ID Blog Kamu: fiksi

Tampilkan postingan dengan label fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fiksi. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 Maret 2013

Makan di sampingmu

            Aku berjalan dengan langkah bingung. Asap rokok dan dengung suara pengunjung kantin seperti bergantian mengganggu indra penciuman dan indra pendengaranku. Mataku sibuk mencari dia, pria yang selalu ingin kutemui setiap usai kelas.
"Shena!" seseorang yang kuhapal garis wajahnya mengangkat tangan; memanggil namaku dengan suara nyaring.
Aku berjalan menghampirinya dengan senyum yang kuhias dengan lengkungan paling manis, barisan gigiku yang rapi kuperlihatkan seutuhnya. Senyum itu hanya untuknya.
"Udah makan?" Ia menepuk pundakku, bertanya dengan tatapannya yang teduh dan hangat.
Aku tak langsung menjawab, terpaku beberapa saat menemukan bola matanya benar-benar menyorot tajam mataku. "Gue belum makan, kenapa?"
"Beli ayam kremes deh, nanti gue bagi sama elo aja."
"Oke," tanpa menolak, aku segera meraih dompet di tasku, "Elo suka yang pakai sambal kan?"
Ia mengangguk setuju. Aku segera tahu kemauannya. Sambal adalah kecintaannya, tapi kebencian bagiku. Saat makan ayam kremes, sesampainya di rumah perutku langsung sakit luar biasa, seperti ada jutaan tangan yang mengoyak-ngoyak perutku. Sungguh, aku tak suka sambal, tapi demi bisa makan bersamanya; aku akan melakukan apapun, meskipun segalanya siksa bagiku. Bodohkah aku? Mungkin.
Aku mengantre cukup lama, karena ayam kremes adalah makanan paling laris di kantin. Setelah sepiring nasi bersama ayam dan sambal sudah ada dalam tanganku, aku segera berjalan ke arah mejanya. Ia sibuk berbincang-bincang dengan teman-teman yang lain. Mereka menghisap rokoknya dalam-dalam, kemudian mengembuskan asap rokok ke udara. Aku benci asap rokok, tapi demi bisa menatap wajahnya lebih lama; aku harus sering menghirup asap rokok. Salahkah aku? Mungkin.
Aku duduk di sampingnya, ia memasang senyun paling manis untukku, yang kurasa hanya untukku.
"Nasinya gue minta banyak, karena gue tahu elo pasti ikutan makan."
Pria itu tertawa geli. Pria yang selalu ingin kujaga tawanya, yang selalu ingin kuabadikan senyumnya. Kami makan bersama, dia mencolek nasi beserta ayam kremes ke sambal yang telah kusediakan khusus untuknya. Sesekali aku mencuri pandang ke arahnya. Aku perhatikan cara ia mengunyah makanan, cara ia mencibirkan bibirnya ketika sambal menyentuh lidahnya; aku tersenyum dalam hati.
Aku selalu suka saat bisa makan ayam kremes bersamanya. Saat lengan kita bertemu karena aku duduk tepat di sampingnya. Itulah waktu yang paling tak ingin kusia-siakan. Hanya saat makan ayam kremes, aku bisa merasakan kehangatan yang menjalar di dadaku, semakin menguat ketika kudengar dia bercerita dengan mulutnya yang masih penuh dengan nasi.
Saat makanan kita habis, ingin rasanya aku membeli ayam kremes, dan mengulang lagi waktu yang berlalu tadi. Aku ingin terus makan ayam kremes bersamanya. Saat bersamanya, hal bodoh lainnya segera kulupakan. Aku jadi suka menantang lidahku dengan sambal dan aku jadi senang makan ayam; kesukaanku sebenarnya ikan. Iya, aku melakukan banyak hal, mengubah kesukaanku, mengubah tata sikapku saat di depannya. Aku tak ingin terlihat cacat di mata pria yang sangat kucintai.
Dia mengubah rasa ayam kremes di lidahku menjadi nikmat dan tak terlupakan. Sebenarnya, bukan persoalan ayam kremesnya. Aku hanya tak ingin melewatkan saat-saat bisa berdekatan dengannya, saat kami makan ayam kremes.
"Thanks, ya, udah nemenin makan." ucap pria itu sambil meraih air putih yang juga kebelikan untuknya.
Aku mengangguk lemah. Karena tak begitu tahan pada asap rokok, aku meninggalkan dia bersama teman-temanku yang lain. Aku pamit, dengan senyum yang kubikin seakan tak terjadi apa-apa. Hanya satu hal yang begitu kukejar saat berada di kantin, makan ayam kremes bersamanya.
