ID Blog Kamu: malang

Tampilkan postingan dengan label malang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label malang. Tampilkan semua postingan

Senin, 08 Oktober 2012

Masjid Unik di Turen, Malang


Beberapa masjid di Indonesia memang banyak yang memiliki keunikan, dari Masjid Pintu Seribu di  Tangerang, Masjid Seribu Tiang di Jambi, dan yang lainnya. Nah, sekarang di Malang ada Masjid unik yang berada di lingkungan Pesantren di Turen. Masjid ini biasa dikenal dengan Masjid Turen atau Masjid Tiban.

Masjid ini pernah membuat  heboh Malang pada tahun 2008. Pasalnya konon kabarnya masjid ini dibangun oleh tentara jin dalam waktu semalam. Secara tiba-tiba masjid itu ada di tengah-tengah masyakarat. Kabar ini pun menimbulkan euforia, masyarakat luar lantas berbondong-bondong pergi untuk melihatnya saat itu, bahkan sampai sekarang masjid itu kerap dikunjungi oleh masyarakat yang penasaran dengan keberadaan masjid tersebut.

Namun apakah benar masjid ini dibangun oleh tentara Jin? Memang sedikit sulit untuk diterima oleh akal sehat bahwa masjid ini dibangun tidak oleh tangan manusia mengingat di tengah-tengah arus zaman modernisasi atau eranya teknologi seperti sekarang kita berpikir secara rasional dan menganggap hal semacam ini hanya sebuah “hoax” belaka. Namun terkadang pula kita pun dapat memaklumkan bahwa hal atau pendapat yang berbau irasional seperti ini terkadang masih hidup di tengah-tengah pikiran masyrakat kita.


Nah, terlepas dari segala kehebohan itu, Masjid Turen memiliki segala macam kekayaan arsitektur, mulai dari kaligrafi, gaya desain bagunannya, dan yang lainnya.  Tak pelak masjid ini pantas menjadi salah satu masjid yang anda kunjungi jika berada di Malang, tepatnya di daerah Turen. Berikut ini penjelasan mengenai masjid unik Turen:

Sekilas Sejarah Masjid Turen
Dari beberapa keterangan yang ada disebutkan bahwa masjid ini merupakan bangunan Pondok Pesantren Syalafiyah Bihaaru Bahri’Asali Fadlaairil Rahmat yang didirikan pada tahun 1963 oleh KH Ahmad Bahru Mafdlaluddin Sholeh Al Mahbub Rahmat Alam yang biasa disapa dengan nama Romo Kiai Ahmad

Romo Kiai Ahmad mempunyai maksud mulia mendirikan pondok pesantren ini, yaitu untuk dikunjungi oleh semua orang, baik yang muslim maupun yang non-muslim. Jadi siapa pun boleh masuk ke pondok pesantren ini walau bukan umat islam sekalipun.

Pembangunan pondoknya sendiri hanya menggunakan material apa adanya dan minim budget. Contohnya, waktu itu hanya digunakan baru batu merah saja maka batu merah itulah yang dipasang dengan luluh (adonan) dari tanah liat (lumpur/ledok). Pembangunan masjid ini mulai dari bawah tanah, tepatnya di lantai tiga, ada tiang penyangga dari seluruh bangunan yang terbuat dari tanah liat. Satu tiang yang dibuat tanah liat itu yang menjadi roh atau kekuatan dari seluruh bangunan.

Nah selama proses pembangunan terus berlangsung, pada tahun 1978 mulai ada santri yang datang dan menetap di sana. Semakin banyak santri yang datang, pembangunan dan perluasan pondok pun dilakukan seadanya sampai tahun 1992. Selama beberapa tahun pembangunan sempat terhenti, namun sekitar tahun 1999 pembangunan masjid kembali bergairah. Pengerjaannya mengandalkan tenaga-tenaga para santri yang ada dengan dibantu oleh masyarakat.

Arsitektur dan Fasilitas Masjid
Bangunan ini berarsitektur ala Timur Tengah dengan hiasan-hiasan kaligrafi arab di tembok-temboknya dan setiap sudut bangunan. Bahkan di samping pos keamanan yang berwarna orange tepat berada di pintu masuk, di beberapa bagiannya ada tulisan kaligrafinya.

Ornamen kaligrafi-kaligrafi yang menghiasi  masjid ini sebagian besarnya dikerjakan sendiri oleh para santri dengan penuh kesabaran, ketelitian dan keihklasan. Hal ini penting dibutuhkan untuk menghasilkan karya kaligrafi yang indah, selain sebagai sarana untuk menambah keterampilan tambahan bagi para santri ponpes.

Pondok Pesantren dan masjid mencapai 10 lantai, untuk yang tingkat satu sampai tingkat empat digunakan sebagai tempat para santri pondokan, lantai enam digunakan sebagai ruang keluarga, lantai tujuh, lima dan delapan terdapat toko-toko kecil yang  bermacam-macam makanan ringan dan pakaian dan dikelola oleh para santri wanit. Dari satu lantai ke lantai yang lainnya fasilitas tangga telah disediakan , begitu pula dengan lift pun walau belum berfungsi sepenuhnya.

