Aku Mencintai Ayah Tiriku

Minggu, 12 Juni 2011

Aku Mencintai Ayah Tiriku

"Cinta pertama memang dirancang khusus oleh Tuhan menjadi suatu perasaan yang tidak akan pernah dilupakan dan terlupakan"

                 Aku lemas saat dia meremas tanganku, pertanda bahwa dia ikut merasakan sedih yang tersirat dimataku. Bagaimana mungkin aku bisa menerima kenyataan yang sangat pahit ini? Rasanya aku ingin Tuhan mengambil nafasku saat ini juga. Lebih baik aku merasakan dunia abadi daripada disini dengan penuh rasa sakit yang siap merobek-robek raga dan jiwaku.
                Disampingnya, ibuku duduk dengan senyum bahagia. Aku menyalami ibuku dan mencium pipinya, air mataku tak tertahan, aku menangis.
                "Kenapa kau menangis, Putriku?" Tanya ibuku dengan suaranya yang halus, suaranya samar-samar kudengar karena suara band yang disewa untuk pesta ini jauh lebih riuh.
                "Aku menangis karena ikut bahagia, Bu." Jawabku dengan pipi basah.
                Sesekali pria di samping ibu menatapku dengan getir. Aku membiarkan tamu undangan yang lain mendapat gilirannya untuk bersalaman, karena adegan dramatis tadi, mereka harus mengantri terlalu panjang dibelakang. Aku meninggalkan pelaminan.
***
                Aku menyusuri koridor-koridor kelas dengan langkah tak semangat. Kata mengantuk masih saja menghiasi kelopak mataku yang sangat ingin terpejam untuk beberapa saat lagi. Langkahku terhenti di kelas yang sangat melelahkan ini. Aku melangkahkan kakiku dengan terpaksa dan menduduki bangkuku. Kuletakkan tasku, lalu kuletakkan tempurung kepalaku di atas meja yang dingin, sempurna. Ada waktu 15 menit sebelum bel masuk berbunyi. Aku kerahkan segala kekuatan malasku untuk terpejam sebentar.
                "Masih ngantuk ya?" Sapa suara yang berasal dari belakang punggungku. Aku mengenal suara itu, lalu aku menoleh. Raka!
                "Iya nih." Jawabku dengan senyum sumringah. Mataku yang setengah mengantuk mulai bersinar karena melihat "matahari" yang sedang mengajakku bicara. Pandanganku melekat dimatanya.
                "Mau gue temenin ke UKS supaya lo tidur disana aja?" Tanyanya lengkap dengan senyum dan pandangan khasnya. Aku terdiam. Tuhan, mengapa berkatMu pagi ini sungguh di luar perkiraanku?
                "Oh, enggak usah. Gue disani aja, pelajaran pertama Kimia, susah. Gue enggak mau tambah bego gara-gara ngantuk doang." Ucapku dengan sangat terpaksa. Kepalaku yang masih saja menoleh ke arahnya sama sekali tidak merasa pegal. Sungguh, cinta mematikan segala saraf motorik dan sensorik yang menempel secara alami dibadanku.
***
                Bagiku, bahagia adalah mencintai dan dicintai. Aku sudah mencintai seseorang, tapi yang membuat cinta yang kumiliki tidak sempurna adalah karena dia tak mengetahui perasaanku. Dan Raka, cinta pertamaku, kubiarkan dia memilih jalan yang berarti bahagia baginya. Dia pergi tanpa tahu apa yang kurasakan sebenarnya. Tindakanku selama ini tak membuat dia menyadari perasaanku.
                Anak pintar seperti dia bisa mendapat beasiswa dimana saja. Sayangnya, kepintarannya tak ditunjang oleh biaya orangtuanya. Ayahnya yang sakit keras dan ibu yang sudah tiada membuat dia tetap berjuang untuk mengubah nasib keluarganya. Padahal anak seumuran dia bisa saja berfoya-foya dimasa muda, layaknya aku yang bisa menghabiskan jutaan uangku hanya untuk beberapa minggu. Ibuku yang kaya raya dengan 2 suaminya memang senang melakukan pemborosan, kemampuanku untuk menghabiskan uang dalam waktu singkat diwariskan dari mereka.
***
                8 tahun sudah cinta itu mengeram tanpa pernah menetas dan berkembang. Aku hanya terdiam dan menunggu orang lain mengetuk hatiku dan menunjukan bahwa mereka lebih baik daripada Raka, cinta pertamaku. Aku menunggu orang lain masuk tapi sayangnya aku tak pernah berusaha untuk membuka hatiku, tempat itu terkunci, kunci yang dimiliki oleh Raka dan entah dimana dia menyembunyikan kunci itu. Aku tak tahu bagaimana kabar Raka dan sudah jadi apa dia sekarang. Menjadi orang sukses atau masih mencari sukses.
