Menjemput Angel (part II)

Senin, 26 Maret 2012

Menjemput Angel (part II)

cerita sebelumnya ada di: Menjemput Angel (part I)

“Aku dan keluargaku lebih memercayai apa yang terlihat oleh mata, tercium oleh hidung, terdengar dengan telinga, tercecap dengan lidah, dan teraba oleh kulit. Kami lebih percaya apapun yang secara nyata kami rasakan.” jelasku panjang lebar. “Jelas saja, aku tidak percaya kamu, karena kamu pasti tidak nyata, karena aku pasti sedang bermimpi. Ya! Kamu hanyalah khayalanku! Aku hanya butuh suntikkan untuk menenangkan isi otakku!” 

Ia tertawa kecil, penjelaskanku sepertinya tidak membuat dirinya putus asa. “Itulah salah kalian... para manusia yang terlalu angkuh.” 

“Jadi... kamu menyalahkan kami? Kamu Tuhan?” 

“Aku bukan Tuhan.” jawabnya santai sambil mendudukkan tubuhnya dekat dengan tempat tidurku. “Tapi, aku sangat mudah bertemu dengan Dia.” 

“Lalu, kamu dan Tuhan sebenarnya ada?” 

“Siapa yang menciptakan Bimasakti dan seluruh mahluk hidup yang ada di dalamnya?” ia menyorot mataku, tapi tatapan itu tak mengintimidasi. 

“Ada teori yang menjelaskan itu. Teori itu cukup adil dan cukup nyata buatku.” selorohku singkat, aku balas menatapnya. 

“Apapun yang dipikirkan manusia bisa saja salah.” ia menyentuh selimutku. “Kalian hanya mengandalkan pancaindra dan otak. Semua yang dimiliki manusia selalu terbatas. Manusia diciptakan terbatas agar benar-benar menjadi mahluk sosial yang saling melengkapi kekurangan mereka masing-masing.” 

Pembicaraan menjadi cukup menarik. Aku mulai mencoba bangun dan menegakkan tubuhku. Ia membantuku dengan menarik jemariku. Tangannya dingin, tubuhnya seakan-akan tembus pandang. Siapa dia? Aku semakin heran saja! 

“Manusia itu sempurna dan punya otak yang luar biasa. Kamu tak punya hak untuk merendahkan kami!” bentakku dengan suara setengah keras. Aku tak ingin ibuku bangun. 

“Aku tidak merendahkanmu. Hanya ingin memberitahu, pemahaman manusia selalu sebagian-sebagian saja. Kalian hanya menatap dari cermin, samar-samar. Kalian hanya berfokus pada tubuh kalian, bukan pada seluruh sisi yang terlihat oleh cermin.” 

“Jadi, kau menilai manusia itu bodoh?” aku mendongkak, menatap matanya dengan tajam. 

Ia seperti berpikir. “Sebenarnya... aku tak benar-benar tahu apakah manusia itu bodoh dan benar-benar sempurna seperti yang kamu bilang. Aku tak pernah tahu rasanya jadi darah dan daging. Aku tak pernah tahu rasanya jadi manusia.” 

“Lihatlah! Kamu melucu lagi!” tawa kecil tergores di bibirku. “Kalau kau tak tahu rasanya jadi manusia, maka jangan menilai kami!” 

Sosok dengan mata indah itu terdiam. “Malaikat tahu apa yang manusia lakukan. Aku mengawasimu, Angel.” 

“Sekarang kamu bukan lagi terlihat seperti malaikat! Kamu mata-mata!” 

“Bisa dibilang begitu juga. Kami mata-mata Tuhan.” lembut suara itu mengaliri gendang telingaku. “Aku juga tahu kalau dalam sakitmu, kamu dan keluargamu tak meminta pemuka agama untuk mendoakanmu. Tak ada ustad, pendeta, pastor, ataupun biksu yang mendoakanmu.” 

Aku terdiam dan tertunduk. Pernyataan itu seperti panah yang menusuk-nusuk hatiku secara sadis. “Aku sudah bilang kalau aku tidak percaya padamu begitu juga dengan retorika ketuhanan yang kamu ceritakan padaku.” 

“Mengapa?” tanya singkat sosok itu. Sosok yang belum kupercayai sebagai malaikat. 

“Aku lebih percaya sesuatu yang pasti. Ilmu pengetahuan! Semuanya mutakhir dan sudah dibuktikan!” aku mulai menjelaskan alasanku. “Dokter bisa lebih dipercayai daripada pemuka agama manapun.” 

“Dokter adalah manusia. Akan sangat amat bodoh kalau kamu lebih memercayai dia daripada Penciptamu.” 

