ID Blog Kamu: maluku

Tampilkan postingan dengan label maluku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label maluku. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 Juni 2012

Benteng Portugis di Indonesia

Kenapa banyak sekali benteng-benteng peninggalan bangsa portugis di wilayah timur Indonesia, dan jarang sekali kita temukan di barat Indonesia? Ya, mungkin jawabnya karena dulu di wilayah timur Indonesia kaya akan rempah-rempah yang sangat diperlukan oleh bangsa portugis, entah untuk dikonsumsi sendiri atau di perdagangkan kembali
          Saking banyaknya rempah-rempah mereka lantas tergiur untuk membawanya. Namun perjalanan dari nusantara ini ke negaranya memakan waktu yang sangat lama terlebih lagi kapal yang mereka naiki jelas-jelas berbeda dengan kapal zaman sekarang. Alih-alih butuh tempat sementara untuk menetap dan mengatur segala sesuatu termasuk urusan administratifnya, mereka pun membuat benteng disamping sebagai tempat untuk menyimpan rempah-rempahnya.
Ukuran benteng yang mereka buat pun tidak  kepalang kecil melainkan berukuran besar yang terbuat dari material yang kokoh, cukup untuk menampung orang-orangnya dari mereka yang hanya sekedar kuli angkut sampai perwira atasan. Benteng pun kerap dilengkapi dengan sistem pertahanan dari senjata sampai meriam-meriam untuk mempertahankan diri apabila diserang oleh rival dagang atau pun masyarakat lokal. Nah, dimana saja kah daerah-daerah di Nusantara ini yang banyak benteng portugisnya:
             Pertama ada di Benteng Portugis yang bernama Benteng Tohula yang tepat berada di tengah kota Tidore. Benteng Portugis Tohula berasal dari nama pelabuhan Tohula hasil karya arsitektur Spanyol yang letaknya tepat didepan benteng.  Dari benteng ini memang akan bisa melihat dengan jelas wilayah pantai sehingga pergerakan kapal musuh bisa terpantau sejak dini.
Benteng Tohula
Selain Benteng Tohula, di Tidore ada pula  Benteng Benteng Tore yang juga merupakan sisa peninggalan Portugis dan Belanda.Kedua benteng ini letaknya berdekatan, sama-sama di pusat kota serta dekat dengan Kedaton Kie, Singgasana Sultan Tidore.
Beralih ke Maluku tepatnya di Pulau Neira, disana  Benteng Belgica. Benteng ini pada awalnya adalah sebuah benteng yang dibangun oleh Portugis pada sekitar abad-1. Lama setelah itu, di lokasi benteng Portugis tersebut kemudian dibangun kembali sebuah benteng oleh VOC atas perintah Gubernur Jendral Pieter Both pada tanggal 4 September 1611. Benteng tersebut kemudian diberi nama Fort Belgica, sehingga pada saat itu, terdapat dua buah benteng di Pulau Neira yaitu; Benteng Belgica dan Benteng Nassau. Benteng ini dibangun dengan tujuan untuk menghadapi perlawanan masyarakat Banda yang menentang monopoli perdagangan pala oleh VOC.
Kemudian ada pula Benteng Tolukko merupakan salah satu benteng peninggalan Portugis yang berada di wilayah Maluku Utara khususnya di Ternate. Portugis ini mulai masuk dan menduduki wilayah Ternate sejak tahun 1512 dan benteng dibangun dengan tujuan sebagai tempat pengamanan misi dagang mereka serta kepentingan pengintaian musuh, bangunan ini mulai di bangun oleh Portugis pada tahun 1540.
Awal mula pembentukan benteng ini diberi nama Benteng Santa Lusia yang dibangun oleh Fransissco Serrao, salah satu yang menarik di Benteng Tolukko adalah ada suatu ruangan bawah tanah yang langsung tembus ke wilayah laut di sekitar benteng namun ruangan ini sekarang telah ditutup dengan alasan tertentu, hal ini juga di buat sebagai salah satu upaya portugis untuk menghindar dari musuh.
Benteng Tolukko
Pada tahun 1533 terjadi sebuah pemberontakan oleh rakyat Maluku, ini menghasilkan perebutan Benteng Tolukko, dan yang akhirnya Benteng Tolukko di duduki oleh pihak Indonesia. Tak lama Indonesia mendududuki benteng, bangsa Belanda mulai masuk dan akhirnya benteng ini pun direbut oleh pihak Belanda, tepatnya pada tahun 1602, tahun 1610 beberapa bagian benteng dilakukan renovasi oleh Belanda.
Penyebutan Benteng Tolukko dilakukan karena adanya sultan Ternate, yaitu Sultan Mandar Syah yang memeberikan penghormatan kepada Tolukko, sehingga makalah benteng ini disebut benteng tolukko.
Di Kota Ternate juga ada Benteng peninggalan Portugis yang bernama Benteng Gamlamo di daerah Kastela yang dibangun pada tahun 1522. Begitu pula dengan Benteng Kota Janji yang terletak di Selatan pusat kota Ternate. Berdekatan dengan Benteng Kota Janji ada Benteng Kalamata yang berdiri dekat dengan garis pantai dan dibangun pada tahun 1540.  (berbagai sumber)