Aku meninggalkan meja dan bangku yang kududuki di kantin, berjalan dengan langkah yang kuat; menunggu pertemuan esok hari. Aku akan makan ayam kremes bersama dengannya lagi. Seperti biasa.
Dia akan selalu kupandangi seperti itu, dari sampingku ketika aku diam-diam mencuri pandang ke wajahnya. Dia akan selalu seperti itu, diam-diam kucintai.
***
Entah sudah berapa ayam kremes yang kuhabiskan bersama dengannya. Entah sudah berapa es teh yang kami minum bersama. Tak ada ikatan apa-apa, juga hubungan apa-apa. Tak ada pesan singkat yang kubaca setiap malam darinya atau sekadar sapaan ringan pada pagi hari. Aku mengharapkan itu semua, sungguh. Sudah berbulan-bulan aku memendam perasaan, tak mungkin dia tak tahu bagaimana perasaanku. Sudah banyak ayam kremes dan es teh yang kami habiskan bersama, tak mungkin dia tak menyadari segalanya.
Aku berlaku seperti biasanya, seusai kelas langsung berjalan menuju kantin. Harapku begitu besar terhadapnya, ada sesuatu yang harus kukatakan. Apa gunanya merasakan jika tertahan dan tidak diungkapkan? Apa untungnya mencintai tanpa perjuangan sama sekali?
Iya, aku berjalan ke arahnya. Mata kami sempat bertemu, tapi tak kulihat lambaiannya tangannya mengarah kepadaku. Dia hanya tersenyum tipis, seakan tak mengundang aku ke mejanya.
“Sudah makan?”
“Sudah.”
Mendengar jawabannya yang singkat, aku terdiam. Dia tidak menungguku.
“Tadi makan apa?”
“Ayam kremes.”
“Beli sendiri?”
“Iya. Sendiri.”
Sesingkat itulah jawabannya. Ada sesuatu yang berbeda. Aku mencoba membuka percakapan, mencoba mencari kesalahanku sehingga sikapnya tak seramah kemarin.
Ketika kehabisan bahan percakapan, aku kelaparan; sangat lapar. Aku sengaja tak sarapan sejak pagi agar bisa makan bersamanya. Aku tak bisa terlalu kenyang. Itulah yang kulakukan hampir setiap hari, tidak sarapan agar saat makan siang aku bisa menyantap ayam kremes bersamanya. Aku selalu ingin duduk di sampingnya. Sembari menghilangkan rasa lapar, aku pamit membeli ayam kremes di tempat biasa. Ia mengangguk lemah.
Sepiring ayam kremes dan segelas es teh sudah ada di tanganku. Aku berjalan pelan-pelan mendekati meja. Ia seakan tak ingin menatapku. Aku segera duduk di sampingnya, memakan ayam kremes sendirian. Baru kali itu, aku makan tanpa menyentuh lengannya. Dulu, setiap makan ayam kremes, lengan kami bisa bersentuhan.
Ada celah yang memisahkan tempat duduk kami.
Kami berjarak.
Aku sedang sibuk-sibuknya mengarahkan sendok dan garpu di piringku, sampai pada akhirnya seseorang dengan wangi parfum menyengat duduk di sampingku, juga di dekat pria yang kucintai sejak dulu.
Mataku tajam tertuju pada wanita itu. Aku mengamatinya dari ujung kaki sampai tempurung kepalanya. Wanita itu menyentuh lembut rambut pria yang kucintai. Sungguh hebat! Bahkan aku tak pernah bisa menyentuh rambutnya. Aku hanya bisa melakukan hal yang menurutku manis; makan ayam kremes bersamanya.
“Sayang, udah lama ya nunggunya?” wanita itu mulai membuka suara, belaiannya kini menyentuh bahu pria yang kucintai.
Menatap pemandangan itu, aku tak bisa berbuat banyak. Aku sudah mulai menebak-nebak.
“Eh, Shena, ini pacar gue.” dengan senyum bangga, ia mengenalnya pacarnya padaku.
Aku mengulurkan tangan, mencoba memasang senyum paling manis meskipun kala itu hatiku sebenarnya teriris. Wanita itu menatapku dengan tatapan yang menyebalkan, rasanya aku ingin menepis fakta yang sesungguhnya sudah ada di depan mata.
Selama ini, aku hanya sekadar teman makannya, bukan teman hidupnya. Aku yang tolol, terlalu banyak berharap.
Mereka sibuk berbicara berdua. Aku sendirian memakan ayam kremesku. Ayam kremes yang dulu terasa menyenangkan di lidihku sekarang terasa sangat hambar. Pria itu mengubah rasa ayam kremes di lidahku seperti makanan tanpa garam yang sungguh tidak mengundang selera.
Dan, akhirnya perasaanku memang ditakdirkan untuk tertahan, tanpa diungkapkan.
Aku bersumpah tidak akan lagi makan ayam kremes setelah ini.
Tidak.

