ID Blog Kamu: pantai

Tampilkan postingan dengan label pantai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pantai. Tampilkan semua postingan

Kamis, 04 Oktober 2012

Eh! Ada Pantai namanya Pantai Wartawan


Jika Pantai Sundak diambil dari nama Asu dan Landak, Pantai Batu Ular Jember diambil lantaran ada batu yang mirip ular di pantainya, lantas bagaimana dengan Pantai Wartawan?  unik juga namanya sampai kenapa pantai itu dinamakan sebagai Pantai Wartawan? bagaimana ceritanya pantai itu diberi nama sesuai dengan salah satu profesi yang identik dengan mereka para pewarta berita?

Seperti yang diketahui banyak nama pantai di Indonesia terinspirasi oleh cerita-cerita masyarakat yang berkembang di wilayah itu. Misalnya pantai yang disebutkan di atas, namun tak semuanya karena ada juga nama pantai yang diambil dari nama sebuah restoran, yaitu Pantai Indrayanti yang berada di  Yogyakarta.
sumber foto:www.menarasigerlampung.blogspot.com
Sumber Air Panas Pantai Wartawan
Nah, pantai yang berada di Desa Way Muli, Kec Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan ini kenapa bernama Pantai Wartawan memang berhubungan dengan mereka yang terbiasa mencari dan menulis berita atau wartawan. Pasalnya, kawasan pantai ini awalnya dikelola oleh sekumpulan warga lokal yang memang pekerjaannya adalah seorang wartawan, sehingga disepakatilah nama untuk pantai yang mereka kelola sebagai Pantai Wartawan.

Pantai ini bukan hanya sekedar pantai saja karena di sana terdapat sumber air panas di pinggiran pantainya. Yup, sumber air panas itu diduga berasal dari  Gunung Anak Rakata yang masih aktif. Titik-titik sumber air panas itu akan terlihat saat air laut sedang surut di pagi hari atau sore hari, jadi apabila airt laut sedang pasang sumber air panas itu tidak akan nampak dan tertutupi oleh permukaan air laut.

Namanya juga air panas pastilah membuat apa saja yang masuk ke dalamnya dapat dibuat mendidih. Panasnya mencapai 80 derajat celcius dan mempunyai banyak manfaat, anda ingin merebus telur, ikan, udang atau yang lainnya pun bisa sperti untuk membuat secangkir kopi karena sumber air panas ini rasanya tidak asin walaupun berada di pantai. 

Tak hanya itu konon katanya sumber air panas ini dapat mengobati berbagai macam panyakit, dari rematik, gatal-gatal atau yang lainnya. Tapi harus diingat jaga jarak aman diri anda dengan sumber air panas itu, salah-salah terpeleset masuk ke dalamnya, anda pun yang akan rugi.

Lokasi Pantai Wartawan
Pantai Wartawan ini berlokasi di Way Muli, sekitar 14 Km dari Kalianda dan 30 Km dari Simpang Gayam pada jalur Bakauheni, Bandar Lampung. Letaknya berada di arel asempit antara jalan lingkar Gunung Rajabasa, lereng gunung dan laut.  Nah jika Anda adalah seorang wartawan yang kebetulan sedang ada di Lampung, sepertinya tempat ini layak untuk dikunjungi mengingat nama profesi anda sama dengan nama pantai ini.

Berbicara soal pantai dengan sumber air panas di pinggiran pantainya, ternyata bukan hanya dapat ditemukan di Indonesia saja melainkan juga dapat ditemukan di negara lain, seperti di Selandia Baru. Di pesisir timur Semenanjung Coromandel, Selandia Baru ada sebuah pantai yang bernama Pantai Air panas, dimana didalam pasir pantainya itu dapat ditemukan sumber air panas. (berbagai sumber)

Kamis, 13 September 2012

Ini Taman Batu Natuna, Bung!

Taman yang terletak di Natuna, Kepulauan Riau ini memang lain daripada yang lainnya. Bukanlah taman seperti kebanyakan taman lainnya yang selalau dihiasi oleh tanaman-tanaman cantik yang memanjakan mata. Bukan pula sebuah taman bunga seperti Royal Botanic di Inggris yang mempunyai koleksi tanaman terbesar di dunia atau pun The Skagit Valley di Amerika yang masuk dalam daftar 100 tempat yang harus anda kunjungi sebelum meninggal.