Jawaban itu benar-benar menyudutkanku. Hatiku tiba-tiba menangis tapi tak ada gerimis luruh di pipiku. Tak ada air mata di pelupuk mataku. “Kalau Tuhan ada, lantas mengapa dia tidak menyembuhkan penyakit leukimia-ku?” 

Sosok dengan tubuh dingin itu terdiam. “Dia hanya merindukan suaramu menyebut namaNya.” 

“Dia tega menghukumku?” tuduhku sinis. 

“Dia tidak pernah menghukum, Dia hanya ingin memberitahu. Kamu terlalu sinis padaNya. Seandainya kamu tahu bahwa Dia sangat mencintaimu.” 

“Jadi, Dia begitu mencintaiku? Dia yang mengubah pagiku menjadi siang dan malamku menjadi pagi kembali?” tanyaku penasaran. “Jadi, Dia itu benar-benar ada?” 

Malaikat itu mengangguk kecil. Aku mulai berani menyebutnya malaikat. Dia memang memenuhi kriteria bagi seorang malaikat. Selalu mengangetkan dan selalu berkata “Jangan takut.” 

“Bayangkan jika tak ada yang mengatur jagat raya ini. Bayangkan jika tak ada yang mengendalikan seluruh isi dunia ini.” 

“Ada manusia yang menjaga dan mengaturnya. Semua manusia punya tugasnya masing-masing.” 

“Manusia menciptakan gravitasi? Siapa yang merekatkan matahari dengan planet-planet lainnya? Adakah manusia yang punya tugas khusus untuk menarik planet-planet itu? Manusia sekuat apa?” 

Aku terdiam dan berpikir cukup dalam. Pertanyaan malaikat itu kubiarkan menggantung di udara. 

“Ada ilmu pengetahuan yang menjelaskkan tentang asal-usul gravitasi.” sahutku menyanggah pertanyaannya. “Tolong jangan paksa aku berpikir terlalu jauh! Aku sedang sakit!” 

“Sudah kubilang manusia pasti memiliki keterbatasan dan kelemahan. Kamu sakit! Bukti bahwa kamu memiliki kelemahan.” 

“Sakitku pasti sembuh. Ada ilmu pengetahuan yang telah menemukan obat untuk sakitku.” ucapku perlahan. Sebenarnya aku tak terlalu yakin pada ucapanku. 

“Bicara tentang naif, ternyata manusia sangat mudah melakukan tindakan naif.” 

Kepalaku yang tertunduk kembali menyorot mata indahnya. “Bisakah kamu sedikit saja menahan ucapan bibirmu? Banyak ucapanmu yang menyakiti perasaanku.” 

“Apa rasanya sakit? Malaikat bukan daging dan darah. Malaikat bukan manusia. Aku memang melihatmu, tapi aku tak tahu rasanya menjadi kamu.” 

Aku menghela nafas. “Bagaimana rasanya sakit? Rasanya seperti perasaanmu dicabik-cabik, mengeluarkan darah, lalu diberi tetesan air jeruk nipis. Perih!” 

Malaikat itu menimbang-nimbang perkataanku. Ia terlihat sangat kebingungan. “Kalau begitu... menjadi manusia itu membingungkan juga ya.” 

“Wajahmu terlihat lucu!” emosiku mulai cukup tenang, aku kembali berkata-kata dengan santai. “Kita sudah mengawali semua dengan baik, Malaikat.” 

Senyumnya mengembang, malaikat itu tampak bersinar dengan lembut. “Kamu tentu bosan terus-menerus tidur di tempat ini.” 

“Tidak juga. Aku senang membaca national geograpic dan beberapa buku yang bercerita tentang ilmu pengetahuan di belahan bumi ini. Dengan membaca buku seperti itu, aku seperti menjelajahi seluruh isi dunia dari tempatku berbaring.” 

“Kenapa tidak coba membaca buku yang bercerita tentang Tuhan dan penciptaanNya? Kalau tidak salah, namaku juga sering disebut dibeberapa buku itu.” 

“Aku sudah bilang padamu, aku lebih percaya semua hal yang nyata.” tuturku lebih menegaskan. “Semua yang nyata jauh lebih menarik daripada yang tak terlihat oleh mata.” 

Malaikat itu menatapku dengan kilatan lembut di matanya. “Kamu terlalu memercayai matamu. Mengapa kau tidak memercayai mata batinmu?”

(bersambung... ke Menjemput Angel part III)

with love :)
Dwitasari

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Copyright © ID Blog Kamu

Canvas By: Fauzi Blog, Responsive By: Muslim Blog, Seo By: Habib Blog