Jumat, 22 Februari 2013

Setiap Hujan


                Hujan rintik-rintik kala itu. Tangis gerimis dari awan yang menaungi kota Depok jatuh satu-satu. Nino buru-buru berlari menuju tempat berteduh. Sambil memeluk tubuhnya sendiri yang mulai kedinginan, ia menengadahkan kepala agar bisa menatap hujan dan awan mendung. Tempat berteduh tak begitu ramai, hanya ada seorang pria berambut ikal yang membiarkan rambutnya agak basah karena terkena hujan. Nino dan pria itu berdiri sejajar. Mereka sama-sama sibuk menatap hujan dan sibuk dengan pikirannya masing-masing.
                Jalanan di dekat jembatan Margocity-Detos mengalirkan air yang deras karena hujan. Nino masih berteduh di sana, sesekali ia mencuri pandang ke arah pria itu, pria yang sejak tadi juga berteduh dan juga memeluk kedinginan tubuhnya sendiri. Ia terlalu serius sampai-sampai ia lupa telah membawa payung kecil yang diletakkan di tasnya. Nino menertawakan dirinya sendiri, dengan senyum tipis yang hanya dimengerti olehnya sendiri. Ia membuka payung, memegang payung dengan erat dan siap-siap berjalan.
                Wajah pria itu disaring oleh ingatannya. Wajah itu bukan wajah yang asing. Terlalu asik memikirkan masa lalu. Menyadari pria itu bukanlah pria yang asing, Nino seakan tak perlu terlalu gugup. Ia juga tak ingin mengingatkan pria itu pada masa-masa yang dulu pernah mereka lewati.
                “Kamu mau masuk ke Margocity juga?” ucap Nino dengan suara tipis.
    Pria itu tak segera menjawab. Mungkin suara Nino teredam oleh derasnya suara hujan.
                Merasa diabaikan, Nino kembali mengulang ucapannya, “Mau bareng? Aku ke Margocity juga.”
                Mata pria berambut ikal itu membulat. Ia menoleh dan mulai membuka suara, “Boleh.”
                Dan, mereka berjalan lambat-lambat. Rapat-rapat.
                “Tadi bukannya kita berteduh bareng? Kenapa payungnya nggak segera kamu buka?”
                “Aku juga lupa kalau ternyata aku bawa payung.”
                Mereka tersenyum bersama, tak ada tawa yang begitu meledak. Alas kaki mereka sama-sama basah. Baju mereka juga agak basah. Pria itu masih memeluk tubuhnya sendiri, menghangatkan dadanya dengan melipat tangan di depan dada. Itulah gerakan yang paling Nino ingat. Gerakan yang selalu pria itu lakukan beberapa tahun yang lalu. Nino tidak akan pernah lupa. Tidak akan.
                Selama berbicara, sungguh Nino tak pernah berani menatap mata itu. Mata yang bertahun-tahun membuatnya bertanya-tanya dalam hati. Ia tak ingin tahu warna mata itu, mata yang sinaran dan tatapannya berusaha Nino hindari sebisa mungkin.
                Langkah mereka santai memasuki lobby Marocity, sambil melipat payung, pria itu pamit meninggalkan Nino. Tak lupa, ia juga mengucapkan terima kasih.
                Percakapan terhenti, tak ada yang ingin memulai pembicaraan lagi. Hening mengitari mereka. Rasanya hujan kali ini tak sedingin hujan seperti kemarin. Menderasnya hujan tak membekukan hati Nino, kali ini ia malah merasakan ada yang bergerak pelan-pelan di hatinya, perasaan hangat yang dulu sekian lama ia diamkan dan ia abaikan.
                Nino menatap bahu itu. Mulai menjauh. Ia membiarkan sosok itu pergi, tanpa berbicara lebih jauh dan lebih dalam.
Sekarang, penyesalan membuncah dengan liar. Penyesalan yang juga dulu ia rasakan. Ingin mengejar, tapi seperti ada rantai yang menahan langkahnya.
Sungguh, ia tak ingin penyesalan itu terulang lagi.
Ia tidak ingin kesedihan yang sama terjadi lagi. Tidak!