Di dalam ponpes juga tersedia kolam renang yang dilengkapi oleh perahu. Perahu ini dapat dinaiki oleh wisatawan anak-anak setelah meminta izin terlebih dahulu kepada santri yang ada di sekitar tempat itu. Tak hanya itu di dalam kompleks ponpes juga ada berbagai jenis binatang, ruangan aquarium, dan perpustakaan yang berisikan buku-buku tentang islam. Nah, jika merasa letih mengelana dari satu lantai ke lantai lainnya, tinggal istirahat di kursi istirahat yang telah disediakan. Kursi untuk istirahat itu dibuat dari kayu jati dengan bentuknya yang unik, dan dihiasi bagian atasnya dengan kaligrafi.

Lokasi Masjid
Untuk masuk ke masjid yang terletak di Jl. Wahid Hasyim, Gang Anyar Desa Sananrejo, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang, Jawa Timur ini tidak dipungut biaya alias gratis. Masjid Turen ini jika ingin ditempuh dari  Malang, masjid berada sekitar 25 Km, dan jika ditempuh dari terminal Gadang dapat menggunakan minibus tujuan Turen. (berbagai sumber)

Selasa, 28 Agustus 2012

Pantai-Pantai Berpasir Hitam di Indonesia


Pastilah banyak dari anda pernah pergi ke pantai, yup pantai memang sebuah tempat yang tempat asik untuk bersenang-senang dan melepaskan segala macam kepenatan. Di pantai, anda bisa berlari-lari sebebas mungkin menyusuri bibir-bibirnya, bercengkrama riang gembira menghabiskan waktu, atau sekedar menikmati angin sepoi sekaligus mendengarkan deburan ombak yang mengulung-gulung sambil merebahkan badan.
      Pantai bukanlah sekedar pantai saja dan pantai di Indonesia ini ternyata mempunyai banyak keunikannya, salah satunya adalah warna pasirnya itu sendiri. Ada Pantai Pink di Pulau Komodo, ada juga ibeberapa pantai di negeri ini mempunyai pantai yang berpasir hitam tidak seperti pantai-pantai lainnya yang biasanya berwarna putih. Nah,  berbagai informasi yang ada berikut ini daftrar pantai-pantai berpasir hitan yang ada di Indonesia:

1.Pantai Jonggring Saloko
Pantai ini terletak di desa Mentaraman, Malang, Jawa Timur. Di sekitaran pantai ini ada dua tempat yang cukup menarik, yaitu "Ngebros" adalah suatu tempat yang terdapat karang yang terdapat lubang besar, yang mana ketika ombak besar menghantamnya akan terjadi semburan air laut yang tinggi ke angkasa. Dan tentu yang kedua adalah pantainya yang berwarna hitam, hamparan pasir sepanjang pantai yang berwarna hitam pekat akan anda jumpai. Berada di genggaman tangan pasirnya pun terasa halus lembut. Anda harus berpikir dua kali untuk bereng di pantai ini karena ombak di pantai ini cukup besar.
sumber foto: www.jolodongasad.blogspot.com
2. Pantai Purwahamba Indah, Tegal
Sama seperti pantai Pantai Jongring Saloka yang mempunyai tesktur pasir yang halus, Pantai Purwahamba Indah ini juga sama memiliki pasir hitam yang halus. Tak percaya?, bukalah alas kaki  dan rasakan sendiri sensasinya. Kontur pantai yang landai juga menambah kenyamanan saat Anda menghabiskan waktu di tepian pantainya.
sumber foto: www.1001malam.com
Anda bisa merebahkan diri di atas pasir sambil menikmati lautan luas di depan mata. Ombaknya pun cukup tenang, sehingga memberikan rasa nyaman. Pantai Purwahamba Indah ini memang menjadi pilihan yang yang tepat untuk beristirahat sekaligus berwisata di Tegal.
Bagaimana cara kesana? untuk menuju ke pantai ini caranya cukup mudah karena letaknya cukup strategis dan berada di jalur Tegal-Pemalang atau jalur pantura (pantai utara). Bagi Anda yang melintasi jalur tersebut, pantai ini persis terletak di pinggir jalan.
Di Tegal ini ada dua pantai yang dapat dikunjungi, yaitu Pantai Alam Indah dan Pantai Purwahamba Indah. Bedanya, pasir hitam di Purwahamba Indah lebih halus dari pasir hitam di Pantai Alam Indah. Bagi Anda pecinta pantai, tempat ini wajib untuk didatangi.

3.Pantai Lembeng, Bali
Bali tak mau kalah dengan dua pantai di atas yang memiliki pantai pasir hitam. Adalah pantai Lembeng yang terletak Desa Lembeng,  Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar, Bali yang juga mempunyai pasir yang berwarna hitam. 
sumber foto:citysnapshots.blogspot.com
Pasirnya yang hitam dengan gelombang yang cukup tinggi membuat pikiran anda tenang dari berbagai problematika hidup yang membelit. Keadaannya yang masih asri dan alami membuat privasi Anda benar-benar akan terjaga. Pantai ini sangat penting  apabila dimasukkan dalam daftar lokasi yang mesti dikunjungi di Bali karena disini anda bisa melakukan beberapa kegiatan seperti memancing, bersantai, surfing, berjemur, menikmati sunset.
Ingin kesana? Anda harus mengabiskan waktu kurang lebih 50 menit perjalanan untuk sampai ke Pantai Lembeng dari Bandara Ngurah Rai dan kira-kira 30 menit dari Kota Denpasar bila menggunakan kendaraan bermotor.