Batu Megalitik

Yup, Alif Stone Park nama tamannya, taman ini memang berbeda karena hanya diisi bongkahan batu-batu besar yang pinggiran pantai Desa Sepempang, Kecamatan Bunguran Timur bukan seperti taman-taman di atas. Walaupun taman itu hanya ada bongkahan batu-batu purba atau Megalitik yang tidak diketahui asal muasalnya alias masih teka-teki, tetapi jumlahnya bukan main banyaknya.
sumber foto:www.natuna-tourism.blogspot.com
Dengan luasnya yang mencapai tiga hektar ini, hamparan batu-batu besar berwarna putih itu saling tindih menindih antara satu dengan yang lainnya. Berjejeran dan membentuk sebuah pemandangan yang cantik dan menawan, terlebih lagi jika dipadukan dengan pasir putih dan air laut sekitarnya yng jernih.
Bayangkan saja Anda berdiri disana di antara bongkahan batu yang besarnya jelas lebih besar daripada Anda, tentu hal yang sangat menakjubkan.. Anda bisa bersantai sambil duduk duduk di bebatuan menikmati sunset, dan juga bisa dengan leluasa memilih lokasi bersantai di celah-celah batu untuk berendam. Air laut di lokasi sangat jernih sehingga bisa melihat ikan ikan kecil atau ikan hias berwarna warni serta terumbu karang dengan mata telanjang. 

Di kompleks Alif Stone Park, pihak pengelola telah membangun jalan atau jembatan (titian) yang menghubungkan antara batu yang satu dengan batu yang lainnya. Lebarnya sekitar satu meter dimana bagian kanan kirinya berhias pot-pot bunga yang warna-warni. Jembatan itu dibuat selain untuk memperindah pemandangan juga dimaksudkan untuk mempermudah pengunjung berjalan-jalan di atasnya sambil mengeksplorasi keseluruhan lokasi taman.

Penduduk sekitar menamakan tempat ini sebagai Batu Alif karena diantara bebatuan itu ada sebuah  batu bergaris putih yang letaknya paling tinggi diantara batu lainnya.  Batu bergaris putih itu menyerupai huruf alif dalam bahasa Arab. Oleh karena itu penduduk sekitar memberi nama tempat ini sebagai batu alif yang kemudian berubah menjadi Taman Batu Alif.

Alif Stone Park sekarang ini merupakan salah satu objek wisata unggulan di Natuna, Kepulauan Riau. Pemerintah daerah setempat dalam rangka mendorong agar banyak wisatawan berkunjung kesana telah melakukan berbagai upaya, seperti membangun homestay, akses jalan, dan fasilitas pendukungnya.

Oh iya, tak ketinggalan di kompleks bebatuan ini juga bisa di saksikan kerangka Hiu yang berada di dalam area pengelola.Kerangka hiu itu diperoleh dari pantai Sujung, tempat hiu itu terdampar sekitar tahun 2002 silam 

Lokasi Taman Batu Natuna
Bagaimana caranya kesana? hal pertama yang harus dilakukan adalah Anda harus berada di Natuna terlebih dahulu. Lokasi ini sudah terkenal di wilayah itu jadi tidak ada kendala yang berarti jika anda sudah berada di sana. Selain itu lokasi taman mudah dicapai karena hanya berjarak kurang dari tiga kilo meter dari Ibu Kota Natuna, yaitu Ranai atau sekitar 15 menit perjalanan. Lokasi juga mudah dicapai oleh seluruh alat transportasi karena infrastruktur jalannya cukup tersedia.

Berbicara mengenai batu-batu besar di pinggiran pantai, selain di Natuna batu besar itu juga dapat dijumpai di beberapa tempat. Sebut saja di Yeliu Geopark yang berada di Taiwan. Di tempat ini seluruh permukaan pantainya dipenuhi oleh bebatuan dengan beragam ukuran yang terbentuk karena angin dan erosi laut selama ratusan bahkan ribuan tahun. 

Selain itu batu-batu  besar juga dapat dijumpai di Bangka Belitung, tepatnya di Pantai Tanjung Kelayang. Di pantai ini tersebar batu-batu granit yang jumlahnya mencapai ratusan. Nama pantainya sendiri terinspirasi dengan batu granit besar yang bentuknya seperti burung Kalayang yang banyak dijumpai di pantai ini. (berbagai sumber)

Kamis, 17 Mei 2012

Pantai Pink Pulau Komodo

Pulau Komodo di NTT ternyata tidak dikenal karena banyaknya komodo-komodo yang berkeliaran di sana saja. Pasalnya, coba anda tengok pantainya, ada sesuatu yang berbeda dengan pantai-pantai lainnya di Indonesia. Yup, warnanya bukanlah berwarna putih, melainkan pink atau merah jambu!

