatan yang menghubungkan jalan Rajawali dan Kembang Jepun di sisi utara Surabaya ini hampir sama seperti jembatan lainnya, dengan warna merah tertentu.
Nah, kenapa dimakan jembatan merah? Ya karena dilokasi tersebut pernah terjadi pertumpahan darah antara pejuang dengan penjajah.  Di tempat ini juga Brigadir A.W.S Mallaby, pemimpin angkatan bersenjata Inggris yang telah menguasai Gedung Internationale Crediet en Verening Rotterdam atau Internatio tewas terbunuh di tangan arek-arek Suroboyo. Jembatan Merah ini pun menjadi saksi bisu betapa gigih dan beraninya arek-arek Suroboyo dalam perang 10 November Surabaya melawan tentara Sekutu dan NICA-Belanda yang hendak menguasai kembali Surabaya.
Kedua ada Jembatan Merah di Balikpapan, masih di zaman perjuangan kemerdekaan sekitar tahun 1945-1947, Jembatan Merah ini juga menjadi saksi bisu  pertempuran para pejuang Balikpapan.
Saat itu para pejuang Balikpapan menggunakan taktik gerilya untuk melawan Belanda yang mencoba menguasai kembali Balikpapan. Nah, di jembatan ini kerap kali pecah pertempuran antara pejuang dan tentara Belanda. Tak pelak, jatuh korban dari pihak pejuang yang gugur dalam pertempuran dengan tentara Belanda di jembatan ini.
Setiap usai pertempuran, jembatan ini selalu penuh dangan bercak darah dari tentara Belanda dan pejuang yang terluka. Karena itu oleh para pejuang jembatan ini dikenal dengan nama Jembatan Merah. Jembatan Merah tersebut kini masih ada. Dan setiap harinya dilewati kendaraan yang melintas dari dan ke kebon sayur
Ketiga, Jembatan merah di Desa Pulau Tengah, Kecamatan Keliling Danau, Kabupaten Kerinci ini. Akan tetapi walaupun jembatan itu dibilang sebagai jembatan merah, namun warna jembatan ini bukanlah  merah melainkan kuning.
Penamaan jembatannya sendiri sebagai jembatan merah karena dulunya, seperti kedua jembatan merah di atas jembatan ini dahulunya juga merupakan tempat pertumpahan darah dari pahlawan Kerinci dengan para penjajah.
Di jembatan itu banyak terjadi pertempuran karena pada Agresi Militer II tahun 1949, Belanda masuk ke desa Pulau Tengah dan membuat camp sekitar 50 meter berjarak dari jembatan. Nah, dengan adanya camp tentara Belanda di dekat jembatan tersebut membuat para petinggi Belanda menjadikan jembatan itu sebagai tempat untuk mengeksekusi penduduk Indonesia yang pro dengan republik.
Tentara Belanda tidak memberikan sedikit keringanan bagi warga Kerinci saat itu, setiap warga yang mau membayar “Tebus Nyawo”, maka tidak akan dibunuh. Selain sebagai tempat menghabisi nyawa rakyat Indonesia, jembatan ini juga dimanfaatkan oleh warga dan tentara perlawanan untuk mengintai para penjajah pada malam hari. Tak sedikit tentara belanda yang berhasil dibunuh oleh warga di bawah jembatan itu.
          Hampir setiap harinya terjadi pertumpahan darah di jembatan tersebut, sehingga setelah kemerdekaan pada tahun 1950-an, saat jembatan tersebut dibuat dengan besi, jembatan ini pun dinamakan jembatan merah. (berbagai sumber)

Copyright © ID Blog Kamu

Canvas By: Fauzi Blog, Responsive By: Muslim Blog, Seo By: Habib Blog