4.Pantai Anoe Itam, Aceh
sumber foto:www.mehdia-multimehdia.blogspot.com
Di bawah naungan pohon-pohon dipinggiran bibir pantai, Pantai Anoe Itam siap menawarkan rasa kenyamanan yang tiada taranya. Pantai ini adalah satu-satunya pantai berpasir hitam di Aceh. Dengan bentuknya yang landai pantai seperti ini tidak cocok untuk penikmat selancar (surfer), melainkan cocok bagi yang ingin bersantai-santai saja bersama teman-teman atau keluarga. Tetapi jika anda suka snorkling, layaknya dicoba melakukan aktivitas itu disini. Air lautnya cukup jernih dan karang-karangnya banyak didiami oleh beraneka ragam jenis ikan.
Bagaimana caranya kesana? Pantai Anoe Itam (pasir hitam) ini tidak begitu jauh dari pusat kota Sabang. Dengan melewati jalan yang berkelok-kelok dengan pemandangan perbukitan dan bertanya kepada penduduk sekitar apabila takut tersesat mungkin pilihan yang bijak.
Sebelum sampai ke pantai,  disebelah sisi kanan Anda akan menjumpai salah satu peninggalan sejarah, yaitu (bungker) Jepang. ada baiknya Anda berkunjung ke benteng Jepang ini, karena dari atas benteng sana pemandangan sungguh luar biasa dan termasuk melihat gumpalan pasir hitam disebelah sisi laut. Selain itu, Anda juga bisa menemukan meriam peninggalan Jepang dan berbagai bilik-bilik benteng yang sengaja dibuat pada masa itu.(berbagai sumber)

Selasa, 19 Juni 2012

Hotel Unik Pohon Inn, Malang

Hotel unik memang banyak bertebaran seantero dunia, dari Swedia yang mempunyai hotel Utter Inn dan Jumbo Staynya, Inggris dengan Hotel Travelodge dan Hotel Sandnya, New York dengan Library Hotel dan Hotel Gaynya, dan masih banyak lainnya.
Nah, bagaimana dengan di Indonesia sendiri adakah hotel yang rada unik?, eits, jangan salah ternyata Indonesia tidak mau kalah  dengan negara lain yang mempunyai hotel unik. Adalah Hotel Pohon Inn namanya yang berada di Batu, Malang.
Apakah yang unik dari hotel ini? tanyakan pada diri anda apakah anda ingin merasakan sesuatu yang berbeda dan Ingin merasakan bermalam dalam sebuah pohon yang besar? Yup,  tak salah hotel ini adalah tempatnya,  Keunikan arsitekturnya  menyerupai sebuah pohon besar dan konsep ini dibilang jarang diterapkan dalam sebuah hotel di Indonesia dan bisa dikatakan merupakan satu-satunya yang ada di Indonesia.
         Lantas bagaimana dengan fasilitasnya? fasilitas yang dimiliki hotel yang dibuka pada tahun 2010 ini pun tak kalah dengan hotel-hotel lainnya, yaitu melengkapi fasilitasnya dengan restaurant fast foodberputar,bernuansa hutan,dan dikelilingi oleh binatang hidup. Selain itu fasilitas kamar Hotel Pohon Inn adalah sebanyak  28 kamar Superior, 35 kamar Deluxe, 8 kamar Executive ditambah dengan  Jungle Fast Food "Restauran berputar" dilengkapi dengan suasana hutan & satwa-satwanya ditambah dengan  2 executive meeting rooms,  free parking, free hot spot internet access dan drug Stor.
foto: www.nilanila.wordpress.com
Mau kesana, anda harus berada terlebih dahulu di Malang, dari sana Hotel ini jaraknya tidak terlalau jauh kurang lebih sekitar 30 menit dari kota Malang. Jika anda berada di Bandara Surabaya Juanda International Airport lokasinya bisa ditempuh  90 menit. Dan hanya butuh 5 menit dari wahana wisata BNS dan 5 menit pula dari wisata Jawa Timur Park
Hotel ini terletak di area wahana Jawa Timur Park 2, Kota Wisata Batu di lengkapi tempat wisata Museum Satwa, adalah  museum berskala internasional serta Batu Secret Zoo yaitu kebun binatang modern. Hotel Pohon Inn juga dikelilingi oleh keindahan gunung Arjuna,gunung Banyak,dan bukit Panderman, sehingga memiliki pemandangan yang sangat indah. (berbagai sumber)