Jumat, 18 Mei 2012

Di Museum, Ikan Paus itu Bersemayam

Tidak selamanya ikan paus dapat kita jumpai di lautan lepas, mengapa? Karena kita tak perlu pergi jauh-jauh kesana, namun cukup pergi ke beberapa museum dibawah ini. Ya, memang ikan paus yang dapat dilihat museum tidak dalam kondisi dia masih hidup dan berenang di lautan, melainkan dalam bentuk kerangka-kerangkanya yang utuh.
Namun cukuplah kumpulan tulang belulang kerangka  itu memberikan kita gambaran bagaimana bentuk paus yang sebenarnya dari dalam, tidak dari layar kaca atau buku bacaan. Nah, dimana saja museum-museum yang menyimpan kerangka ikan paus yang telah diawetkan, mari kita cek satu persatu
sumber foto: www.alampriangan.wordpress.com
 1.Museum Zoologi
 Mungkin museum ini sudah tidak asing lagi apabila kita berada atau sering ke kota Bogor. Di Museum ini tersimpan kekayaan fauna Indonesia, tak kurang dari 3 juta spesiemen yang meliputi 17.500 jenis fauna asal Indonesia yang sudah diawetkan berada di museum ini.
 Kerangka pausnya sendiri terletak di pintu keluar Museum ini dan menjadi koleksi tertua dan terbesar dari Museum Zoologi Bogor. Kerangka asli Ikan Paus Biru sepanjang 27,2 meter dengan berat 64 ribu kilogram. Hewan penguasa laut ini ditemukan di pantai Pameungpeuk, Jawa Barat pada tahun 1816, hmmm sudah cukup lama juga.
Lantas bagaimana ceritanya paus itu dipindahkan ke museum ini? ceritanya saat itu Pameungpeuk tidak ada jalan maupun jembatan yang bisa dilalui kendaraan apapun. Lantaran itu pula tulang-tulang paus biru kemudian diangkut dengan tenaga manusia melalui dataran dengan ketinggian rata-rata 1.700 meter dpl. Beratnya medan yang dilalui dapat dilihat dari waktu tempuh selama 44 hari menuju Garut. Selanjutnya kerangka itu diangkut ke Bogor dengan kereta api dan memerlukan waktu dua tahun sebelum kerangka paus biru terangkai kembali.

                 2.Museum Negeri Kupang 
 Kerangka paus juga bisa ditemui juga di Museum Negeri Kupang,  Kupang NTT. Kerangka itu ada, pada awalnya pada tahun 1970 terdampar sebuah Ikan Paus Raksasa sepanjang 18 Meter di Perairan Pantai Oeba Kupang Pulau Timor. Namanya ada ikan paus terdampar tak berdaya, masyarakat pun bertindak.
sumber foto: www.kupangamazingtourismplace.blogspot.com
Ya, tapi bukan menolong melainkan membagi bagian-bagian dari daging Ikan Paus tersebut seperti kebiasaan di masyarakat setempat. Pembagian daging ikan paus tangkapan adalah kepada yang bertindak menikam saat penangkapan, yang mempunyai perahu, awak perahu, pemuka adat, dan anak yatim piatu. Hal ini juga dilakukan saat pembagian ikan paus raksasa tersebut.
Proses pemotongan daging paus dimulai dari sirip dada, dan terus berlanjut kebagian ekor seiring dengan dipisahkannya daging dan kulit dari kerangka paus. Kemudian dibagi 3 bagian yaitu Kepala, Badan dan Bagian Ekor.
Nah, giliran kerangka ikan paus raksasa itu yang selanjutnya disimpan di Kampus Universitas Nusa Cendana. Tahun 1980 kerangka Paus Raksasa dipindahkan ke Museum Negeri Kupang saat diresmikannya museum tersebut.