***

 Nino tak heran jika pemandangan yang ia lihat beberapa hari ini selalu sama. Setiap pulang kuliah, ia selalu pergi ke tempat itu. Tempat ia bertemu dengan pria berambut ikal yang mulai sering masuk ke dalam pikirannya. Nino selalu membawa payung. Untuk berjaga-jaga, kalau-kalau pria itu muncul dan melahirkan kejutan baru saat hujan datang. Tapi... pria itu tak pernah datang, Nino juga tak lagi melihat sosok itu.
 Seminggu terlewati, pria itu tak kunjung memunculkan batang hidungnya. Dalam kesabarannya, ia masih terus berharap. Ia ingin suasana seperti kemarin terulang lagi, saat hujan datang dan Nino bisa merasakan lengan pria itu menempel di lengannya.
“Kembalilah, jangan buat aku menunggu untuk yang kedua kalinya.” bisik Nino perlahan.
Apakah Tuhan mendengar bisikannya? Apakah pria itu mengetahui isi hatinya?
 Hujan turun tiba-tiba, deras sekali. Kali ini, baru kali ini, Nino lupa membawa payung. Ia menatap hujan sambil memeluk dirinya sendiri. Ia hanya berteduh sendirian. Dalam lirihnya, cipratan air secara sontak mengenai bajunya. Semakin kesal Nino kali ini.
  Ia jadi menyesal, mengapa ia harus menunggu seseorang yang belum tentu datang? Nino memaki dirinya sendiri.
 “Sendirian?”
  Suara yang tak asing itu terdengar mengagetkan bagi Nino. Nino menoleh cepat.
 “Ngangetin ya? Kamu nggak bawa payung?”
 “Ketinggalan.”
 “Aku bawa payung, kamu mau masuk ke Margocity juga?”
 Nino mengangguk malu-malu. Pria itu, pria yang ia temui seminggu yang lalu kini berada di depannya. Menawarkan diri untuk memayunginya.
 Mereka berjalan rapat-rapat, walaupun hujan semakin deras, dan angin semakin kencang; rasanya segala halangan itu tak memupus harapan Nino untuk membangun percakapan.
Kali ini ia yang harus memulai, tak ingin lagi ia menunggu. Tak ingin lagi ia kehilangan seseorang untuk yang kedua kalinya. Tidak!
 “Bagaimana di sana? Menyenangkan?”
 “Di sana mana?”
 “Di Boston. Sudah dapat gelar? Kok sudah pulang?”
 Pria manis bergidik, seakan ia buronan yang tertangkap basah, “Aku pulang karena ingin menemui seseorang.”
 Tatapan Nino menyelidik, “Siapa?”
 “Kamu.”
 Nino terdiam, ia tak melanjutkan langkahnya. Pandangannya lurus, mulai berani menatap mata pria itu. Hitam kecoklatan, itulah warna bola mata yang akhirnya Nino ketahui setelah bertahun-tahun ia tak pernah berani menatap mata itu. Hidungnya, bibirnya, matanya, dan lekuk pipinya tak begitu berubah. Dia tetap jadi seseorang yang cukup Nino kenal, dan paling sering ia rindukan, walaupun Nino tak berani melakukan banyak hal selain menatap dari kejauhan dan mencoba menyusun percakapan basa-basi. Itu dulu, ketika mereka masih bersama, ketika perpisahan belum jadi pemeran antagonis yang memisahkan mereka.
 Sontak, Nino memeluk rapat tubuh pria itu. Pria yang menghilang selama bertahun-tahun tanpa ucap pisah. Pria yang dari sikapnya seakan tak menganggap Nino wanita yang spesial. Tidak akan ia lepaskan lagi. Tidak akan ia sia-siakan lagi.
 “Sudah jangan pergi lagi.”
 “Ini baru pulang, masa mau pergi lagi?”
 Hujan semakin deras, dan rengkuh peluk mereka seakan tak terlepas.