Senin, 18 Juni 2012

Mari Icip-icip Es Krim Zaman Dulu

Siapa yang tidak kenal dengan nama makanan yang satu ini, ya sepertinya kebanyakan lidah kita pernah bergoyang sambil kedinginan merasakannya saat masih kecil atau sampai lanjutnya usia sekarang. Adalah es krim nama  makanannnya, yup sebuah makanan kecil  namun  tidak sekecil rasanya dan sudah tercipta beratus-ratus tahun yang lalu.
Menyoal sedikit sejarah kelahiran makanan dingin yang satu ini memang masih teka-teki. Ada yang berpendapat es krim telah tercipta di awal masehi di Rowawi saat Kaisar nero masih berkuasa, ada juga berpendapat es krim ini terlahir di benua asia tepatnya di Cina, ada pula yang berpendapat di Eropa lah es krim tercipta lebih-lebih akibat lintas perdagangan yang dilakukan oleh Italia dengan bangsa lainnya.
Ada pula yang mengatakan bahwa sejarah terciptanya makanan ini merupakan rentetan dari alur tulisan di atas. Jadi berawal dari Cina yang kala itu es krim hanya bisa dinikmati oleh kalangan raja dan bangsawan, kemudian berlanjut ke Itali lantaran Cina membuka pintu usaha dagangnya ke Eropa. Berkat jasa Marcopolo lah resep-resep itu sampai ke Eropa.
          Dari Eropa lantas es krim melalang buana ke seluruh dunia dan sampailah es krim ini di negeri paman sam. Di sana es krim semakin populer  seiring dengan penemuan mesin pembuat es krim untuk memenuhi permintaan rakyat Amerika yang tinggi terhadap kudapan ini. Dari Amerika pulalah muncul sebutan es krim, yang berasal dari kata "ice cream".
Sejak itu, es krim semakin berkembang dengan berbagai modifikasi dan teknik pembuatan. Ada french-style ice cream, yang terbuat dari kuning telur dan populer di dataran Amerika. Di Amerika, kemudian teknis ini dikembangkan menjadi philadelphia ice cream, yang terbuat dari putih telur ditambah berbagai rasa, seperti coklat, vanilla, dan stroberi.
Lantas bagaimana dengan es krim di Indonesia sendiri? Es krim datang bersama Belanda dan  berkembang seiring semakin kukuhnya kolonialisme negeri kincir angin ini di Nusantara. Di kota-kota besar banyak bermunculan restoran-restoran yang banyak menjajajakan es krim sebagai makanan kudapan. Dan saat itu es krim  merupakan jenis makanan yang sangat mahal dan mewah, orang pribumi mungkin hanya bisa bermuka pengen melihat para meneer dan mevrouw Belanda menikmati es krim di panasnya hari.
            Namun sekarang semua itu tinggal kenangan, akan tetapi restoran-restoran di mana para meneer dan mevrouw itu duduk menikmati es krim masih bertahan hingga kini. Nah, di mana sajakah restoran-restoitran es krim itu yang masih bertahan.

1. Es Krim Toko Oen
Toko Oen di  Malang dan Semarang yang sudah berdiri sebagai toko es krim di tahun 1922. Awalnya Oma Oen berbisnis kue di kota Gudeg tahun 1910. Lantaran ingin mengembangkan uasahanya lalu dia membuat toko es krim dan membuka cabangnya di berbagai kota dari Jakarta, Semarang, dan Malang. 
Namun malang tak bisa diraih, cabang Yogyakarta dan Jakarta terpaksa tutup karena suatu sebab. Tetapi cabang yang di Semarang hingga kini ini masih bertahan dan dikelola sama keturunan Oma Oen. Baik yang di Malang maupun di Semarang, keduanya masih mempertahakan interior khas di masa kolonial Belanda begitu pun dengan es krimnya.Dalam penyajiannya, es krim di Toko Oen ini disajikan dengan kue lidah kucing, toping sirup, dan buah-buahan. Selain itu penyajian es krim pun disusun berwarna-warni dan  pengolahan es krim ini pun masih menggunakan alat tradisional. 

2. Es Krim Toko Zangradi
Yang kedua ada Toko Zangradi di Jalan Yos Sudarso, Surabaya. Adalah Orang Italia bernama Renato Zangradi yang mengadu peruntungan dengan mendirikan toko es krim di tahun 1930 di kota itu. Eh, tanpa dinyana bisnis itu membuat para meneer dan mevrouw kesengsem. Kelebihan dari tokonya Zangrandi adalah es krim yang dijadikan berasal dari olahan tangan alias hand madedan bukan buatan mesin. Rupanya olahan tangan yang dibuat di kedai Zangrandi ini sesuai dengan lidah orang-orang Belanda. 
Di Zangradi, selain menjual es krim batangan juga terdapat es krim scoop atau per mangkok. Ada pula banana split yaitu pisang dipadukan beberapa es krim sesuai selera. Untuk menemani makan es krim, toko ini juga menjual aneka jajanan seperti pastel sampai makanan berat seperti pizza. Beragam jenis es tersaji di toko ini dari  Chocolate Twinkle, Noodle Ice Cream, Soda Ice Cream, Avocado Fudge, Tropicana Fruit, Crispy basket, Zangrandi Pie, Horn, Macedonia, Royale Peach, Banana Split. Ada pula es krim dalam bentuk slices yaitu Tutti Frutti, Satay Ice Cream, Surabaya Moon, Pudding Ice Cream

3. Es Krim Ragusa
Toko es krim yang ketiga ada di Jakarta yaitu Es Krim Ragusa. Seperti Zangradi, kreator es krim Ragusa ini lagi-lagi adalah seoarang berkebangsaan Itali yang bernama Luis Ragusa. Awalnya bukan hanya Ragusa saja yang memulai bisnis es krimnya ini, melainkan dibantu oleh saudaranya,  Vincenzo Ragusa.
Nah, di tahun 1932 mereka berdua mulai membuka kafe es krim nya di pasar Gambir. Tapi sayang tempatnya tidak terlalu ramai alias sepi pembeli. Bagaimana bisa untung kalau tempatnya sepi? Mungkin pikir mereka berdua, lantas kafe keduanya pun pindah lokasi di Jl. Veteran I No. 10 Jakarta Pusat tahun 1947. Gayung pun bersambut, es krimnya banyak diminati orang-orang.
sumber foto:ww.aditstorsi.files.wordpress.com
Selama menekuni bisnis es krim ini mereka tidak hanya bekerja berdua saja, melainkan dibantu juga oleh Jo Giok Siaw. Ibu Hj. Sias Mawarni, menantu dari Jo Giok Siaw, dan suaminya yang meneruskan penjualan es krim ini. Sepeninggal duo itali itu,  es krim diwariskan secara turun temurun tanpa pernah mengganti resep aslinya dan masih mempertahankan es krim tanpa bahan pengawet. Es krim Ragusa menjual tujuh rasa dan masing-masing rasa memiliki penggemarnya tersendiri. Dari rasa cokelat sampai durian, ada pula modifikasi seperti Spaghetti Ice Cream dan Banana Split.