               3.Museum Siwa Lima
           Kerangka paus juga ada di Museum Siwa Lima di Ambon, Maluku. Tak tanggung-tanggung bukan hanya satu kerangka melainkan  tiga kerangka paus asal Samudera Atlantik di Kutub Utara disimpan di museum ini
Awalnya ketiga ikan paus ini terdampar di tiga tempat pada waktu yang berbeda, dua jenis dari tiga mamalia laut yang terdampar itu jenis paus biru, yang pertama berukuran panjang 23,5 meter dan berat 80 ton, terdampar di Pantai Namlea, desa Nametek, Pulau Buru, pada 1987. 
sumber foto:www.deedeecaniago.multiply.com
Spesies paus biru yang kedua terdampar di Pantai Suli, dekat obyek wisata Pantai Pasir Putih Natsepa. Berat mamalia laut ini mencapai 60 ton, panjangnya tidak kurang dari 18 meter. Syahdan, kedua kerangka ikan paus ini pun diawetkan dengan teknik berbeda. Yang pertama ditanam di dalam pasir selama satu tahun baru diangkat, sedangkan yang kedua dilakukan oleh tim dari LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) dengan cara dimasak.
Sedangkan paus ketiga merupakan jenis yang bergigi (pembunuh), ditemukan di daerah Latuhalat pada 1990, panjangnya 12 meter, beratnya sekitar delapan ton. Dari warnanya yang coklat, kerangka paus bergigi tersebut juga diawetkan dengan teknik dimasak. (berbagai sumber)

Senin, 14 Mei 2012

Kisah Tragis, Buaya Putih sampai Harta Karun Danau Tolire

Dengan pepohonon hijau yang mengelilingi danau seakan-akan danau ini benar-benar alami Ya, namanya Danau Tolire yang terletak di Ternate Maluku Utara. Dari pusat kota Ternate berjarak kurang lebih 10 km dari sana. Danau ini berada tepat di bawah kaki Gunung Gamalama, gunung api tertingi di Maluku Utara. 
sumber foto: www.travel.indoprofile.com
Danaunya sendiri sebenarnya bukan hanya satu saja, melainkan ada dua buah. Bagi masyarakat setempat menyebut dua danau itu sebagai Danau Tolire Besar dan Danau Tolire Kecil. Jarak antara keduanya hanya sekitar 200 meter.

Konon cerita rakyat yang menghiasai danau ini rada  cukup miris, lantaran kejadian ayah yang menghamili anaknya sendiri ternyata bukan hanya terjadi pada masa sekarang saja. Pasalnya kenapa danau ini ada dipercaya terjadi lantaran adanya peristiwa ayah yang menghamili anaknya sendiri.

        Lho apa hubungannya? nah, dahulu kala sebelum terbentuknya danau ini,  di lokasi tepat danau sekarang ini berada dulunya merupakan sebuah desa/perkampungan. Warga desa tersebut hidup sejahtera dan mempunyai tali persaudaraan yang kuat, maklum hidup di desa jadi tidaklah mengherankan jika semua warga didesa tersebut saling mengenal pribadi satu sama lain.

Sampai suatu ketika terjadi peristiwa yang menggemparkan seluruh desa. Ada Seorang bapak menghamili anaknya sendiri. Tak pelak, membuat seluruh warga desa marah. Semuanya pukul rata, tidak bapak atau anaknya keduanya diusir dari desa oleh warga, untung saja tidak diamuk massa, hehehehe

Terpaksa dan merasa malu maka keduanya pun angkat kaki dari desa. Nah, saat mereka melangkahkan kaki pergi dari desa terjadilah suatu kejadian aneh. Konon ceritanya tempat mereka (ayah dan anak itu) berpijak seketika terbelah akibat gempa dahsyat yang terjadi secara tiba-tiba. Sang penguasa ternyata marah dan menghukum ayah, anak, beserta desa tersebut menjadi dua buah danau, yaitu Satu danau besar yang kemudian disebut tolire besar (lamo) yang menggambarkan sang ayah. Satu lagi danau yang lebih kecil yang disebut tolire kecil (ici) yang mencerminkan sang anak.