Ajaib bukan, lantas bagaimana ceritanya pantai itu berwarna Pink? Pasir warna pink di pantai ini tidak ujug-ujug langsung berwarna pink, tetapi  terbentuk secara alami lantaran berasal dari perpaduan antara serpihan karang, cangkang kerang, kalsium karbonat invertebrata laut kecil, juga porifera atau spons laut yang berwarna merah.
sumber foto: www.berbagifun.blogspot.com
Selain keunikan pasirnya, Pantai Pink juga kaya akan ikan dan terumbu karang. Sekitar 1.000 jenis ikan, ratusan jenis karang, dan 70 jenis spons hidup di pantai ini. Bagi wisatawan yang ingin, harus berhati-hati dengan makhluk hidup di sekitar pantai tersebut.

         Pantai pasir berasal dari pasir merah kecil tersebar di daerah pantai yang seperti pantai ini terkenal disebut dengan pantai merah muda atau Pantai Merah di mana masyarakat setempat menyebutkan hal itu. Pantai yang indah ini terletak di tanah yang kecil dengan bukit kering di belakang pantai itu. Hal ini memiliki karang yang indah dengan air laut yang jelas bahwa menjadikannya sebagai tempat yang ideal untuk snorkeling di taman ini.

Anda gemar foto-foto atau fotografi, diving, snorkeling, atau sekedar bersantai-santai sambil bermain pasir disinilah tempat yang cocok. Khusus Anda yang ingin menyelam atau snorkeling sebaiknya selalu waspada karena arus laut Pantai Pink cukup kuat. Arus ini terjadi akibat pertemuan air laut tropis dari utara, dengan air laut dari selatan

Nah, setiap pengunjung yang datang ke pantai ini, akan ditemani oleh seorang petugas perlindungan Taman Nasional Komodo, ya untuk sekedar menjaga keselamatan anda karena komodo menjadi penghuni tetap pulau ini, senang berjemur di kawasan pantai. Patut pula diperhatikan jika anda ingin bermain air laut disana, lihatlah kanan kiri lebih dahulu salah-salah ada komodo lapar melintas, nyawa anda bisa jadi taruhannya.

Berbicara soal pantai unik, di Indonesia sendiri selain ada pantai yang berwarna pink juga ada Pantai Berpasir Hitam yang bisa dijumpai di beberapa objek wisata pantai.  Dan untuk  pantai yang berwarna pink ini tidak hanya dapat ditemui di Indonesia saja, melainkan juga ada di Pulau Harbour Bahamas, Pantai di kepulauan Bermuda, Balos Lagoon, Crete Yunani, Bonaire, Karibia Budelli Island, Sardinia Italia, dan Santa Cruz Island di Filipina (berbagai sumber)

Rabu, 09 Mei 2012

Pantai Tanjung Menangis: KasihTak Sampai Putri Samawa

Mungkin anda atau saya yang bukan dari Sumbawa rada sedikit aneh mendengar nama objek wisata pantai yang satu ini, Yup, Pantai Tanjung Menangis namanya. Aneh sekali memang melihat namanya saja, ada saja ya nama pantai bernama pantai menangis. Nah ini pantai, apakah ada hubungannya dengan cerita masa lalu dimana dulu ada seoarang anak manusia yang mennagis di pantai itu karena suatu apa, ataukah menangis lantaran ditinggal kekasihnya yang tercinta.

Ya, memang ada hubungannya dengan dua hal diatas, flashback ke cerita masa lalu yang sedikit bernuansa tragedi,  dikisahkan dulu Sultan Samawa sangat sedih melihat putrinya terbaring tak berdaya karena sakit. Sang sultan sudah berusaha mati-matian agar putrinya kembali sehat seperti sedia kala. Berbagai cara pengobatan telah dilakukannya namun belum menunjukkan hasil yang memuaskan.
        