 4. Es Krim Tip Top
 Itu di Jakarta, bagaimana dengan es krim yang ada di kota terbesar kedua di negeri ini, yaitu Medan tepatnya di Jalan Ahmad Yani.  Ya, disana ada restoran es krim yang bernama Tip Top, restoran ini juga sama tuanya dengan restoran es krim lainnya, yaitu sudah berdiri dari tahun 1929 dengan nama Jang kie. Kemudian pindah ke Jl. Kesawan tahun 1934 dan menganti namanya menjadi Tip Top.
Es krim Tip Top memiliki sekitar 50 varian rasa seperti Soda, Fosco, Neapolitan, Banana Split, Tutty Frutty Sundae, Tutty Frutty, Mont Blanc, Cassatta, Strawberry Float, Vanilla Float, Vanilla + Coke, Chocolate + Coke, Snow White, Rainbow, Desert Pineapple, Desert Strawberry, Nougat, Rhum Corn Flakes, Kopior Sundae, Mocca Rissins Sundae, Vanilla Sundae, Chocolate Sundae, Tip Top, Rhum, Kopior, Mocca Rissins, Strawberry, Chocolate, Vanilla dan Cone/Horn.

Kamis, 14 Juni 2012

Taman Selecta, Taman Favorit Petinggi Negara

Presiden pertama Soekarno, Megawati Soekarno putri, Moh Hatta, Ali Sadikin, Jendral Soemitro belum lagi sederat nama lainnya pernah singgah dan menginap di Vila-vila taman wisata ini. Yup Taman Selecta namanya, sebuah taman 13 Km dari Malang yang berada di  terletak di desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji.
foto: www.sidomi.com
Taman Selecta ini merupakan tempat peristirahatan yang umurnya sudah cukup tua karena  di bangun sejak jaman Belanda. Adalah seorang Belanda bernama Reyter Dewild yang awalnya membangun tempat peristirahan ini untuk kaum borjuis Eropa. Dengan luas 20 hektar dan letaknya 1100 M dari permukaan laut, taman ini merupakan sebuah tempat yang lengkap dengan fasilitas hiburannya dari  kolam renang, lapangan tenis, bungalow dan taman-tamannya.
 Seperti yang dikatakan di muka, para petinggi negara tak jarang menyempatkan waktunya untuk menginap di taman wisata ini.  Nah, salah satu villa yang cukup bersejarah di sana adalah Villa De Brandarice  yang sekarang bernama vila BimaShakti.
De Brandarice ini menjadi semacam saksi bisu sejarah nasional negeri ini. Saat itu di sana, Bung Karno sering terlihat  berolah raga kecil dan berjemur diri di pagi hari, siangnya mengunci diri di kamar dan sorenya menikmati pemandangan alam yang tampak indah dari ruang santai.
foto:www.peponkz.student.umm.ac.id
Bung Karno dan Bung Hatta pun pernah tinggal di tempat wisata ini ketika terjadi Agresi Militer Belanda II pada Desember 1948. Memang tidak ada yang tahu mereka tinggal selama berapa lama. Beliau datang dan pergi karena masa perang, tetapi Bung Karno kerap tinggal di kawasan itu pada masa setelah tahun 1950 saat kondisi negara relatif lebih aman.
 Bung Hatta pada 1956 menjelang saat KonferensiKNIP, pernah juga bermalam di Villa Bima Shakti dan menorehkan “Keris Semangat”tentang perekonomian masa depan negeri ini. Disitu, Bapak Perekonomian Indonesia ini menulis “Tinta Emas” agar membangun ekonomi melalui perkoperasian dan dimulai dari masyarakat, oleh masyarakat dan untuk masyarakat.
Selain Bung Karno dan Bung Hatta,  Ali Sadikin Gubernur DKI era 70-an pernah datang vila Bima Sakti. Begitu pun dengan  Jenderal Sumitro yang pada tahun 1968 pernah singgah ke Selecta dan meminta kolam renang taman rekreasi itu dijadikan sebagai pulau terapung. Tak hanya itu, di era  Megawati Soekarno Putri  masih menjabat sebagai Presiden juga pernah transit di  Taman wisata ini.
Yah, memang Taman Selecta ini teramat spesial, belum lagi soal panoramanya. Bangunan Villa Bima Shakti ini merupakan tempat tertinggi di alam pegunungan Kota Batu. Dari sana seluruh Kota Batu dan sekitarnya dapat dipandang dan keindahannya bisa dinikmati tanpa halangan, semua keindahan dari kejauhan mampu diterobos mata. Villa Bima Shakti yang berada di puncak bukit yang dikelilingi Gunung Panderman, Gunung Arjuno, Gunung Anjasmoro, serta Gunung Welirang yang selalu mengepulkan asap belerang.
Tak hanya itu, eksotisme panorama alam pegunungan yang indah dan sedap dipandang mata serta penuh nilai historis. Taman Selectamelambung menjadi pioner pariwisata di Kota Wisata Batu Jawa Timur, bahkan di Indonesiabaik  di kalangan wisatawan domestik maupun mancanegara seperti dari Belanda, Taiwan dan Malaysia. (berbagai sumber)