Minggu, 13 Januari 2013

Apakah Kamu masih yang Dulu Kukenal? (END)




                Langit-langit rumahnya masih sama. Putih. Bersih. Kosong. Ia punya pembantu untuk mengantarkan minum untukku, tapi ia selalu berpendapat bahwa aku harus dilayani oleh kekasihku sendiri—dia.
                “Kamu naik motor?” percakapan awal yang tak begitu kuharapkan, pertanyaan seperti ini harusnya tak ditanyakan lagi.
                “Iya, kenapa?”
                “Di luar kan panas, kenapa enggak minta jemput sama supirku aja?”
                “Aku cuma ke rumahmu, bukan ke kawah Gunung Merapi.”
                “Jayus ah!” senyum kecil tergambar di sudut bibirnya, senyum yang akhirnya bisa kunikmati dengan bebas.
                “Akhirnya kita bisa ngobrol sedekat ini.” aku menggeser posisi dudukku lebih dekat dengannya, ia mengerti keinginanku; ia segera bersandar di dadaku.
                “Maaf untuk kejadian kemarin, mungkin aku terlalu lelah dan enggak bisa memahami keinginan kamu.” wanitaku berbicara dengan nada menyesal, aku bisa rasakan penyesalannya.
                “Aku yang salah, harusnya aku sadar dan paham, kamu enggak bisa makan sembarangan.”
                “Bukannya aku gak bisa makan sembarangan, aku lebih memikirkan pola makanmu.”
                “Iya, makasih.” tuturku tegas sambil mengenggam jemarinya, “Aku juga paham, kamu bukan wanita yang seperti dulu. Yang sederhana, yang mudah kuajak ke mana-mana. Kamu sibuk dengan pekerjaanmu.”
                “Ini mimpi aku, salah kalau aku mengejarnya? Salah kalau aku akhirnya berhasil dan bisa menghasilkan banyak materi?”
                “Bukan itu yang salah, kamu berbeda. Berbeda!”
                Ia menghela napas, meremas-remas tempurung kepalanya, “Aku enggak mau berdebat. Aku sudah cukup lelah dengan pekerjaanku, dengan jadwal syuting di banyak tempat. Kita cuma punya waktu sedikit untuk bersama, jangan rusak segalanya dengan egomu.”
                “Aku membicarakan kenyataan, kamu berubah. Kamu udah enggak mau kuajak makan dipinggir jalan, udah enggak mau aku bayarin. Sekarang, kamu yang mengatur segalanya.”
                Dia kembali menegakkan posisinya, tak lagi bersandar di dadaku. “Aku enggak berubah, kamu yang belum terbiasa dengan aku yang sekarang.”
                “Kalau kamu ingin aku jujur, aku lebih menginginkan kamu yang dulu.”
                “Segalanya udah berbeda, Sayang. Jarum jam tidak mungkin bisa diputar ke kiri.”
                “Apa kita enggak bisa kayak dulu lagi? Jalan-jalan bareng ke tempat yang ramai tapi tetap bisa ngobrol bareng kamu.”
                Kekasihku menggeleng mantap, “Banyak mata mengawasi aku.”
                “Aku belum siap dengan ketenaran kamu.”
                “Aku juga belum siap, tapi kalau aku beranggapan belum siap maka aku tak akan pernah siap.”
                “Apa dalam ketenaranmu, kamu masih membutuhkan aku?”
                “Aku masih sangat butuh sapaan selamat pagi darimu, juga ucapan selamat tidur dari kamu. Aku masih wanitamu yang dulu.”
                Senyumku mengembang, aku menarik dia dalam pelukku. Rapat sekali.
                Mungkin kekasihku benar, aku hanya belum siap pada perubahannya yang sekarag. Soal perasaan, wanita tak pernah salah.
                Semandiri apapun wanita, ia tetap membutuhkan sosok pria tangguh di sampingnya.