                Aku masih sering memikirkan senyumnya, memikirkan kebaikan yang dia lakukan, dan mereka-reka segala keunikannya yang membuatku jatuh cinta padanya. Cinta pertama memang dirancang khusus oleh Tuhan menjadi suatu perasaan yang tidak akan pernah dilupakan dan terlupakan.
                "Nak, ibu masuk ya?" Teriak kecil ibuku dari luar pintu, beliau mengetuk pintu kamarku dan mengaburkan lamunanku,
                "Iya, Bu. Masuk aja, enggak aku kunci kok pintunya." Jawabku dari dalam kamar lalu ibu membuka pintu kamarmu. Beliau duduk di sampingku yang sedang melepas lelah sambil berbaring di tempat tidur.
                "Ibu punya kabar baik." Ibuku mengawali pembicaraan dengan wajah berseri-seri.
                "Apa, Bu?" Aku bertanya dengan raut wajah penasaran, aku terbangun dari tempat tidurku.
                "Ibu akan menikah lagi!" Jawabnya dengan nada semangat dan kebahagiaan memuncak.
                "Oh, lalu?"
                "Ibu hanya sekedar memberitahu."
                "Oke." Jawabku singkat.
                Aku tidak kaget dengan ucapan "Ibu akan menikah lagi!" Bagi sebagian anak yang mendengar ucapan itu, mungkin ucapan itu adalah perkataan terburuk yang didengar oleh mereka, yang bisa saja meledakan organ tubuh mereka dan memberhentikan detak jantung mereka. Tapi, bagiku ucapan itu adalah hal yang biasa. Mengingat ibuku yang memiliki 2 suami yang terdaftar di KUA dan beberapa "suami" yang keluar masuk hotel bersamanya tanpa harus mendaftar KUA terlebih dahulu.
***
                Dan hari H pernikahan Ibuku tiba. Aku sama sekali tak mau tahu persiapan mereka. Aku juga sama sekali tak melihat undangan pernikahan mereka. Aku tak mau tahu apa yang mereka lakukan, yang kutahu adalah ibuku menikah, tentu dengan seorang pria.
                Dan saat ini, aku mematung. Melihat suami ibuku. Pria dengan rambut tertata dengan rapi, berjas hitam, bersarung tangan putih. Dia menggandeng tangan ibuku dengan mesra. Aku tergelak sekaligus kaget. Kalau boleh diibaratkan, gemuruh jantungku kala itu melebihi ledakan gunung meletus manapun, melebihi getaran gempa tektonik yang menyebabkan tsunami. Aku goyah. Tatapanku kosong, waktu seakan berhenti.
                Suami ibuku adalah cinta pertamaku, Raka. Atas dasar apa mereka bisa saling mencintai atau pernikahan yang didasarkan oleh sekedar nafsu dan harta? Aku tak peduli pada ibuku, aku hanya kuatir pada Raka. Dia pria baik, kenapa harus kepincut wanita tua yang kaya raya? Raka lebih cocok menjadi kakak tiriku daripada harus menjadi ayah tiriku. Aku lesu.
                Saat itu sebenarnya aku ingin meninggalkan tempat yang menyedihkan bagiku tapi membahagiakan bagi ibuku. Raka mengenalku dan mengingatku, seketika kenangan SMA aku dan dia meledak di kepalaku. Tuhan, apa ini sebagian berkat dariMU?
                Aku berjalan menaiki pelaminan, menyalami ibuku dan ayah tiriku. Tangan Raka kugenggam dengan erat, kuciumi pipinya dengan mesra. Ibu menatapku dengan tatapan layaknya seorang anak yang mencium ayah tirinya, padahal bagiku itu adalah kali pertama aku menyentuh pipi orang yang dari dulu hingga saat ini kucintai.
                Dipikiranku telah muncul banyak hal. Jika Raka menjadi ayah tiriku, akan ada banyak waktu untukku agar bisa terus menikmati senyumnya. Dengan kesempatan bagus itu, aku akan tetap bisa mencintai ayah tiriku, cinta pertamaku. Jika aku tak bisa mencintai dia sebagai kekasihku maka aku akan mencintai dia sebagai ayah tiriku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Copyright © ID Blog Kamu

Canvas By: Fauzi Blog, Responsive By: Muslim Blog, Seo By: Habib Blog