       Sampai tiba pilihan terakhir, Sang Sultan pun mengadakan sayembara berhadiah yang tak tangung-tangung hadiahnya. Nah, barang siapa yang dapat menyembuhkan putrinya akan dijodohkan dengan Sang Putri. Tak pelak, berbondong-bondong lelaki dari berbagai macam penjuru Tana Samawa berlomba untuk menyembuhkan sang putri. Silih berganti para dukun dan ahli pengobatan berusaha mengobati  sakit yang diderita Sang Putri.

Kendati begitu, banyak dari mereka yang harus gigit jari lantaran gagal menyembuhkan sang putri dan meminangnya. Ndilalahnya, ada seoarang perantauan datang bernama Zainal Abidin dari tanah lawesi. Tanpa dinyana, dengan ilmu pengobatan yang dimilikinya ia berhasil menyembuhkan sang putri.

Akan tetapi, Sultan yang tak lain adalah bapaknya sang putri malah ingkar janji untuk menikahkan Sang Putri dengan pemuda yang mampu menyembuhkan penyakit anaknya. Zainal Abidin mukanya tidak jelek-jelek banget bahkan Sang Putri sampai jatuh hati kepadanya. Namun, apa mau dikata sikap Sultan membatu kepada pendirian untuk tidak menikahkan Sang Putri dengan alasan tertentu, bahkan dengan tega mengusir Zainal untuk pulang ke kampung halamannya.

Merasa kecewa karena diusir oleh Sultan, dia lalu menuju laut untuk naik kapal kembali ke negerinya. Sang Putri yang terlanjur jatuh cinta mengejarnya, tak tahu harus kemana kakinya melangkah, hingga sampai ia di sebuah tanjung. Sesampai di tanjung tersebut, pria yang dicintainya itu ternyata sudah naik perahu meninggalkan Tanah Samawa.

Seorang diri Sang Putri di tanjung merenungi nasibnya karena kasihnya yang tak sampai. Ia menangis tanpa henti di tanjung itu. Sementara sambil berlayar di atas perahu, Zainal menembangkan sebuah puisi. Sang Putri menunggu berhari-hari di tanjung itu, sambil tetap menangis. Akhirnya masyarakat menyebut tanjung itu dengan sebutan Tanjung Menangis. (berbagai sumber)

Cerita di Pantai Batu Ular Jember

Pernah berkunjung ke pantai Watu Ulo di  Jember,  Jawa Timur, nah kalau anda pernah kesana coba amati di sekitar pantai ada banyak batu-batu yang berserakan di seputar pantai itu. Ehhh ternyata, batu-batu di pantai Watu Ulo itu memiliki kisahnya sendiri seperti banyak objek wisata pantai di Indonesia. Kali in bukan kisah percintaan atau yang sejenisnya melainkan kisah pertarungan antara manusia dengan seekor ular besar.

Nah, ingin tahu kisahnya ini dia ceritanya, konon pada zaman dulu disana hidup  sepasang suami istri yang  bernama Aki dan Nini Sambi.  Lantaran keduanya memang pasangan lantas dikarunia oleh  seorang putra bernama Joko Samudera.  Layaknya keluarga yang butuh makan sehari-hari, mereka pun berbagi tugas, ayah ibu tugasnya mencari kayu bakar di  bukit-bukit sekitar pantai. Sedangkan anaknya yang bernama Joko Samudera  mencari ikan di laut. 
sumber foto:www.sauraputritan.blogspot.com
Nah, pada suatu hari Aki dan Nini Sambi yang  sedang mencari kayu bakar di hutan  mendengar suara tangis bayi.  Mereka pun mencari sumber suara tersebut dan  menemukan seorang bayi lelaki yang sendirian . Tak tega melihatnya,  Nini Sambi langsung jatuh hati dan merawatnya.

Pasangan itu pun kemudian memberi nama bayi tersebut dengan nama Marsudo.  Waktu berlalu   kedua bocah lelaki ini tumbuh dewasa. Untuk mencukupi kebutuhan hidupnya mereka secara  bergantian mencari  ikan di laut. Kali ini gilirannya Marsudo untuk mencari ikan, nah disaat sedang asiknya memancing, eh dirinya kaget lantaran pancingnya bergoyang.

Segeralah dia mengangkat pancingannya itu dan betapa terkejutnya dia saat mata pancingnya diangkat,terrnyata yang dia pancing adalah ikan besar yang bisa bicara. Ikan yang bernama Raja Mina itu ingin Marsudo melepaskan dirinya dan sebagai ganti Marsudo  akan  dikabulkan setiap keinginannya.