Sabtu, 12 Januari 2013

Apakah Kamu masih yang Dulu Kukenal?



                Aku menatap wanita yang kucintai itu dengan tatapan bersalah. Sebenarnya aku juga tidak tahu siapa yang salah, aku yang salah atau dia yang salah. Rasanya memang tak ada yang membuat kesalahan, tapi aku merasa ada sesuatu yang salah di antara kita. Dia wanita yang sungguh berbeda. Wanita yang tidak lagi kukenal. Aku kehilangan cara untuk menghadapi segala macam tindakannya.
                “Aku enggak mau makan di situ, mahal.”
                “Aku yang bayarin!” ucap kekasihku sambil menarik dompetnya dari tas, “Kita makan di sana aja ya, enak kok, banyak gizinya, supaya kamu gendutan dikit. Kalau kurus kan enggak enak dipeluk.”
                “Kamu yang bayarin?”
                Well, kenapa?”
                “Emangnya kita enggak bisa makan dipinggiran jalan aja? Yang lebih enak, lebih murah juga.”
                “Enggak ah, makan di sana berdebu, banyak asap kendaraan bermotor. Aku mau makan di restoran aja.”
                “Aku enggak mau.”
                “Kenapa? Emangnya salah kalau aku memberikan yang terbaik untuk pacarku sendiri? Kalau makan di pinggir jalan nanti kamu sakit. Kamu kan enggak tahu bahan campuran dari makanan itu bersih atau enggak.”
                “Restoran itu mahal, Sayang. Aku enggak bisa bayarin kamu makan di sana!”
                Wanitaku terdiam sesaat, ia hanya menatapku dengan tatapan bersalah, “Memangnya salah kalau aku bayarin kamu?”
                “Enggak ada yang salah, cuma terlalu sering. Aku kan cowok, kewajibanku adalah membayar kebutuhanmu.”
                “Siapa yang bikin peraturan kayak gitu? Gender banget. Cewek enggak boleh bayarin cowok?”
                “Itu bukan peraturan, Sayang. Itu seperti kodrat, sebuah keharusan.”
                “Kita cuma mau makan, bukan mau ngurusin kewajiban dan hak. Ribet banget sih kamu!”
                “Kamu itu pacar aku, harusnya kamu mau aku atur.”
                “Oh, gitu, mentang-mentang aku cewek, lantas kamu berhak mengatur aku?”
                “Bukan, maksud aku, kapan kamu memberi aku kesempatan menjadi laki-laki seutuhnya? Yang bisa melindungi kamu dan memenuhi kebutuhanmu?”
                “Aku bukan wanita manja yang butuh lelaki sebagai penutup kelemahan. Aku bisa menutupi kelemahanku sendiri.”
                “Itulah, Sayang, yang seringkali aku benci dari sikap kamu. Sombong.”
                “Aku yang bayarin kamu segalanya! Karena apa? Karena aku tahu, kamu enggak mampu melayani yang aku mau. Ini bukan soal hak dan kewajiban, Sayang. Ini soal keinginan untuk berbagi.”
                “Egois!”
                “Terserahlah. Aku capek berdebat berulang-ulang kayak gini.”
                “Mau kamu apa?”
                “Aku mau pulang, aku balik sama supirku aja. Aku males naik motor sama kamu. Panas! Bau! Pusing! Repot kalau banyak wartawan tahu kalau aku naik motor sama kamu!”
                Aku menghela napas, “Pulanglah, aku cuma enggak mau bikin kamu kehujanan dan kepanasan gara-gara naik motor sama aku.”
                Ia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, raut wajahnya seakan tak memercayai bahwa pernyataan sekejam itu bisa terlontar dari bibirku. Kekasihku melengos pergi, aku tak mampu lagi menahannya untuk tetap tinggal. Ia terlalu mandiri, terlalu kuat, dan terlalu mudah meninggikan dirinya. Aku yang kecil hanya bisa menerima, menetap dia dari jauh, tapi tetap mencintainya.
                Ketika punggungnya terlihat menghilang, aku berpikir dengan gelisah. Apakah wanita mandiri tak lagi membutuhkan sosok pria di sampingnya?