Senin, 28 Mei 2012

Mari Wisata Sejarah ke Hotel-Hotel Tua Indonesia

Hampir di setiap kota-kota besar di Indonesia berdiri hotel-hotel tua yang umurnya melebihi usia republik ini ada. Yup, dibangun sewaktu kolonialis Belanda masih berkuasa penuh di Nusantara, dibawah ini ada beberapa hotel yang sangat tua di Indonesia yang mungkin bisa Anda kunjungi apabila ingin melihat bentuk rupa peninggalan sejarahnya yang masih tersisa.

1.Hotel Pelangi dan Hotel Splendid Inn
Di kota Malang ada hotel tua yang bernama Hotel Pelangi yang letaknya di Jl. Merdeka Selatan No. 3. Kalau dihitung-hitung dari semenjak hotel ini berdiri, sekarang umurnya kurang lebih sudah 96 tahun lantarannya hotel ini suda ada di Malang dari tahun  1916.

Hotel Pelangi
Nama hotel ini awalnya bukanlah Hotel Pelangi melainkan bernama Hotel Palace entah kenapa bisa berubah nama. Nah, yang menarik dari hotel yang punya 50 kamar ini terletak dari arsitekturnya yang mempunyai ciri khas  yaitu  adanya Menara Kembar yang dahulunya digunakan sebagai menara pengawas. 

Untungnya dibuat kokoh karena sampai saat ini di dalamnya masih terjaga keasliannya, bentuk lantai, plafon dan tegel-tegel dinding bergambar pemandangan negeri kincir angin yang eksotis. 
        
       Masih di Malang,  lanjut lagi ke hotel yang bernama Hotel Splendid Inn. Arsitektur dari gedung yang dibangun pada 1924-1930 ini bergaya Nieuwe Bouwen (berbentuk kubus dan atap lurus) membuat bangunan ini masih kokoh berdiri sampai sekarang. Banyak turis asing dari Belanda yang bernostalgia di tempat ini. Fasilitas yang ada pun relatif sama dengan hotel-hotel berbintang, sehingga sesuai dengan anda yang ingin beristirahat dalam nuansa tempo dulu. 

Hotel Splended Inn
Selain kedua hotel di atas, kota ini juga mempunyai hotel yang tak kalah bersejarahnya yaitu Hotel Graha Cakra yang berada di Jl. Cerme 16. Hotel berbintang tiga ini dahulu adalah bekas gedung Radio Republik Indonesia (RRI) Malang yang pernah rata dengan tanah karena hancur saat pecah Perang Clash ke-1pada 1947. Untuk gaya arsitektur dari hotel ini masih menerapkan gaya yang sama dengan Hotel Splendid Inn yaitu gaya Nieuwe Bouwen yang populer pada 1935 karya arsitek Belanda, Ir. Mulder
Gaya Nieuwe Bouwen yang diterapkan dalam dua hotel itu sebenarnya istilah untuk gaya bangunan sesudah tahun 1920-an yang merupakan penganut dari aliran International Style, sebagaimana yang diungkapkan Akihary (1988) dalam bukunya Architectuur en Stedebouw in Indonesie 1870-1940.Gaya arsitektur ini dibarengi oleh pengaruh gaya arsitektur modern yang sedang trend pada masa itu antara lain,  Amsterdam School, Bauhaus dan De Stilj yang berkembang di Indonesia karena semakin banyak arsitek Belanda beraliran arsitektur modern berpraktek di Indonesia.

2. Hotel Oranje
Dari Malang sekarang kita ke Surabaya disana ada Hotel Oranje atau Hotel Majapahit yang melegenda, mungkin dari anda sudah tahu sebelumnya terlebih lagi apabila anda adalah wong suroboyo. Alkisah, hotel ini didirikan oleh seoarang pedagang yang bernama Lucas Martin Sarkies dari Armenia. 

Hotel ini diarsiteki oleh James Afprey, seorang berkebangsaan Inggris yang membangun hotel ini  pada tahun 1910 dengan menerapkan gaya arsitektur Art Nouveau. Keluarga Sarkies ini memang dikenal berkecimpung di bisnis perhotelan karena sebelum mendirikan hotel ini, keluarga Sarkies sudah mendirikan banyak hotel di  Asia, seperti Hotel Niagara di Lawang, Hotel Eastern and Oriental di Penang (Malaysia), Hotel Strand in Rangoon (Burma) dan Hotel Raffles di Singapura.

Nah, tahun 1911 adalah tahun bersejarah untuk hotel  karena untuk yang kali pertamanya hotel ini dibuka dengan menggunakan nama “Hotel Oranje”. Dalam perkembangannya, di tahun 1931 ada penambahan bangunan di hotel ini yaitu di bagian depan pintu masuk lama, sebagian ruang masuk dibangun dalam gaya Art Deco oleh arsitek Prof. Ir. Charles Prosper Wolff Schoemaker.