Merasa kasihan Marsudo pun melepaskannya. Dengan penuh  ucapan rasa terima kasih, Raja Mina langsung berenang dengan  bebas.  Namun apes bagi Marsudo, setibanya dirumah dia langsung dimarahi oleh kedua orang tuanya karena melepaskan ikan sangat besar.

Tak tega melihat saudaranya itu dimarahi seraya ingin menghilangkan kejengkelan sang ayah,  Joko Samudera pun pergi memancing ikan di laut kuntuk menggantikan adiknya. Nah, bukannya mendapati ikan dalam pancingannya, eh dia  malah memancing seekor  ular  besar. Ular ini mengamuk karena kait pancing  Joko Samudera melukai tubuhnya.

Dalam duel sengit keduanya tak mau menyerah, melihat sang  kakakberjibaku mati-matian melawan ular raksasa. Marsudo berinsiatif memanggil Raja Mina ikan yang dia selamatkan.  Dia meminta janji Raja Mina untuk memenangkan kakaknya melawan sang ular raksasa.  Mendengar permintaan Marsudo, Raja Mina pun memberinya sebatang cemeti.  Ikan yang bisa berbicara itu berpesan kepada untuyk memukul  dua kali, maka tubuhnya akan terbelah jadi tiga. Pisahkan ketiga bagian  tubuhnya ke tiga tempat, hingga dia tidak bisa bersatu. Kalau bersatu  dia akan  hidup kembali. Dan ular itu pun bisa ditaklukkannya.

 Begitulah legenda yang membuat pantai tersebut  bernama Watu Ulo. Di pinggir  pantai, memang ada gugusan batu yang jika  dilihat-lihat mirip dengan anatomi tubuh seekor ular. Panjang dan  berlekuk-lekuk serta model batuannya seperti sisik. (berbagai sumber)

Selasa, 08 Mei 2012

Asu VS Landak, jadilah Pantai Sundak!

Hmmmm, tanpa dinyana akibat pertarungan sengit antara dua binattang yang berbeda jenis itu melahirkan  nama bagi sebuah Pantai di Tepus, Gunungkidul, Yogyakarta.  Adalah Pantai Sundak yang diambil dari perpaduan antara nama binatang asu atau anjing dengan landak.
            Tadinya pantai itu namanya bukan pantai sundak, melainkan pantai Wedibedah atau pasir yang terbelah. Akan tetapi nama itu berubah lantaran ada suatau peristiwa yang terjadinya di sekitar tahun 1976. Menurut cerita yang ada ada seekor anjing sedang berlarian di daerah pantai dan memasuki gua karang di suatu siang.
sumber foto: www.mlancong.com
Di gua, asu itu bertemu dengan seekor landak laut, nah asu yang sedang keroncongan perutnya apa saja yang dianggapnya enak pasti ingin dilahapnya. Begitu juga dengan hadirnya landak laut di depan matanya, air liur asu itu pun ngeces. Diseranglah itu landak laut, tak pelak terjadi perkelahian sengit yang akhirnya dimenangkan oleh si anjing yang berhasil memakan setengah tubuh landak laut. Kasihan si landak yang meregang nyawa lantaran tubuhnya berhasil dimakan oleh asu itu.
 Selang tak beberapa lama  perbuatan si anjing itu diketahui oleh pemiliknya, bernama Arjasangku, yang melihat setengah tubuh landak laut di mulut anjing. Mengecek ke dalam gua, ternyata pemilik menemukan setengah tubuh landak laut yang tersisa. Nah, sejak itu nama Wedibedah berubah menjadi Sundak yang singkatan dari nama asu (anjing) dan landak.
Eh, tanpa dikira perkelahian itu ternyata membawa berkah tersendiri bagi penduduk setempat. Setelah selama puluhan tahun desa itu kekurangan air, akhirnya penduduk menemukan mata air. Bagaimana bisa? awalnya, si pemilik anjing heran karena anjingnya keluar gua dengan badan yang basah kuyup. Perkiraannya, di gua tersebut terdapat air dan anjingnya itu sempat tercebur ketika mengejar landak. Usut punya usut setelah beberapa warga mencoba menyelidikinya ternyata perkiraan tersebut benar.
Jadilah kini air dalam gua dimanfaatkan untuk keperluan hidup penduduk. Dari dalam gu sekarang dipasang pipa untuk menghubungkan dengan penduduk. Temuan mata air ini mengobati kekecewaan penduduk karena sumur yang dibangun sebelumnya tergenang air. (berbagai sumber)