Senin, 07 Januari 2013

Di Balik Sel Penjara (End)

Cerita Sebelumnya: Di Balik Sel Penjara (I)

                Suasana hening itu kian mencekam ketika Rain harus mengendap-endap memasuki tahanan khusus tanpa diketahui oleh sipir lainnya. Rain menarik napas berat. Ia sesekali melirik Shinta yang sedang membaca Al-Quran dengan sangat serius. Shinta tak bersuara namun jemarinya terus menunjuk huruf-huruf Arab yang bahkan tak bisa Rain baca. Mereka tak saling berbicara, tapi tatapan Rain dan Shinta kadang bertemu. Tatapan menggantikan perkataan, ketika mulut tak bicara, matalah yang ungkapkan segalanya.
                “Baca apa?” tanya Rain, berusaha memecah keheningan.
                “Memangnya kamu paham kalau kuberitahu yang aku bacakan?”
                “Shinta....”
                “Ssstt.... Rain, udah mau sahur, nanti sipir yang galak itu masuk lho, kamu nanti diusir!”
                “Tinggal aku usir balik!”
                “Aku? Tumben menyebut dirimu sendiri dengan sebutan aku.”
                “Kita sudah berkenalan beberapa bulan, memangnya salah menggunakan panggilan aku dan kamu?” canda Rain sambil berusaha menjambak kecil rambut Shinta dari  luar sel penjara. “Kamu juga tadi menggunakan panggilan aku dan kamu, jadi kita satu sama!”
                Keheningan terpecah oleh suara tawa, tapi Rain dan Shinta langsung menutup suara karena takut para sipir menghampiri sel khusus yang didiami Shinta, tapi entah mengapa suasana begitu hening. Apa para sipir dan para tahanan lainnya sudah tidur?
                Tak ada yang paham, mengapa perkenalan mereka yang sudah berjalan berbulan-bulan ini menimbulkan rasa bahagia yang sulit dijelaskan. Tak ada yang mampu memprediksi, mengapa tatapan dan senyum yang mengisi hari-hari Shinta selama di penjara tak lagi terasa asing, semua jadi terasa begitu dekat.
                Hal itu juga yang dirasakan Rain, sehari saja ia tak melihat Shinta rasanya pahit dan menyebalkan. Tanpa disadari, mereka merasakan sesuatu yang aneh, bergerak dan meluncur dari mata turun ke dalam dada. Mungkinkah cinta?
***
                Waktu berlalu, kedekatan mereka berubah jadi rasa takut berpisah dan kehilangan. Memang tak ada sentuhan yang berarti, juga tak ada pelukan hangat saat hati mereka sama-sama merasa kedinginan. Dari luar terlihat tak ada yang begitu spesial, tapi siapa yang bisa memahami isi hati seseorang?
                Bulan ramadhan hampir berakhir, mendekati hari lebaran. Tak ada senyuman juga tawa yang merekah. Tak ada perayaan kemenangan, mungkin lebih banyak terlihat wajah penderitaan dan kekalahan. Tidak ada pesta, yang ada hanya duka. Dua hari setelah lebaran, hukuman mati yang diemban Shinta segera dilaksanakan. Mengingat fakta yang tak bisa dihindari itu, Rain tak kuasa menatap Shinta lagi dengan senyuman sebahagia dulu.
                Suara takbir terdengar dari kejauhan, meskipun terdengar seperti suara kemenangan, tapi akankah terasa menang jika tubuh masih berada dalam penjara? Rain bersandar di luar jeruji sel penjara, Shinta memebelakangi tubuhnya; tubuh mereka menempel dan berdekatan.