Hotel Oranje
Bagi anda yang pernah menyaksikan salah satu film perang produksi anak negeri dimana salah satu scennya ada orang yang merobek bendera di atap gedung hotel, nah kejadian itu lah yang terjadi di hotel ini.  

Tepatnya pada  tanggal 19 september 1945  terjadi “Insiden Bendera” saat Kolonialis Belanda menaikkan bendera kebangsaannya di menara hotel ini.  Kontan, para nasionalis Indonesia naik pitam dan memanjat ke menara lalu menyobek-nyobek bagian biru dari bendera Belanda yang kemudian berubah menjadi bendera Indonesia.

Nama Hotel Oranje digunakan sampai tahun 1950-an. Waktu itu hotelnya dinasionalisasikan dan nama diganti menjadi Hotel Majapahit. Anda di sana, sempatkanlah untuk melihat kamar bersejarah yaitu kamar yang pernah digunakan oleh aktor Charlie Chaplin. Komedian yang tenar di tahun 30-an ini pernah sempat menginap di hotel ini pada tahun 1936. Kamar tersebut diberi nama Kamar Merdeka dengan nomor kamar 33. 

3. Hotel Surabaya
Itu di kota pahlawan, Bandung tak mau kalah soal hotel bersejarahnya karena di sana ada Hotel yang bernama Hotel Surabaya yang sedikit lebih tua dari Hotel Oranje.  Hotel ini dibangun oleh pengusaha China yang kaya raya asal Surabaya. Adanya hotel ini lantaran untuk menyambut dibangunnya jalur kereta api Jakarta-Bandung yang ditandai dengan berdirinya stasiun Bandung pada tahun 1884.

Untuk bagian hotelnya sendiri  terdiri atas tiga bagian, bagian pertama berada di belakang dan dibangun bergaya neoclassic pada tahun 1886 dengan konsep modern karena banyak menggunakan elemen suluran, tanaman dan kacanya sudah menggunakan colour glass. Sedangkan bagian towernya sendiri dibangun beberapa tahun setelahnya yaitu pada tahun 1900 sampai 1910 dengan menggunakan gaya art nouvo

4.Hotel Sriwijaya
Bagaimana dengan di Ibukota sendiri, jelas Jakarta tak mau ketinggalan karena disini ada Hotel Sriwijaya. Letak hotel ini ada di pojokan Jalan Veteran dan Jalan Veteran I, Jakarta Pusat. Dari Stasiun Juanda, hotel ini berada di sisi kanan tak jauh dari Masjid Istiqlal. Tembok hotel ini memanjang hingga ke Jalan Veteran I mendekati kedai es krim Ragusa. 

Hotel Sriwijaya
 Conrad Alexander Willem Cavadino atau CAW Cavadino  yang memulai usaha restoran dan kue di tahun 1863. Tempat usaha ini dibangun persis di pojokan Rijswijk (Jalan Veteran) dan Citadelweg (Jalan Veteran I). Di tahun 1872 Restoran Cavadino berubah menjadi Hotel Cavadino sementara usaha ritelnya dilakukan di sebuah tempat usaha bernama Toko Cavadino yang berada di depan bangunan hotel.

Dari sebuah iklan di tahun 1894, Toko Cavadino disebut sebagai toko yang menyediakan permen, cokelat,  cerutu Havana, Belanda dan Manila hingga bir, anggur, dan minuman beralkohol lainnya. Bahkan, begitu terkenalnya usaha ini sampai-sampai jembatan di depan hotel ini dinamakan Jembatan Cavadino (Cavadino Bridge). Jembatan itu kini berada di samping Hotel Sriwijaya, sejajar dengan pintu masuk ke hotel tersebut.

Dari foto lama yang terpampang di dalam hotel ini dan juga dari foto koleksi KITLV, Leiden, yang ditampilkan oleh Scott Merrillees dalam buku yang berjudul Batavia in Nineteenth Century Photographs letak bangunan hotel dan toko kue terpisah. Posisi bangunan Hotel Cavadino, yang kini jadi Hotel Sriwijaya, terlihat berada di pojokan jalan yang masih sangat sepi dengan dua jalur trem di depannya. Sedangkan Toko Cavadino kini menjadi restoran dan masih menjadi bagian dari Hotel Sriwijaya.

Usaha toko dan hotel berjalan terus hingga akhir abad-19. Merrillees mencatat, sebenarnya CAW Cavadino tak lagi sebagai warga Batavia sejak tahun 1870 meskipun demikian, usahanya tetap menggunakan nama Cavadino & Co. Hotel Cavadino dan bertahan sampai tahun 1898. Namun sejak 1899 hotel itu berubah nama menjadi Hotel du Lion d’Or. Di tahun 1941 hotel itu sudah berubah nama lagi menjadi Park Hotel. Dan diperkirakan sekitar pertengahan tahun 1950-an nama hotel itu berubah menjadi Hotel Sriwijaya.

