ID Blog Kamu: kuningan

Tampilkan postingan dengan label kuningan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kuningan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 06 September 2012

Berenang-renang Bersama Ikan Keramat

Tak jarang di beberapa tempat objek wisata di Indonesia ada sesuatu yang dikeramatkan. Mulai dari tempatnya sendiri, atau pun sesuatu yang berada di tempat wisata tersebut, misalnya sebongkah batu, patung atau bahkan binatang seperti seekor ikan.Ya ikan,  kenapa ikan bisa dikeramatkan? apakah ada sesuatu yang istimewa dari ikan tersebut? menemukan jawabannya tentu kembali kepada cerita yang melatarbelakangi keberadaan dari ikan-ikan tersebut. Nah sekarang dimana sajakah anda dapat menemukan ikan-ikan keramat itu berada, dibawah ini ada daftar singkatnya

1.Objek Wisata Cigugur
Objek Wisata Cigugur berada wilayah kaki gunung Ciremai, Kuningan, Jawa Barat. Disana terdapat ikan yang bernama Ikan Dewa. Kenapa dinamakan ikan dewa? tak ada yang tahu karena ikan itu muncul secara tiba-tiba, tetapi kolam sebagai tempat ikan itu dapat hidup berenang-renang sesuka hatinya mempunyai cerita yang berkaitan erat dengan Sunan Gunung Jati.

sumber foto:www.rikiridwana.co.cc
Adalah Rama Haji Irengan yang merupakan salah satu murid dari Sunan Gunung Jati. Rama Haji membuat kolam itu sebagai pertanda bahwa wilayah itu telah memeluk agama islam seperti amanah yang diberikan oleh sang guru.
Ikan Dewa ini konon akan menghilang dengan sendirinya saat air kolam menyusut, tetapi akan muncul kembali apabila air kolam terisi kembali. Entah bersembunyi dimana tetapi yang pasti masyarakat setempat percaya akan mitos dari keberadaan ikan tersebut. Barang siapa yang berani menangkap atau mengkonsumsi ikan Kancra atau dalam bahasa latin dikenal Labaebarbus Dournensisakan berakibat petaka.
                                                                                                                                    
Awalnya kolam ini hanya satu saja, namun semenjak dikelola sebagai objek wisata kolam pun dibagi menjadi dua kolam. Salah satu kolam dibagi lagi menjadi tiga bagian dengan kedalaman berbeda dan dapat digunakan pengunjung  untuk berenang.

2.Sumur Tujuh Cibulan
Selain di Cigugur, Ikan Dewa juga bisa ditemui di Sumur Tujuh Cibulan yang terletak di Desa Maniskidul pinggir jalan raya Kuningan-Cirebon. Mitosnya hampir sama dengan Ikan Dewa di Cigugur, yang mengambil dan memakannya akan cilaka nantinya.
sumber foto: www.evayulianti76.blogspot.com
Mengenai keberadaan ikan-ikan dewa di kolam itu masih diselimuti kabut misteri  Ada cerita yang mengatakan konon ikan-ikan tersebut  dibawa oleh murid-murid Walisongo saat datang ke Cibulan. Para murid walisongo juga meninggalkan 7 buah sumur yang mereka gunakan untuk berwudhu pada saat itu dan dipercaya dapat membuat orang tetap awet muda dengan membasuh wajahnya dengan menggunakan air sumur. Ada pula yang mengatakan  ikan kancra bodas atau ikan dewa itu  merupakan mantan pasukan Prabu Siliwangi yang membelot. Nah mana yang benar, hanya Tuhan yang tahu.

3. Gua Ngerong
Itu ikan dewa di Kuningan, lantas di daerah Kabupaten Tuban ada sebuah Gua yang bernama Gua Ngerongyang berada di kec. Rengel. Gua ini adalah gua air yang jika kita ingin mangarunginya harus menggunakan perahu karet.

Gua yang panjangnya sampai berkilo-kilo ini di dalamnya terdapat ikan Bader Bang (Puntius Javanicus) sebesar paha berenang-renang yang jumlahnya mencapai ribuan ekor. Mitos ikan ini seperti Ikan Dewa di Kuningan karena barang siapa yang berani memakan atau membawanya pulang akan terjangkiti penyakit yang tak akan pernah sembuh.

Mitos lainnya barang siapa masuk gua maka dia harus keluar 12 jam berikutnya. Mitos-mitos ini membantu gua, lingkungan sekitar gua beserta ikan-ikan dan hewan-hewan lainnya yang berada dalam gua tetap lestari sampai saat ini karena tidak banyak mendapatkan gangguan dari tangan-tangan manusia.