                “Kamu rindu udara bebas di luar sana?”
                “Iya, terutama aku sangat merindukan pantai dan gunung.”
                “Kenapa tak berusaha?”
                “Apalagi yang harus aku usahakan, Rain? Aku sudah kalah.”
                “Jadi, kamu menyerah?”
                “Aku tidak menyerah, aku hanya menerima takdir. Sesederhana itu.”
                “Kamu tidak bersalah, Shinta!”
                “Aku memang tidak bersalah, tapi mati muda bukankah menyenangkan?”
                “Aku tahu bukan itu yang kaurasakan, matamu berbohong!”
                Shinta menghela napas. “Aku tak bisa berbuat banyak, Rain.”
                “Aku bisa!”
                Rain berbalik badan, membuka jeruji sel penjara yang terkunci dengan cepat. “Keluarlah, pulanglah bersamaku.”
                Shinta menggeleng cepat, “Jangan.... penjaralah rumahku yang tepat.”
                “Tolol! Gadis sepertimu tak pantas tinggal di sini, Shinta!”
                “Kauyang bodoh, Rain! Kaubahkan tak tahu nama asliku, mengapa kaumemercayai penjahat serba misterius seperti aku?”
                “Karena aku tahu, kamu tak sejahat itu. Aku mengenalmu....”
                “Kamu tidak mengenalku, kamu hanya mengetahui aku.”
                “Tapi.... aku mencintaimu.”
                Hening.
                Tatapan mata Shinta mengeluarkan bulir air mata, sesak di dadanya kian memuncak. “Aku ini sampah, bagian mana dalam diriku yang kamu cintai?”
                “Hatimu.”
                “Kautolol, Rain! Tolol!”
                Rain tak peduli pada cemooh Shinta, ia menarik Shinta hingga ke lorong di luar tahanan khusus. Sejujurnya Shinta juga ingin merasakan udara bebas. Langkah kakinya mengikuti langkah kaki Rain, mereka mengendap-endap melewati dapur yang sepi dan tak terlihat lagi aktivitas.
                “Kenapa sepi sekali?”
                “Semua tahanan dan sipir telah kuberi obat tidur.”
                “Memangnya tadi kauyang memasak makanan untuk buka puasa terakhir?”
                Rain tertawa geli, “Iya, enak tidak?”
                “Enak, lalu, mengapa aku tak ikut tertidur?”
                “Karena makanan untukmu kumasak khusus, aku yang memasak dan mengatarkannya untukmu.”
                “Kaugila, Rain!”
                “Kalau aku tak gila, kautak akan mencintaiku kan, Shinta?”
                Shinta tersenyum manis, belum pernah Rain melihat senyum sebahagia dan semanis itu.
                “Kamu rindu rumahmu? Ingin pulang?”
                “Aku ingin pulang.”
                “Kalau kamu pulang bersamaku, bagaimana?”
                “Kalau aku pulang bersamamu? Kauakan dipecat dari sini, Rain!”
                “Lebih baik aku mengejar kebahagiaanku daripada aku terus tenggelam dalam kesepian.”
                Rain membuka pintu belakang di dekat dapur, pintu yang ditutupi rak piring, pintu yang tak banyak diketahui oleh penghuni penjara; pintu yang mendekatkan mereka dengan dunia luar.
                “Siap?”
                Anggukan Shinta mantap, Rain mengenggam tangan Shinta dengan erat.

Copyright © ID Blog Kamu

Canvas By: Fauzi Blog, Responsive By: Muslim Blog, Seo By: Habib Blog