5. Hotel Inna Dibya Puri dan Hotel Candi Baru
Sekarang kita tinggalkan Jakarta dan pindah ke Semarang, disana telah hadir sebuah hotel yang bernama Hotel Inna Dibya Puri. Soal usianya, hotel ini tak kalah tua dengan hotel-hotel lainnya lantaran Hotel di Semarang ini dibangun tahun 1847. Hotel ini menawarkan sensasi keindahan arsitektur hotel yang pada zaman Penjajahan Belanda bernama Du Paviliun itu. Dan konon di tahun 1945, hotel ini pernah menjadi markas pejuang. Akibat pertempuran lima hari di Semarang, beberapa bagian bangunan, seperti dinding dan jendela mengalami kerusakan.

Hotel Candi Baru
Masih di sekitaran kota Atlas ada Hotel Candi Baru yang dulunya nama hotel ini adalah Hotel Bellevue. Hotel bergaya art deco ini dibangun pada 1919 dimiliki oleh Van Demen Wars. Kemudian sejak 1961  nama hotel berubah jadi Hotel Candi Baru.

6. Hotel Salak dan Hotel Pasar Baroe
Puas melihat hotel-hotel tua di kota Atlas, sekarang mari kita tengok hotel apa saja yang ada di kota hujan Bogor. Yang pertama di sana ada Hotel Salak yang usinya sudah sangat tua ratusan tahun yang lewat, hotel ini awalnya bernama Bellevue Dibbets Hotel yang dimiliki oleh Gubernur Hindia Belanda saat itu. Selain untuk tempat menginap dan beristirahat, hotel ini juga diperuntukkan untuk acara pertemuan bisnis dan admistrasi pemerintahan Belanda.

Seiring berjalannya waktu, mungkin Jepang memerlukan tempat yang besar untuk menampung para tentara berikut alat persenjataannya, di zaman penjajahan Jepang fungsi hotel ini berubah fungsi menjadi markas militer Jepang. Nah, baru setelah Jepang angkat kaki dari negeri ini, kepemilikian hotel diserahkan ke pemerintah Indonesia dan namanya pun berubah menjadi Hotel Salak.

Hotel ini teramat special sebagai destinasi penginapan karena event atau meeting berskala internasional pernah dilakukan di Hotel yang letaknya di kaki Gunung Salak ini, misalnya pada tahun 1955 di hotel ini dilangsungkan Pertemuan Persiapan Konferensi Asia Afrika, selain itu pada tahun 1994 ajang pertemuan APEC pun pernah dilakukan di hotel ini.

 Selain Hotel Salak, di Bogor juga ada Hotel Pasar Baroe, dilihat dari namanyanya saja mengingatkan kita kepada salah satu tempat yang ada di Jakarta, namun diantara keduanya tidak ada hubungannya hanya sekedar namanya saja yang sama. Hotel ini tanpa dinyana setua dengan Hotel Salak di atas lantaran dibangun pada tahun 1873.

Hotel Pasar Baroe
Hotel berlantai dua yang berdiri di atas lahan seluas 1.200 meter2 ini memiliki keunikan arsitektur berupa perpaduan gaya Eropa dengan Tionghoa. Hotel ini pernah menjadi primadona bagi para pelancong kala itu, namun mereka yang mampir mayoritasnya adalah warga timur asing seperti Tionghoa, Arab dan Belanda.  Sekedar catatan pada masa itu di Bogor sendiri terdapata 4 hotel yang bisa menjadi tempat persinggahan para pelancong selain Hotel Bellevue, Hotel Salak, dan Hotel du Chemin (sekarang menjadi kantor polisi Mapolres Bogor).

7. Hotel Ambarrukmo Palace
Lantas bagaimana dengan hotel bersejarah di kota pelajar, Yogyakarta? kota ini juga mempunyai hotel yang bernama Hotel Ambarrukmo Palace. Hotel ini sebenarnya berada di dalam kawasan Pesanggarahan Ambarrukmo yang dibangun oleh Sultan Hamengkubuwono V.

Tahun 1895-1897, bangunan dierenovasi  oleh Sultan Hamengkubuwomo VII, sebelum turun tahta tempat ini dijadikan untuk menjamu tamu, akan tetapi setelah turun tahta, tempat ini pun berubah menjadi kediaman Sultan. Nah, dalam perkembangannya setelah Indonesia merdeka, Soekarno presiden pertama RI menggagas pembangunan hotel-hotel berstandar internasional pertama di nusantara, dan salah satunya adalah hotel ini yang diresmikan pada tahun 1966

Saat peresmiannya di tahun 1966, tak pelak hotel tersebut menjadi hotel mewah pertama di Yogyakarta. Hotel tersebut terdiri dari dua sayap yaitu sayap pertama dibangun tahun 1965 dan sayap kedua dibangun tahun 1974. Namun siapa sangka ternyata hotel ini sempat terbengkalai, samapi akhirnya di tahun 2011, jaringan hotel Santika Indonesia mengambil alih dan menghidupkan kembali Hotel Ambarrukmo.

Lantaran pengambilalihan itu lalu nama hotel pun berubah nama menjadi Ambarrukmo Palace Hotel. Area keraton juga direvitalisasi dan disi berbagai kegiatan kesenian. Di dalam hotel ini terdapat mural ukiran batu karya Harijadi di tahun 1962 yang menggambarkan kehidupan rakyat di sekitar Gunung Merapi. Lalu mozaik dinding dari keramik yang diperkirakan dibuat oleh seniman Indonesia Batara Lubis di tahun 1976. (berbagai sumber)

Copyright © ID Blog Kamu

Canvas By: Fauzi Blog, Responsive By: Muslim Blog, Seo By: Habib Blog