Konon katanya lagi para warga desa yang tenggelam ituberubah menjadi buaya putih yang melindungi danau sampai sekarang. Penduduk setempat meyakini bukan hanya satu atau dua buaya putih saja yang ada di danau itu, melainkan dihuni oleh ratusan buaya putih berukuran sekitar 10 meter yang acap kali menampakkan dirinya. Itu sebabnya mengapa pengunjung yang ada ada di danau Tolire dilarang untuk berendam, berenang, bahkan memancing di danau Tolire karena mereka percaya barang siapa yang mengganggu danau akan menjadi mangsa buaya putih.

Selain cerita dan buaya putih, di danau  ini juga katanya ada banyak  harta karun yang tersimpan di dasar Danau Tolire Besar. Harta karun ini diyakini milik masyarakat Kesultanan Ternate saat Portugis menjajah Ternate abad ke-15. Masyarakat Ternate saat itu banyak membuang hartanya yang berharga ke dalam danau agar tak dirampas tentara Portugis, namun belum diketahui kebenaran dan kepastian ada tidaknya harta karun yang tersembunyi di bawah danau ini.(berbagai sumber)

Rabu, 04 April 2012

Bertemu Tiga Bidadari Halmahera

Ngomong-ngomong soal air terjun, kalau di Bandungan tepatnya di Desa Kesenang itu ada air terjun 7 bidadari, nah di Halmahera ada Air Terjun Tiga Bidadari. Lagi-lagi ada nama bidadari di belakangnya, eitss  tapi jangan salah terciptanya nama bidadari itu ada ceritanya lho.

Konon menurut cerita yang beredar di tengah masyarakat, dulu ada perempuan cantik yang berambut panjang yang cantik dari kayangan yang mandi disana.  Cerita ini mengiiringi keindahan air terjun yang oleh warga sekitar yang akhirnya  dijuluki sebagai "Bidadari". Cerita turun-temurun ini memang layak mewakili kesegaran air yang jatuh dari sela-sela batu kapur tersebut.

Sumber gambar: www.csrbusinessindonesia.com
Selain menyajikan keindahan alam yang alami, akses lokasinya bisa dicapai baik dengan sepeda motor maupun mobil. Air Terjun Tiga Bidadari terletak di desa Dakaino, Kecamatan Wasile Timur, Kabupaten Halmahera Timur atau sekitar 45 km dari Bandara Buli.

Saat akan memasuki jalan menuju air terjun mata anda akan disuguhi panorama alam pedesaan  yang asri yaitu berupa hamparan sawah yang terbentang luas dengan latar belakang perbukitan hijau. Kemudian setelah sampai diujung desa kita akan melihat sebuah bendungan yang mengairi sawah-sawah tersebut. Sehingga tidak heran daerah ini menjadi lumbung padi untuk Maluku Utara. Setelah itu jalan mulai menanjak untuk mencapai lokasi air terjun. Pepohonan besar berdiri kekar menyambut kedatangan kami saat memasuki Air Terjun Tiga Bidadari.

Di obyek wisata ini kita dapat berjalan-jalan dengan dipandu oleh penduduk sekitar yang sudah mengenal daerah obyek wisata air terjun tersebut. Anda dapat menikmati keindahan air terjun yang alami tersebut dan alam sekitarnya dengan menyusuri sepanjang aliran airnya. Anda bisa memulai dari atas sampai kebawah, atau sebaliknya. Air terjun ini terdiri dari bebatuan kapur yang memiliki ketinggian sekitar 100 meter, lebar atas 8 meter dan lebar bawah sekitar 20 meter . Yahhh, Indahnya air terjun yang masih alami dan udara sejuk dikawasan ini tidak heran lah kalau bidadari pun mampir ke tempat ini. (berbagai sumber)

Copyright © ID Blog Kamu

Canvas By: Fauzi Blog, Responsive By: Muslim Blog, Seo By: Habib Blog