Legenda Cinta Pantai Indonesia: Pantai Petanahan

Sebenarnya pantai-pantai di Indonesia beberapanya mempunyai legenda yang cukup menarik juga, terlebih lagi apabila legenda itu menceritakan cinta sepasang pria dan wanita seperti kisah cinta di Pantai Karang Nini. Dengan segala macam lika liku romannya akhirnya cerita itu pun menjadi semacam pemanis dari objek wisata tersebut, tentu terlepas dari benar atau tidaknya kisah itu.

Pantai Petanahan yang terletak di Kebumen ternyata memiliki kisah cinta yang cukup asik untuk disimak. Yah menurut cerita yang ada, pada sekitar tahun 1601 yakni pada masa pemerintahan Mataram yang Rajanya Sutawijaya lahir seorang gadis cantik dan jelita yang bernama Dewi Sulastri. 

Segala rupa kecantikan bak seorang malaikat, Dewi Sulastrimemang tiada duanya, begitu pula dengan sifatnya yang selalu ramah terhadap siapa pun. Tapi ada satu yang menganggu dirinya, yaitu darah kebangsawananny yang bernama Lastri, panggilan akrab Sulastri. Hidupnya merasa terkekang dengan adat yang terjadi di lingkungannya. Sebab, Lastri ini adalah anak dari seorang Bupati Pucang Kembar, ayahnya tak lain adalah Bupati Citro Kusumo yang punya nama di tengah masyarakat sana.

Yah, namanya juga zaman dulu jodoh bukan di tangan kita terkadang, tetapi di tangan orang tua, begitu pula dengan nasib Sulastri. Ayahnya mencalonkan dirinya dengan seorang pria yang bernama Joko Puring. Seorang Adipati di Bulupitu. Sayang, Sulastri merasa bukan siti nurbaya dan tak mau dijodohkan begiu saja dengan pria itu.

            Nah, suatu ketika muncullah seseorang yang bernama Raden Sujono yang hanya seorang anak Demang dari Wonokusumo yang datang untuk menjadi seorang pembantu. Dag dig dug lah hati Lastri saat melihatnya. Mungkin pikir Sulastri  Raden Sujono adalah pria yang tepat untuknya, dia pun melontarkan berbagai macam alasan supaya Raden Sujono diterima sebagai abdi dalem di Pucang Kembar. 
sumber footo:www.mengantibeach.blogspot.com
Untungnya Bapak Lastri tidak tuli dan mendengar ucapan anak gadisnya itu, tak pelak diterimalah Raden Sujono sebagai Abdi di Pucang Kembar. Padahal Joko Puring pernah sebelumnya mengajukan alasan pada Bapaknya Sulastri agar menolak keinginan Raden Sujono sebagai Abdi di Pucang Kembar.

Bak kisah sinetron masa kini, akhirnya terbentuklah cinta segitiga antara Joko Puring dan Raden Sujono yang sama-sama mencintai Dewi Sulastri.  Namun siapa sangka, cinta segitiga itu berbuah  huru-hara di Kabupaten Pucang Kembar. Tapi akhirya, Raden Sujono yang menjadi pemenang dan berhasil mempersunting Ratu Ayu Kabupaten Pucang Kembar dan menggantikan Citro Kusumo menjadi bupati di Kabupaten tersebut. Joko Puring tinggalah dia menjadi seoarang pecundang.

Ehh, ternyata setelah kekalahannya pertama, Joko Puring lantas tidak tinggal diam dan akan balas dendam di hari kemudian. Dia menunggu waktu yang tepat untuk melancarkan niatannya itu. Nah, setelah terdengar suami Sulastri sedang menjalankan tugas memberantas berandal.  Joko Puring pun turun aksi  dan membawa lari Sulastri sampai ke Pantai Karanggadung yang sekarang dikenal sebagai Pantai Petanahan.

Lantaran aksinya itu tercium oleh Raden Sujono, ia pun mengejarnya dan terjadilah perkelahian atas nama cinta untuk kali keduanya, tapi Sulastri akhirnya bisa direbut kembali oleh suaminya. Begitu perjuangan mempertahankan istrinya dari Joko Puring berhasil, lantas kedua pengantin baru ini beristirahat di bawah semak-semak pandan yang ada di Pantai Petanahan yang indah tersebut. Apalagi keduanya sudah lama berpisah, tentu merupakan saat terindah bagi Sulastri dan Raden Sujono.