4.Objek Wisata Rambut Monte

Tak ketinggakan selain di Kuningan, Ikan Dewa yang keramat juga dapat ditemui di Objek Wisata Rambut Monte di Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Objek wisata ini terletak sekitar 30 kilometer dari pusat Kota Blitar. Rambut Monte berada di Desa Krisik, Kecamatan Gandusari.

Kawasan wisata Rambut Monte dibagi menjadi tiga bagian utama, yakni pelataran, areal candi dan telaga yang terdapat Ikan Dewa. Warga setempat biasa menyebutnya dengan nama ikan sengkaring, seperti ikan wader (Labeobarbus siamensis) yang panjangnya sekitar 60 centimeter.

Ikan-ikan di telaga itu cukup jinak namun tak seorangpun yang berani menangkapnya. Kepercayaan masyarakat sekitar mengenai ikan-ikan keramat itu berdasarkan legenda yang beredar sejak dahulu kala. Konon dulu di lokasi ini terjadi perkelahian antara Rahwana dan Naga melawan Mbah Rambut Monte, keturunan Kerajaan Majapahit.

Pertarungan itu dimenangkan oleh Mbah Rambut Monte. Mbah Rambut Monte kemudian mengutuk Rahwana dan Naga menjadi candi berbentuk monyet dan relief naga. Mbah Rambut Monte berpesan kepada sejumlah muridnya agar menjaga batu candi yang berwujud Rahwana dan relief naga.

Namun karena sebagian muridnya tidak mematuhi perintahnya, Mbah Rambut Monte marah besar dan mengutuk murid-muridnya menjadi ikan Sengkaring yang hingga saat ini masih mendiami telaga.(berbagai sumber)

Jumat, 13 April 2012

Curug Bangkong yang Penuh Misteri

Di balik keindahannya, Curug Bangkong memang penuh misteri bagaimana tidak? Dari asal muasalnya saja sudah mengundang misteri. Eh, ternyata banyak juga yang beranggapan bahwa air terjun ini tempat yang seram alias angker. Hal ini bermula dari anggapan orang-orang di masa lalu yang mengaitkannya dengan peristiwa ditemukannya orang mati di sana. 

Mereka menganggap kematian itu sebagai tumbal keangkeran Curug yang terletak di Desa Kertawirama Kecamatan Nusaherang, Kuningan ini. Peristiwa itu sendiri terjadinya sudah sangat lama, bahkan sebelum Indonesia merdeka. Ya di sekitar tahun 1944, saat itu ada seorang pemuda bernama Yoyo entah kenapa tewas di Curug Bangkong dan jasadnya tak pernah ditemukan sampai sekarang. 
Nah, imbas dari tewasnya Yoyo itulah akhirnya para pengunjung Curug Bangkong dilarang mandi. Selang puluhn tahun kemudian di  tahun 2002, juga ada  pemuda yang meregang nyawa disana.  Adalah Tatang (18), seorang pemuda mengakhiri hidupnya dengan gantung diri di sekitar curug. Dua kejadian ini membekas di dalam benak masyarakat, dan kemudian menganggap air terjun itu sebagai tempat yang angker. 

Di tahun tahun 1970 pernah terjadi peristiwa aneh, saat itu masyarakat melihat cahaya terang benderang yang melayang-layang di sekitar areal Curug Bangkong. Cahaya itu lantas mendarat dan menghilang di sebuah makam keramat yang ada di sana yang ternyata itu adalah Makam Pangeran Arya Salingsingan

Makam itu merupakan makam seorang panglima Kerajaan Talaga, yang dipercaya sebagai salah satu penyiar syiar Islam di daerah Kuningan Barat. Beliau adalah seorang utusan Sunan Gunung Jati. Akan halnya lubang misterius yang ada di balik Curug Bangkong. Seorang Spiritualis Tatar Sunda pernah bilang adanya sebuah lubang setinggi 1 meter dengan lebar 0,8 meter. Letaknya persis di belakang sebelah kiri curug itu. 

Dan konon pula panjang gua itu hampi 1 Km (tepatnya 800 m). Sesepuh desa mengatakan ujung lubang itu tembus sampai ke Gunung Embun. Terbukti bila debit air mencapai 5 meter kubik atau lebih, maka embun akan keluar dari lubang-lubang yang ada di sana. 