Begitu keduanya cukup beristirahat dan memadu kasih, segeralah keduanya meninggalkan pandan yang rimbun tersebut yang telah mengukir cinta keduanya. namun sebelumnya, Raden Sujono konon ditemui oleh Ny Loro Kidul. Maksudnya tempat yang telah digunakan oleh keduanya beristirahat ini diminta menjadi tempat peristirahatan, atau pesanggrahan Ny. Loro Kidul.

Sejak itu pula, sepeninggalan Dewi Sulastri si mantan Putri Citra Pucang Kembar, dengan leluasa tempat tersebut digunakan oleh Ny. Loro Kidul. Sejak itu pula, tempat tersebut dimanfaatkan orang untuk semedi dan mengheningkan cipta. (berbagai sumber)

Kamis, 03 Mei 2012

Ada Cerita Cinta di Pantai Karang Nini

Jika anda pernah bertamasya ria ke daerah Pantai Pangandaran tepatnya di pantai yang bernama Pantai Karang Nini yang letaknya kurang lebih 10 km sebelum Pantai Pangandaran, pastilah anda pernah melihat sebuah karang yang menyerupai seoarang nenek yang sedang duduk bersandar. Yup, karang itulah yang bernama Nini,  lantas kenapa pula nama karangnya diambil dari nama seorang wanita.

Lagi-lagi tulisan ini akan diawali dengan alkisah seperti tulisan lainnya di blog yang banyak mencerikatan legenda di sebuah tempat wisata. Jadi alkisahnya dari legenda Nini ini bak cerita roman yang mungkin bisa menguras air mata.

Nah, diceritakan pada zaman dahulu ada sebuah kampung yang bernama Emplak atau Karangtunjang, di sana tinggalah sepasang kakek dan nenek samti (akidan nini) yang bernama Ambu Kolor dan Arga Piara. Aki yang memiliki kegemaran menangkap di laut, nah pada suatu hari tak kunjung pulang ke rumahnya. Tak pelak nenek Nini menunggu di rumah dengan rasa was-was.
sumber foto: www.ybandung.wordpress.com

         Matahari perlahan semakin tenggelam, namun si Aki tidak jua muncul  dan kembali ke rumah.  Bersama para tetangga Nini  berusaha mencarinya di tepi-tepi pantai karena dia  tak sabar menunggu Namun sayang mereka pulang dengan tangan hampa dan tinggallah Nini sendirian merenungi kemana perginya sang kakek.

Sang nenek yang  begitu mencintainya suaminya tak rela ditinggal suaminya pergi. Ia lalu  meminta dan memohon kepada Penguasa Pantai Selatan untuk bisa dipertemukan lagi dengan pasangan jiwanya. Eh, ternyata kupingnya Ratu Pantai Selatan mendengar permohonan itu, lantaslah tidak beberapa lama kemudian muncullah sebuah karang yang sekarang disebut Balekambang sebagai perwujudan jiwa kakek tersebut.

Nenek Nini merasa tidak puas dengan pemberian Penguasa Pantai Selatan yang pertama, kemudian ia kembali bersemedi sebagai bukti dari cinta kasih dan kesetiannya sekaligus memohon permintaan yang kedua. Kali ini permohonannya adalah ingin lebih dekat lagi dengan sang kakek, entah minta dekat dalam wujud apa dan seperti apa.

Akan tetapi  pada permintaan yang kedua ini menurut ceritera, jiwa nenek Nini diambil oleh Penguasa Pantai Selatan dan dirubah menjadi sebuah batu karang yang arahnya menghadap Balekambang. Batu karang tersebut yang kemudian secara fisik dianggap mirip rupa sang nenek yang sedang duduk bersandar.

Sampai berabad-abad kemudian, dua buah batu karang yang berhadap-hadapan itu tetap kokoh di tempatnya menjadi simbol cinta dan kesetiaan. Hanya saja pada tahun 1918 bagian karang yang menyerupai kepada si Nini putus disambar petir menyisakan bagian yang sekarang kita dapat lihat (Berbagai sumber)

Copyright © ID Blog Kamu

Canvas By: Fauzi Blog, Responsive By: Muslim Blog, Seo By: Habib Blog