Di tahun 1950-an, pernah ada orang yang penasaran akan ke dalaman lubang ini. Sebagai uji coba, dimasukkanlah seekor anjing yang diikat tali ke dalam lubang. Setelah sekian lama di tunggu, tali kemudian ditarik. Ternyata anjing itu menghilang dan yang kembali cuma ikatan tali di leher si anjing tadi. Menurut cerita dari mulut-ke mulut, konon anjing itu dimakan ular sanca kembang yang panjangnya mencapai 15 meter dan badannya sebesar paha orang dewasa. (berbagai sumber)

Kamis, 12 April 2012

Curug Bangkong dan Mbah Wiria

Nama tempat terutama air terjun itu biasanya terinpirasi dari cerita-cerita yang beredar di masyarakat setempat, seperti Air Terjun Bidadari, Sri Gethuk, dan yang lainnya. Setali tiga uang dengan air terjun-air terjun itu, Curug atau Air Terjun Bangkong yang  berada di Desa Kertawirama Kecamatan Nusaherang Kuningan, Jawa Barat ini juga terinipirasi dari hal yang sama.

Nah, menurut tutur dari mulut ke mulut, alkisah dulu ada orang tua yang bernama Wiria. Dia adalah  seorang pertapa yang sedang berkelana yang berasal dari Ciamis.  Dalam perjalananya  pertapa tua ini tak sengaja menemukan sebuah air terjun atau curug . Setibanya di sana ia merasakan ada aura yang berbeda. Ketika itulah batinnya merasa terpanggil oleh kekuatan gaib yang ada di sekitar curug. Wiria yakin itulah tempat yang tepat untuk melakukan tirakatnya, lantas ia yakin pula bila di tempat itu  dirinya dapat jmelakukan ilafat.

Namanya juga manusia yang  perlu sosialisasi, di sela-sela tirakatnya itu, Wiria  menyempatkan diri bergaul dengan masyarakat. Ia lalu mengajarkan masyarakat lokal soal tata cara bagaimana membuat gula kawung (gula merah) yang bahan mentahnya banyak tumbuh di lingkungan sekitar. Dalam waktu singkat karena masyarakatnya antusias, hampir seluruh penduduk desa pandai membuat gula kawung dan akhirnya pekerjaan itu pun menjadi mata pencaharian penduduk sekitar.
Nama Wiria pun seiiring dengan itu menjelma menjadi Abah Wiria sebagai bentuk penghormatan masyarakat kepadanya. Dalam perkembangannya Abah Wiria mendapat panggilan batin dan kembali  areal curug untuk tirakat. Di mana Abah Wiria melakukan semadinya tak ada yang tahu  karena Wiria melakukannya secara diam-diam.  Konon, menurut cerita yang ada Abah Wiria melakukan tapa bratanya  di balik air terjun.

Berhari-hari, bahkan berbulan-bulan Abah Wiria berada di sana. Masyarakat  kemudian merasa kehilangan seorang tokoh yang selama ini membimbing. Mereka bertanya-tanya, apa yang terjadi dengan Abah Wiria. Diduga kuat di gua itulah Abah Wiria melakukan semadinya dan Ini membuat warga desa bertanya-tanya.
foto: www.citography.wordpress.com
Teka-teki keberadaan Abah Wiria pun merebak ke pelosok-pelosok desa. Warga mencarinya tetapi sosok Abah Wiria tak kunjung ditemukan. Ada sebagian warga yang meyakini bila Abah Wiria sudah meninggal di dalam curug. Sementara yang lain meragukannya lantaran jasadnya tak pernah ditemukan. Kabar yang paling santer adalah dugaan bila Abah Wiria menghilang (moksa) karena telah sempurna melaksanakan ritual tapa brata.

Macam-macam dugaan pun berkembang di dalam masyarakat, sampai-sampai muncul dugaan aneh soal Abah Wiria, banyak yang meyakini tubuh orang tua itu telah menjelma menjadi seekor bangkong (kodok). Pasalnya,  sepeninggal Abah Wiria di sekitar curug sering terdengar suara-suara kodok. Padahal selama ini jarang warga di situ mendengar ada suara kodok disana. Anehnya, ketika suara kodok itu di dekati, tiba-tiba menghilang.

Atas dasar dugaan itu, akhirnya air terjun itu diberi nama Curug Bangkong. Dalam perkembangannya, banyak orang mengikuti jejak Abah Wiria bertapa di sekitar Curug Bangkong. Sehingga bila ada pendatang yang bermaksud melakukan tapa barata di sekitar curug, pasti akan disambut suara kodok. Nah, bila itu yang terjadi, konon seseorang akan bernasib baik. Doanya akan dikabulkan oleh Yang Maha Kuasa, tapi ya wallahualam juga benar atau tidaknya. (berbagai sumber)

Copyright © ID Blog Kamu

Canvas By: Fauzi Blog, Responsive By: Muslim Blog, Seo By: Habib Blog